Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #227#


__ADS_3

Barra milih untuk pergi bersama dengan Gisella, tapi ternyata bukan ke arah kantor.


Barra seperti membawa Gisella pergi ke suatu tempat dan Gisella pun hanya bisa terdiam saja.


"Gisella temani aku yang sedang butuh seseorang di samping, yaitu adalah kamu Gisella."


Barra memegang tangan Gisella dan Gisella pun tersenyum manis kepada Barra.


"Terimakasih banyak Gisella, kamu memang wanita pilihan ku."


Barra membawa Gisella ke tempat di mana mereka berdua honeymoon dulu, karena Barra tahu jika Gisella yang sangat menyukai tempat tersebut.


Gisella pun seketika langsung terdiam ketika sampai di tempat tersebut.


"Ini adalah tempat yang paling indah untuk ku, kenapa Kak Barra mengajak aku ke sini Kaaa."


Barra pun membuka pintu mobil nya, dan memegang erat tangan Gisella.


"Aku ingin melihat kamu bahagia Gisella, di tempat ini bersama dengan aku."


Barra memeluk erat tubuh Gisella seakan ingin meluapkan rasa sakit hati nya kepada Gisella, ketika dia mengetahui jika wanita yang sangat dia cintai tega berselingkuh di belakang nya sampai bisa hamil.


"Apakah bayi yang kandung oleh Laura itu adalah anak ku,? sangat menyakitkan sekali."


Barra terus saja memeluk erat tubuh mungil Gisella.


"Besok aku ingin segera berpisah dengan nya, aku ingin langsung melupakan nya. Karena rasa sakit ini akan lebih cepat untuk melupakan semua kenangan manis yang pernah kita lalui bersama."


Barra melepaskan pelukan erat dan memandangi wajah Gisella.


"Kenapa kita dulu tidak bertemu,? kenapa aku harus bertemu dengan Kakak mu yang jelas-jelas umur nya 10 tahun lebih tua dari ku. Padahal dia mempunyai adik kandung yang seumuran dengan ku dan sangat luar biasa sekali cinta nya."


Gisella menutup bibir Barra dengan jari nya.


"Jangan bicara seperti itu, Tuhan mempunyai jalan yang indah untuk bisa mempertemukan kebahagiaan kepada masing-masing mahluk nya."


Barra semakin yakin sekali jika dia ingin bersama dengan Gisella.


"Terimakasih banyak, telah memberikan aku malaikat kecil yang sangat cantik dan lucu. Mutiara Belinda adalah yang sangat kuat sekali untuk mempersatukan kita berdua."


Gisella pun merasa sangat terharu sekali dengan ucapan Barra kepada nya.


Dan apakah ini adalah tanda nya dia akan bersatu kembali bersama dengan Barra.


Tapi Gisella masih memikirkan tentang Laura yang tidak mungkin ke habisan ide untuk nya bersama kembali dengan Barra.


"Gisella, aku ingin sekali menikah dengan muu. Di saat nanti aku sudah berpisah dengan Laura besok aku berpisah dengan Laura."


Gisella pun memandangi wajah Barra, dia tidak pernah menyangka jika dia akan memiliki Barra seutuhnya untuk menjadi Papa untuk Tiara.


"Aku tidak mau terlalu banyak membayangkan, aku ingin melihat saja proses nya seperti apa. Aku tidak mau kecewa karena aku tahu Kak Laura selalu mempunyai cara licik nya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Termasuk bisa bersama dengan Kakak kembali."


Barra memegang tangan Gisella sampai mencium tangan Gisella.


"Aku tidak akan pernah tergoda kembali dengan Laura, aku lelaki yang setia tidak mau bersama dengan wanita yang berselingkuh."


Gisella merasa terharu sekali dengan perkataan Barra untuk nya.


"Tapi kita lihat dulu yaa, setelah perceraian itu. Akan ada cerita drama apa yang di buat oleh Kak Laura."


