
Salah satu pelayan melihat Gisella yang membawa guling dan bantal duduk di atas sofa dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"Apa-apa an ini aku seperti di permainan kan, aku seperti boneka yang harus mengikuti apa yang di katakan oleh Kak Laura."
Barra melepaskan pelukan erat dari Laura dia pun merasa kasihan kepada Gisella.
"Laura, aku baik-baik saja. Aku sudah di rawat oleh Gisella. Dia mengompres kuu dan membuatkan aku sup dan memberikan obat."
Laura pun langsung terdiam mendengar perkataan Barra, dia terdiam ketika Gisella yang bisa memberikan perhatian kepada suaminya tersebut.
Pandangan Barra terus tertuju kepada pintu kamar yang terbuka dia mencoba untuk memperhatikan Gisella yang memilih untuk keluar dari kamar.
"Mas, aku sangat merindukan kamu. Aku tidak bisa membohongi perasaanku ini aku sangat merindukan kamu."
__ADS_1
Laura menangis tersedu-sedu di hadapan suaminya, dan Barra pun mulai mengerti jika selama ini Laura hanya membohongi dirinya sendiri dia mencoba untuk tegar dan yakin dengan pernikahan kontrak ini tapi nyata nya dia belum bisa menerima kenyataan jika suami nya sudah menikah dengan adik nya sendiri.
"Laura, ini sudah terlambat. Aku sekarang sudah menikah dengan Gisella dan itu adalah keinginan kamu. Lalu sekarang kamu datang dengan mengatakan kerinduan bagaimana dengan kelanjutan pernikahan ini."
Barra merasa sangat kebingungan sekali dengan apa yang sudah di lakukan oleh Laura.
"Sejak awal pun aku sudah menolak nya, kenapa kita tidak sabar dulu saja meminta waktu ke Mama selama satu tahun. Kita bisa pergi ke luar negeri mencari solusi yang terbaik agar kita bisa mendapatkan keturunan tapi kamu tetap ingin merencanakan pernikahan ini."
Laura semakin keras menangis dan Gisella pun mendengar tangisan Kakak nya tersebut.
Barra pun langsung menatap wajah Laura dengan tatapan mata yang tajam.
"Dan ternyata kenyataan sekarang kamu pun tidak rela kan ketika suami mu menikah dengan adik kandung mu sendiri, karena semua wanita tidak ada mampu melihat suami nya menikah dengan wanita di hadapan mata nya sendiri."
__ADS_1
Gisella pun mulai merasa penasaran sekali dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan membawa guling Gisella pun berdiri di depan pintu kamar.
Dia melihat Kakak yang menangis tersedu-sedu di hadapan Barra.
"Kenapa Kakak menangis seperti itu,? apakah ini adalah tangisan penyesalan Kakak karena pernikahan ini. Jika Kakak menginginkan aku untuk pergi meninggalkan Kak Barra aku akan pergi sekarang juga dan Kak Laura bisa menginap di villa ini biarkan saja aku pulang karena Tante Rossa tidak ada di sini."
Barra merasa sangat kasihan sekali melihat Gisella yang seperti di permainan, dia harus meninggalkan kekasihnya sedangkan pernikahan ini menjadi seketika kacau.
"Maafkan Kakak Gisella, Kakak tidak bermaksud untuk seperti itu. Kakak hanya belum bisa menerima kenyataan ini semua nya."
Gisella pun langsung tersenyum tipis kepada Laura.
__ADS_1
"Aku bisa mengembalikan uang 100 juta yang di berikan oleh Tante Rossa sekarang juga, aku belum memakai uang tersebut sama sekali karena aku tahu pasti akan berakhir seperti ini."
Gisella begitu sangat kecewa sekali dengan Laura dia terus memandangi wajah Kakak nya tersebut.