Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode *178*


__ADS_3

Laura kembali mengirimkan pesan kepada Barra.


*Mas, jangan lupa yaa. Nanti malam kita dinner romantis bersama, popoknya jangan sampai gagal.*


Barra melihat pesan masuk dari Laura dan dia pun baru menyadari jika Laura sebelum mengirimkan foto hasil pemotretan nya.


"Laura sangat cantik sekali."


Barra pun membalas pesan dari Laura.


*Iyaa sayaaaaang, nanti malam kita dinner romantis.*


Barra pun langsung teringat dengan Gisella.


"Gisella belum merasakan tanda-tanda kelahiran nya, mungkin dia tidak akan melahirkan malam ini."


Barra pun kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Laura yang mendapatkan balasan pesan dari Barra dia merasa sangat bahagia sekali.


"Baiklah, aku akan mulai mencari Restoran yang terbaik untuk kita berdua."


Laura meninggalkan kantor nya dia pergi untuk menyusun rencana-rencana nya.


Ketika Laura keluar dari kantor nya, dia pun masih di ikuti oleh orang suruhan Dokter Rivan.


Dia mengikuti Laura sampai di depan Restoran yang Laura inginkan.


Laura pun masuk dan mulai berbincang-bincang dengan konsep dan makanan apa yang akan dia makan.


"Aku ingin sekali ada alunan suara biola yaa, itu pasti sangat Romantis sekali."


Laura melihat jam di tangan nya yang masih menunjukkan jam 4 sore.


"Masih banyak waktu, aku bisa pergi ke salon kecantikan dulu. Karena jam 8 malam mulai makan malam nya."


Laura pun langsung pergi meninggalkan Restoran tersebut dia masuk kembali ke dalam mobil nya.


Laura pergi menuju salon kecantikan langganan nya.


Dokter Rivan yang mengetahui hal tersebut dia langsung melihat HPL Gisella ketika masih melakukan pemeriksaan.


"Kalau tidak hari besok hari perkiraan Gisella melahirkan, tapi aku rasa seperti nya hari ini dia melahirkan."


Dokter Rivan pun melihat di mana lokasi Laura akan melakukan dinner romantis bersama dengan Barra.


"Tempat ini tidak jauh dari Apartemen kuu, mungkin aku yang akan dinner bareng dengan kamu Laura."


Dokter Rivan semakin yakin dia akan memiliki Laura secepatnya.


Gisella hanya bisa terdiam saja sambil menunggu kontraksi datang.


"Jika aku tidak juga mengalami kontraksi, maka aku harus di tindak hmmmmm."


Gisella terus saja mengelus perut besar nya.

__ADS_1


"Ayolah sayaaaaang sekarang yaa, jangan menunggu lama-lama di perut Ibuu."


Gisella terus saja cemberut sambil memegang perut besar nya.


"Gisell, kenapa kamu seperti itu. Nanti juga kalau sudah waktunya dia pasti terlahir."


Gisella pun tersenyum manis kepada Ibu nya.


"Aku sudah tidak sabar Buu, aku ingin sekali secepatnya bisa melihat anak ku ini. Karena dia yang akan menjadi penyemangat aku."


Riana pun mencoba untuk menyemangati Gisella.


"Jadilah ibu yang tangguh yang kuat yaa sayaaaaang, karena keputusan kamu yang ingin menjadi singel mother. Tapi menurut Ibu kamu juga butuh pendamping hidup, walaupun tidak untuk sekarang."


Gisella memilih untuk pergi ke kamar nya.


"Aku ke kamar dulu yaa Buu, aku rasanya ingin beristirahat sejenak."


Gisella pun memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar dan menutup rapat pintu kamar nya.


"Siapa pendamping hidup kuu, sudah tidak ada lagi bagi menjadi pendamping hidup kuu. Aku hanya berpacaran dengan Rangga saja, tidak mudah untuk aku bisa membuka lembaran baru."


Gisella pun terbaring di tempat tidur nya sambil memikirkan perkataan ibu nya.


