
Laura pun merasa sangat pusing sekali ketika dia lihat jam yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
Laura yang merasa sangat pusing sekali akhirnya dia ketiduran di sambil memegang handphone nya.
Keesokan harinya di villa, Gisella bangun dari tidurnya. Dia merasa sangat lelah sekali melewati malam nya bersama dengan Barra.
Gisella melihat handphone Barra yang terjatuh di lantai, Gisell pun mengambil handphone tersebut dan ternyata banyak sekali panggilan telephone tidak terjawab dari Laura.
"Astaga, bagaimana ini. Ternyata semalam Kak Laura menelephone sampai panggilan telephone terakhir jam 3 subuh. Ahhhhh sudah ku duga ini pasti akan menambah permasalahan saja."
Gisella pun menyimpan handphone tersebut di pinggir bantal Barra.
"Lebih baik aku secepatnya mandi agar ketika aku Kak Barra bangun aku sudah cantik dan wangi, aku tidak mau Kak melihat aku dalam keadaan seperti ini."
Gisella pun segera pergi untuk mandi dia benar-benar ingin tampak cantik dan wangi di hadapan suaminya.
Selesai mandi Barra belum juga terbangun dari tidurnya, Gisell melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 08:00.
"Astagaaaa, ini waktu Kak Barra pergi ke kantor tapi dia masih saja belum bangun dari tidurnya."
Akhirnya nya Gisella pun membangun kan Barra dengan menepuk lembut pipinya dan dengan suara yang sangat lembut sekali.
"Kaaaa, bangun sudah jam 8 pagi. Ini waktu nya Kakak pergi ke kantor dan juga mengatakan aku pulang."
Barra masih saja tertidur pulas membuat Gisella merasa sangat kebingungan sekali bagaimana cara membangun suaminya tersebut.
Gisella pun mencium kening Barra dengan penuh perasaan sekali sambil mengelus rambut nya.
Gisella terus memandangi wajah suaminya yang masih tertidur pulas sekali.
Ketika Gisella hendak mencium kening Barra kembali, Barra pun tiba-tiba saja membuka mata nya.
Dan Gisella pun langsung menjauh dari Barra.
"Terimakasih telah membangunkan tidur ku dengan sangat manis sekali, kamu cantik sekali pagi ini Gisella Reviska."
Gisella merasa sangat malu sekali ketika Barra melihat nya begitu sangat serius sekali.
Barra pun mulai pergi untuk mandi dan Gisella lebih menunggu Barra di dalam mobil.
"Kak, aku menunggu di dalam mobil yaa."
Gisella pergi sambil mengambil kunci mobil milik Barra.
Gisella lupa memberitahu kepada Barra, jika Laura menghubungi nya.
__ADS_1
Barra pun akhirnya datang dan masuk ke dalam mobil nya.
"Gisella, apakah kamu akan pulang kembali bersama sekarang?."
Gisella menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Tidak, aku ingin pulang ke rumah orang tua ku saja. Aku belum siap untuk bertemu dengan Kak Laura apalagi sekarang kita berdua sudah menghabiskan malam bersama."
Barra tidak bisa memaksa Gisella dia pun mengantar Gisella terlebih dahulu.
"Seperti nya, aku pulang dulu ke rumah. Banyak sekali panggilan telephone dari Laura. Sekarang dia pasti sedang berada di rumah."
Gisella hanya bisa terdiam dia merasa sangat bersalah sekali.
Gisella pun akhirnya sampai di depan rumah nya.
"Kamu hati-hati ya Gisell, nanti kita bertemu lagi yaa."
Barra melambaikan tangan nya dan Gisella pun hanya bisa tersenyum manis kepada Barra.
Gisella memilih langsung masuk ke dalam rumah dengan barang-barang yang sudah di belikan oleh Barra.
"Semoga saja semua nya baik-baik saja, semoga saja Kak Laura tidak marah-marah kepada Kak Barra."