Barra pun hanya bisa terdiam saja karena melihat Gisella yang tidak sepenuhnya percaya dengan kuat nya cinta yang Barra miliki untuk nya.


Gisella pun langsung berlari menghampiri indah nya pantai.



Jackson mengabadikan momen kebersamaan mereka berdua, Barra pun terlihat begitu sangat bahagia sekali ketika dia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Gisella.


Mereka sangat menikmati kebersamaan bersama nya sampai membuat Barra sedikit melupakan rasa sakit yang dia rasakan.


Melihat Gisella yang sedang menikmati pantai, Barra pun duduk dan mengeluarkan handphone nya dia mengirimkan pesan kepada Mama Rossa.


*Aku sekarang sedang bersama dengan Gisella di pantai dan kemungkinan besar kita berdua akan menginap di sini, aku titip Tiara yaa Mam.*


Membaca pesan masuk dari Barra, Rossalinda pun langsung tersenyum manis.


"Apakah mereka berdua akan honeymoon, Tiara yang akan memiliki adik di usia nya yang belum satu tahun. Pembalasan dendam kepada Laura, Barra benar-benar melakukan nya."


Rossalinda pun langsung membalas pesan dari Barra.

__ADS_1


*Ingat besok adalah sidang perceraian kamu dengan Laura yang pertama, jangan sampai kamu sekarang yang bikin gagal karena asik bersama dengan Gisella.*


*Tidak mungkin aku melupakan, aku selalu mengingat nya.*


Rossalinda pun menyimpan handphone nya dan fokus pada Tiara.


Tiara terlihat begitu sangat bahagia sekali ketika dia di gendong oleh Rossalinda.


"Doakan yang terbaik untuk Papa dan Ibu kamu yaa sayaaaaang. Semoga mereka berdua bisa bersama dan kamu bisa merasakan kasih sayang yang complete."


Rossalinda pun langsung mengajak main Tiara.


***


Laura sampai di Rumah orang tua nya, dia begitu sangat tidak percaya dengan apa yang sekarang terjadi dengan dirinya.


"Beristirahat sana siapkan diri kamu untuk bisa tampil fresh di saat sidang perceraian besok, ingat Laura kamu jangan sampai membuat Drama-drama yaa. Karena kamu sendiri yang menyebabkan perselingkuhan ini."


Riana pun menutup rapat pintu kamar Laura dan Laura pun memeluk boneka kesayangan nya Teddy bear putih pemberian Barra.


"Aku tidak mau berpisah dengan Barra, aku tahu aku yang salah tapi aku yakin Barra pasti memaafkan aku memberikan kesempatan ke dua untuk aku jika aku bisa berbicara dengan nya berdua saja dan setelah itu kita berdua akan pergi ke luar negeri untuk menata kehidupan yang baru di sana."


Laura mengambil handphone nya dia berniat untuk menghubungi nomer handphone Barra tapi Barra yang mengetahui jika itu adalah panggilan telephone dari Laura dia memilih untuk menonaktifkan handphone nya.


Barra memilih untuk bermain bersama dengan Gisella di pinggir pantai.


"Kenapa handphone langsung tidak aktif yaa, Barra dia sedang bersama dengan Gisella kah. Apa mereka berdua pergi ke suatu tempat dan melakukan nya juga. Tidak itu jangan sampai terjadi Barra tidak boleh menyentuh tubuh Gisella kembali."


Laura pun mencari cara bibir jika dia sekarang pergi ke rumah Barra.


"Lebih baik sekarang aku pergi ke rumah Mama Rossa dan aku meminta simpatik dari Mama Rossa agar hubungan ku bisa kembali dengan Barra. Apapun caranya akan aku lakukan termasuk bersujud di hadapan Mama Rossalinda untuk memohon-mohon."


Laura pun mulai memikirkan bagaimana cara dia bisa keluar dari rumah nya, sedangkan orang tua berada di toko bunga.


