
Barra merasa berat hati untuk meninggalkan Laura, apalagi dengan kondisi nya yang seperti ini.
Barra hanya bisa memandangi wajah Laura yang seperti sedang menahan kesakitan.
Melihat Mama Rossa yang sudah masuk ke dalam mobil, Barra pun baru bisa menghampiri Laura.
"Laura kamu baik-baik saja kan,? pipi kamu terlihat sangat memar sekali. Lebih baik sekarang kita mencari klinik yang dekat di sini kita obati dulu luka kamu ini."
Laura menepis tangan Barra yang mau menyentuh pipi nya.
"Aku baik-baik saja, lebih baik sekarang kamu temani saja Gisella. Benar semua yang di katakan oleh Mama Rossa kasihan Gisella harus menunggu kamu di hotel sendiri."
Laura pun langsung masuk ke dalam mobil nya dia meninggalkan Barra begitu saja.
Dan membuat Barra di posisi yang serba salah.
"Yaa Tuhan harus bagaimana, Laura istri ku sedang terluka hati dan fisik nya. Tapi di sisi lain juga ada Gisella yang sedang hawatir sekali menunggu kedatangan kuu."
Barra masuk ke dalam mobil nya dia mulai merasa pusing kembali.
"Laura, maafkan aku. Ini tidak akan bertahan lama ini hanya sebentar saja setelah itu kehidupan kita berdua akan bahagia selamanya."
Barra pun menjalankan mobil nya menuju ke hotel.
__ADS_1
Gisella yang terlalu lama menunggu Barra membuat dirinya ketiduran di sofa.
Barra yang membawa konci pribadi pun memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar nya.
Melihat Gisella yang sedang tertidur pulas membuat Barra tidak berani membangunkan Gisella.
"Kasihan sekali dia pasti sangat lelah sekali, lebih baik aku memindahkan nya di kasur."
Barra pun mencoba untuk mengendong Gisella dan menidurkan nya di kasur.
Barra menyelimuti tubuh Gisella tapi tiba-tiba tangan Barra di pegang oleh Gisella.
"Rangga, tunggu aku Rangga aku pasti kembali."
Gisella memanggil nama kekasih nya dan membuat Barra seketika langsung terdiam mendengar nya.
"Gisella, bersabar lah semoga apa yang kita lakukan sekarang berjalan dengan baik dan lancar. Agar kita bisa bahagia bersama dengan pasangan kita masing-masing."
Barra mengelus rambut panjang Gisella dan tersenyum.
Barra memilih untuk tidur di sofa dia merasa belum berani untuk bisa menyentuh Gisella.
***
Laura terus saja menangis sambil mengendarai mobil nya.
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu sangat bodoh sekali Laura, kenapa kamu harus datang ke villa tersebut dan membuat semua nya menjadi kacau seperti ini."
Laura berteriak kencang sekali di dalam mobil nya melampiaskan kekesalannya.
"Aku seperti di permalukan di depan Mama Rossa, dia sampai menampar kuu seperti."
Laura memberhentikan mobilnya di memandangi wajah nya di cermin.
Memar yang semakin terlihat sangat jelas sekali.
"Bagaimana jika ibu dan ayah mengetahui nya, dia pasti akan marah besar sekali. Aku rasa malam ini aku tidak pulang ke rumah saja, lebih baik aku mencari hotel untuk menginap beberapa hari."
Laura mengeluarkan handphone dia memilih untuk mengirimkan pesan kepada Ibu nya.
"Lebih baik aku mengirimkan pesan saja, jika aku menelephone ibu dia pasti curiga mendengar suara kuu yang seperti ini."
***Buuu, malam ini aku lebih memilih untuk menginap beberapa hari di hotel. Aku ingin memenangkan perasaan ku ini dan besok pun seperti nya mulai pembangunan untuk usaha toko bunga kita.
*Baiklah sayaaaaang, jika memang itu yang terbaik untuk kamu. Kamu jaga baik-baik kondisi badan kamu yaa sayaaaaang, percaya lah semua pasti akan indah pada waktunya yaa. Ibu dan Ayah selalu ada untuk mendukung kamu**.
Laura merasa sangat terharu sekali ketika membaca pesan dari ibu nya.
"Terimakasih banyak atas dukungan nya, Ibu dan Ayah hanya kalian yang selalu bersama dengan kuu di saat aku seperti ini."
Laura melanjutkan perjalanan nya dia mulai mencari hotel bintang lima yang akan dia tempati.
__ADS_1
"Semoga saja aku tidak bertemu dengan Mas Barra dan Gisella, dan semoga saja mereka berdua tidak menginap di hotel ini."
Laura pun langsung masuk dan mulai memesan kamar hotel untuk nya.