
Rivan menghampiri Laura yang sedang mencoba untuk menidurkan Kenzo, Laura terlihat sangat bahagia sekali dia sampai melupakan rencana nya untuk bertemu dengan Rivan.
"Dia sangat manis sekali yaa, dan juga Handsome."
Ucap Rivan di hadapan Laura sambil melihat Kenzo yang mau tertidur.
"Kamu mendapatkan Kenzo dari mana,? apakah dia pasien yang di tinggalkan pergi oleh kedua orang tuanya?."
Rivan tidak menyangka jika Laura bisa bertanya se detail itu kepada Rivan.
"Orang tua Kenzo masih lengkap dan masih sangat muda, suatu saat nanti dia akan kembali kepada Ibu kandung nya. Kenzo adalah anak dari sodara ku yang orang tua nya super sibuk sekali dengan perkerjaan nya."
Laura seakan percaya saja dengan cerita Rivan.
"Laura, aku rasa Kenzo itu seumur dengan Bryan. Anak pertama kamu apakah kamu melihat wajah Bryan waktu itu?."
Ekpresi wajah Laura seketika langsung bersedih.
"Tidak, aku tidak melihat wajah Bryan karena sikap ku yang seperti orang yang despresi. Mas Barra hanya bilang jika Bryan itu sangat tampan sekali dan hidung nya mancung seperti ku. Di saat aku melihat Bryan aku langsung jatuh hati kepada nya dan merasa jika Kenzo itu adalah Bryan."
Rivan merasa tidak tega melihat Laura yang begitu sayang sekali dengan Kenzo, Rivan melakukan ini semua supaya Laura bisa bersama dengan nya.
"Dan aku membelikan sesuatu untuk Kenzo, semua nya untuk Kenzo. Gemas sekali kamu Nak."
Laura pun dengan penuh hati-hati menyimpan Kenzo di tempat tidur nya.
"Good Night sayaaaaang, mimpi indah yaa."
Laura pun keluar dari kamar Kenzo dan melihat Suster Mirna yang berpamitan pulang.
Laura pun segera menghampiri Rivan ketika melihat Suster Mirna yang pergi.
"Dia pergi,? dan kamu sendiri yang mengurus Kenzo dengan memberikan susu dan menganti Pampers nya setiap malam?."
Rivan tersenyum manis kepada Laura dan Laura tidak percaya dengan hal itu.
"Tidak mungkin aku tinggal bersama dengan wanita lain dalam Apartemen, kecuali bersama dengan kamu Laura."
Rivan semakin mendekati Laura tapi Laura mendorong tubuh Rivan dengan sangat kuat sekali.
"Kamu jangan macam-macam lagi yaa, sekarang kandungan ku sudah menginjak 16 Minggu. Aku harus menjaga nya."
Rivan pun hanya bisa memandangi wajah cantik Laura.
"Kedatangan ku ke sini aku ingin meminta tolong kepada mu, tolong cari Erlangga Rangga. Aku ingin sekali bertemu dengan nya."
Rivan pun langsung berpikir siapa orang yang di maksud oleh Laura.
"Rangga, mantan kekasih Gisella. Aku ingin sekali mempersatukan mereka berdua untuk sampai menikah dengan itu hidup mu akan sangat damai sekali."
Rivan mengingat kembali jika Rangga yang sudah mempunyai calon istri.
"Bukan kah dia akan segera menikah,? dan mungkin dia sudah menikah. Astagaaaa Laura apa maksud dari rencana mu ini."
Laura tersenyum manis kepada Rivan.
"Gisella dan Rangga saling mencintai, Rangga tidak mencintai Fransisca calon istri dan mungkin sekarang mereka berdua sudah menikah. Aku akan mencoba untuk mempersatukan mereka berdua."
Rivan merasa rencana Laura yang sangat kelewatan sekali, tapi dia hanya bisa terdiam saja biarlah Laura yang melakukan nya sendiri karena rencana ini terlalu memaksa kan.