Laura pun membuka pintu kamar nya, dia berjalan dengan perlahan-lahan untuk menuju ke pintu keluar.


Dan Laura hanya melihat Ayah nya saja sendiri di toko bunga.


"Seperti nya ibu sedang tidur dia pasti kelelahan sekali menjaga aku di Rumah Sakit."


Laura pun keluar dari rumah nya dan melihat toko bunga nya yang sangat ramai sekali.


Dengan luka perban yang masih menempel di kepala nya Laura benar-benar nekad untuk pergi ke rumah Mama Rossa.


Laura pun akhirnya bisa masuk ke dalam mobil nya, dia pun dengan perlahan-lahan menyalakan mesin mobil nya dan langsung pergi seketika dari rumah nya.


Laura terlihat sangat berhati-hati sekali dia tidak mau mengulang lagi hal bodoh yang terjadi dengan dirinya yang beruntung mereka berdua selamat.


Laura pun turun dari mobil nya dia meminta satpam tersebut membuka kan pintu untuk nya, satpam tersebut pun merasa sangat terkejut sekali ketika dia melihat Laura yang datang kembali.


Dengan penuh bersemangat sekali satpam tersebut pun membukakan pintu gerbang untuk mobil Laura masuk.


"Terimakasih kasih banyak yaa Pak."


Laura pun turun dari mobil nya, dan dia pun berjalan menuju ke rumah mewah milik keluarga Barra.


Suster Dina melihat Laura yang dengan perut yang besar dan luka perban di kepala nya.


"Siapa dia,? apakah dia ibu hamil yang kabur dari Rumah Sakit."


Suster Dina pun langsung mencari Rossalinda.


"Bu Rossa, saya melihat ada wanita yang sedang hamil besar dengan luka perban di kepala sedang menuju ke dalam rumah kita."


Rossalinda yang menyadari itu adalah Laura, langsung memberikan Tiara kepada Suster Dina.


"Bawa Tiara ke dalam kamar yaa, jangan sampai Tiara melihat wajah wanita itu sangat bahaya sekali."


Suster Dina pun mengikutinya apa yang di katakan oleh Rossalinda dengan sangat cepat sekali dia membawa Tiara ke dalam kamar nya.


"Untuk Apa Laura datang ke sini, apakah untuk meminta kembali dengan Barra."


Rossalinda pun dengan cepat langsung menemui Laura yang sudah duduk di sofa tamu.


Laura langsung berdiri ketika melihat Rossalinda yang menghampiri nya.


"Ada kamu datang kembali ke rumah ini, setelah kamu sudah menghianati perasaan anak ku Barra."


Laura pun langsung menghampiri Rossalinda dan memohon kepada Rossalinda.

__ADS_1


"Aku minta maaf atas perilaku aku yang selama ini hanya membuat Mama kesal, dan aku juga meminta maaf karena aku yang telah menyakiti hati Barra. Tapi aku di paksa aku di jebak oleh Rivan dia sangat jahat sekali dengan aku."


Laura menangis dan drama nya pun di mulai kan.


"Mam, apakah Mama tidak kasihan kepada ku yang sekarang sedang hamil anak kedua dari Barra. Aku sangat yakin sekali jika ini adalah anak Bara bukan anak dari Rivan."


Rossalinda tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Laura, dia dengan sangat percaya diri mengatakan jika itu adalah anak Barra.


"Sudah ya Laura, lebih baik sekarang kamu pulang ke rumah istrirahat yang banyak agar besok kamu fresh dan tidak layu seperti. Barra tidak ada di rumah dia sedang menikmati liburan nya."


Laura pun memilih untuk berlari dan membuat Rossalinda semakin terkejut sekali dengan sikap Laura.


Laura berlari menuju kamar nya bersama dengan Barra dan dia sampai mengunci pintu kamar nya.


"Astaga Laura, sedang apa kamu berada di kamar itu Laura. Cepat keluar jangan kunci kamar nya."


