
Rossalinda melihat Laura yang terus-menerus menangis tanpa sebab.
"Laura, kamu kenapa Laura apa yang membuat kamu menangis seperti ini?."
Barra dan Rossalinda merasa sangat hawatir sekali dengan kondisi Laura.
"Jika aku tidak bisa mempertahankan kehamilan ini, apakah akan lebih memilih Gisella untuk menjadi istri kamu karena Gisella yang sedang mengandung anak kamu Mas."
Laura memegang tangan Barra dengan sangat erat sekali.
"Kenapa kamu mempunyai pikiran seperti itu Laura, Dokter Rivan bilang kondisi kandungan baik-baik saja. Asalkan kamu bisa beristirahat dengan total tidak melakukan aktivitas fisik yang berlebihan."
Barra dengan perlahan mencoba melepaskan genggaman tangan Laura yang begitu sangat erat sekali.
"Apa yang terjadi dengan Laura,? kenapa dia tiba -tiba seperti ini. Apakah ada perkataan dari Gisella yang membuat Laura menjadi seperti ini."
Dokter Rivan pun datang ketika semua nya merasa sangat hawatir sekali dengan kondisi Laura.
"Bisa tinggalkan kami berdua saja, mungkin ada yang ingin di katakan oleh Laura kepada saya."
Barra dan Rossalinda pun memilih untuk meninggalkan tempat tersebut.
Dokter Rivan melihat kondisi Laura yang seperti sangat ketakutan sekali.
"Laura kamu kenapa seperti ini,? kenapa kamu seperti tertekan seperti ini?."
Laura lebih menatap wajah Dokter Rivan.
"Aku takut sekali kehilangan anak ku ini, jika aku sampai kehilangan anak ku. Mas Barra akan meninggalkan aku, aku tidak mau Mas Barra pergi begitu saja."
Laura memegang erat tangan Dokter Rivan.
"Barra tidak akan pernah meninggalkan kamu Laura, jadi kamu jangan seperti ini Laura kamu harus tenang yaa jangan seperti ini."
Dokter Rivan mencoba untuk menenangkan perasaan Laura.
Dokter Rivan merasa jika Laura yang terlalu ketakutan kehilangan suami nya.
Setelah melihat Laura yang sudah sedikit tentang, Dokter Rivan keluar untuk mencari Barra.
"Barra, seperti nya Laura yang terlalu takut kehilangan anak nya dia menjadi seperti itu. Lebih perbanyak memberikan perhatian kepada Laura."
__ADS_1
Barra merasa jika dirinya yang sudah memberikan perhatian lebih terhadap Laura.
"Perhatian ku sudah besar kepada Laura, sampai Gisella pun berkorban untuk pergi karena dia tidak mau membuat Laura cemburu terhadap nya. Lalu harus bagaimana lagi sedang kan Gisella pun sedang mengandung anak ku juga."
Dokter Rivan merasa ini semua karena Laura jika Laura tidak mempunyai pikiran untuk menikah kan suaminya dengan adik nya sendiri.
Permasalahan tidak akan serumit ini di dalam rumah tangga Laura.
"Laura yang tidak mau di salahkan dan Laura juga yang tidak mau kehilangan, semoga saja Laura bisa kuat mempertahankan kehamilan sampai akhir nya dia melahirkan dengan selamat."
Barra pun berharap besar seperti itu tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya yang begitu sangat hawatir sekali dengan Gisella.
"Saya perhatian kepada Gisella bukan berarti saya yang mencintai Gisella tapi saya yang mencintai anak yang ada di dalam kandungan Gisella, sekarang Gisella yang sedang hamil dia harus berkerja keras dia yang tidak mau menerima bantuan."
Dokter Rivan menepuk pundak Barra berkali-kali.
"Semoga saja semua akan indah pada waktunya, Laura dan Gisella bisa bahagia dengan cerita kehidupan mereka yang berbeda."
Dokter Rivan pun meninggalkan Barra dan Rossalinda yang mendengar perkataan tersebut langsung mendekati Barra.
