Selimut Cinta Adik Ipar

Selimut Cinta Adik Ipar
Episode (113)


__ADS_3

Laura terbangun dari tidurnya dia langsung mengambil handphone nya.


"Hmmmmmm, ternyata Mas Barra masih peduli sama aku."


Laura pun memilih untuk kembali ke rumah nya.


"Oke, sebaiknya aku pulang saja. Aku ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh Mas Barra."


Laura merasa sakit di bagian kepala nya.


"Kepala kuu sakit banget ini, seperti nya karena aku yang banyak pikiran. Oke Laura tenangkan hati kamu yaa lupakan hal-hal yang membuat kamu pusing seperti ini."


Laura memaksa kan untuk mengendarai mobil nya dengan cara perlahan-lahan.


"Kuat Laura, kamu harus kuat Laura."


Laura terus menahan rasa sakit di kepalanya, beruntung jarak dari hotel penginapan dengan rumah nya hanya 30 menit saja.


Laura pun mencoba untuk fokus dan akhirnya Laura sampai dengan tangan yang bergetar.


Barra yang melihat mobil Laura datang pun langsung menghampiri Laura.


Ketika Laura keluar dari mobil nya, Laura pun seketika langsung pingsan di hadapan Barra.


"Astagaaaa Lauraaaa."


Barra pun langsung menghampiri Laura dia terlihat sangat panik sekali.


Sehingga satpam penjaga gerbang pun langsung datang menghampiri Barra.


"Pak tolong panggil kan supir pribadi Mama saya untuk mengantarkan Laura ke rumah sakit."


Satpam tersebut langsung mencari supir tersebut untuk menghampiri Barra.


"Laura, kamu bertahan yaa. Kamu harus kuat yaa sayaaaaang."


Supir pribadi itu pun datang dan langsung membantu Barra mengangkat Laura ke dalam mobil.


"Ayo pak cepat yaa, bawa ke rumah sakit terdekat saja."


Barra terus memandangi wajah Laura yang pucat pasih.


"Laura sayaaaaang, bertahan yaa."


Sesampainya di rumah sakit Dokter Rivan merasa sangat terkejut sekali ketika melihat Laura.


"Astaga Laura kamu kenapa bisa seperti ini."


Barra hanya diam menunggu hasil pemeriksaan Laura.


Barra begitu sangat takut sekali kehilangan anak nya.

__ADS_1


"Semoga saja semua nya baik-baik saja, apalagi kehamilan Laura. Karena itu yang sangat di harapkan oleh Laura dan aku."


Barra terus saja berdoa untuk kebaikan Laura.


Ketika Barra sedang berada di rumah sakit, Gisella dan Rangga menuju ke rumah Barra.


"Gisella, ada apa kita harus ke rumah Kakak kamu sih. Lebih baik kamu istrirahat saja di rumah."


Gisella tetap dengan pendirian nya, dia ingin mengatakan semuanya kepada keluarga Barra.


"Rangga, pokoknya kalau aku masuk ke dalam. Kamu diam saja di dalam mobil yaa, kamu jangan sampai keluar oke."


Perkataan Gisella semakin membuat Rangga merasa sangat penasaran sekali.


Tapi Rangga pun memilih untuk mengikuti apa yang di katakan oleh Gisella.


"Baiklah Gisell, aku akan diam di dalam mobil."


Ketika Gisella sampai di depan gerbang dia melihat banyak sekali orang yang berada di luar rumah nya.


"Kenapa banyak sekali orang ya di sini,? apa yang sudah terjadi yaa di sini."


Gisella pun langsung menghampiri mereka semua nya.


"Ada apa yaa ini,? kenapa banyak sekali orang seperti ini yaa."


Gisella bertanya-tanya kenapa para pegawai yang ada.


Gisella pun langsung terkejut ketika mendengar Laura yang pingsan sedangkan sebelum nya mereka berdua bertemu.


"Apakah di dalam ada Mama Rossa,?"


Rangga merasa sangat hawatir sekali dengan Gisella pun langsung menghampiri Gisella.


