
Semenjak hari itu Barra berjanji akan selalu ada di samping Laura, dia akan mendukung program kehamilan Laura.
Sampai Barra melupakan Gisella yang tinggal sendiri di Apartemen nya.
Gisella terus saja merasa tidak enak badan, dia seperti ingin mengeluh dengan kondisi nya yang sekarang.
"Seperti nya Kak Barra nggak bakalan datang ke sini, dia pasti sedang bersama dengan Kak Laura. Aku tidak boleh mengganggu kebersamaan mereka berdua."
Gisella mulai harus terbiasa untuk tinggal sendiri di Apartemen tersebut.
"Seperti mulai besok aku ingin keluar dari Apartemen ini, aku ingin merasakan udara segar di luar sana. Aku tidak mau selalu terdiam di dalam Apartemen ini."
Gisella pun memilih beristirahat dia tidak lupa meminum vitamin daya tahan tubuh yang di berikan oleh Barra.
"Selamat tidur Kak Barra, walaupun kita berjauhan semoga saja Kak Barra selalu dalam keadaan sehat."
Gisella mulai memejamkan mata nya sambil membayangkan wajah Barra.
*Keesokan harinya di rumah Barra*
Laura merasakan apa yang dia tidak pernah rasakan, ketika dia terbangun dari tidurnya ada suaminya yang memeluk erat tubuh nya.
"Selamat pagi sayang, semoga kita akan terus seperti yaa."
Laura mencium kening Barra dan melepaskan pelukan erat dari Barra.
Laura pun langsung mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor nya, dia pun menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh suaminya.
"Mas, bangun sudah jam 7 ini."
Laura menepuk lembut pundak Barra.
Barra pun membuka matanya secara perlahan dan melihat matahari yang bersinar terang.
"Astaga aku kesiangan, aku langsung mandi yaa sayaaaaang."
Barra terburu-buru untuk segera mandi untuk bersiap-siap pergi ke kantor nya.
Laura menunggu Barra di meja makan bersama dengan Rossalinda.
Rossalinda melihat Laura yang tersenyum manis dia seperti sedang bahagia sekali.
Barra pun langsung menghampiri Laura dan mereka pun sarapan bersama.
"Barra, Mama seperti tidak berselera untuk sarapan pagi hari ini."
Rossalinda memilih untuk meninggalkan tempat tersebut, dia seperti tidak senang melihat Laura dan Barra kembali bahagia.
__ADS_1
Sejak dari awal pernikahan Barra dan Laura, Rossalinda memang tidak menyukai Laura kehadiran Gisella membuat Rossalinda merasa sangat bahagia sekali. Dia lebih berharap Barra bisa bersama dengan Gisella bukan Laura.
Barra merasa sangat aneh sekali ketika melihat Mama nya yang tidak berselera untuk sarapan pagi.
"Laura, aku menghampiri Mama dulu yaa. Aku takut Mama sakit."
Laura pun mengijinkan Barra untuk pergi menghampiri Mama nya.
"Kenapa dengan Mama Rossa yaa, semoga saja dia baik-baik saja. Lebih baik aku pergi ke kantor saja biarkan Mas Barra yang bertanya dengan Mama Rossa."
Laura menyelesaikan makanan nya dan dia langsung pergi.
Barra mengetuk pintu kamar Mama nya dan langsung membuka nya.
Barra melihat Mama nya sedang duduk di atas kasur nya.
"Mama baik-baik saja kan,? Mama tidak sedang sakit kan Mam."
Barra terlihat sangat hawatir sekali dengan Mama nya.
"Mama baik-baik saja, hati ini Mama akan pergi ke Apartemen Gisella. Mama akan membawa buah-buahan dan makanan untuk Gisella."
Barra pun hanya bisa terdiam dia tidak mungkin kembali menemui Gisella di saat dirinya dengan Laura sudah berdamai.
"Mama tau kamu sekarang sedang mencoba untuk melupakan Gisella, dan fokus dengan program kehamilan Laura. Jadi biarlah Mama saja yang memperhatikan Laura."