"Barra, sekarang kamu fokus saja pada Laura. Biarkan Gisella itu Mama yang memantau nya, kamu tidak harus menghawatirkan Gisella."
Rossalinda mencoba untuk meringankan beban hidup Barra.
Gisella kembali ke rumah salah satu murid nya.
Ini adalah rumah terakhir murid nya, Gisella merasa sangat kelelahan sekali.
"Yaa Tuhan, apakah ucapan ku kepada Kak Laura itu keterlaluan tapi setidaknya dia jangan mempunyai pikiran jika aku yang selalu salah."
Gisella mengajarkan murid dengan penuh kesabaran dan juga lemah lembut.
Setelah selesai mengajar Gisella lagi - lagi melihat mobil Rangga.
"Astagaaa, dia selalu saja mengikuti selalu. Ada apa sih Rangga ini."
Gisella terus saja berjalan menuju tempat tunggu angkutan umum.
Rangga menghampiri Gisella dia duduk di sebelah Gisella dan membuat Gisella merasa sangat tidak nyaman sekali.
"Rangga, kenapa kamu selalu saja mengikuti kuu. Bukan kah kamu sudah mempunyai pasangan?, bisakah kamu jangan terlalu bersama dengan aku."
__ADS_1
Gisella menghindari dirinya dari Rangga.
"Rangga jika kamu terus seperti ini, aku yang akan tersalahkan oleh Mama kamu. Aku yang akan di pandang salah dan selalu salah."
Gisella begitu sangat emosional sekali terhadap Rangga.
"Gisella, aku masih sangat sayang aku masih berharap bisa bersama dengan kamu."
Gisella tidak habis pikir Rangga bisa mempunyai pikiran seperti itu.
"Kamu tidak lihat aku sekarang sedang hamil, hamil bukan anak kamu Rangga. Apa yang kamu ucapkan itu tidak mungkin bisa terjadi."
Rangga terus saja memegang tangan Gisella.
"Aku akan bertanggung jawab atas kehamilan kamu, aku akan menjadi Ayah dari anak kamu itu di saat suami kamu yang pergi dari tanggung jawab nya."
Gisella mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Rangga.
"Lebih baik aku hidup hanya bersama dengan anak ku, dari pada aku bersama dengan kamu tapi aku harus menahan rasa sakit hati atas semua ucapan kedua orang tua kamu. Sudahlah Rangga jangan selalu bermimpi seperti itu yaa, kita tidak akan pernah bisa bersama kembali. Lebih baik sekarang kamu fokus dengan acara pertunangan kamu besok dan aku pasti kan akan datang di acara tersebut."
Gisella langsung pergi ketika ada taksi di hadapan nya.
"Gisella, aku rela pergi jauh. Agar kita berdua bisa bahagia bersama. Aku tidak rela melihat kamu seperti ini Gisella kamu di abaikan begitu saja oleh suami kamu."
Rangga pun masuk ke dalam mobil nya dan berniat untuk pulang ke rumah nya.
Kedatangan Rangga di sambut oleh kedua orang tua nya.
"Rangga, sudah habis waktu kamu untuk bermain-main di luar. Besok adalah hari pertunangan kamu dan mulai berkerja di perusahaan keluarga kita. Karena kamu bertanggung jawab sebentar lagi kamu akan mempunyai keluarga."
Rangga mengabaikan perkataan Papah nya dia berjalan menuju ke kamar nya.
"Rangga, apakah kamu sudah bertemu dengan Gisella kembali hari ini?. Kamu jangan lagi bertemu dengan Gisella ingat dia yang sudah menikah dan hamil, kalian berdua sudah tidak bisa lagi bersama."
Veronica menghampiri Rangga, karena Rangga yang memilih untuk masuk ke dalam kamar.
"Jika orang tua sedang bicara itu hargai Rangga, bukan diam dan seperti mengabaikan seperti ini."
Rangga pun menatap wajah Mama nya
"Aku tidak cinta dengan wanita yang akan Mama perkenalkan pada ku besok, wanita tersebut tidak akan pernah bahagia bersama dengan aku."
__ADS_1
Rangga pun langsung menutup rapat pintu kamar nya.