Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #226#


__ADS_3

Suara tangisan Tiara membuat mereka berdua pun langsung berpisah dan pintu pun yang tiba-tiba saja langsung terbuka.


"Huh, hampir saja Papa akan membuat adik untuk mu Nak."


Barra pun langsung menutup rapat pintu kamar Gisella sambil tersenyum.


Gisella menghampiri Tiara dan mencoba untuk menenangkan Tiara yang menangis.


"Jangan menangis yaa, ibu harus mengganti baju dulu yaa sayaaaaang."


Gisella pun terus berusaha menenangkan Tiara sampai akhirnya Tiara pun mau terdiam.


Gisella menaruh Tiara ke atas kasur dan dia pun memikirkan bagaimana dengan kondisi Laura.


"Aku yang belum pernah melihat kondisi Kak Laura, dan apakah dia sudah baik-baik saja."


Gisella pun mencoba untuk menayakan kepada ibu nya.


*Bu, bagi dengan kondisi Kak Laura sekarang. Maafkan aku yang belum bisa melihat Kak Laura sampai saat ini.*


Riana yang sedang menyuapi Laura dia merasa handphone nya bergetar tapi dia mengabaikan nya karena sedang fokus dengan Laura.


"Jika kamu merasa lapar, makan saja walaupun itu di malam hari. Karena bayi yang ada di dalam kandungan kamu butuh nutrisi."


Laura pun mengangguk kan kepala nya dan meneruskan makan nya sampai habis.


Ketika melihat Laura yang sudah selesai makan, Riana pun mengupaskan buah mangga untuk Laura.


Riana tidak mau Laura mengabaikan kehamilan nya kembali.


"Silahkan makan sendiri yaa, ibu mau lihat seperti nya ada pesan yang masuk. Mungkin itu adalah pesan penting dari Ayah kamu."


Riana pun mengambil handphone nya dari saku celana nya dan ternyata untuk adalah pesan dari Gisella.


Riana pun membaca dan langsung membalas nya.


*Laura besok sudah mulai bisa pulang, kamu bisa datang bersama dengan Barra besok pagi.*


Membaca balasan pesan dari ibu nya, Gisella pun memilih untuk mengirimkan pesan kembali kepada Barra karena tidak mungkin dia mengobrol kembali dengan Barra.


*Besok Kak Laura sudah boleh pulang, bagaimana jika besok kita berdua pergi ke Rumah Sakit. Karena aku yang belum pernah melihat kondisi Kak Laura selama dia di rawat*


Membaca pesan dari Gisella, Barra semakin yakin jika dia akan segera berpisah dengan Laura.


*Baiklah, besok pagi kita pergi bersama-sama ke rumah sakit itu.*


Setelah membaca balasan pesan dari Barra, Gisella menyimpan handphone nya dan bersiap untuk tidur lelap.


"Semoga malam ini aku bermimpi indah yaa."


Gisella memeluk Tiara sambil mematikan lampu kamar nya.


~ Keesokan harinya ~


Gisella sudah sangat cantik sekali dia sudah duduk di meja makan menunggu Barra dan Rossalinda.


"Gisella pagi ini kamu terlihat sangat cantik sekali sayang, dan Mama sangat suka tampil mu."


Rossalinda melirik mata nya kepada Barra dan Barra terlihat seperti malu-malu.


"Terimakasih banyak atas pujian nya Mama Rossa."


Gisella tersenyum manis kepada Barra.


"Oh iya Mam, hari ini aku dan Kak Barra akan pergi ke rumah sakit karena hari ini Kak Laura sudah bisa pulang."


Rossalinda merasa ingin saat nya untuk dia mengatakan nya kepada Gisella dan Barra.


"Barra, jika Laura sudah sembuh segera kamu meneruskan sidang perceraian mu yang sudah kamu tunda itu. Semakin cepat semakin baik Mama ingin bisa melihat kalian berdua bahagia."


