Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode #207#


__ADS_3

Laura begitu sangat kesal sekali dia berada di depan pintu Apartemen Rivan dan Rivan pun masih saja belum datang.


Laura mencoba untuk membuka pintu Apartemen tersebut dan ternyata pintu bisa terbuka.


"Hahhhh, ternyata tidak di kunci pintu nya. Ceroboh sekali dia."


Laura tidak berani untuk masuk ke dalam tapi dia tiba-tiba saja ingin buang air kecil.


"Ahhhhhhh, sudah tidak tahan sekali. Maafkan aku Rivan aku masuk yaa."


Laura pun masuk ke dalam Apartemen Rivan dia melihat ruangan yang berbeda tidak seperti biasa nya.


Tapi Laura tidak mau memperhatikan nya dia langsung saja menuju ke toilet.


Laura merasa sangat lega sekali karena ibu hamil tidak boleh menahan jika ingin buang air kecil.


Laura melihat pintu kamar Rivan yang terbuka.


"Ada apa dengan dia, pintu Apartemen tidak di kunci. Pintu kamar pun terbuka lebar seperti ini tidak seperti biasa nya Rivan selalu rapih dan sangat disiplin sekali."


Laura pun berniat untuk duduk di ruang tamu tapi ntah mengapa pandangan selalu saja melihat ke arah kamar Rivan.


"Astagaaaa Laura, untuk apa sih kamu terus saja memandangi kamar itu. Apa kamu berniat untuk mencuri, hmmmm mencuri apa Rivan tidak mempunyai bukti tentang apa yang sudah di lakukan."


Laura pun memilih untuk duduk di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Rivan.


"Lama sekali dia hmmmmm sibuk apa sih dia, bukan kah dia libur praktek yaa hari ini."


Laura menunggu Rivan sambil memainkan handphone nya.


Dan tiba-tiba saja dia seperti mendengar ada suara sepatu yang sangat jelas sekali terdengar.


"Ahhhhhhh, itu pasti Rivan datang."


Laura berdiri dari tempat duduk nya dan membuka pintu tapi ternyata itu bukan Rivan tapi seorang Suster yang sedang mengendong bayi.


"Maaf, ibu siap yaa?. Kenapa bisa ada di Apartemen Dokter Rivan."


Tanya Suster tersebut kepada Laura.


"Saya Laura Renita, saya adalah sahabat baik Dokter Rivan dari SMA."


Laura terus saja memperhatikan wajah Suster tersebut.


"Perkenalkan saya adalah Suster Mirna."


Mereka berdua pun saling bersalaman tapi Laura terus pandangan pada bayi yang sedang di gendong oleh Suster Mirna.


Laura begitu sangat penasaran sekali dengan bayi tersebut.


"Boleh saya lihat Ade bayi nya,? lihat saja sebentar."


Suster Mirna merasa tidak ada salahnya untuk dia memperlihatkan Kenzo kepada Laura.


"Boleh Buu silahkan saja Kenzo nama nya."


Laura pun bahkan di perbolehkan untuk mengendong bayi tersebut.


Laura begitu sangat bahagia sekali ketika dia bisa menggendong bayi lelaki.


"Bayi lelaki yang sangat tampan sekali, andai saja anak ku masih hidup mungkin dia seumuran dengan Kenzo."


Rivan begitu sangat terkejut sekali ketika melihat Laura yang sedang mengendong Kenzo.


"Laura maafkan aku yang telat yaa."


Rivan menghampiri Laura dan dia melihat mata Laura yang berkaca-kaca ketika melihat wajah Baby Kenzo.


"Dia sangat tampan sekali, aku sedih ketika melihat wajah anak ini. Aku ingat anak yang sudah tiada."


Rivan pun membiarkan Laura mengendong Kenzo dan menyuruh Suster Mirna untuk pergi saja.


"Laura apakah kamu tidak melihat wajah anak mu yang terakhir kali nya?."


Laura menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil menangis tersedu-sedu.