Laura mengabaikan teriak-teriak Rossalinda dia tetap tidak mau keluar dari kamar tersebut.


"Aku tidak keluar dari kamar ini sebelum aku mengobrol bersama dengan Barra, agar dia lebih fokus berbicara dengan ku."


Rossalinda merasa sangat pusing sekali ketika melihat sikap Laura yang semakin aneh sekali.


"Suka hati mu saja Laura, sempai kamu melahirkan di dalam kamar pun aku tidak peduli aku sangat pusing sekali dengan sikap mu yang seperti ini."


Rossalinda memilih untuk pergi dari kamar tersebut dan dia menenangkan pikiran nya dengan meminum air teh.


"Laura dia sangat luar biasa sekali yaa, aku tidak akan menyuruh Barra dan juga Gisella pulang malam ini. Karena di kamar nya ada penunggu nya."


Rossalinda mencoba untuk menghubungi nomer handphone Barra tapi ternyata handphone Barra yang tidak aktif.


"Seperti nya Barra sengaja menonaktifkan handphone karena gara-gara Laura."


Rossalinda pun terus saja memegang kepala nya.


"Tapi lebih baik aku mengirimkan pesan saja kepada Barra, agar di saat handphone nya aktif Barra bisa langsung membaca nya."


*Barra, kamu dan Gisella jangan sampai pulang ke rumah Mama. Apalagi Gisella jangan sampai pulang ke sini karena ada Laura yang sedang menunggu kedatangan kamu dia mengunci pintu kamar nya. Jangan bilang kepada Gisella jangan memikirkan Tiara dia aman bersama dengan Mama.*


"Astaga ini benar-benar membuat aku sangat pusing sekali.


Rossalinda sampai menghabiskan dua gelas teh hijau untuk nya.


***


Barra mulai mengaktifkan handphone nya dan dia melihat banyak sekali panggilan telephone tidak terjawab dari Laura.


Dan juga ada pesan masuk dari Mama Rossa.


Barra menggelengkan kepalanya berkali-kali ketika membaca pesan dari Mama Rossa.


Dan Gisella pun memperhatikan wajah Barra.


"Ada apa Kak Barra,? ada sesuatu yang penting yaa."


Barra memasukkan handphone nya ke dalam saku celana nya.


"Tidak ada mari kita melihat matahari yang tenggelam bersama."


Barra memegang tangan Gisella dengan sangat erat sekali dan mereka berdua pun melihat indah nya matahari yang tenggelam.


Barra memandangi wajah cantik Gisella dan dia pun menatap wajah dengan jarak yang semakin dekat membuat Gisella memejamkan mata nya.


Dan terasa sentuhan bibir lembut Barra menyentuh bibir mungil Gisella, mereka berdua berciuman di saat indah nya matahari yang tenggelam.


Barra pun menghentikan ciuman tersebut dan menarik tangan Gisella untuk masuk ke kamar hotel yang sudah Barra siapkan.


Gisella melihat begitu sangat indah sekali kamar yang di dekorasi romantis untuk mereka berdua.


Barra memeluk erat tubuh mungil Gisella dan mengulangi ciuman nya tersebut sampai akhirnya mereka berdua pun berada di atas kasur bersama.


Sentuhan lembut tangan Barra membuat Gisella tidak bisa menahan diri nya, dia seakan menikmati apa yang Barra lakukan terhadap dirinya.


Gisella hanya bisa mengelus rambut Barra dan merasa sensasi rasa yang luar biasa yang Barra lakukan terhadap nya.


Gisella tidak menyangka bisa melakukan kembali seperti ini dengan Barra.


"Aku sangat mencintaimu Gisella, aku akan menikah dengan mu. Dan kita berdua akan hidup bahagia bersama dengan Tiara dengan menambah adik untuk Tiara."


Barra membisikkan kata-kata itu dengan sangat lembut sekali di telinga Gisella.

__ADS_1


__ADS_2