Gisella pun langsung terdiam ketika mendengar perkataan itu dia lebih memilih diam dan tidak mau ikut campur walaupun ada rencana yang ingin di lakukan oleh Rossalinda untuk dirinya dan Barra.


"Aku ingin sekali fokus pada perceraian ini Mam, selesai bercerai baru kita membicarakan hal selanjutnya nya yang akan kita lakukan."


Barra berharap Gisella setuju dengan rencana pernikahan yang akan Barra rencana dengan Gisella setelah Barra bercerai dengan Laura.


Gisella selesai sarapan dan Barra pun langsung bersiap-siap untuk pergi.


Gisella bersalaman dengan Rossalinda dan juga mencari Tiara karena akan pergi.

__ADS_1


"Barra, jaga Gisella baik-baik yaa. Jangan sampai dia terluka hati nya apalagi fisik nya oleh Laura. Karena kamu yang sudah menginginkan bersama dengan Gisella ketika kamu sudah berpisah dengan Laura."


Barra pun bersalaman dengan Mama nya.


"Iyaa Buuu, aku akan selalu melindungi Gisella."


Melihat Gisella yang sudah ada di belakang nya, Barra pun segera pergi untuk menuju ke Rumah Sakit.


Gisella duduk di kursi depan dia sudah seperti menjadi istri Barra.


"Kak, apa yang akan kita bawa untuk kak Laura. Apa yang akan Kakak berikan untuk Kak Laura."


Barra pun memilih untuk berhenti di depan toko boneka.


"Boneka,? Kak Barra tidak akan memberikan Kak Laura bucket bunga seperti biasa nya."


Barra hanya terdiam saja tidak menjawab pertanyaan dari Gisella dan Barra pun turun dari mobil nya.


Melihat Barra yang turun dari mobil nya, Gisella hanya memilih untuk menunggu Barra di dalam mobil nya saja.


"Lebih baik aku menunggu di dalam mobil saja, daripada aku masuk ke dalam nanti Kak Barra menyuruh aku untuk memilih kan boneka nya lagi."


Barra pun akhirnya datang dengan membeli boneka Teddy bear putih yang sangat besar sekali.


"Astaga, besar sekali boneka yang di beli kan oleh Kak Barra."


Boneka tersebut pun di masukkan ke dalam plastik dan di buat menciut kecil.


Barra menyimpan boneka tersebut di kursi belakang dan Barra kembali ke kursi depan.


Gisella memilih untuk diam tidak banyak bertanya kenapa Barra lebih memilih untuk membelikan boneka kepada Laura.


Barra pun memperhatikan Gisella yang diam saja dari saat dirinya turun di toko bunga sampai membawa boneka tersebut ke dalam mobil nya.


"Alesan aku memberikan boneka Teddy bear yang besar, karena aku yang sudah tidak bisa memeluk Laura di saat dia bersedih."


Gisella pun merasa Barra benar-benar sudah tidak mempunyai perasaan terhadap Laura sedikit pun.


Mereka berdua pun akhirnya sampai di depan Rumah Sakit dan Barra pun membawa boneka tersebut.


Gisella berjalan di belakang Barra dia tidak mau melihat langsung wajah Laura.


"Itu ibuu, dia seperti ingin menyelesaikan administrasi nya terlebih dahulu."


Barra pun langsung menarik tangan Gisella agar fokus menuju ke ruangan Laura.


Ketika Barra dan Gisella hendak membuka pintu mereka berdua seperti melihat ada seorang yang sedang berada bersama dengan Laura.


Barra memegang tangan Gisella seperti tidak membiarkan Gisella yang untuk masuk dan ternyata Barra melihat ada Dokter Rivan bersama dengan Laura.


Gisella dan Barra pun mencoba untuk mendengarkan perkataan Laura dengan Dokter Rivan.


"Rivan aku mohon aku tidak mau pulang dengan secepat ini, jika aku pulang maka aku akan segera berpisah dengan Barra."


