
Laura menunggu kedatangan suami nya sampai dia menahan ngantuk yang luar biasa.
Tapi Barra tidak juga pulang ke Apartemen nya.
"Kemana ya dia, kenapa nggak pulang-pulang juga aku sangat hawatir sekali."
Laura melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi, dan akhirnya membuat Laura harus beristirahat karena dia memikirkan kondisi kandungan nya.
Laura pun memilih untuk tidur di sofa dia benar-benar ingin sekali menunggu kedatangan suami nya.
~Keesokan Harinya ~
Barra terbangun dari tidur nya, dia melihat Tiara sudah tidak ada bersama dengan nya.
Barra memilih untuk pergi tanpa berpamitan dengan Gisella.
Barra sudah sangat malas sekali bertemu dengan Laura tapi dia juga mengingat kembali Laura yang sedang hamil anak ke dua nya.
Barra mengendarai mobil nya dengan sangat santai sekali, dia pun akhirnya sampai sampai di depan Apartemen nya.
Barra membuka pintu Apartemen nya, dan dia melihat Laura yang tidur di sofa masih dengan gaun putih nya.
Barra menghampiri Laura dia memandangi tubuh Laura.
"Kenapa kamu membohongi ku Laura, dari cara kamu berbicara dengan Rivan kamu seperti mempunyai hubungan spesial nya nya. Aku diam bukan berarti aku tidak tahu aku ingin semua terungkap dengan sendirinya."
Barra lebih memilih untuk meninggalkan Laura dia bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Laura seperti mendengar suara yang sedang mandi dia pun langsung terbangun dari tidur nya.
"Mas Barra, dia sudah pulang dan sekarang jam 6 pagi dia pulang jam 6 pagi."
Laura berjalan menuju ke kamar nya dia menyiapkan pakaian untuk suami nya berkerja.
Barra pun keluar dari kamar mandi dan melihat Laura yang tersenyum manis kepada dirinya tapi Barra mengabaikan senyuman tersebut dia memilih untuk mengambil pakaian nya.
Dan Laura pun terdiam ketika melihat sikap suami nya yang dingin kembali kepada nya.
"Mas, kamu kenapa sih?. Semalam sikap kamu baik dan romantis kepada ku dan sekarang kamu kembali dingin seperti ini. Aku tidak mengerti Mas."
Barra tetap saja terdiam dia tidak menjawab pertanyaan dari Laura.
"Mas seharusnya aku yang marah dengan kamu, kamu yang meninggalkan aku di Restoran itu sendiri dan kamu pergi begitu saja."
Laura menarik tangan Barra dia menginginkan jawaban dari suami nya tersebut.
"Dan kamu semalam bermalam bersama dengan siapa,? aku menunggu mu sampai pagi sampai aku ketiduran di sofa demi untuk menunggu kedatangan kamu."
Barra melepaskan tangan Laura yang memegang nya.
"Kamu berpikiran negatif terhadap ku dan apakah aku juga harus berpikiran negatif terhadap mu,? Laura jangan selalu merasa benar dan juga jangan selalu membolak-balik fakta dan jangan juga setiap permasalahan rumah tangga kita kamu selalu menyalahkan Gisella."
Barra memilih untuk pergi kantor dari pada harus membuang-buang waktu bertengkar dengan Laura.
Laura pun seketika langsung terdiam ketika mendengar perkataan suami nya, dia mulai merasa cemas sekali dia takut sekali Barra mengetahui apa yang sudah dia lakukan bersama dengan Rivan.
"Ini tidak bisa di biarkan begitu saja, aku harus meminta tolong Rivan. Aku tidak mau rumah tangga ku berakhir tidak akan pernah."
Laura memilih untuk langsung bersiap-siap untuk pergi bertemu dengan Rivan.
Gisella terbangun dari tidur nya dia pun merasa jika Tiara demam, Tiara terus saja menangis dan membuat Gisella merasa sangat hawatir sekali.
