
Laura begitu sangat merindukan Barra, dia terus saja melihat tanggal di handphone nya.
"Apakah dia sudah melupakan aku yaa, bagaimana nanti sikapnya terhadap ku ketika sudah pulang dari honeymoon."
Laura mencoba untuk fokus terhadap rencana nya membuka toko bunga di dekat rumah nya.
"Laura, kenapa waktu seminggu ini tidak kamu pakai untuk beristirahat saja. Kapan lagi kamu bisa santai seperti ini nanti kamu sibuk kembali."
Laura tersenyum manis kepada ibunya.
"Tidak apa-apa kok buu, aku senang melakukan ini semua. Apalagi toko bunga ini untuk ibu dan ayah dan aku berharap besar sekali jika ini akan menjadi bisnis ke 2 aku yang menguntungkan."
Laura memang terlihat sangat pekerja keras sekali dia selalu ingin berkerja dan berkerja.
"Aku ingin menyelesaikan toko bunga ini sebelum aku kembali ke rumah, agar ibu dan ayah bisa sekarang mengelola nya."
Laura kembali melihat handphone nya dia berharap mendapatkan pesan dari suaminya tersebut.
Riana memperhatikan wajah Laura yang kelihatan sangat sedih ketika melihat handphone.
Riana mengerti jika Laura pasti sangat merindukan Barra, dia menginginkan Barra mengirimkan pesan untuk nya.
"Laura bisakah kamu menelephone Gisell, ibu sangat merindukan nya. Handphone ibu baterai nya lowbat."
Laura merasa sangat ragu sekali ketika dia mau memberikan handphone nya kepada Ibu nya.
Laura pun akhirnya memberikan handphone nya kepada Ibunya.
__ADS_1
"Ini Buu silahkan pakai handphone aku saja."
Laura memberanikan handphone nya kepada Ibunya dan Riana pun mengetik nomber handphone Gisella.
Laura hanya terdiam di samping ibunya dan mencoba untuk mendengarkan percakapan mereka berdua.
Handphone Gisella berdering sangat kencang sekali, dia pun langsung mengambil handphone nya.
"Kak Laura,? ada apa yaa di telephone aku."
Mendengar Gisella yang menyebutkan nama Laura, Barra pun langsung menghampiri Gisella dia duduk di samping Gisella.
"Ayo cepat jawab panggilan telephone tersebut, aku ingin tahu Laura akan berkata apa."
Gisella pun langsung menjawab panggilan telephone dari Laura.
Gisella pun sangat terkejut sekali ketika mendengar suara ibunya.
***Aku baik-baik saja Buu, aku merasa sangat senang sekali bisa berlibur dengan keindahan pantai. Dan mungkin ini adalah hari terakhir aku menginap di hotel besok aku akan pulang.
*Syukurlah Nak, kita kamu baik-baik saja. Ibu tenang mendengar nya. Kamu hati-hati yaa nak semoga kamu selalu di berikan kesehatan.*
*Iya Buu, terimakasih atas doa nya yaa Buu**.
Barra meminta Gisella memberikan handphone nya kepada nya.
Dan Gisella pun memberikan handphone kepada Barra.
__ADS_1
*Hallo Buu, bisakah ibu memberikan handphone ini kepada Laura.*
Riana pun memilih untuk pergi ketika memberikan handphone tersebut kepada Laura begitu juga Gisella dia pun pergi dan membiarkan Barra melepas rasa rindu nya dengan Laura.
***Iya Mas ada apa kamu menayakan aku, aku pikir kamu sudah melupakan aku.
*Laura kenapa kamu berpikir seperti itu, aku tidak akan pernah melupakan istri kuu yang sudah berkorban untuk pernikahan ini.*
*Iya terima kasih banyak jika kamu berpikir ke sana, bagaimana dengan kalian berdua apakah sudah menjadi pasangan suami istri yang seutuhnya.*
*Yaa, kita berdua sudah menjadi suami istri yang seutuhnya, kita berdua sudah melakukan**.
Laura merasa sangat sesak sekali mendengar perkataan tersebut, dia tidak menyangka jika Barra bisa semudah itu.
Laura pikir Barra tidak bisa melakukan dan butuh waktu yang lama.
*Baguslah, semoga Gisell bisa segera hamil yaa. Mas aku sedang melakukan sesuatu di dekat rumah ibu. Aku membuat toko bunga aku ingin menambah bisnis kuu sudah dulu yaa Mas.*
Laura mengakhiri panggilan telephone nya dan Barra pun merasa sangat kesal sekali ketika Laura menambah bisnis baru nya.
Melihat Barra seperti sangat kesal sekali, Gisella pun mencoba untuk menghampiri Barra.
"Ada apa Kaa, kenapa Kakak seperti kesal seperti itu. Kak Laura ngomong apa sama Kakak."
Barra mengembalikan handphone milik Gisella.
"Laura menambah bisnis baru nya, maka waktu semakin banyak untuk bisnis bukan untuk keluarga nya."
__ADS_1
Gisella hanya bisa terdiam saja dia tidak tahu harus berkata apa kepada Barra.