
Laura sudah di perbolehkan untuk pulang tapi dia masih merasa mual dan muntah setiap pagi.
Laura memikirkan cara bagaimana mengatasi semua ini, jika dia mengalami mual muntah terus maka semua orang akan curiga dengan kehamilan nya.
"Mas, kamu masih ingat kan. Jangan sampai ada yang tahu tentang kehamilan ini. Cukup kita berdua saja yang tahu yaa aku tidak mau terlalu di publikasikan seperti anak kita yang sebelumnya."
Barra pun mulai mengerti kenapa Laura lebih memilih untuk menyembunyikan kehamilan nya, karena dia belajar dari kehamilan sebelum nya dia yang terlalu berlebih-lebihan menyambut kedatangan anak nya.
"Baiklah Sayaaaaang, aku akan merahasiakan nya."
Di perjalanan Laura selalu saja merasa mual dan ingin sekali muntah.
"Bagaimana, aku bisa berkerja jika keadaan kuu seperti ini. Aku pun harus berkerja kenapa kehamilan ku manja sekali."
Laura mulai sering mengeluh dengan kondisi kehamilan.
"Kamu harus sabar yaa Laura, mungkin kehamilan yang pertama dengan yang ke dua itu berbeda-beda tergantung hormon kita nya."
Laura pun mengambil handphone nya dan dia melihat unggahan video yang di upload oleh Dokter Rivan.
Laura pun memperbesar volume video tersebut terdengar suara Gisella yang sedang berbicara di depan para pegawai di kantor baru nya.
"Gisella, menjadi CEO bisnis terbaru Mama Rossa. Dia akan menjadi saingan bisnis kosmetik kuu."
Laura masih saja membenci Gisella, walaupun dia sedang hamil anak kedua.
"Laura, berhenti untuk membenci Gisella. Di kehamilan kamu yang sekarang kamu harus bisa bersikap baik dan manis dengan semua orang. Tidak selalu seperti ini tidak baik."
Laura mulai merasa jika suami nya membela Gisella.
"Mas, kamu bisa nggak jangan selalu membela Gisella. Nih aku sedang hamil anak ke dua kamu seharusnya kamu fokus saja dengan kehamilan ku dan jangan lagi membahas tentang Gisella, kamu juga harus membatasi pertemuan kamu dengan anak Gisella karena sekarang aku juga akan memberikan kamu anak."
Barra merasa sangat kesal dengan sikap Laura yang tidak bisa berubah dia dengan tiba-tiba memberhentikan mobil nya.
"Laura, jika kamu melarang aku untuk bertemu dengan Gisella aku akan melakukan nya tapi jika kamu melarang aku untuk membatasi pertemuan ku dengan Tiara itu tidak akan pernah bisa. Gisella sudah dengan baik hati nya dia tidak melarang aku bisa bertemu dengan Tiara seperti perjanjian yang sudah di buat jadi walaupun bayi itu lahir Tiara tetap anak kandung kuu. Mengerti kamu Laura."
Laura belum pernah melihat Barra yang begitu sangat marah sekali kepada nya, semua hanya karena anak dari Gisella.
Laura pun memilih untuk diam di sepanjang perjalanan ketika Barra mulai kembali mengendarai mobil nya.
Melihat Laura hanya terdiam Barra lebih memilih untuk mengabaikan nya.
Barra ingin Laura bisa menerima kehadiran Tiara, seperti yang dulu dia yang mengemis-ngemis kepada Gisella menginginkan anak tersebut.
Mereka pun akhirnya sampai di gedung Apartemen nya.
"Pergilah langsung ke kantor, aku bisa berjalan sendiri ke Apartemen."
Laura membuka pintu mobil nya dan dia pun memilih untuk tidak di antarkan oleh Barra.
Melihat Laura berjalan sendiri menuju ke Apartemennya, Barra pun memilih untuk langsung pergi meninggalkan Laura.
Laura membalikkan badan nya ketika mendengar suara mobil Barra.
