Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #217#


__ADS_3

Laura membuka surat tersebut dan langsung membaca nya, tangan Laura seketika langsung bergetar dia tidak percaya dengan apa yang sudah di lakukan Barra kepada nya.


"Tidaaaaaak, tidak mungkin ini terjadi. Barra tidak mungkin melakukan ini semua tapi ada seorang yang membuat Barra sampai melakukan ini semua."


Laura seketika merasa sangat pusing dan mual sekali, dia mencoba untuk duduk sambil memegang kepala nya.


Laura merasa ini adalah sebuah mimpi dia benar-benar tidak menyangka.


"Aku harus bicarakan ini semua dengan Rivan, dia harus membantu ku. Aku nggak mau berpisah dengan Barra."


Laura memilih untuk pergi ke Rumah Sakit, untuk menemui Rivan.


"Aku tidak peduli Rivan yang sedang praktek, aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang."


Asisten pribadi Laura merasa sangat terkejut sekali ketika dia mengetahui jika Laura yang akan berpisah dengan Barra.


Sebelum pergi ke Rumah Sakit Laura memilih untuk menghubungi Rivan tapi Rivan milih untuk mengabaikan panggilan telephone dari Laura karena dia yang sedang sibuk di jadwal praktek nya.


"Ahhhhhhh, Rivan kenapa dia mengabaikan panggilan telephone kuuuuu."


Laura pun memilih untuk mengirimkan pesan kepada Rivan.


*Rivan, bagaimana ini Barra mengirimkan surat percaya untuk ku. Dia akan menceraikan kuuu, tolong bantu aku kamu harus menjelaskan semuanya kepada Barra.*


Rivan membuka pesan dari Laura, dan dia hanya bisa tersenyum manis.


Rivan pun membalas pesan dari Laura.


*Menjelaskan semuanya,? maksud tentang malam bersama kita berdua.*


"Ahhhhhhh, Rivan membuat ku emosional. Lebih baik sekarang aku pergi ke rumah Mama Rossa saja aku ingin tahu bagaimana pendapat dia soal ini dia memang membenci ku tapi kabar perceraian ini akan berujung dengan kedua perusahaan kita berdua."


Laura pun memilih untuk bertemu dengan Rossalinda dari pada Rivan.


Dia begitu sangat kesal sekali ketika mendapatkan surat tersebut.


Laura pun akhirnya sampai di rumah Rossalinda, dia memilih untuk langsung masuk ke dalam dan mencari Rossalinda.


Kedatangan Laura yang secara tiba-tiba membuat para pegawai yang ada di sana mereka sangat terkejut sekali.


Karena Gisella yang sedang menginap di rumah tersebut, tapi beruntung nya Gisella yang sudah pergi ke kantor nya.


Laura terus saja mencari keberadaan Rossalinda, dan dia melihat Rossalinda yang sedang bersama dengan Tiara.


"Dengan siapa Mama Rossa, siapa anak yang sedang dia gendong itu."


Laura menghampiri Mama Rossa dan dia sangat terkejut sekali ketika melihat wajah anak tersebut.


"Bukan kah ini adalah anak Gisella,? kenapa dia bisa ada di sini?."


Rossalinda begitu sangat terkejut sekali ketika melihat kedatangan Laura kembali ke rumah nya.


"Ya, ini adalah Tiara anak dari Gisella dan Barra. Memang nya kenapa yaa Laura ? kenapa kamu seperti kaget melihat Tiara yang sedang berada di rumah ini."


Laura tidak menyangka dengan apa yang sudah di rencanakan oleh Barra dan Mama nya.


"Aku di ceraikan dan apakah ini ada hubungan dengan Gisella,? jika anak Gisella berada di sini itu tanda nya Gisella pun tinggal di bersama dengan suami ku?."


Rossalinda merasa jika Laura yang mulai berpikir negatif terhadap Gisella.


"Bukan kah Gisella di karena ulah mu Laura,? kamu yang mengusir Gisella dari rumah orang tua nya sendiri? Di mana hati nurani mu Laura terhadap adik kandung mu sendiri?."


