
Setelah beristirahat Laura memilih untuk bertemu dengan Dokter Rivan.
"Aku ingin sekali berkonsultasi dengan Dokter Rivan, aku sangat lelah sekali. Aku butuh seseorang yang bisa membuat aku bangkit."
Laura mulai menghubungi Dokter Rivan, dia benar-benar ingin bertemu dengan Dokter Rivan.
Di seberang jalan ada sebuah Restoran, Laura pun memberikan alamat nya dan menunggu kedatangan Dokter Rivan.
"Laura, ada apa lagi dengan dia. Sangat menghawatirkan sekali kondisi nya. Bulan ini dia tidak periksa kehamilan nya, dia juga pasti tidak makan dengan teratur."
Dokter Rivan yang posisinya sedang libur bertugas pun langsung memilih untuk menemui Laura.
Laura menunggu kedatangan Dokter Rivan, dia begitu sangat lemas sekali dan terus memegang perut nya.
"Laura, kamu harus semangat. Kamu pasti bisa bangkit."
Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya Dokter Rivan pun datang.
Dan Laura merasa sangat senang sekali ketika melihat Dokter Rivan datang untuk nya.
__ADS_1
Dokter Rivan melihat wajah lelah Laura yang tidak bisa di tutupi.
"Laura, kamu harus menjaga kesehatan kamu. Lihat kamu seperti kelelahan sekali Laura, kamu harus memperhatikan juga asupan makanan yang bergizi untuk kamu dan anak kamu."
Dokter Rivan begitu sangat perhatian sekali dengan Laura.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku merasa sangat lelah sekali. Aku ingin sekali bisa segera melahirkan anak ini, aku sekarang di posisi yang sangat sakit sekali. Perusahaan ku terancam bangkrut sedang Mama Rossa memberikan bisnis baru nya untuk Gisella."
Air mata Laura tumpah di kedua pipinya.
Dokter Rivan hanya bisa terdiam saja dia mendengarkan luapan emosi Laura kepada nya.
"Apakah Mama Rossa ingin bersaing bisnis dengan ku, dengan menjadi Gisella yang bersaing dengan bisnis aku."
Dokter Rivan, merasa tidak mudah berada di posisi Barra.
__ADS_1
Ketika Barra yang begitu sangat mencintai Laura tidak mau kehilangan Laura, tapi dia juga ingin bertanggung jawab atas kehamilan Gisella.
Dokter Rivan merasa jika bisnis terbaru Mama Rossa itu adalah hasil dari pembicaraan Barra dan Mama nya.
Mereka berdua tidak mungkin membiarkan Gisella, berjuang di luar untuk memperjuang kan masa depan anak nya.
"Laura, sampai kapan kamu seperti ini kepada Gisella. Laura apa kamu tidak punya rasa kasihan dengan Gisella. Laura jika kamu kehilangan perusahaan mu, masih ada Barra yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan kamu sedang kan Gisella dia tidak ada yang memperjuangkan kehidupan sehari-hari."
Laura merasa jika Dokter Rivan sekarang berada di pihak Gisella, membela Gisella.
"Aku rasa sudah cukup pertemuan kita, aku ingin pulang saja."
Laura pun langsung meninggalkan Dokter Rivan di Restoran.
Dokter Rivan membiarkan Laura pergi begitu saja.
"Apa ini karena dia yang sedang hamil, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Laura begitu sangat keras kepala sekali. Dia terlalu fokus dengan bisnis nya sampai dia lupa dengan kondisi kehamilan. Semoga saja apa yang aku takutkan tidak terjadi pada kandungan Laura."
Dokter Rivan pun memilih untuk menikmati hari libur tugas nya di Restoran tersebut.
__ADS_1
Dokter Rivan, terus saja memikirkan kehamilan Laura .
Dokter Rivan merasa Laura menomber duakan kehamilan nya.