"Dia pergi, dia tidak mengejar aku. Dia membiarkan aku berjalan sendiri menuju ke Apartemen. Padahal dia tahu jika aku ingin baru pulang di rawat di Rumah Sakit."
Laura semakin emosional sekali dengan Barra, Barra lebih memilih untuk mengikuti apa yang di katakan oleh Laura.
Laura masuk ke dalam Apartemen nya, dia terus saja memikirkan kehamilan nya.
Laura terus saja memegang perut nya yang masih datar.
"Sebenarnya ini anak siapa yaa, bagaimana jika ini adalah anak Rivan. Dan apa yang akan di lakukan Mas Barra dia pasti akan meninggalkan kuu."
Laura terus saja melamun dia merasa sangat ketakutan sekali.
"Kandung ini pasti akan semakin membesar dan mereka pun akhirnya mengetahui tentang kehamilan ku ini terutama Rivan, dia pasti akan semakin memojokkan kuu. Rivan pasti akan melakukan test DNA ketika bayi ini lahir."
Laura begitu sangat menyesali apa yang sudah dia perbuat dengan Rivan.
"Apa aku harus melakukan hal kejam dengan kandungan kuu ini yaa, aku membuat kandungan ku ini keguguran saja agar aku tidak lagi berurusan Rivan."
Laura mulai mempunyai pikiran yang negatif dia pun langsung mencari informasi tentang obat tersebut.
"Laura kamu jahat sekali, tapi jika aku tidak melakukan ini aku akan kehilangan kebersamaan ku bersama dengan Mas Barra."
Laura menemukan obat tersebut dia hanya memandangi nya tapi belum berani untuk membeli nya.
__ADS_1
"Laura kamu harus kuat kamu harus memikirkan nya kembali."
Laura terus saja memandangi foto obat tersebut.
Ketika Laura hendak menekan tombol pesan tiba-tiba handphone Laura berdering kencang sekali.
Laura melihat panggilan telephone itu dari Rivan.
"Rivan lagi ada apa sih dia telephone aku, dia kok bisa tahu yaa niat jahat ku terhadap kehamilan ini."
Laura memilih untuk mengabaikan panggilan telephone tersebut.
Laura pun menyimpan handphone tersebut di atas meja make up nya.
Laura membaringkan tubuh nya dia merasakan pusing mual kembali.
"Lebih baik aku beristirahat terlebih dahulu, dan mulai memikirkan hal tersebut lagi."
Laura mencoba untuk memejamkan mata nya, dan mengabaikan deringan handphone nya tersebut.
Tapi handphone nya yang terus saja berdering.
"Astagaaaa, menggangu sekali suara deringan telephone tersebut."
Laura dengan sangat terpaksa dia pun mengambil handphone nya tersebut.
*Rivan Mahendra, apa yang kamu lakukan menelephone tidak berhenti ketika aku ingin beristirahat.*
*Laura Renita, sudah beberapa hari kamu menghilang begitu saja. Aku sangat hawatir sekali dengan kondisi kamu.*
*Aku baik-baik saja, dan jika terjadi sesuatu pun aku mempunyai suami yang siap siaga.*
*Lupakan hal tersebut, Laura apakah kamu sudah datang bulan bulan ini?.*
*Rivan kamu sangat tidak sopan mempertanyakan hal tersebut, jangan bermimpi yaa aku akan mengandung anak kamu itu tidak mungkin terjadi.*
*Tapi aku merasa sangat yakin sekali jika nanti kamu akan hamil kembali itu adalah anak kita berdua.*
*Sudah lah Rivan, jangan pernah membahas tentang kehamilan. Dan kamu jangan lagi menanyakan hal tersebut kepada ku karena itu sangat privasi.*
Laura memilih untuk mengakhiri panggilan telephone nya bersama dengan Rivan.
"Ahhh Rivan sangat membuat kuu kesal sekali, kenapa dia tiba-tiba saja menelephone ku di saat aku ingin menggugurkan kandungan ku ini."
Laura pun menghapus pemesanan nya tersebut.