Laura tidak menyangka jika Mama Rossa mengetahui hal tersebut.


"Sudahlah jangan bahas tentang hal tersebut, aku ke sini ingin bertemu dengan suami ku. Aku ingin mengetahui apa alesan dia sampai berniat untuk menceraikan ku sedang aku sekarang sedang hamil anak kedua nya."


Rossalinda mencari Suster Dina, dia memberikan Tiara kepada Suster Dina.


"Bawa Tiara menjauh, jangan sampai Tiara mendengar perkataan wanita ini."


Rossalinda menarik tangan Laura dan mereka pun mulai berbicara dengan Laura di ruangan pribadi nya.


"Mama Rossa yang terhormat, apa rencana dari perceraian ini ada hubungan dengan rencana Mama Rossa yang menginginkan Barra untuk menikah dengan Gisella. Sekarang Gisella saja sudah ada di rumah ini bersama dengan Anak nya kenapa Mama mempunyai pikiran yang sangat jahat sekali dengan ku."


Rossa memang menginginkan Barra bisa bertemu dengan Gisella, tapi dia tidak pernah menyuruh Barra untuk berpisah dengan Laura.

__ADS_1


"Bisakah kamu bercermin Laura,? bagaimana sikap kamu kenapa Barra. Sudah menjadi seorang istri yang baik kah kamu,? sudah bisa membuat Barra merasa nyaman bersama dengan kamu. Sejak awal Mama kamu selalu menjadi seorang Ratu, apapun yang kamu inginkan harus Barra lakukan. Termasuk rencana Barra untuk menikah dengan Gisella, kamu yang menginginkan nya dan juga yang sampai sekarang membenci Gisella."


Rossalinda menginginkan Laura bisa bersikap dewasa apalagi umur nya yang 10 tahun lebih tua dari Barra.


"Apa yang Barra lakukan sekarang, itu pasti sudah Barra pikirkan sebelumnya. Barra tidak mungkin mengambil keputusan dengan sangat cepat dan sekarang lebih baik kamu pergi saja. Kedatangan kamu hanya membuat emosi saja."


Rossalinda berjalan dan membuka pintu depan sangat lebar agar Laura bisa segera pergi dari ruangan itu.


Laura merasa dia seperti di usir oleh mertua nya sendiri.


"Baiklah aku akan pergi, tapi aku yakin. Aku tidak akan pernah berpisah dengan Barra. Barra pasti akan mencabut kepulauan nya ini dan kita akan bersama kembali dengan sebuah kebahagiaan."


Laura dengan sangat terpaksa dia harus pergi dari rumah itu.


"Lalu sebenarnya di mana keberadaan Barra, jika dia tidak ada rumah. Apakah dia sedang berada di kantor nya."


Laura memilih untuk pergi ke kantor Barra.


Laura mengelus perut nya dia berharap kandungan nya baik-baik saja.


"Kuat yaa sayaaaaang di perut Mommy, Mommy tidak akan pernah membiarkan kamu terlahir tanpa ada Papa di samping muu."


Tapi ketika Laura mau mengendarai mobil nya dia melihat Handphone nya yang berdering kencang.


Laura melihat jika panggilan telephone tersebut dari Rivan.


"Aku sangat membenci dia, kenapa dia harus menghubungi ku kembali. Dia hanya membuat ku marah-marah dia tidak bisa membantu ku."


Laura lebih memilih untuk mengabaikan panggilan telephone tersebut.


Dan dia melanjutkan perjalanan nya menuju ke Kantor Barra.


***


Laura tidak menjawab panggilan telephone ku, dia seperti sedang marah besar kepada ku.


Lebih baik sekarang aku lebih baik bertemu dengan Gisella, dan membicarakan hal ini.


Rivan yang selesai praktek dia pun langsung memilih untuk pergi ke kantor Gisella, dia ingin sekali mengajak Gisella untuk makan bersama.


