Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *189*


__ADS_3

Laura di datangi banyak orang karena dia yang berteriak-teriak kencang sambil menjambak rambut nya.


Laura pun memilih untuk pergi dari tempat tersebut, dan dia merasa sangat dendam sekali dengan Rivan.


"Kamu telah membuat kuu seperti ini Rivan, sebenarnya apa yang kamu inginkan. Jika kamu menginginkan cinta tapi jangan dengan terpaksa seperti ini, aku tidak mencintai Rivan aku hanya mencintai Mas Barra."


Laura masuk ke dalam mobil nya dan handphone nya bergetar.


Laura mengambil handphone nya dia menerima pesan masuk dari Rivan.


*Percuma saja kamu pulang suami muu sedang bersama dengan madu nya, dia akan semakin dekat karena ada ikatan cinta diantara mereka yaitu adalah Tiara anak dari Gisella.*


Membaca hal tersebut Laura semakin di buat kesal sekali, dia benar-benar ingin menangis sekencang-kencangnya.


Dan handphone Laura pun kembali bergetar kembali.


*Berpikir lah lagi, lebih baik kamu bersama dengan aku. Kita akan berumur tangga sesungguhnya kita menjadi orang tua dari anak-anak kita.*


Laura memilih untuk melemparkan handphone ke kursi belakang.


"Apakah benar Mas Barra sekarang sedang kembali melihat Gisella, aku akan pergi ke sana dan memastikan nya."


Ketika Laura berencana untuk pergi ke rumah nya, tapi ternyata Barra pergi terlebih dahulu ke toko mainan.


Barra ingin sekali membelikan mainan untuk Tiara.


"Tiara semoga kamu suka yaa sayaaaaang, walaupun kamu itu sebenarnya masih kecil dan belum mengerti apa-apa tapi Papa selalu ingin sekali memberikan sesuatu untuk kamu."


Setelah membeli banyak nya mainan untuk Tiara, Barra pun mulai bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Gisella.


Laura sudah sampai di dekat rumah nya tapi dia tidak melihat mobil Barra di halaman rumah nya.


"Dia membohongi kuu, ahhhh. Kenapa aku mudah percaya dengan ucapan nya sih, mas Barra tidak mungkin selalu pergi ke rumah ini."


Laura mencoba untuk menunggu kedatangan Barra, dia menyembunyikan mobil nya.


Laura kembali mencari handphone yang dia lempar ke belakang mobil nya.


Ketika Laura sibuk mencari handphone nya, ternyata mobil Barra yang baru saja datang.


Laura tidak melihat Barra yang keluar dari mobil nya.


Ketika Laura sudah menemukan handphone nya, Laura pun terkejut ketika melihat sudah ada mobil Barra di depan halaman rumah orang tua nya.


"Hah, itu kan mobil nya Mas Barra. Kapan dia datang yaa,? oh ternyata dia baru datang ternyata. Oke aku tunggu sampai 30 menit jika lebih dari 30 menit dia tidak keluar dari rumah itu maka aku yang akan masuk ke dalam untuk menarik paksa Mas Barra untuk keluar."


Tatapan mata Laura begitu sangat tajam sekali dia terus saja memandangi pintu keluar dari rumah nya.


Barra masuk ke dalam rumah dan dia di sambut oleh Riana.


"Kamu pasti merindukan Tiara, ayo masuk ke dalam Tiara pasti sangat senang sekali melihat Papa nya yang datang."


Barra pun tersenyum malu-malu dan dia pun langsung masuk ke dalam kamar Gisella.


Barra mengetuk pintu kamar Gisella dan Gisella pun membuka kan pintu kamar nya.


"Kak Barra, ayo silahkan masuk Kaa."


Gisella membuka lebar pintu kamar nya, dan Barra langsung tertuju pada Tiara.


Barra menghampiri tempat tidur Tiara, dan langsung mengendong bayi cantik nya tersebut.

__ADS_1


"Sayaaaaang, Papa membawakan banyak mainan untuk Tiara. Ada di depan pintu nanti di bawakan yaa sama Mommy Gisella."