"Laura, kamu harus yakin jika anak ini adalah anak mu dengan Barra bukan dengan Rivan. Hubungan ku dengan Rivan hanya cinta satu malam saja dan sudah tidak ada lagi hubungan apapun."
Laura memilih untuk menonaktifkan handphone supaya dia bisa lebih tenang untuk beristirahat.
Rivan merasa sangat aneh sekali ketika dia sudah berbicara dengan Laura tapi kenapa pikiran kepada Gisella.
"Ahhhhhh Gisella kenapa kamu selalu ada di pikiran kuu seperti ini."
Rivan pun mengambil kembali handphone nya dia melihat video Gisella.
"Gisella dia memang sangat cantik sekali tapi niat kuu adalah untuk bisa mendapatkan Laura, aku sudah melakukan nya dengan Laura dan itu tanda nya kita berdua harus bersama."
Gisella memulai memulai kembali pekerjaan nya, Gisella terlihat sangat serius sekali sehingga Rossalinda pun menghampiri Gisella.
"Gisella, apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk produk shampo kita?. Bagaimana jika kamu saja yang sebagian model nya."
Rossalinda melihat hasil karya Gisella kembali.
"Bagaimana jika memberikan nama shampoo itu Natural Shampo, karena kita yang memakai bahan-bahan herbal alami tapi dengan aroma parfume yang mewah."
Rossalinda merasa sangat setuju sekali apa yang di rancang oleh Gisella.
"Dan kamu yang akan menjadi model nya yaa, kamu memiliki rambut yang panjang dan sehat. Nanti kita tentukan untuk jadwal pemotretan nya."
Gisella begitu sangat senang sekali ketika dia yang bisa menjadi model nya.
"Gisella, apakah sekarang kamu sedang dekat dengan seseorang?."
Pertanyaan Rossalinda membuat Gisella pun langsung terkejut sekali.
"Aku tidak sedang dekat dengan siapa pun, tapi sekarang aku mulai memikirkan seseorang yang bisa menerima kehadiran Tiara."
Rossalinda pun semakin mendekati Gisella.
__ADS_1
"Gisella, kenapa yaa Mama merasa jika kamu itu cocok bersama dengan Barra. Walaupun itu tidak mungkin bisa terjadi."
Gisella pun memang merasakan hangat perhatian yang di berikan Barra terhadap nya, tapi Gisella pun harus memikirkan Laura.
"Kak Barra dia sangat baik sekali dengan kuu, apalagi kebersamaan yang singkat tapi tetap terasa sekali di hati ini. Tapi aku juga harus terbangun dari mimpi ku itu jika Kak Barra itu hanya milik Kak Laura."
Rossalinda pun memilih untuk meninggalkan Gisella di ruangan nya.
Rossalinda masih saja terus berharap besar jika Barra bisa bersama dengan Gisella.
"Apa yang akan terjadi jika keinginan ku ini menjadi kenyataan, aku sudah sangat bosan sekali dengan sikap Laura yang selalu ingin di perlakukan seperti Putri dan membuat Barra lemah di hadapan nya. Barra yang terlalu takut kehilangan Laura padahal sikap Gisella jauh lebih baik dari Laura."
Rossalinda menutup rapat pintu ruangan Gisella.
Melihat Rossalinda yang sudah keluar dari ruangan nya, Gisella pun mulai mengatur nafas nya.
"Hahhhh seperti nya, Mama Rossa mengetahui aku pergi bersama dengan Dokter Rivan. Dan aku juga yang berpura-pura menjadi kekasih Dokter Rivan di hadapan keluarga Rangga, aku berbohong seperti ini demi kehidupan kuu yang lebih baik dan tenang."
Gisella pun kembali meneruskan pekerjaan nya, dia mencoba untuk berusaha untuk serius kembali dalam mengerjakan pekerjaan nya tersebut.
"Aku tidak boleh memikirkan ucapan Mama Rossa, aku harus melupakan nya. Karena jika aku memikirkan hal tersebut itu sama saja aku seperti menginginkan pernikahan Kak Laura berakhir dengan Kak Barra."