Gisella menginginkan yang terbaik untuk rumah tangga Kakaknya.
Barra merasa hal yang berbeda ketika dirinya akan bertemu dengan Laura.
"Kenapa aku merasa tidak mau menemui Laura, perasaan ku tidak seperti saat ingin bertemu dengan Gisella."
Barra pun masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh Rossalinda.
"Apakah kamu semalam bersama dengan Gisella,?" tanya Rossalinda kepada Barra.
Barra hanya menjawab dengan senyuman tipis nya dan melanjutkan langkah kaki nya menuju ke kamar nya.
"Baguslah, perbanyak waktu bersama dengan Gisella. Mama yakin sekali bulan depan Gisella sudah pasti akan hamil."
Barra mencoba untuk membuka pintu kamar nya tapi ternyata pintu kamar tersebut di kunci oleh Laura.
Barra mengambil kunci cadangan dia tidak mau membuat bising rumah nya dengan ketukan pintu kamar nya.
Barra membuka pintu kamar nya dia melihat foto pernikahan yang berada di depan pintu kamar nya.
Barra pun mengambil foto pernikahan nya tersebut.
__ADS_1
"Seperti nya foto ini di lempar oleh Laura."
Barra pun menghampiri Laura yang sedang tertidur pulas, Barra melihat kamar nya berbeda di buat romantis oleh Laura.
"Seperti nya Laura tidur di saat terakhir di menelephone aku, sudahlah lebih baik dia tidur saja untuk beristirahat karena kalau tidak seperti ini dia tidak punya waktu untuk beristirahat."
Barra membiarkan Laura dia mengganti baju untuk pergi ke kantor.
"Biasanya Gisell yang menyiapkan baju ku untuk pergi ke kantor."
Barra teringat kembali dengan Gisella.
Barra membukakan jendela kamar nya dan membuat matahari masuk ke dalam kamar nya.
Pantulan cahaya matahari membuat Laura terbangun dari tidurnya.
Laura pun langsung terbangun ketika melihat Barra dan menghampiri nya.
Ketika Laura hendak memeluk erat Barra.
"Lebih baik kamu mandi dulu baru kamu menghampiri Suami mu ini, aku tunggu kamu di meja makan."
Barra mengabaikan Laura begitu saja dan membuat Laura merasa sakit hati.
"Apakah ini tanda nya dia sudah tidak mau menyentuh ku lagi, ini tidak bisa di biarkan begitu saja."
Laura pun mengikuti apa yang di katakan oleh suaminya, dia mandi dan ber makeup sangat cantik sekali.
Laura pun menuju ke tempat makan di meja makan hanya ada Laura dan Barra.
"Mas semalam kamu pergi ke mana,? kenapa panggilan telephone aku tidak kamu jawab. Aku menelephone kamu lebih dari 30 kali kenapa kamu mengabaikan nya."
Pertanyaan Laura membuat Barra merasa sangat kebingungan sekali untuk menjawab nya.
Dan Barra memilih untuk terdiam saja sambil menikmati sarapan pagi nya.
"Apakah semalam kamu bersama dengan Gisella,? sampai kamu mengabaikan panggilan telephone dari kuu."
Laura menarik nafas panjang nya dalam-dalam.
"Mas, Gisell itu hanya istri sementara dia akan pergi di saat dia sudah melahirkan anak kamu. Kamu jangan terlalu dekat dengan dia dan melupakan aku sebagai istri kamu Mas."
Laura mulai terbawa emosional nya dia mencoba untuk menenangkan diri nya.
"Iya, aku tahu itu. Tapi aku pun mempunyai tanggung jawab kepada Gisella. Aku membawa Gisella untuk membelikan barang-barang kebutuhan nya dan ternyata hujan deras dan petir, Gisell sangat ketakutan sekali petir hingga dia sampai ketiduran."
__ADS_1
Laura hanya tersenyum mendengar perkataan Barra walaupun dalam hati kecil nya dia sangat marah sekali.