Gisella pun langsung melihat begitu banyak nya mainan yang di belikan oleh Barra kepada Tiara.


"Banyak sekali Kak, Tiara kan masih bayi. Sudah di belikan mainan sebanyak ini."


Gisella pun memilih untuk keluar dari kamar nya, dan meninggalkan Tiara dengan Barra.


Gisella pergi menuju ke dapur, dia ingin membuatkan Coffe hangat untuk Barra.


"Gisella kamu sedang membuatkan Coffe untuk Barra, kamu sebenarnya lebih perhatian kepada Barra tapi sayang nya Laura yang menjadi istri Barra."


Gisella hanya tersenyum tipis kepada Ibu nya.


"Kamu yang sekarang sebenarnya bukan siapa-siapa Barra saja masih mau melayani Barra, bagaimana nanti jika kamu yang menjadi istri sah Barra. Barra pasti bahagia ketika memiliki istri yang perhatian seperti kamu dan juga memiliki anak yang cantik seperti Tiara."


Ucapan ibu nya membuat Gisella pun mulai terdiam dan berpikir bagaimana jika takdir berkata lain dia yang menjadi istri Barra.


Karena Gisella pun mulai merasakan ikatan yang luar biasa antara dirinya dengan Barra dan juga Tiara.


"Bagaimana baik nya saja yaa Buu, mungkin takdir yang akan menjawab semua nya."


Gisella membawakan Coffe hangat nya untuk Barra.


Gisella tersenyum manis kepada Barra sambil mengambil Tiara.


"Kak, minum dulu yaa Coffe hangat nya. Nanti kita makan malam bersama yaa, aku yang masak nya yaa."


Barra mengambil Coffe hangat tersebut dan dia duduk berdampingan dengan Gisella dan Tiara.


Barra tidak pernah merasakan hal seperti ketika dia berumah tangga bersama dengan Laura.


Laura tidak pernah perhatian seperti ini kepada nya, dia pun belum pernah memasakkan makanan untuk nya.


Barra terus memandangi wajah Gisella.


"Kamu kan cape pulang kerja kan, yang pasti lapar kan. Dan menurut aku ini perhatian yang biasa saja."


Barra terus meminum Coffe hangat buatan Gisella dan Gisella pun memilih untuk menidurkan Tiara di atas kasur.


Mereka berdua pun memandangi wajah cantik anak mereka berdua.


"Cantik sekali yaa seperti Mommy."


Barra tersenyum sambil memandangi wajah Gisella dan Gisella merasa sangat malu sekali.


"Apa sih, semua wanita itu cantik Kaa."


Mereka berdua pun terlihat saling bertatapan wajah dan tersenyum.


Gisella menekuk wajah nya ketika dia mengetahui jika Barra yang terus memperhatikan nya.


Laura merasa sangat kesal sekali sudah hampir 30 menit tapi Barra belum juga keluar dari rumah orang tua nya.


"Aku curiga bagaimana jika mereka berdua sedang bersama di dalam kamar, dan mereka berdua melakukan nya lagi dan Tiara hamil lagi dan mereka pun menikah secara resmi. Tidaaaaaak, ini tidak boleh terjadi aku hanya menarik Mas Barra untuk pulang."


Dengan penuh emosional, Laura keluar dari mobil nya dan berjalan cepat menuju ke rumah nya.


Laura tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sehingga Riana dan Suami nya tidak mengetahui kedatangan Laura.


Laura terus berjalan menuju ke kamar Gisella, dan beruntung nya pintu itu terbuka.

__ADS_1


Laura melihat Barra yang sedang tersenyum manis sambil memandangi wajah Gisella.


"Mas, Barra untuk apa lagi kamu berada di rumah ini."


Gisella dan Barra sangat terkejut sekali ketika melihat kehadiran Laura.


Laura pun masuk ke dalam kamar tersebut dan Gisella dengan cepat mengendong bayi nya.