"Rivan, aku masih ingin bersama dengan Kenzo malam ini. Bisakah aku masih bersama dengan Kenzo dan kamu pergi saja keluar sana meninggalkan aku bersama dengan Kenzo berdua di Apartemen ini."
Laura terus memandangi wajah Kenzo yang sudah terlelap tidur.
"Demi anak ini aku rela menginap di Apartemen Rivan, dan meninggalkan Apartemen ku. Aku pun melupakan suami ku sendiri demi anak ini, begitu sangat berani sekali kamu Kenzo sampai aku ingin bisa bersama dengan muu."
Laura memegang perut nya dia berharap juga bisa mendapatkan anak laki-laki seperti Kenzo.
"Semoga saja kamu juga lelaki yaa, supaya jadi penerus perusahaan
Rivan pun menghampiri Laura yang sedang menggendong Kenzo.
"Silahkan saja jika kamu ingin bersama dengan Kenzo, aku tidak akan menggangu kalian berdua. Kamu bisa mengunci pintu kamar nya supaya kamu merasa nyaman."
__ADS_1
Rivan menutup rapat kamar tersebut dan dia pun memilih untuk pergi dari Apartemen.
Laura pun membuka kan kembali pintu kamar nya dan dia melihat Rivan yang benar-benar pergi dari Apartemen.
"Dia benar-benar pergi meninggalkan ku bersama dengan Kenzo, terimakasih banyak Rivan kamu baik sekali kepada ku."
Laura merasa sangat nyaman sekali berada di Apartemen Rivan sampai dia melupakan Barra.
***
Rivan masuk ke dalam mobil nya dan dia berniat untuk pergi ke sebuah cafe, Rivan ingin menenangkan perasaan hati nya. Dia yang seharian sibuk di Rumah Sakit.
Rivan begitu sangat bahagia sekali ketika Laura yang meminta sendiri untuk berada di Apartemen nya.
"Laura, silahkan kamu mencari Rangga untuk Gisella tapi aku akan lebih fokus pada hubungan kita berdua. Sudah ku duga Kenzo akan menguatkan hubungan kita berdua. Tidak sia-sia aku merencanakan ini, aku yang merawat Kenzo yang terlahir prematur."
Rivan pun masuk ke dalam Cafe tersebut dia duduk dan mulai memesan minuman untuk nya.
Rivan sibuk memilih pesanan untuk nya, sampai dia tidak menyadari jika Barra yang baru saja masuk dan duduk di kursi belakang.
Barra melihat dia seperti kenal dengan lelaki yang ada di hadapan nya.
"Seperti nya aku sangat kenal sekali dengan lelaki yang ada di depan ku ini, tapi siapa yaa dia."
Barra terus saja memperhatikan nya, sampai akhirnya Rivan memanggil pelayan dan Barra pun langsung mengenali suara nya.
"Rivan, ternyata Rivan yang ada di hadapan ku ini."
Barra pun berdiri dari tempat duduk dan menghampiri Rivan, ini adalah kesempatan untuk nya agar bisa berbicara dengan Rivan.
Barra langsung saja duduk di depan kursi Rivan dan Rivan pun begitu sangat terkejut sekali ketika dia melihat Rivan yang ada di hadapan nya.
"Kebetulan sekali kita di pertemukan di Cafe tanpa harus ada perjanjian terlebih dahulu."
Rivan tersenyum manis kepada Barra , dia merasa sudah waktu nya jika Barra mengetahui semuanya.
"Barra, seperti nya sekarang hubungan mu dengan Laura sedang tidak baik-baik saja kan?."
Rivan mulai memancing Barra agar dia yang menceritakan semuanya kepada nya.
Rivan langsung terdiam mendengar perkataan Barra, kenapa Barra sampai mengetahui hubungan masa lalu Laura.
Sedangkan orang tua Laura pun tidak mengetahui hubungan mereka di masa lalu.
"Kenapa kamu bisa mengatakan hal tersebut,? dari mana kamu mengetahui tentang hubungan Laura di masa lalu. Apakah Laura menceritakan semuanya kepada mu tentang masa lalu nya."
