
Laura mencoba untuk tetap tenang di hadapan Gisella.
"Kakak, minta maaf atas perilaku Kakak selama ini kepada kamu."
Gisella tersenyum sinis kepada Laura.
"Kak, dari wajah Kakak aja udah kelihatan jelas kalau Kakak itu benci sama aku. Kakak gamau aku tinggal bersama dengan di rumah itu dan itu pun bukan keinginan aku Kaa, aku mengikuti apa yang di perintahkan oleh suami aku. Aku juga nggak mau tinggal di sana."
Gisella begitu sangat emosional sekali kepada Laura.
"Sudah yaa Kak, aku cape banget. Bukan hanya Kakak doang. Aku butuh istirahat sekarang jangan ganggu aku."
Gisella memilih untuk pergi ke dalam kamar nya.
"Baiklah Gisell, semua terserah kamu saja."
Laura pun memilih untuk langsung pergi dari rumah nya, dan tidak menghampiri dulu kedua orang tuanya.
"Sudah ibu duga kan yah, mereka berdua pasti mempunyai permasalahan. Ketika Gisella harus satu rumah dengan Laura itu tidak mungkin bisa terjadi."
Riana pun memilih untuk pergi ke kamar Gisella, dia ingin bertanya kepada Gisella.
__ADS_1
Riana mencoba untuk mengetuk pintu kamar Gisella.
"Gisell sayaaaaang, ini ibu nak."
Gisella pun langsung membuka pintu kamar nya dan menyuruh nya untuk masuk.
Riana memeluk erat tubuh Gisella dengan penuh kasih sayang.
"Ada apa Nak, coba ceritakan semuanya sama Ibu yaa. Kamu jangan memendam rasa seperti ini."
Gisella menangis histeris di hadapan ibunya.
Riana mencoba untuk menenangkan Gisella dia menghapus air mata Gisella yang mengalir deras di pipi nya.
"Jika bulan depan aku negatif hamil, aku ingin mengambil semua uang ini. Aku ingin menjalani hubungan yang sebenarnya Buu, ini sangat membuat aku tertekan sekali buuu."
Gisella seperti sedang meluapkan semua perasaan hati nya.
"Sabar ya sayang, kamu harus bertanggung jawab atas semua ini. Sudahlah kamu tinggal di sini saja jangan bersama dengan Kakak kamu, karena memang tidak ada seorang wanita yang rela suami nya menikah lagi apalagi menikah di hadapan nya."
Riana memegang tangan Gisella yang bergetar.
__ADS_1
"Kalian berdua adalah anak perempuan ibu, dan ibu sangat sayang sekali kepada kalian berdua."
Gisella pun mencoba untuk menenangkan perasaan nya dia terus menghapus air mata nya dengan tissue.
"Beristirahat lah, ibu rasa kamu sudah merasa tenang. Dengan kamu meluapkan semua perasaan yang ada di hati kamu, biarkan dulu kamu menyendiri dan memikirkan apa yang terbaik dari masalah ini semua."
Riana pun memilih untuk pergi dari kamar Gisella, dia menutup rapat pintu kamar Gisella.
Hati Riana begitu sangat sakit sekali ketika melihat Gisella dan Laura.
"Kenapa harus seperti ini, Laura yang tidak juga di berikan keturunan. Dan Gisella yang harus mengorbankan harga diri nya demi kebahagiaan Laura."
Riana merasa ingin bertemu dengan Laura, dia ingin mempertanyakan tentang ini semua.
"Sebenarnya apa yang di inginkan oleh Laura, dan bagaimana juga perasaan Bu Rossa ketika Gisella pulang ke sini."
Riana pun lebih memilih tidak menceritakan kepada suaminya.
Dia tidak mau suaminya kepikiran dengan masalah rumah tangga anak perempuan nya.
Riana mencoba untuk tetap tersenyum kepada suami nya.
__ADS_1