"Kamu tuh yaa, untuk apa sih selalu saja ingin bertemu dengan Gisella. Kamu mulai merindukan Gisella? kamu menginginkan kembali bersama dengan Gisella."


Suara kencang Laura membuat kedua orang nya langsung berlari menuju ke kamar Gisella.


"Kak Barra, ke sini bukan untuk bertemu dengan aku Kak. Dia ingin bertemu dengan Tiara anak nya."


Laura langsung membalikkan badannya dan memandangi wajah Gisella.


"Gisella, bukan kah kamu sedang mengincar Dokter Rivan. Kenapa kamu masih ingin selalu bersama dengan Mas Barra, apakah kamu ingin mempunyai dua suami hah."


Ucapan Laura membuat Gisella sangat emosional sekali dan dia langsung memberikan bayi nya kepada Ibu nya.


Gisella menghampiri Laura dengan wajah yang penuh emosi.


"Hati-hati yaa dengan ucapan Kakak itu, siapa yang mengincar Dokter Rivan dan siapa juga yang menginginkan dua suami. Selama aku mengandung Tiara itu tampa ada sosok suami di samping kuu tapi bukti nya aku masih bisa kuat dan bertahan dan sampai bisa melahirkan anak pertama kuu ini."


Gisella sedikit mendorong tubuh Laura.


"Aku tidak tahu ada rencana apa di balik Dokter Rivan yang tiba-tiba saja mendekati kuu dan seakan membuat orang-orang menyangka jika kita berdua mempunyai hubungan. Apakah itu ada hubungan nya dengan Kakak?."


Laura mengangkat tangan nya dia seperti ingin menampar pipi Gisella tapi Barra mencoba untuk melindungi Gisella dengan memegang tangan Laura.


"Laura, apa yang ingin kamu lakukan kepada Gisella."


Laura mencoba untuk melepaskan genggaman erat tangan suami nya.


"Lepaskan aku Mas, dia sudah tidak sopan sekali bicara nya. Dia sudah menganggap aku punya hubungan dengan Rivan."


Laura begitu sangat emosional sekali dan Gisella pun tersenyum.


"Sudahlah lebih baik kalian berdua pergi saja, jangan lupa yaa lebih di perhatikan kembali suami nya. Di saat pulang kerja sediakan dia minuman dan mengobrol tentang pekerjaan nya setelah itu mulai membuat makanan untuk suami nya yang sudah lelah bekerja keras."


Barra merasa sangat malu sekali dengan sikap Laura, dia langsung menarik paksa Laura untuk keluar dari rumah nya.


"Lepaskan aku Mas sakit, jangan paksa aku seperti ini."


Barra menutup rapat pintu rumah agar Laura tidak masuk kembali ke dalam.


"Kamu kasar sekali sih Mas, aku di tarik dari dalam agar cepat keluar. Kamu pikir aku ini maling apa."


Laura memegang tangan nya yang terasa sangat sakit sekali.


Gisella membuka kan jendela kamar nya dia melihat Barra dan Laura yang masih saja berbeda di depan rumah nya.


"Mereka berdua masih bertengkar di depan pintu rumah kita."


Riana pun menghampiri Gisella dengan mengendong Tiara.


"Barra tidak mungkin bisa tidak melihat Tiara walaupun itu cuma satu hari saja, Barra pasti ingin selalu melihat Tiara setiap waktu."


Gisella pun hanya bisa terdiam ketika mendengar perkataan dari Ibu nya.


"Gisella, kamu begitu sangat baik tidak egois. Di saat surat perjanjian itu kamu tidak ingin anak mu ini mengetahui siapa Ayah nya tapi karena kelembutan hati kamu. Kamu mempermudah Barra untuk bertemu dengan Tiara."

__ADS_1


Melihat Tiara yang tertidur pulas Riana memilih untuk menidurkan Tiara.


Sedangkan Gisella masih terus saja memandangi Barra dan Laura sampai akhir mereka berdua masuk ke dalam mobil.


__ADS_2