Barra dan Gisella mendengar jelas perkataan Dokter Rivan dengan Laura yang tidak menginginkan berpisah dengan Barra.


"Laura apa yang kamu bisa dapat kan dari Barra, dia sudah tidak akan memberikan cinta kepada mu. Sedangkan aku pasti akan membagikan muu Laura."


Laura memegang perut besar nya dia tidak rela jika saat dia melahirkan tidak ada sosok suami di samping nya.


"Rivan, aku tidak di saat persalinan nanti aku tidak ada suami di samping ku. Itu sangat menyedihkan sekali dan kasihan sekali dengan anak ku ini."


Rivan semakin mendekati Laura tapi Laura tetap diam tidak menghindar dari Rivan dan itu semakin menguat rasa Perselingkuhan di antara mereka berdua di hadapan Barra.


Gisella pun melirikan mata nya kepada Barra, Gisella merasa Barra yang sudah sangat emosi dengan sikap Laura dengan Dokter Rivan tapi Barra seperti mencoba untuk menahan emosi nya.


"Aku yang akan bertanggung jawab atas kehamilan anak mu yang ke dua, sudah aku katakan berkali-kali untuk hal tersebut."


Dokter Rivan pun mengelus perut besar Laura dengan senyuman manis nya.


Gisella begitu sangat menghawatirkan sekali Barra karena dia pasti sangat terbakar api cemburu.


Barra yang sudah merasa sangat mual sekali dengan apa yang sudah di lakukan oleh Laura dan Dokter Rivan.


Barra pun mengetuk pintu kamar tersebut sebelum dirinya dan Gisella masuk ke dalam ruangan.


Hal tersebut membuat Laura dan Dokter Rivan begitu sangat terkejut sekali, Laura merasa takut sekali jika Barra mendengar percakapan nya bersama dengan Dokter Rivan.


Dokter Rivan pun seketika langsung menjauh dari Laura dan meminta ijin untuk pergi.

__ADS_1


"Laura, semoga kamu selalu sehat dan jangan sampai harus ke Rumah Sakit lagi."


Ketika Dokter Rivan yang hendak pergi dari ruangan tiba-tiba saja Barra menutup rapat pintu dan Gisella pun merasa di posisi yang harus menyaksikan pertandingan masalah rumah tangga di hadapan nya.


"Tidak usah pergi, berdiri kembali di samping Laura. Karena Laura yang sangat membutuhkan mu."


Gisella memilih untuk mundur dan menjauh dari Barra, Barra memberikan boneka yang dia belikan untuk Laura.


"Semoga boneka Teddy Bear ini yang akan menguatkan hati mu di saat kamu yang bersedih membutuhkan sebuah pelukan yang erat."


Laura pun mengambil boneka tersebut sambil mata nya yang berkaca-kaca.


"Terimakasih banyak, tapi aku yang lebih menginginkan pelukan erat dari suami ku sendiri."


Barra tidak menyangka Laura masih bisa mengatakan hal tersebut kepada nya, padahal jelas-jelas tadi dia yang sedang bersamaan dengan Dokter Rivan.


"Aku mohon datang besok pagi ke persidangan kita yang sebelumnya di tunda, aku ingin segera berpisah dengan mu Laura dan kamu juga bisa hidup bahagia bersama dengan Lelaki pilihan hati muu."


Pandangan mata Barra tertuju pada kandungan Laura yang sudah semakin membesar.


"Dan jika aku tidak bisa menemani mu dalam proses persalinan, semoga Dokter Rivan yang akan menemani muu Laura dia pasti sangat senang sekali bisa bersama dengan muu."


Laura merasa tidak percaya dengan kedatangan Barra yang tetap ingin berpisah dengan nya.


"Kenapa kamu tidak mau menemani proses persalinan anak ke dua mu, sedangkan dengan Gisella kamu mau menemani nya walaupun dia adalah hanya mantan istri muu."