"Sayaaaaang kita berobat yaa sayang, aku lebih percaya untuk langsung saja datang ke Dokter Specialis Anak."
Gisella mengambil handphone nya dia mengirimkan pesan singkat untuk Mama Rossa.
*Mama maafkan aku yaa, hari ini aku tidak bisa masuk kerja. Tiara demam tinggi aku akan membawa Tiara sekarang ke Rumah Sakit Sejahtera.*
Rossalinda yang membaca pesan tersebut dia pun sangat terkejut sekali dan hawatir.
"Kasihan sekali Tiara dia sakit, Barra harus mengetahui nya. Dia harus menemani Gisella ke Dokter Specialis Anak di Rumah Sakit Sejahtera."
Rossalinda pun langsung mengirimkan pesan kepada Barra.
*Tiara demam dia akan Gisella bawa ke Dokter Specialis Anak di Rumah Sakit Sejahtera, temani dia Mama sangat hawatir sekali dengan kondisi Tiara.*
Barra yang sangat sibuk sekali dia tidak memegang handphone nya karena hari dia memiliki rapat yang sangat penting sekali.
Gisella bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit Sejahtera, dia pun di antarkan oleh supir pribadi nya yang sudah di siapkan oleh Barra.
__ADS_1
Gisella begitu sangat panik sekali, dia terus saja mencium kening Tiara.
"Sabar yaa sayaaaaang, sekarang kita akan pergi bertemu dengan Dokter Specialis Anak yaa sayang."
Tiara terus saja menangis di dalam mobil dan membuat Gisella sangat panik sekali.
"Coba jika ada ibu di samping ku, aku tidak akan panik seperti ini. Ibu pasti akan menenangkan kuu."
Gisella mencoba untuk menenangkan Tiara dia terus saja memandangi wajah Tiara yang memerah.
"Pak , bisa di percepat Pak. Saya sangat hawatir sekali dengan kondisi anak saya."
Gisella menyuruh supir pribadi nya untuk lebih cepat mengendarai mobil nya, dan sampai akhirnya Gisella pun sampai di Rumah Sakit Sejahtera.
Gisella pun langsung menghampiri ruangan khusus anak.
"Yaa Tuhan, banyak sekali yang anak-anak yang Sakit. Aku harus sabar mengantri semoga Tiara baik-baik saja."
Gisella memilih untuk menunggu setelah sudah mendaftar.
Ketika Gisella yang sedang menunggu panggilan di ruangan tunggu, Laura pun juga berada di Rumah Sakit yang sama untuk bisa bertemu dengan Dokter Rivan.
"Semoga saja hari ini pasien dia tidak terlalu banyak dan bisa langsung bertemu dengan Rivan."
Laura memilih untuk menunggu Rivan bersamaan dengan para ibu-ibu hamil yang sedang menunggu.
Laura pun hanya bisa terdiam saja ketika banyak sekali yang memandangi wajah nya.
Laura begitu dengan sabar sekali menunggu tugas Dokter Rivan selesai karena semua ini demi rumah tangga nya.
Hampir satu jam menunggu akhirnya Rivan keluar dari ruangan praktek nya dan melihat Laura yang sedang menunggu nya.
Rivan tersenyum manis dia begitu sangat bahagia sekali ketika melihat wajah Laura yang sangat cantik sekali.
Melihat Rivan yang menghampiri nya, Laura pun berdiri dari tempat duduk nya.
"Ayo masuk kita periksa kan kondisi kandungan anak kita ini."
Laura langsung memandangi wajah Rivan dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Jaga ucapan mu Rivan , bagaimana jika ada yang mendengar perkataan mu itu."
Laura pun menarik tangan Rivan dan Rivan hanya bisa terdiam saja dengan apa yang di lakukan Laura kepada nya.
"Laura lepaskan genggaman tangan mu ini, lihat banyak sekali yang memperhatikan kita berdua."
Laura pun merasakan hal tersebut dan langsung melepaskan genggaman tangan nya.
