
Laura di berikan obat penenang ketika dirinya yang terus-menerus berteriak dan berontak untuk keluar dari ruangan nya.
Gisella tidak kuasa menahan air mata nya ketika melihat kondisi Laura.
"Apakah Kak Laura akan terus seperti ini, Kak Laura tidak mungkin bisa melupakan semua nya."
Riana yang tidak tega melihat kondisi Laura pun, dia hanya melihat Laura dari kaca pintu ruangan nya nya.
"Gisella, diam lah di rumah Nak. Kamu tidak perlu ikut dalam proses pemakaman. Kamu juga harus memikirkan kondisi kehamilan kamu ini."
Gisella mengikuti apa yang di katakan oleh Ibu nya.
"Baiklah Buu, aku akan segera pulang. Nanti jika kondisi Kak Laura sudah membaik aku baru memberanikan diri untuk bertemu dengan Kak Laura."
Gisella pergi dan dia bertemu dengan Barra, dan Barra seketika saja langsung memeluk erat Gisella.
Ketika Barra memeluk erat Gisella, Dokter Rivan memperhatikan mereka berdua.
"Gisella, maafkan apa yang sudah di lakukan atau pun di katakan oleh Kakak kamu. Aku mohon sekali jaga kandungan kamu ini sampai proses kelahiran."
Gisella pun melepaskan pelukan erat dari Barra.
"Aku akan menjaga kehamilan ku ini Kaa, dan maafkan aku yang tidak bisa hadir di pemakaman karena ibu menyuruh aku untuk diam di rumah saja."
Barra pun mengiyakan Gisella untuk pergi dan berjalan kembali menuju ke Laura.
Barra melihat Riana yang sedang menangis melihat kondisi Laura.
"Barra, Laura sudah kehilangan anak yang selama ini kalian berdua impikan. Apakah rasa cinta kamu masih ada untuk Laura,? di saat Laura yang tidak bisa menjaga kesehatan kehamilan nya."
Barra menundukkan kepalanya dia mencoba untuk mengatur nafas nya.
"Buu, saya pernah bilang kepada Laura ketika dia menginginkan pernikahan kontrak itu. Saya bahagia walaupun hanya berdua saja dengan Laura dan setelah kejadian ini rasa cinta itu semua tidak akan pernah berubah. Apalagi perjuangan Laura yang harus mengalami operasi Caesar."
Riana merasa sangat beruntung sekali ketika dia bisa mendapatkan menantu yang begitu sangat mencintai anak nya.
"Lebih baik sekarang kita pergi saja Buu, kita biarkan Laura beristirahat. Dan setelah itu saya akan memproses pemakaman untuk anak saya."
Riana mengikuti apa yang di katakan oleh Barra, dia memilih untuk menunggu Laura di luar ruangan.
__ADS_1
Sedangkan Barra pergi untuk menyiapkan semuanya.
Melihat Barra yang pergi Dokter Rivan pun menghentikan Riana.
Dia duduk di samping Riana, tatapan mata Dokter Rivan begitu sangat tajam sekali.
"Buu Riana, lebih baik Laura jangan di pertemukan dengan Gisella. Sekarang kondisi Laura sedang tidak stabil dia masih belum menerima kenyataan jika dirinya harus kehilangan anak nya."
Riana pun sempat mempunyai pikiran seperti itu, tapi dia juga merasa sangat kasihan kepada Gisella.
"Yaa, tapi Gisella selalu ingin bertemu dengan Laura. Dia merasa sangat hawatir sekali melihat kondisi Laura yang seperti ini."
Dokter Rivan pun mengerti jika dirinya ada di posisi Gisella.
"Tapi saya rasa apapun yang terjadi pada Laura, dia pasti akan melampiaskan kekesala nya kepada Gisella. Saya tidak mau kehamilan Gisella terganggu apalagi sekarang kandungan Gisella sudah 8 bulan dan bulan depan dia akan melakukan proses persalinan."
Riana pun mulai memikirkan perkataan Dokter Rivan, dia pun tidak mau jika harus kehilangan bayi yang ada di kandungan Gisella.