"Tidak karena aku yang selalu berontak sampai luka operasi di perut ini terasa sangat perih sekali tapi suami ku bilang jika Bryan dia hidup nya mancung seperti aku."


Rivan begitu sangat kasihan sekali melihat Laura.


"Rivan, ini anak siapa?. Kamu mengadopsi anak ini?."


Laura begitu sangat penasaran sekali dengan Rivan.

__ADS_1


"Iyaa, aku mengadopsi nya. Aku tidak mau hidup kesepian biar dia menjadi anak ku dan menjadi seorang Dokter seperti ku."


Laura tidak menyangka jika Rivan bisa melakukan hal baik seperti ini, dia yang masih singel tapi dia punya keinginan untuk mengadopsi seorang bayi.


Laura terus saja memandangi wajah anak tersebut sampai akhirnya Kenzo tertidur pulas di pelukan Laura.


"Kenzo dia demam panas turun dia adalah seorang bayi yang prematur, sehingga di saat dia sakit aku selalu ingin mendapatkan penanganan yang terbaik untuk Kenzo."


Melihat Kenzo yang sudah tertidur pulas di pelukan Laura, Rivan pun langsung mengambil Kenzo dan membawa nya ke dalam kamar nya.


Laura mengikuti Rivan ke kamar nya, ternyata Rivan tidur satu kamar dengan Kenzo.


"Setiap malam Kenzo bersama dengan ku, nanti jika aku pergi ke Rumah Sakit baru Suster Mirna yang menjaga nya."


Laura memandangi foto-foto kebersamaan Rivan dan Kenzo sampai dia menemukan foto Kenzo di saat masih bayi.


Laura tersenyum manis ketika melihat foto tersebut.


"Sangat tampan sekali kamu Nak, aku bergetar sekali ketika melihat wajah kamu."


Laura terus saja memandangi foto Kenzo yang begitu sangat banyak sekali.


"Laura, aku tahu kamu sekarang sedang hamil kan. Kamu memeriksa kondisi kehamilan mu bersama dengan Dokter Arman."


Laura begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan tersebut.


"Rivan, ini adalah bayi ku dan Mas Barra. Kamu jangan pernah berpikir negatif yaa. Karena aku yang lebih sering berhubungan dengan Mas Barra bukan dengan kamu yaa."


Laura menyimpan kembali foto Kenzo dan dia pun menghampiri Rivan.


"Kita lihat saja nanti yaa di saat bayi ini sudah terlahir ke dunia, kita lakukan test DNA dan semua nya akan terjawab."


Laura pun merasa sangat kesal sekali terhadap Rivan.


"Lalu jika anak ini adalah anak kamu, kamu akan membawa nya. Tidak Rivan aku tidak akan pernah bisa memberikan nya kepada kamu."


Rivan hanya bisa tersenyum ketika mendengar perkataan Laura.


"Lalu bagaimana, kamu akan tinggal bersama anak yang bukan dari suami kamu. Kamu ingin membohongi perasaan Barra, dia pasti akan lebih membenci kamu."


Laura menarik nafas panjang nya dalam-dalam.


"Rivan sebaik sekarang kamu segera menikah secepatnya dengan Gisell, itu adalah jalan yang terbaik."


"Dari pada aku harus menikah dengan Gisella, lebih baik Gisella menikah dengan Barra dan kamu Laura menikah dengan ku dan kita berdua pasti akan bahagia hidup bersama."


Laura merasa apa yang di pikirkan oleh Rivan itu sangat tidak normal sekali.


"Dokter Rivan, bisa kah anda berpikiran logis sesuai dengan realita yang ada. Kamu menyuruh Gisell untuk menikah dengan suami kuu. Itu tidak akan pernah terjadi selama aku masih bisa bernafas."


Laura yang merasa sangat kesal dengan sikap Rivan dia pun memilih untuk pergi dari Apartemen Rivan.


Dan Rivan memberikan Laura pergi begitu saja.