"Ahhhhhhh, kenapa aku bodoh sekali. Ayolah kita pergi ke kantin ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
Rivan pun mengikuti apa yang di katakan oleh Laura.
Dan mereka berdua pun sampai di kantin Rumah Sakit mereka berdua duduk berhadapan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Laura,? apa kah kamu sudah sadar ingin bersama dengan ku selama nya dalam ikatan pernikahan."
Laura menggelengkan kepalanya dia tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Rivan kepada nya.
"Rivan, jangan bicara seperti itu lagi aku sangat tidak suka dengan ucapan mu itu. Aku dan Barra akan selalu bersama apapun yang terjadi."
Rivan pun tersenyum manis kepada Laura.
"Apapun yang terjadi,? walaupun anak yang ada di kandungan mu adalah anak ku sayaaaaang."
Rivan mencoba untuk memegang tangan Laura tapi Laura menepis tangan Rivan.
"Aku tidak peduli jika anak ini adalah anak mu, aku tidak akan menyakiti nya dan dia akan menjadi anak Barra."
Rivan merasa sangat ketika Laura tidak akan menyakiti jika anak tersebut adalah hasil hubungan perselingkuhan nya.
"Terimakasih banyak Laura, kamu adalah ibu yang sangat baik sekali. Dan aku berharap besar sekali jika anak itu adalah anak ku dan di dirimu. Kita yang tidak bisa menikah tapi kita bisa membuat cinta dan bisa mempunyai anak walaupun tidak ada ikatan pernikahan."
Laura mengabaikan perkataan Dokter Rivan.
"Rivan sudah jangan terlalu banyak berhayal, cepat segera nikahi Gisella. Buat dia merasa sangat nyaman di dekat mu dan menikah dengan Gisella, hati ku merasa sangat nyaman sekali ketika melihat Gisella menikah. Itu tanda nya suami ku tidak akan pernah mendekati Gisella dengan alasan Tiara dan Tiara."
Rivan merasa sikap Laura yang selalu memaksakan orang lain yang harus selalu mengikuti yang dia inginkan.
"Aku tidak mencintai Gisella dan Gisella pun tidak mungkin bisa mencintai kuu, Gisella bukan wanita yang mudah mencintai seseorang kecuali kamu bisa mempersatukan Gisella bersama dengan Rangga tapi sekarang Rangga sudah menikah dengan Fransisca."
__ADS_1
Laura pun mulai memikirkan hal tersebut.
"Tapi Rangga tidak mencintai Fransisca dan Rangga hanya mencintai Gisella, baiklah aku akan mencari Rangga dia pasti akan setuju dengan rencana ku ini."
Laura begitu sangat puas sekali dengan rencana nya yang satu ini.
"Dan aku akan bilang kepada Gisella, jika kamu tidak menikah dengan Rangga. Maka Rangga akan membocorkan rahasia pernikahan kontrak ini kepada media massa dan ini akan berpengaruh terhadap perusahaan Barra. Gisella pasti tidak mau jika perusahaan Barra terancam bangkrut karena dirinya."
Laura begitu sangat bahagia sekali ketika merencanakan hal tersebut.
Rivan yang mendengar rencana Laura dus hanya bisa terdiam karena rencana Laura yang licik sekali dan tidak mudah untuk di rencanakan.
"Aku ingin makan dulu di kantin ini, hati ku mendadak begitu sangat bahagia sekali."
Laura dan Rivan pun memilih untuk memesan makanan di Kantin Rumah Sakit.
Barra yang baru saja membaca pesan dari Mama nya, dia pun langsung memilih untuk menelephone Gisella.
Gisella yang sudah selesai memeriksa Tiara dia mengambil handphone nya yang berdering kencang sekali.