***


Laura begitu sangat bersemangat sekali dia berpenampilan sangat cantik untuk acara dinner bersama dengan suami nya.



Laura seakan ingin memberikan yang terbaik untuk suami nya tersebut.


Barra pun sudah menyiapkan sesuatu yang berharga untuk Laura.



Barra bersiap-siap untuk pergi ke Restoran tersebut.


"Kenapa aku terus kepikiran Gisella yaa, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Gisella."


Barra pun masuk ke dalam mobil nya dia terus saja memikirkan Gisella.


"Aku tidak mungkin bertemu dengan Laura tapi pikiran ku selalu saja memikirkan Gisella."


Barra pun mencoba untuk menenangkan pikiran dan perasaan dulu.


Ternyata apa yang di rasakan oleh Barra, Gisella mulai merasakan kontraksi yang luar biasa sekali.


"Ahhhhhhh, sakit sekali. Kenapa ini yaa seperti ada yang mendorong keluar dari perut ku ini."


Gisella mencoba untuk mengatur nafas nya tapi rasa sakit itu semakin terasa.


"Buuuuuu, ibuuuuuu. Tolong akuuuuuu. Perut ku sakit sekali."


Riana yang mendengar teriakkan kencang dari Gisella pun dia langsung menghampiri Gisella.

__ADS_1


"Kamu kenapa Nak, seperti nya kamu mau melahirkan."


Mendengar perkataan tersebut Ayah Gisella langsung menghubungi Barra.


Seketika Barra pun langsung terkejut ketika handphone nya berdering kencang sekali.


*Barra, cepat ke sini. Gisella seperti nya akan segera melahirkan.*


Tampa berpikir panjang Barra pun langsung mengakhiri panggilan telephone nya.


Dia dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju ke rumah Gisella.


"Aduhhhh buuu sakit sekali buuu sakit, seperti ada yang mendorong untuk keluar."


Gisella pun di bawa ke depan rumah dan beruntung nya tidak harus lama menunggu Barra pun datang membawa Gisella ke Rumah Sakit terdekat.


Barra terus saja memandangi wajah Gisella yang terlihat sangat pucat sekali sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.


Handphone Barra terus saja berdering kencang tapi Barra mengabaikan nya, dia tahu itu adalah panggilan telephone dari Laura.


Tapi Barra berpikir jika pada saat ini Gisella jauh lebih penting dari segala nya.


Mereka pun sampai di depan Rumah Sakit.


Barra memegang tangan Gisella dengan sangat kuat sekali.


"Aku takut Kaa, aku takut sekali."


Gisella menangis di hadapan Barra dan membuat Barra merasa kasihan dan bersalah kepada Gisella.


"Gisell, kamu yang kuat yaa. Kamu pasti bisa. Kakak akan selalu ada di samping kamu."


Gisella pun tidak melepaskan genggaman erat tangan Barra.


Gisella terus saja memandangi wajah Barra.


Sampai akhirnya Dokter pun mengatakan jika Gisella sudah pembukaan 8.


"Sudah membuka 8 yaa, lihat rambut bayi nya juga sudah melihat."


Barra tidak kuasa melihat nya dia pun sangat bergetar sekali.


Sampai akhirnya Gisella pun mengalami pembukaan lengkap dan dia harus mengeluarkan bayi nya.


Barra tidak kuasa melihat perjuangan Gisella ketika mengeluarkan seluruh tenaga nya demi untuk melahirkan anak pertama nya.


Barra terus saja menyemangati Gisella dan dia pun melihat langsung proses persalinan anak nya.


Terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang sekali, Barra pun langsung melihat wajah cantik putri nya tersebut.


Barra mencium kening Gisella dengan penuh perasaan dan cinta.


"Terimakasih banyak Gisella, kamu telah melahirkan anak pertama kita. Perjuangan kamu tidak akan pernah aku lupakan."


Barra terus saja mencium kening Gisella dan Gisella pun meneteskan air mata kebahagiaan nya.

__ADS_1


"Aku sekarang menjadi seorang ibu, yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."


Barra tersenyum manis kepada Gisella.


__ADS_2