"Baiklah, saya akan membicarakan hal ini dengan Gisella. Secara perlahan-lahan."
Dokter Rivan pun kembali pergi ke ruangan nya.
Gisella pergi ke rumah nya dengan di antarkan oleh supir pribadi nya.
Gisella terus saja mengelus perut besar nya tersebut.
"Di rumah aku sendirian, semoga saja aku tidak merasakan apa-apa."
Gisella berusaha untuk menenangkan pikiran dan perasaan nya.
Sampai di depan rumah nya dia melihat seperti apa mobil yang terparkir di halaman rumah nya.
"Mobil siapa yaa itu, warna merah menyala sekali. Aku rasa itu bukan mobil milik Rangga deh lalu mobil siapa itu yaa."
Gisella pun turun dari mobil nya, dan supir pribadi tersebut pun merasa sangat hawatir sekali ketika dia mendengar perkataan Gisella.
Gisella berjalan perlahan menuju ke mobil merah tersebut, dan ketika Gisella mulai dekat dengan mobil tersebut.
Keluar lah Fransisca dari mobil nya dan langsung berdiri di depan Gisella.
__ADS_1
"Sisca, ada apa kamu ke sini. Ada permasalahan apa kamu datang ke rumah kuu?."
Gisella memilih untuk mundur menjauhkan diri nya dari Fransisca.
"Gisell, aku dan Erlangga Rangga kita akan menikah. Tapi apa yang sudah kamu berikan kepada Rangga sehingga dia tidak bisa melupakan kamu padahal kamu yang sudah menikah dan sedang hamil besar seperti ini."
Fransisca begitu sangat marah dengan Gisella.
"Aku tidak memberikan apapun kepada Rangga, semenjak kalian berdua bertunangan pun aku tidak pernah berhubungan dengan Rangga. Jadi lebih baik kamu tanyakan saja semua nya kepada Rangga."
Gisella merasa sangat tidak nyaman sekali dia terus saja memegang perut besar nya.
"Apa kamu memberikan perjanjian untuk Rangga, ketika kamu sudah melahirkan anak kamu itu. Rangga bisa segera menikah secepatnya dengan kamu, dan kalian pergi ke luar negeri agar tidak ada yang menggangu kehidupan kalian. Karena kamu yang di tinggalkan oleh suami mu di saat keadaan sedang hamil."
*Plaaaakkkkkkk, Plaaaakkkkkkk*
Suara keras tamparan berkali-kali yang Gisella berikan kepada Fransisca.
"Dengar yaa Fransisca, aku bisa membesarkan anak ku ini sendiri. Aku sanggup menjadi seorang Singel mother untuk anak kuu ini, aku tidak akan melakukan hal serendah itu yaa. Walaupun di saat aku melahirkan nanti aku tidak mempunyai suami."
Fransisca terus memegang pipi nya yang terasa sangat sakit sekali.
"Silahkan pergi dari rumah ini, dan mencoba untuk berpenampilan lebih cantik dan menarik lagi di hadapan calon suami kamu."
Gisella pun memilih untuk masuk ke dalam rumah nya dan mengunci pintu rumah nya.
Gisella terus saja mengatur nafas nya dia merasa emosional sangat naik sekali.
"Gisella, kamu harus tenang yaa tenang jangan emosi dan selalu bersikap tenang walaupun wanita itu membuat kamu naik darah."
Gisella membuka pintu kamar nya dan mencoba untuk membaringkan tubuhnya.
Gisella terus saja mengelus perut besar nya.
"Maafkan ibu yaa sayang, ibu harus melakukan sikap kasar pada wanita itu. Dia begitu sangat merendahkan ibu Nak dan ibu sangat sedih sekali mendengar nya."
Gisella kembali menangis di saat dia mengingat perkataan jahat dari Fransisca.
Gisella pun mencoba untuk memejamkan mata nya, dia mencoba untuk menenangkan pikiran nya dengan beristirahat.
__ADS_1
"Kepala ku pusing sekali."
Ucap Gisella sambil memegang kepalanya.