Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (90)


__ADS_3

Laura berencana mengajak Barra untuk menemui Dokter Rivan.


"Aku akan datang ke kantor nya Mas Barra sekarang, aku rasa dia pasti mau aku ajak menemui Dokter Rivan. Karena sekarang Mas Barra sudah berada bersama dengan kuu kembali dia pasti akan mengikuti semua permintaan ku."


Laura keluar dari ruangan pribadi dia menuju ke kantor Barra.


Di perjalanan Laura begitu sangat bersemangat sekali dia selalu tersenyum.


Kedatangan Laura di kantor Barra di sambut hangat oleh para karyawan Barra.


Laura pun langsung masuk ke dalam ruangan pribadi Barra.


Kedatangan Laura membuat Barra sangat terkejut sekali.


"Laura ada apa kamu di sini,? kamu tidak sibuk dengan pekerjaan kamu?."


Laura langsung menghampiri Barra dan memeluk nya.


"Aku sangat rindu sekali dengan kamu Mas, aku ingin bertemu dengan kamu."


Barra melepaskan pelukan erat dari Laura.


"Aku datang ke sini untuk mengajak kamu pergi ke Rumah Sakit, aku ingin kamu juga di periksa Mas. Karena percuma saja hanya aku yang berjuang sendiri karena menurut Dokter hasil pemeriksaan aku sangat bagus sekali."


Barra tidak mungkin menolak permintaan Laura, jika dia menolaknya maka Laura pasti akan membahas tentang Gisella.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang."


Barra dan Laura akhirnya menemui Dokter Rivan dan mereka pun berencana melakukan program kehamilan.


Laura merasa sangat senang sekali ketika Barra benar-benar berubah.


"Terimakasih banyak yaa Mas, semoga hasil nya bagus yaa Mas."


Laura mengandeng tangan Barra, mereka pergi menggunakan mobil Laura.


Barra mulai memikirkan bagaimana dengan Gisella sekarang, apakah Mama nya sudah menemui nya atau belum.


Gisella pasti merasa sangat bosan sekali tinggal sendiri di Apartemen.


Ketika Barra hendak mengambil handphone nya, Laura langsung mengambil handphone nya tersebut.


"Jangan main handphone kalau sedang menyetir mobil sayaaaaang."


Barra sangat hawatir sekali jika ada pesan masuk dari Gisella ketika handphone nya di lihat oleh Laura.


Laura begitu sangat serius sekali melihat handphone Barra dan beruntung nya tidak ada pesan masuk dari Gisella.


Laura pun mengembalikan handphone tersebut.


"Mas, Dokter Rivan itu adalah teman SMA aku loh. Aku nggak nyangka banget kita berdua bisa bertemu kembali aku sebagai pasien dia."

__ADS_1


Barra hanya tersenyum tipis ketika mendengar cerita tersebut.


Dan mereka berdua pun akhirnya sampai di Rumah Sakit.


Laura dan Barra berjalan menuju ke ruangan pribadi Dokter Rivan.


Kedatangan Laura bersama dengan Barra membuat Dokter Rivan sangat terkejut.


"Selamat siang Dokter, akhirnya aku bisa datang bersama dengan suamiku. Aku ingin sekali Dokter memeriksa kondisi kesehatan suamiku ini."


Dokter Rivan memperhatikan wajah Barra yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Baiklah kita lakukan berbagai tes sekarang yaa."


Dokter Rivan menyiapkan semuanya dan dia pun akhirnya hanya berdua saja dengan Barra.


"Apakah ada sesuatu yang kamu pikirkan sekarang,? pikiran mu seperti nya sangat berat sekali."


Barra hanya tersenyum tipis saja dia tidak mungkin menceritakan semuanya kepada Dokter tersebut.


"Saya sudah mengetahui semuanya dari Laura, dan seperti nya sekarang kamu sedang memikirkan Gisella adik kandung Laura yang sekarang menjadi istri kamu. Apakah dia sekarang sudah hamil?."


Barra merasa jika dia harus menceritakan semuanya kepada Dokter tersebut.