"Laura dengan mudah nya kamu menyuruh Gisella untuk menikah dengan Barra, hanya untuk menginginkan kehadiran anak tapi kenyataan nya dia menjadi membenci Gisella dan sekarang dia menyuruh aku untuk menikah dengan Gisella."


Rivan sampai memegang kepala nya.


"Wanita yang selalu saja ingin di perlakukan seperti ratu dan selalu ingin semua orang mengikuti semua keinginan nya, tapi bodoh nya aku sangat mencintai nya karena kita berdua adalah cinta pertama."


Rivan pun memilih untuk beristirahat dan mematikan lampu kamar nya.


Laura memilih untuk pulang ke Apartemen nya, dia berharap di Apartemen nya dia bisa meluapkan kekesalannya terhadap Barra.


Laura seperti ini menceritakan kekesalan tapi dia juga berpikir tidak mungkin dia bercerita tentang ini semua kepada Barra itu sama saja dia seperti membongkar rahasia nya sendiri.


"Apa aku pulang ke rumah Ayah dan Ibu yaa, sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah. Seperti aku bisa tenang jika tinggal di sana."


Laura pun memilih untuk pulang ke rumah orang tua nya.


Di sana Gisella dan Ayah, Ibu nya sedang bermain-main dengan Tiara.


Mereka pun terlihat sangat bahagia sekali.


"Tiara sayaaaaang kamu sangat gemas sekali sih Nak, Nenek sayaaaaang sama Tiara."


Gisella merasa sangat beruntung sekali ketika Tiara bisa bersama dengan keluarga nya yang sangat sayang sekali kepada nya.


Di saat mereka sedang bahagia bersama dengan Tiara, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.


Gisella pun memilih untuk membuka pintu tersebut dan begitu sangat terkejut ketika melihat Laura yang ada di hadapan nya.


"Kenapa ekpresi kamu kaget sekali yaa Gisella, seperti tidak boleh aku datang ke rumah Ayah dan Ibu."

__ADS_1


Laura tersenyum sinis kepada Gisella.


"Yaa, aku sangat terkejut sekali karena Kak Laura yang memang jarang sekali untuk datang menemui Ayah dan Ibu di sini."


Gisella membuka pintu tersebut sangat lebar sekali sehingga Laura bisa langsung masuk ke dalam rumah tapi Laura masih saja terdiam di luar.


"Gisella kamu itu pernah berpikir nggak sih, dari kamu hamil sampai sekarang punya anak kamu masih tinggal bersama dengan Ibu dan Ayah. Kamu sekarang sudah menjadi seorang CEO loh dan kamu menitipkan anak kamu ke Ibu, kamu itu nggak punya rasa kasihan yaa sama orang tua selalu membuat orang tua terbebani."


Gisella meneteskan air mata nya ketika dia mendengar perkataan dari Laura.


"Iyaa aku akan segera pergi malam ini juga, Kak Laura terimakasih banyak yaa. Di sepanjang hidup Kak Laura itu hanya bisa membuat hati aku sakit dan semoga saja kelahiran anak kedua kalian berdua bisa selamat yaa."


Gisella langsung berlari masuk ke dalam kamar nya dan membuat kedua orang tuanya terkejut sekali dengan sikap Gisella.


"Apa maksud perkataan Gisella itu, dia mendoakan persalinan ku tidak selamat. Gisella kamu benar-benar membuat aku sangat kesal sekali."


Riana memilih untuk menghampiri Gisella ke kamar nya dengan menggendong Tiara sedangkan Dimas melihat siapa yang datang ke rumah nya.


Dimas begitu sangat terkejut sekali ketika melihat Laura yang datang.


"Laura kamu datang ke sini, malam-malam seperti ini."


Laura pun langsung memeluk erat Ayah nya.


"Ayah aku datang ke sini ingin memberitahu Ayah jika aku sekarang sedang mengandung anak ke dua."


Dimas begitu sangat bahagia sekali ketika dia mendengar Laura hamil.


