
Barra terus saja memikirkan Gisella, dia seperti memang benar-benar ingin bersama dengan Gisella.
"Jika aku bersama dengan Gisella, aku akan bisa merawat Tiara bersama dengan Gisella. Tapi seperti nya Gisella yang tidak ingin bersama dengan ku karena sikap Laura yang selalu nekad untuk merencanakan semua rencana nya."
Barra yang sudah mempunyai niat untuk bisa bersama dengan Gisella tetapi dia juga tidak mau jika Gisella di sakiti oleh Laura.
"Aku tidak harus bagaimana lagi, tapi aku rasa aku memang lebih nyaman bersama dengan Gisella."
Barra memandang foto Gisella dan dia pun sambil tersenyum manis ketika melihat foto Gisella.
"Bagaimana jika malam ini aku mengajak Gisella untuk makan malam bersama, aku memanfaatkan hal ini di saat Laura yang masih berada di Rumah Sakit. Aku mungkin jahat sekali tapi Laura jauh lebih jahat dari kuu."
Barra memilih untuk datang ke kantor Gisella di saat waktu nya jam istirahat.
Di kantor nya Gisella memikirkan Kenzo, Kenzo terus saja ada di pikiran Gisella.
"Aku ingin sekali bisa bertemu dengan Kenzo, aku ingin sekali bisa melihat wajah nya. Tapi seperti nya Suster itu selalu saja menutupi wajah Kenzo dan seperti nya dia juga sudah mengenal dengan ku."
Gisella pun mulai fokus kembali dengan pekerjaan nya.
Barra yang sudah sampai di depan pintu ruangan Gisella, dia memandangi wajah cantik Gisella.
Barra memilih untuk memperhatikan terus Gisella dia ingin memandangi Gisella sebelum dia masuk ke dalam ruangan Gisella.
"Gisella kenapa aku baru bisa merasakan ini semua di saat kelahiran Tiara, aku yang melihat perjuangan mu dalam melahirkan Tiara."
Barra pun akhirnya mengetuk pintu dan Gisella pun langsung terkejut ketika melihat Barra yang ada di hadapan nya.
Gisella berdiri dari tempat duduk nya dan menghampiri Barra.
"Kak Barra, ada apa yaa tumben sekali datang ke sini."
Gisella tersenyum manis kepada Barra.
"Iyaa, aku boleh masuk ke dalam kan. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
Gisella pun mempersiapkan Barra untuk masuk ke dalam ruangan.
"Silahkan masuk maaf jika ruangan yang tidak nyaman."
Mereka berdua pun duduk berdampingan dan Barra terus saja memandangi wajah Gisella.
"Sekarang kamu tampak sangat cantik dan dewasa Gisella. Tidak seperti awal-awal kita bertemu kamu yang masih polos dan ikut sekali."
Gisella pun menundukkan kepalanya dia merasa sangat malu sekali dengan perkataan Barra kepada nya.
"Gisella, dari semenjak kita menikah dan kamu hami dan sampai melahirkan Tiara. Aku tidak pernah mengajak kamu untuk makan malam bersama romantis kecuali di saat kita berdua honeymoon dulu."
Barra pun memegang tangan Gisella tapi Gisella yang merasa tidak nyaman.
"Malam ini, kamu dandan yang cantik yaa dan aku ingin sekali menikmati malam bersama dengan mu Gisella. Menebus saat dulu aku yang sangat mengabaikan mu."
Gisella pun langsung terdiam sambil memikirkan tawaran dari Barra.
"Ayolah Gisella, kamu mau yaa. Aku takut sekali tidak bisa membuat mu bahagia di saat kamu pernah bersama dengan ku."
Gisella melihat ketulusan hati dari Barra dan Gisella pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku mau Kak Barra. Jam berapa kita berdua akan makan bersama nya."
Barra pun memberikan alamat Restoran yang akan mereka datangi.
Gisella pun langsung membaca nya.
"Baiklah, jam 8 malam. Aku pasti akan datang ke sana."
Ini adalah kesempatan Gisella untuk menayangkan tentang Bryan kepada Barra.
"Kamu tidak usah datang sendiri, kita akan datang berdua. Aku akan menjemput mu Gisella."
Gisella merasa jika dirinya memanfaatkan kesempatan ini di saat Laura yang sedang sakit.
__ADS_1
"Aku kembali ke kantor lagi yaa, sampai ketemu nanti malam Gisella Reviska."
Gisella pun berdiri dan mengantarkan Barra sampai ke depan pintu.
"Hati-hati yaa Kaa di jalan nya jangan mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang tinggi yaa, ingat keselamatan dan ingat kamu mempunyai Tiara yang menunggu kamu di masa depan bersama."
Barra pun hanya tersenyum dan langsung pergi dari kantor Gisella.
Gisella kembali masuk ke dalam ruangan nya, dia seperti merasa sangat senang sekali.
"Perasaan hati ini apakah perasaan hati yang salah, aku bertemu kembali dengan mantan suami ku. Padahal dia yg masih memiliki ikatan pernikahan dengan istri nya. Gisella kamu harus bisa menjaga harga diri kamu dan jangan berpikiran yang berlebih-lebihan dalam makan malam ini. Jangan mempunyai perasaan memiliki terhadap suami orang."