"Yaa, saya sedang memikirkan Gisella. Bagaimana pun juga dia adalah istri ku tapi saya sudah berjanji tidak akan menemui Gisella lagi agar hubungan pernikahan kuu baik-baik saja dengan Laura."


Wajah Barra seperti sangat sedih sekali.


Dokter Rivan langsung menyuruh Barra pergi ke ruangan pemeriksaan yang sudah di siapkan oleh pihak medis.


Ketika melihat Barra yang mulai menjalani pemeriksaan, Dokter Rivan menghampiri Laura.


"Laura jika kamu sampai hamil kamu harus menjaga kesehatan kamu, kamu harus lebih sayang dengan kandungan kamu dari pada bisnis kamu."


Laura yang sedang memainkan handphone langsung terdiam ketika mendengar perkataan tersebut dari Dokter Rivan.


"Aku mengatakan ini semua karena aku tau kamu sangat pekerja keras sekali apalagi dengan kesuksesan bisnis kosmetik kamu."


Laura pun langsung memikirkan hal tersebut karena dia tidak mungkin meninggalkan kantor nya begitu saja.


"Aku akan mengutamakan kandungan aku jika hal tersebut terjadi, aku tidak bisa meninggalkan kantor ku begitu saja."


Dokter Rivan merasa jika Laura pasti akan sibuk berkerja walaupun kondisi nya sedang hamil.


Barra menghampiri Laura ketika sudah menjalani pemeriksaan.


"Semua selesai tinggal menunggu hasil pemeriksaan nya Minggu depan.”


Laura pun langsung memeluk erat tubuh suaminya tersebut.


"Terimakasih banyak atas semua yaa Mas, semoga hasilnya baik."

__ADS_1


Laura mengajak Barra untuk segera pergi dari Rumah Sakit itu.


"Mas, ayo kita pergi. Aku harus kembali ke kantor sekarang juga perkerjaan ku sangat banyak sekali."


Barra yang sebelumnya ingin mengajak Laura untuk makan siang bersama, dia mengikuti apa yang di katakan oleh Laura.


Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam mobil.


"Sayaaaaang kamu jangan terlalu sibuk seperti ini, ingat kamu itu kan sekarang sedang program kehamilan."


Barra mencoba untuk menasehati Laura.


"Aku tidak sibuk kok Mas, ini seperti hari-hari biasanya."


Laura mengeluarkan handphone nya dan dia langsung hanya fokus pada handphone nya.


Di perjalanan Barra hanya memandangi kesibukan handphone nya.


Sesampainya nya di depan perusahaan Barra, Laura dengan terburu-buru membuka pintu mobil tersebut.


"Mas, aku langsung ke kantor yaa. Kamu jangan lupa makan siang yaa."


Laura melambaikan tangan nya dan masuk ke dalam mobil nya.


Barra menghela nafas panjang nya dan menyenderkan kepalanya ke bangku mobil nya.


Barra memikirkan kembali keadaan Gisella.


"Semoga saja kamu baik-baik saja Gisella, pulang dari kantor aku harus menayakan bagaimana dengan kondisi Gisella sekarang."


Barra keluar dari mobil nya dan menuju ke ruangan pribadi nya.


Di saat Barra yang selalu memikirkan Gisella.


Gisella pun memilih untuk keluar dari Apartemen nya.


"Aku keluar ahhh, sangat bosan sekali aku berada di dalam Apartemen sendirian."


Gisella pun mencoba untuk mencari makan siang untuk nya.


Gisella melihat Handphone nya yang tidak pesan atau pun telephone dari Barra.


"Gisell, untuk apa kamu berharap besar Kak Barra menayakan kabar tentang kamu.? Ahhhhhh itu tidak mungkin sekali terjadi untuk saat ini."


Gisella pun mulai memesan makanan untuk nya, ketika makan tersebut ada di hadapannya nya.


Tiba-tiba saja selera makan Gisella hilang begitu saja.


"Kenapa aku jadi seperti ini tiba-tiba selera makan ku hilang begitu saja."


Gisella hanya memandangi makan yang ada di hadapan nya itu dia seperti ini muntah melihat nya.

__ADS_1


__ADS_2