Rivan seperti biasa dia membawa kan bucket bunga mawar putih untuk Gisella, dan hal tersebut membuat para pegawai yang ada di kantor itu menyangka jika Rivan itu adalah kekasih Gisella.


"Dokter Rivan,? ada apa yaa kenapa bisa ke sini?."


Gisella menghampiri Dokter Rian dan Rivan pun memberikan bucket bunga mawar putih tersebut kepada Gisella.


"Bucket bunga mawar putih yang cantik, untuk wanita yang cantik juga."


Gisella pun mengambil bucket bunga mawar putih tersebut.


"Terimakasih banyak atas bucket bunga mawar putih nya."


Gisella pun memandangi wajah Dokter Rivan.


"Aku ingin sekali mengajak mu untuk makan bersama dan ada sesuatu yang akan aku bicarakan mengenai Laura dan Barra."


Gisella pun langsung menghampiri Rivan dan menarik tangan Rivan untuk makan di tempat yang tidak jauh dari kantor nya tersebut.


Akhirnya mereka berdua pun duduk berhadapan di sebuah Restoran dekat kantor Gisella.


"Gisella bagaimana dengan pendapatan mu perceraian antara Laura dan juga Barra,? apakah kamu sudah mengetahui hal ini."


Gisella merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Dokter Rivan, dia mengetahui Barra yang pagi-pagi begitu sangat sibuk.


"Aku tidak tahu mengenai hal tersebut, tapi aku memang melihat jika Kak Barra yang terlihat sangat terburu-buru sekali seperti sedang sibuk sekali."


Rivan pun langsung tersenyum kepada Gisella.


"Apakah kamu tahu apa yang membuat Barra, menceraikan Laura?. Padahal kita sebelum nya mengetahui jika Barra itu sangat mencintai Laura walaupun Laura yang sikap nya sangat egois sekali."


Gisella lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya saja, karena dia tidak mau sampai salah bicara di hadapan Dokter Rivan.


"Seperti nya Barra ingin bersama dengan mu Gisella, karena kamu yang lebih mengerti Barra dari pada Laura. Apakah kamu tidak menyadari nya jika Barra yang menyimpan perasaan terhadap mu."


Gisella pun hanya bisa terdiam ketika mendengar hal tersebut, karena Gisella tahu jika Barra menceraikan Laura itu pasti karena perselingkuhan Dokter Rivan dengan Laura.

__ADS_1


Gisella pun tersenyum manis kepada Dokter Rivan.


"Jika aku bersama dengan Kak Barra dan apakah Kak Laura akan bersama dengan Dokter Rivan,? apakah itu maksud dari pembicaraan kita berdua ini. Dokter Rivan bisa bersama kembali dengan Kak Laura, mungkin kah itu nama nya cinta lama bersemi kembali."


Rivan terdiam ketika mendengar perkataan Gisella yang begitu sangat berani sekali.


"Dokter Rivan, kenapa Dokter Rivan bisa mencintai wanita yang sedang hamil. Jarang sekali loh ada lelaki yang seperti itu mau menerima kehadiran bayi yang bukan dari hasil hubungan kalian berdua."


Gisella mencoba untuk menjebak Dokter Rivan untuk bisa mengakui ada apa dengan hubungan mereka berdua.


"Dokter Rivan, terimakasih banyak atas makam bersama nya. Jika memang Kak Barra seperti yang di ucapkan oleh Dokter Rivan mungkin karena dia ingin bersama dengan Tiara dan apakah Dokter Rivan pun sama seperti itu ingin bersama dengan Kak Laura karena ingin bisa bersama dengan bayi itu."


Gisella memilih untuk pergi dari Restoran tersebut dan meninggalkan Dokter Rivan sendirian.


Melihat Gisella yang sudah berjalan sangat jauh sekali dia pun langsung menghela nafas panjang nya.


"Hampir saja dia menjebak aku dengan memutar kembali pembicaraan ku."


Rivan pun memilih untuk pergi juga dari Restoran tersebut.


***


Laura akhirnya sampai di kantor Barra, dia berjalan cepat menuju ke ruangan Barra tapi dia tidak menemukan Barra di ruangan nya.