Rivan pun langsung meminum air yang ada di hadapan nya.
"Laura, tidak pernah bercerita tentang kehidupan masa lalu nya. Tapi aku menemukan rahasia itu di kamar Laura yang dulu, aku melihat banyak sekali foto-foto kebersamaan nya di masa lalu nya."
Rivan tidak menyangka Barra lebih pintar dari Laura, dan kenapa Laura begitu sangat mudah nya membuka Barra masuk ke dalam kamar nya.
Setelah mendengar perkataan dari Barra, itu tanda nya Barra sudah mengetahui jika Rivan adalah masa lalu nya.
Barra memandangi wajah Rivan dengan sangat serius sekali.
"Apakah kamu masih mencintai Laura,? sampai sekarang kamu masih menyimpan perasaan kepada Laura istri kuu."
Barra tidak mau berbelat-belit, dia langsung saja bertanya pada inti nya.
Dan Rivan merasa tidak nyaman dengan pertanyaan seperti dia menundukkan kepalanya.
"Sudah beberapa hari ini, aku sudah tidak tinggal bersama dengan Laura. Laura mengusir Gisella dari rumah ibu nya dan sekarang Gisella dan Tiara tinggal bersama dengan Mama Rossa sedang aku lebih memilih untuk tinggal di Apartemen yang dulu pernah di tempat kan oleh Gisella."
Secara tidak langsung Barra mengatakan kepada Rivan jika hubungan mereka berdua sudah pisah rumah.
"Dan aku tidak mengerti, jika kalian berdua memang memiliki hubungan spesial tapi kenapa Laura yang tidak mau berpisah dengan kuu. Dan kamu kenapa bisa mau dengan Laura yang sekarang sedang hamil anak ku, apakah kamu lebih menyukai bertanggung jawab terhadap anak orang lain."
Seandainya Barra mengetahui jika Laura yang sedang hamil anak Rivan, mungkin dia akan langsung meninggalkan Laura tidak harus menunggu Laura untuk melahirkan anak kedua nya.
"Ya, aku mengakui nya. Aku masih mempunyai perasaan terhadap Laura. Tapi Laura yang tidak mempunyai perasaan terhadap ku sehingga membuat Laura selalu ingin bersama dengan mu. Tapi ada sesuatu hal yang membuat kita berdua harus bisa bersatu, sesuatu yang hanya kita berdua yang tahu. Aku yang tidak bisa mengatakan nya karena aku tidak mempunyai bukti yang kuat."
Rivan memilih langsung pergi dari Cafe tersebut, tapi dia sekarang merasa sangat tenang sekali karena Barra yang sudah mengetahui perasaan terhadap Laura.
__ADS_1
"Sekarang semua nya sudah sangat jelas sekali Barra, kamu tinggal menunggu kejujuran dari Laura walaupun itu semua tidak akan pernah terjadi. Dan lalu apa sesuatu yang hanya mereka berdua saja yang mengetahui nya, apa yang di sembunyikan oleh mereka berdua."
Barra pun segera pergi dari tempat tersebut, dia berniat untuk pergi ke Apartemen Laura.
"Aku ingin tahu apakah Laura berada di Apartemen nya, atau dia pergi dari Apartemen tersebut."
Barra begitu sangat emosional sekali jika sampai dia tidak menemukan Laura di dalam Apartemen nya.
"Rivan tidak bersama dengan Laura, itu tanda nya. Laura jika tidak ada di Apartemen nya dia pergi ke mana."
Barra pun akhirnya sampai di depan pintu Apartemen Laura, Barra langsung membuka kunci pintu Apartemen nya.
Barra masuk ke dalam dan mencari Laura ke setiap sudut ruangan tapi dia tidak menemukan Laura di dalam Apartemen nya.
"Pergi ke mana kamu Laura, kenapa kamu tidak ada di Apartemen ini."
Barra mencoba untuk menghubungi nomer handphone Laura.