Ketika Gisella yang sedang memikirkan Barra, Barra yang sedang berada di kantor pun sedang memikirkan Gisella dan Tiara.
"Kenapa di kehamilan Laura yang sedang aku seperti bersikap biasa saja yaa, tidak seperti di kehamilan nya yang pertama. Dan sekarang aku lebih sering memikirkan Gisella dan juga Tiara."
Barra melihat handphone dia menyimpan foto kebersamaan Gisella dengan Tiara.
Barra menyembunyikan foto tersebut agar tidak di lihat oleh Laura.
"Aku sekarang semakin berani melakukan ini semua, aku tidak bisa membohongi perasaanku yang selalu saja merindukan Tiara. Aku ingin sekali mengajak Gisella dan Tiara untuk pergi jalan-jalan. Membahagiakan Gisella yang telah berkorban mempertaruhkan nyawa nya untuk bisa melahirkan Tiara."
Barra yang terus menerus memikirkan Gisella dia pun mencoba untuk menelephone Laura.
Nomber handphone Laura tidak aktif.
"Laura seperti nya dia masih saja marah-marah kepada kuu, padahal dia sedang merasakan mual-mual seperti dulu yang Gisella rasakan."
Barra pun mencoba untuk kembali menelephone nomor handphone Laura tapi tetap saja tidak aktif.
"Aku harus meminta maaf kepada Laura, walaupun sekarang aku merasa lebih suka mengabaikan Laura di saat dia seperti ini."
Barra mencoba untuk mengirimkan bucket makanan untuk Laura, dia memilih untuk memberikan coklat kepada Laura.
"Semoga saja Laura menyukai nya."
Barra yang kembali dengan pekerjaan nya.
Dokter Rivan yang merasa sangat hawatir dengan Laura.
Dia memilih untuk mendatangi Laura di Apartemen nya.
"Ini masih jam kerja Barra, dan sekarang adalah selesai jadwal praktek kuu. Aku mempunyai waktu satu jam untuk bisa melihat kondisi Laura, karena Laura pasti sedang berada di Apartemen nya."
Dokter Rivan dengan sangat nekat sekali dia pergi untuk menemui Laura.
Rivan memberikan bucket bunga untuk Laura, dia memberikan bucket bunga mawar merah.
"Laura sangat suka sekali dengan bunga, dia pasti sangat senang sekali jika di bawakan bucket bunga mawar merah ini."
Dokter Rivan dengan penuh semangat dia pun masuk ke dalam mobil nya, dia mengejar waktu agar tidak bertemu dengan Barra.
"Akhirnya sampai juga di depan pintu Apartemen Laura, waktu ku hanya tinggal 30 menit lagi."
Dokter Rivan menekan tombol bell yang ads di hadapan nya berkali-kali dan membuat Laura akhirnya terbangun dari tidur nya.
"Seperti itu Mas Barra tapi untuk apa Mas Barra menekan tombol bell segala, dia kan selalu langsung masuk saja."
Laura yang masih merasa sangat pusing dan mual pun terpaksa terbangun dari tidur nya.
Karena bising nya suara bell yang tidak ada hentinya.
Laura langsung membuka pintu Apartemen tampa melihat ke cctv terlebih dahulu.
Laura begitu sangat terkejut sekali ketika melihat Dokter Rivan di hadapan nya.
"Rivan,? astagaaaa apa yang kamu lakukan di depan Apartemen kuu ini hah?. Sebelum nya handphone ku yang berdering kencang berkali-kali dan sekarang suara bell pintu Apartemen ku yang berbunyi berkali-kali. Rivan apakah kamu baik-baik saja hah?."
Rivan melihat wajah Laura yang sangat pucat sekali tidak seperti biasa nya, Laura yang tampak polos tanpa menggunakan make up.
__ADS_1
"Laura apakah kamu sedang sakit,? kamu kelihatan sangat pucat sekali. Pantas saja aku tiba-tiba menghawatirkan muu."
Rivan mencoba untuk memegang pipi Laura tapi Laura menepis tangan Rivan.