Gisella pun seperti sudah tidak mau berada di ruangan tersebut ketika Laura yang sudah menyebutkan nama nya.


"Karena bayi yang di lahir kan oleh Gisella adalah hasil hubungan ku dengan Gisella, bukan hasil hubungan Gisella bersama dengan lelaki lain."


Setelah mengatakan hal tersebut Barra pun langsung menarik tangan Gisella untuk segera pergi dan Gisella pun hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Barra kepada nya.


Dokter Rivan yang mendengar sangat jelas perkataan Barra, dia pun berpikir jika sebenarnya Barra yang sudah mengetahui jika anak yang di kandung oleh Laura itu belum tentu anak Barra.


Laura pun langsung menagis histeris sambil membuka boneka pemberian dari Barra.


Dan ternyata benar saja ucapan Barra jika Boneka tersebut di pakai Laura untuk m


di peluk nya.


Riana masuk ke dalem ruangan Laura tapi dia melihat Laura yang sedang menangis.


"Apa yang sebenarnya terjadi,? kenapa Laura menagis kembang."


Riana memandangi wajah Dokter Rivan agar dia memberikan alasan Laura menangis.


"Barra tetap menginginkan perpisahan dengan Laura dan secara langsung memaksa Laura untuk bisa hadir di persidangan besok."


Riana merasa Barra yang sudah mengetahui rahasia Laura karena tidak mungkin Barra sampai bersikap seperti itu.


Suster dan Dokter pun mulai memeriksa kondisi Laura yang bisa pulang hari ini, mereka mengecek kembali kondisi Laura yang ternyata sudah sangat membaik.


"Baiklah, Bu Laura semuanya sudah di periksa dan baik-baik saja yaa. Ibu Laura sudah bisa pulang tapi jangan lupa selalu periksa kandungan nya Dokter Specialis Kandungan terbaik yaitu Dokter Rivan."


Semua sudah di lepaskan dan Laura sudah bisa langsung pulang, Riana memilih untuk membawa Laura pulang ke rumah nya.


Dan Dokter Rivan pun merasa jika dia semakin bisa cepat bersama dengan Laura dan mungkin bisa segera menikah secepatnya dengan Laura.


Dokter Rivan merasa jika Barra dan Gisella yang mendengar percakapan mereka berdua.


Laura pun di dorong di kursi roda untuk sampai ke mobil nya, dan Dokter Rivan kembali yang membantu Laura untuk masuk ke dalam mobil nya.


Gisella dan Barra yang masih berada di dalam mobil nya, dia melihat apa yang di lakukan oleh Dokter Rivan kepada Laura.


"Bayi itu adalah anak Dokter Rivan, bukan anak ku. Tega sekali Laura berhubungan dengan lelaki lain di saat masih ada ikatan pernikahan diantara kita berdua."


Gisella memegang tangan Barra dan Barra pun langsung memeluk erat tubuh Gisella di dalam mobil.


Gisella hanya terdiam ketika Barra yang memeluk tubuh nya, dan Barra ingin sekali bisa memulai yang baru dengan Gisella.


Laura terus saja menangis di perjalanan menuju ke rumah nya, dia terus menangis sambil memeluk boneka Teddy bear putih pemberian dari Barra.


"Persiapan diri kamu untuk kasus perceraian mu besok, sudah tidak ada lagi yang di harapkan di rumah tangga muu. Semua karena hubungan terlarang mu dengan Dokter Rivan."


Riana sampai bisa berkata seperti itu kepada Laura, dia sudah sangat pusing sekali melihat sikap Laura.


"Aku menyesal Buu, aku melakukan nya pun tidak dalam keadaan suka Buu. Rivan yang memaksa nya buu karena kita yang sedang berada di villa dan hujan deras yang membuat banyak pohon tumbang jadi kita yang terpaksa untuk menginap Buu."


Laura yang akhirnya jujur kepada ibu nya.

__ADS_1


__ADS_2