Ternyata Laura yang sedang tertidur pulas bersama dengan Kenzo di pelukan nya.
Suara deringan handphone Laura membuat Laura terbangun dari tidur pulas nya.
"Mas Barra,? ada apa yaa dia menelephone ku."
Laura dengan sangat semangat sekali dia langsung menerima panggilan telephone dari suami nya tersebut.
*Hallo Mas Barra, ada apa ya Mas. Kamu menelephone aku semalam ini.*
*Laura kamu sedang berada di mana yaa, apakah kamu berada di Apartemen malam ini.*
Barra mencoba untuk berbohong kepada Laura, dia ingin tahu apakah Laura akan jujur atau tidak kepada dirinya.
Laura pun merasa sangat gugup sekali untuk menjawab pertanyaan dari Barra, dia berpikir jika dia berbohong Barra pun tidak akan pernah tahu jika dia memang tidak sedang berada di Apartemen nya.
*Hmmmmm, aku sekarang sedang berada di Apartemen Mas. Aku yang selalu setia menunggu kedatangan mu di Apartemen mu ini.*
*Baiklah Laura, malam ini aku akan pulang ke Apartemen. Sekarang aku yang masih berada di sebuah Cafe.*
Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan Kenzo yang begitu sangat kencang sekali dia merasa terganggu sekali dengan suara Laura yang sedang menelephone Barra.
Barra mendengar sangat jelas sekali suara tangisan bayi tersebut dan Laura memilih untuk langsung mengakhiri panggilan telephone nya.
"Bagaimana ini Mas Barra akan segera pergi ke Apartemen ku, sedang sekarang aku sedang berada di Apartemen Rivan. Rivan pun pergi ntah ke mana sekarang, aku harus segera pulang ke Apartemen ku sekarang juga."
Laura mencoba untuk terus menghubungi nomer handphone Rivan, Rivan yang menuju untuk perjalanan pulang dia memilih untuk mengabaikan panggilan telephone dari Laura.
"Astagaaaa Rivan, kenapa kamu tidak mau menjawab panggilan telephone ku ini."
Laura pun merasa sangat tidak tega melihat Kenzo yang terus menerus menangis dan dia pun mencoba untuk menenangkan Kenzo terlebih dahulu.
"Sayaaaaang jangan menangis yaa sayaaaaang, sebentar yaa Tante buatkan susu formula untuk kamu."
Laura membuat kan susu formula untuk Kenzo dan setelah selesai Laura membawa Kenzo ke luar kamar sambil menunggu kedatangan Rivan.
Kenzo langsung terdiam dan tidur kembali ketika dirinya bersama dengan Laura, dan akhirnya Rivan pun datang ke Apartemen nya.
Laura menghela nafas panjang nya ketika dia melihat Rivan yang datang.
"Rivan, cepat lah ke sini. Aku harus segera pulang ke Apartemen sekarang juga. Karena Barra yang sekarang akan datang ke Apartemen, aku bilang kepada nya jika aku yang sedang berada di Apartemen."
Laura langsung memberikan Kenzo kepada Rivan, tapi ketika Laura berlari menuju ke pintu keluar.
Tiba-tiba saja Kenzo yang menangis kencang seperti tidak mau Laura pergi meninggalkan nya.
Seketika Laura pun langsung terdiam ketika mendengar suara tangisan Kenzo, dia sangat tidak tega melihat Kenzo yang menangis tapi dia juga harus menyelamatkan hubungan rumah tangga nya bersama dengan Barra.
Laura pun dengan sangat terpaksa dia harus meninggalkan Kenzo yang terus menerus menangis kencang.
"Maafkan Tante Kenzo tapi Tante harus pergi, maafkan Tante."
Laura berjalan dengan sangat cepat sekali dia menuju ke dalam mobil nya, dia mencoba untuk mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.
Yang sebenarnya sangat membahayakan untuk dirinya sendiri dan kandungan nya.
__ADS_1
Semua Laura lakukan hanya demi Barra.