"Selamat yaa Nak, semoga saja kehamilan mu ini selamat sampai persalinan tiba."


Dimas pun memegang tangan Laura dan berniat untuk memberitahu kan kepala Riana istri nya.


Tapi Riana yang masih di kamar Gisella.


"Laura kamu tunggu sebentar di sini yaa, Ayah mau menyusul ibu mu yang sedang di kamar Gisella."


Dimas pun berjalan menuju ke kamar Gisella, dia melihat Gisella yang sedang menangis sambil memasukkan pakaian nya ke dalam koper.


Riana hanya bisa menagis sambil memeluk erat Tiara.


"Gisella kamu mau pergi ke mana sayaaaaang, ini sudah sangat malam sekali kenapa kamu memasukkan pakaian kamu ke dalam koper."


Laura yang merasa sangat penasaran sekali akhirnya dia pun berjalan menuju ke kamar Gisella agar bisa melihat langsung.


"Ayah dan Ibu, maafkan aku yaa yang selalu merepotkan Ayah dan Ibu dari semenjak aku hamil, melahirkan sampai akhirnya terlahir Tiara. Maafkan aku yang tidak tahu diri masih saja tinggal bersama dengan Ayah dan Ibu tapi malam ini aku akan pergi Buu. Aku akan mencari tempat tinggal bersama dengan Tiara."


Laura tersenyum puas ketika melihat Gisella yang benar-benar langsung pergi bersama dengan anak nya.


Riana memegang tangan Gisella dia tidak mau Gisella pergi meninggalkan rumah.


"Jangan pergi Nak, jangan yaa. Tinggal bersama dengan Ayah dan Ibu."


Pandangan Gisella fokus kepada Laura.


"Maafkan aku Buu, aku harus pergi. Tapi ibu dan ayah tenang saja. Mama Rossa sudah memberikan aku sebuah Apartemen mewah dari awal aku menikah dengan Kak Barra dan aku pun akan tinggal di sana."


Gisella pun pergi dia yang sangat kesal sekali dengan Laura dia menginjak kaki Laura dengan sangat kuat sekali dan membuat Laura merasa sangat kesakitan sekali.


"Ahhhhhhh, Gisella sakit sekali. Buu dia sangat tidak sopan sekali dia menginjak kaki kuu."


Laura seperti meminta simpatik dari kedua orang tuanya.


"Aku sekarang sedang hamil muda loh, Gisella benar-benar tidak mempunyai sikap yang baik."


Laura terus saja memegang kaki yang di injak oleh Gisella.


"Laura, apakah kedua mu itu hanya untuk membuat hati Gisella sedih. Lauraaaaaaa apa yang kamu katakan kepada Gisella sehingga Gisella pergi dari rumah ini, kamu jahat sekali Laura kamu sudah mengambil masa depan adik kamu dan sekarang kamu membuat adik kamu pergi dari rumah ini dengan membawa bayi yang baru berusia dua bulan. Di mana hati kamu Lauraaaaaaa di manaaaa."


Laura pun hanya bisa terdiam saja ketika Ibu nya yang marah besar kepada dirinya.


"Pernah kamu berpikir bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Gisella dan Tiara, kamu sekarang sedang hamil anak kedua tapi sikap kamu seperti ini Lauraaaa."


*Plaaaakkkkkkk*


Riana menampar pipi Laura dengan sangat keras sekali.


"Ibu tidak ingin melihat wajah kamu di sini, pergi dari rumah ini sekarang juga. Karena rumah ini hasil jerih payah nya ayah mu bukan dari uang-uang muu."


Riana memilih untuk meninggalkan Laura dan berniat untuk pergi untuk menyusul Gisella.


Laura merasa sangat sedih sekali karena dia di benci orang Ibu kandung nya sendiri.


Laura hanya mengharapkan kasih sayang dari Ayah nya saja.

__ADS_1


Riana mencoba untuk mencari Gisella tapi ternyata mobil Gisella sudah pergi.


__ADS_2