Laura pun mengeluarkan handphone untuk mengirimkan pesan kepada Barra.


*Mas, sekarang aku sudah ada di kantor kamu. Sebenarnya kamu di mana tadi aku ke rumah kamu tidak ada dan sekarang pun di kantor kamu tidak ada juga, sedang bersama dengan siapa kamu sekarang.*


Pikiran Laura negatif terhadap Barra, dia berpikir Barra yang sedang bersama dengan Gisella.


"Kenapa tidak ada di kantor, di rumah pun dia tidak ada. Lalu pergi ke dia hmmmmmmm benar-benar membuat ku kesal sekali."


Laura duduk di ruangan Barra dan asisten pribadi Barra pun melaporkan hal tersebut kepada Barra.


Bahwa Laura yang sedang berada di ruangan nya, menunggu kedatangan nya.


*Selamat siang Pak Barra, Ibu Laura sedang menunggu kedatangan Bapak di ruangan.*


Barra yang membaca pesan tersebut dia pun akhirnya datang datang ke kantor Barra.


"Baiklah Laura , aku akan datang untuk menghadapi mu."


Barra menuju ke kantor nya dan Laura pun memperhatikan asisten pribadi Barra yang terus saja memandangi nya.


"Dia Melati, asisten pribadi suami ku. Dan dia juga lumayan cantik dia bersama dengan suami ku setiap hari dan apakah aku juga harus mencurigai nya. Apakah dia penyebab perceraian rumah tangga ku ini."


Laura berjalan menuju ke Melati dan Melati pun terlihat seperti ketakutan sekali ketika di datangi oleh Laura.


"Aku ingin bertanya kepada mu, apakah suami ku sering menghubungi mu di luar jam kantor. Seperti mengajak mu makan atau minum hanya untuk membicarakan tentang pekerjaan."


Melati pun menggelengkan kepalanya dia pun menunduk seperti sangat takut sekali dengan Laura.


"Baiklah, semoga kamu menjawab pertanyaan ku dengan jujur yaa. Tapi lihat saja jika kamu penyebab dari ini semua, aku tidak akan pernah memaafkan mu."


Laura pun berjalan kembali menuju ke ruangan Barra dan akhirnya Barra pun datang.


Melati merasa sangat tenang sekali ketika melihat Barra yang sudah datang.


"Laura, kamu sudah menerima surat tersebut kan. Dan bersiap-siap untuk datang ke persidangan yang sudah di tentukan tanggal nya."


Laura pun sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan Barra yang sangat serius sekali.


"Kamu serius untuk berpisah dengan kuu,? apakah ini hanya untuk membuat aku lebih baik lagi. Ini bukan ancaman terhadap ku ?"


Barra tersenyum manis kepada Laura.


"Aku sudah sangat lelah sekali Laura, lebih baik kita berpisah saja. Kamu bisa bahagia dengan hari-hari mu bersama dengan seseorang yang kamu inginkan. Kamu bisa bebas Laura."


Laura meneteskan air mata nya di hadapan Barra dan berharap Barra bisa tersentuh hati nya.


"Kamu melakukan ini karena kamu ingin menikah dengan Gisella kan ,? kamu berencana untuk menikah dengan Gisella. Buktinya sekarang Gisella tinggal bersama dengan mu di rumah Mama Rossa. Itu kan yang kamu inginkan dengan perceraian ini tapi ingat kamu juga mempunyai anak yang mau terlahir dari rahim ku ini."


Barra hanya terdiam saja dengan perkataan Laura dia pun memilih untuk membuka kan pintu ruangan nya.


Seakan menyuruh Laura untuk pergi dari ruangan.

__ADS_1


"Di rumah Mama Rossa dia pun bersikap seperti ini kepada ku, membuka kan pintu agar aku cepat keluar. Dan aku semakin yakin sekali semua ini adalah rencana yang sudah di siapkan oleh kalian berdua."


Dengan sangat terpaksa Laura pun keluar dari ruangan Barra.


__ADS_2