Rossalinda pun memilih untuk pergi meninggalkan Barra dia yang berniat untuk pergi ke Apartemen Gisella.
Barra pun lebih memilih untuk pergi ke kantor nya, dia mengabaikan Mama nya yang pergi sendiri untuk melihat Gisella.
"Barra sudah mulai buta cinta oleh Laura, sudahlah lebih baik sekarang aku harus fokus dengan Gisella."
Di perjalanan menuju ke Apartemen Gisella, Rossalinda bener-bener memberikan makanan yang terbaik untuk Gisella.
Sampai akhirnya Rossalinda berdiri di depan pintu masuk Apartemen Gisella.
Mendengar suara bell yang sangat kencang sekali, Gisella pun langsung berlari dan membuka pintu tersebut.
Seketika Gisella pun sangat terkejut sekali ketika melihat Rossalinda yang berada di hadapannya.
Gisella pun langsung membuka lebar pintu tersebut, sehingga Rossalinda masuk ke dalam Apartemen nya.
"Gisella, apakah kamu merasa sangat nyaman sekali berada sendiri di dalam Apartemen ini."
Rossalinda memberikan makanan dan buah-buahan untuk Gisella.
"Aku merasa sangat nyaman sekali walaupun sendiri di dalam Apartemen ini."
__ADS_1
Gisella pun tersenyum manis kepada Rossalinda.
"Gisella, Barra mungkin tidak akan pernah datang ke sini untuk bersama dengan kamu. Tapi kamu jangan hawatir Mama yang akan ada untuk kamu."
Rossalinda melihat wajah Gisella yang sangat pucat sekali.
"Gisella, apakah kamu baik-baik saja?. Wajah kamu seperti pucat sekali kamu seperti sangat kelelahan sekali."
Gisella pun mulai menceritakan apa yang dia rasakan.
"Aku merasa sangat lemas sekali dan memang tensi kuu selalu rendah. Tapi sekarang aku merasa sangat lemas sekali."
Rossalinda memegang kening Gisella yang tidak demam.
"Apakah kamu ingin pergi ke Dokter, agar bisa tau apa penyebab dari semua ini."
Gisella menggelengkan kepalanya dia tidak mau.
"Baiklah kalau begitu, kamu harus makan yang bergizi yaa. Sayuran, buah-buahan pokoknya kamu tidak boleh telat makan yaa."
Rossalinda begitu sangat perhatian sekali dengan Gisella.
"Kamu bisa keluar dari Apartemen ini, karena kamu tidak mungkin selalu diam di dalam Apartemen ini yaa."
Rossalinda mengupaskan buah Apple merah untuk Gisella, dan mencoba untuk menyuapi nya.
Gisella lebih memilih mengambil sendiri buah Apple tersebut.
"Gisella, Mama tidak bisa berlama-lama di sini. Karena mulai sekarang Mama memilih untuk sibuk kembali di kantor kamu hati-hati yaa di sini, apapun yang terjadi hubungi Mama jangan Barra."
Gisella pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Rossalinda pun langsung pergi dari Apartemen Gisella.
"Kenapa Tante Rossa baik sekali dengan aku yaa, dia perhatian sekali."
Gisella pun merasa sangat senang sekali ketika dia mendapatkan perhatian lebih dari Rossalinda.
"Banyak sekali yaa yang di bawa oleh Tante Rossa, sayuran pun di bawa untuk aku."
Gisella pun membereskan di dapur.
"Sekarang Kak Barra pasti sedang bersemangat untuk menjalankan program kehamilan, jika nanti aku pun hamil dan Kak Laura pun hamil apakah itu tandanya aku bisa mengurus anak ku sendiri."
Gisella pun tampa sadar memegang perut nya dan mengelus perut nya.
"Gisella apakah mungkin kamu akan bisa secepatnya hamil, kamu akan menjadi seorang ibu."
__ADS_1
Gisella tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkan dirinya hamil dan mempunyai anak.
Gisella pun membayangkan wajah anak nya nanti seperti siapa, Barra atau dirinya