*Hallo Gisella, maafkan aku yang baru membaca pesan dari Mama Rossa. Dia bilang Tiara sekarang demam dan sedang di periksa di Rumah Sakit Sejahtera.*
*Iya Kak tapi sekarang Tiara sudah selesai di periksa oleh Dokter Specialis Anak, dan sekarang aku sedang menunggu pengambilan obat.*
*Oke baiklah, kamu jangan dulu pulang yaa. Aku akan datang ke Rumah Sakit Sejahtera. Kamu tunggu saja di Kantin Rumah Sakit, aku sekarang akan segera pergi menuju ke Rumah Sakit Sejahtera.*
*Baiklah Kak Barra, nanti kita bertemu di kantin Rumah Sakit.*
Barra menuju ke Rumah Sakit Sejahtera dan Gisella pun sudah selesai pengambilan obat.
Gisella berjalan menuju ke kantin Rumah Sakit, Gisella sangat terkejut sekali ketika Laura yang ada di kantin Rumah Sakit bersama dengan Dokter Rivan.
"Kak Laura bersama dengan Dokter Rivan, mereka berdua makan bersama di kantin dan terlihat sekali wajah Kak Laura yang begitu sangat bahagia sekali."
Gisella memilih untuk tidak langsung masuk dia ingin memperhatikan mereka berdua.
"Apakah mungkin ini benar-benar mereka berdua itu mempunyai hubungan spesial."
Rivan terus saja memandangi wajah Laura yang terlihat sangat bahagia sekali.
"Laura boleh kak aku memegang perut muu, aku ingin sekali merasakan gerakan halus anak mu ini."
Rivan pun memegang perut Laura dan ternyata bayi yang ada di kandungan Laura merespon Rivan yang mengelus perut Laura.
Laura pun seketika langsung terdiam ketika dia merasakan gerakan-gerakan aktif bayi nya.
"Sehat-sehat sayaaaaang di perut mommy Laura yaa, kamu harus kuat sampai proses persalinan nanti. Kita akan bertemu yaa sayaaaaang."
Gisella pun di buat terkejut kembali ketika Rivan yang mengelus perut Laura dan bicarakan dengan di depan perut nya.
Gisella juga melihat Laura yang hanya bisa terdiam saja ketika mendengar perkataan positif dari Rivan.
Gisella sangat panik sekali bagaimana jika Barra datang maka pasti akan ada keributan.
Gisella mencoba untuk memperhatikan kedatangan Barra, Gisella berniat untuk mengajak Barra untuk langsung pergi saja dari Rumah Sakit ini.
Tapi ternyata Barra yang datang dari arah belakang Gisella dan Barra pun langsung melihat jelas kebersamaan Laura dengan Dokter Rivan.
"Ohhh, indah sekali kebersamaan mereka berdua. Bertemu di sebuah kantin Rumah Sakit."
Gisella yang langsung membalikkan badannya ketika mendengar suara Barra
"Kak Barra, kamu baik-baik saja kan. Kamu pasti sangat sakit sekali melihat nya."
Barra memilih untuk menghampiri Laura dan Dokter Rivan dengan memegang tangan Gisella.
"Ayo Gisella kita datangi mereka berdua, Ini sudah sangat nyata sekali Gisella. Sudah tidak ada alesan-alesan yang bisa mereka ucapkan berdua."
Kedatangan Barra dan Gisella membuat Laura dan Dokter Rivan begitu sangat terkejut sekali.
Dan Laura pun melihat tangan Barra yang menggenggam erat tangan Gisella.
"Wahh, kita bisa bertemu dengan anggota lengkap yaa di sini."
Dokter Rivan merasa sangat tidak nyaman sekali ketika melihat kehadiran Barra dan Gisella.
"Yaa, sangat kebetulan sekali kita bisa berkumpul ber empat di kantin Rumah Sakit Sejahtera ini."
Laura menundukkan kepalanya dia tidak tahu apa yang harus di katakan dan penjelasan apa yang harus dia katakan kepada Barra.
__ADS_1
Barra terus saja memperhatikan wajah Laura dan Dokter Rivan.
Gisella merasa sangat ketakutan sekali ketika dirinya harus ada di antara mereka ber tiga.