"Bu Rossa sekarang jarang berada di rumah dia sedang sibuk dengan bisnis baru nya."


Gisella pun langsung terdiam dia merasa tidak mungkin mengatakan ini semua dia saat keluarga ini sedang mengalami musibah.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi yaa."


Gisella terus memegang perut nya dan membuat salah satu pegawai memperhatikan nya.


"Nona Gisell, sedang hamil juga yaa."


Gisella pun langsung terkejut ketika mendengar pertanyaan tersebut, karena mereka semua tahu jika Gisella istri ke 2 Barra.


Pertanyaan itu pun membuat Gisella hawatir karena kehadiran Rangga di dekat nya.


"Hmmmmmm, iya saya sedang hamil muda. Saya permisi dulu yaa."


Gisella dengan tergesah-gesah berjalan menuju ke Rangga dan mengajak Rangga untuk langsung pergi saja.

__ADS_1


"Ayo Rangga kita harus segera pergi dari tempat ini, Kak Laura masuk ke rumah sakit dia pingsan ketika keluar dari mobil nya."


Rangga pun langsung meninggalkan tempat tersebut.


Ketika melihat Gisella yang sudah pergi para pegawai pun langsung membicarakan tentang Gisella.


"Yaa Tuhan, kasihan sekali Ibu Laura. Kenapa yaa Nona Gisell harus hamil secara bersamaan seperti ini. Pantaslah Bu Laura sakit."


Para pegawai pun langsung kembali ke pekerjaan nya masing-masing.


***


Barra dengan sangat setia menunggu hasil pemeriksaan Laura.


Dan akhirnya Dokter pun keluar dari tersebut.


"Pak Barra, bisa kah sekarang kita membicarakan nya di ruangan saya."


Barra langsung mengikuti Dokter Rivan.


Mereka berdua pun mulai membicarakan tentang apa yang di alami oleh Laura.


"Tekanan darah Laura sangat tinggi sekali, seperti nya dia sedang banyak pikiran atau permasalahan. Dan saya mengerti dengan posisi Laura sekarang."


Barra pun menundukkan kepala nya ketika Dokter Rivan berkata seperti itu kepada dirinya.


"Barra, sebaiknya Laura jangan banyak pikiran dulu. ini sangat bahaya sekali loh jika tensi darah Laura selalu tinggi. Dan saya pun tahu ini pasti sangat sulit sekali untuk kamu lakukan."


Barra pun menghela nafas panjang nya dan mencoba untuk tersenyum kepada Dokter Rivan.


"Laura selalu berubah sikap nya ketika saya bertemu dengan Gisell, sedangkan saya bertemu Gisell tidak setiap hari dan apalagi sekarang Gisell juga sedang hamil dan setidaknya butuh perhatikan dari suaminya."


Dokter Rivan pun merasa sangat sulit sekali untuk memberikan masukan kepada Barra.


Karena posisi Barra yang memiliki istri dua dan dua-duanya pun sedang hamil.


"Jika aku lihat kandungan Gisella itu lebih kuat dari pada Laura, walaupun Gisell yang mengalami mual muntah yang sangat parah tapi di saat di periksa kandungan sangat baik sekali."


Barra pun memilih untuk langsung berdiri dan pergi dari ruangan pribadi Dokter Rivan.


"Seperti nya sudah tidak ada lagi yang di sampaikan, saya mengerti dan sekarang saya akan melihat kondisi Laura."


Barra pun keluar dari ruangan Dokter Rivan.


"Laura sampai kapan kamu selalu di titik seperti ini, di saat kamu sedang hamil kamu harus di hadapkan dengan masalah seperti ini."


Dokter Rivan merasa sangat kasihan sekali dengan Laura dia pun menghawatirkan kondisi Laura.


Barra dengan langkah kaki yang seperti melayang dia berjalan menuju ke ruangan rawat Laura.


Barra melihat Laura yang masih belum sadarkan diri tapi Barra pun tetap masuk untuk melihat istrinya tersebut yang sedang berjuang untuk mempertahankan kandungan nya juga.

__ADS_1


Barra memegang perut Laura sambil mengelus lembut.


__ADS_2