Gisella pun memilih untuk keluar karena dia belum makan siang.
***
Laura sudah merasa sangat bosan sekali berada di Rumah Sakit, tapi jika dia cepat keluar dari Rumah Sakit dia harus sidang perceraian nya.
"Sampai kapan pun aku tidak mau bercerai dengan Barra, tidak akan pernah terjadi."
Laura yang di temani oleh Ayah dan Ibu, yang baru saja masuk kembali ke ruangan Laura
"Laura, seperti nya Ayah kamu harus kembali ke rumah karena kita yang banyak sekali pesanan bucket bunga."
Laura sebenarnya lebih nyaman bersama dengan Ayah nya dari pada Ibu nya, tapi dia juga tidak apa-apa.
"Laura, Ayah pulang dulu yaa. Kamu cepat sembuh yaa dan secepatnya selesaikan permasalahan mu ini."
Laura pun menangis ketika dia mendengar perkataan Ayah nya.
"Iyaa Ayah, terimakasih atas semua yang Ayah berikan untuk aku. Aku merasa sangat nyaman sekali ketika mendengar perkataan Ayah."
Riana pun menutup rapat kembali pintu ruangan Laura.
Laura merasa sangat tidak nyaman sekali ketika Ibu nya yang menunggu nya.
Riana memilih untuk duduk sambil membawa sebuah buku dan ternyata datang Dokter Rivan dengan membawa kan makanan untuk Laura.
Dokter Rivan pun terkejut ketika melihat Ibu nya Laura yang menunggu Laura.
Riana mulai merasakan lagi perhatian yang berlebih-lebihan Dokter Rivan kepada Laura.
"Laura aku membawa makanan dan buah-buahan, kamu pasti merasa sangat bosan sekali dengan makanan Rumah Sakit. Dan aku juga membelikan susu hamil untuk kamu karena kamu juga harus memperhatikan asupan makanan dan gizi yang seimbang untuk kehamilan kamu."
Riana hanya bisa terdiam saja melihat Dokter Rivan yang begitu sangat perhatian sekali dengan Laura.
Dokter Rivan mencoba untuk menyuapi Laura, tapi Laura dengan sangat cepat sekali dia mengambil sendok tersebut dari tangan Dokter Rivan.
"Aku bisa sendiri, kamu tidak perlu seperti ini kepada ku."
Riana pun merasa jika mereka berdua memang seperti mempunyai hubungan spesial, sikap Dokter Rivan yang begitu sangat perhatian sekali dengan Laura.
Ketika melihat Laura yang sedang makan, Dokter Rivan pun membuka kan buah-buahan untuk Laura.
Tampa mereka berdua sadari ternyata Barra memperhatikan mereka di balik kaca pintu, Barra yang memilih untuk pergi ke Rumah Sakit dan setelah itu baru kembali ke kantor nya dia hanya bisa terdiam sambil tersenyum tipis melihat sikap Laura dan juga Dokter Rivan.
Menurut Barra ini sudah sangat jelas sekali dan sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan lagi.
Setelah melihat Laura yang sudah selesai makan dan mencoba buah yang sudah di siapkan oleh Dokter Rivan.
Akhirnya Barra pun masuk ke dalam ruangan tersebut, Riana sampai menjatuhkan buku nya ketika Barra yang datang secara tiba-tiba.
Laura pun merasa sangat terkejut sekali melihat Barra yang ada di hadapan nya.
"Laura, aku rasa kamu sudah semakin membaik yaa sekarang. Kamu ternyata wanita yang sangat kuat sekali."
Dokter Rivan pun langsung menjauh dari Laura dan seperti memperhatikan Barra untuk mendekati Laura.
Laura seperti sangat ketakutan sekali dia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya saja.
"Terimakasih banyak yaa Dokter Rivan, yang sudah sangat perhatian sekali dengan Laura dan juga kandungan Laura. Karena mungkin Dokter Rivan yang jauh lebih mengetahui makanan apa saja yang baik untuk Laura."
Riana pun menghampiri Barra dia sangat takut sekali terjadi sesuatu diantara mereka bertiga.
"Laura, aku pamit kembali ke kantor yaa. Dan semoga secepatnya kamu sembah dan secepatnya juga kita berdua berpisah."
__ADS_1
Barra pun langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu kepada Ibu mertua nya, karena Barra yang tidak bisa lagi menahan rasa emosi nya.
Riana pun hanya melihat Dokter Rivan dan Laura.
"Tega sekali kamu Gisella, menghianati perasaan suami mu. Jika kamu ingin bersama dengan Dokter Rivan maka cepat kamu sembuh dan bercerai dengan Barra. Tidak seperti ini saling memberikan perhatian di depan suami kamu sendiri. Kamu jahat sekali Laura kamu memalukan ibu saja."
Riana pun memilih untuk keluar dia ingin sekali mengejar Barra.
"Barra, Barra. Tunggu ibu Nak, ibu ingin bicara dengan mu."
Barra yang hendak masuk ke dalam mobil dia seperti mendengar suara teriakan yang memanggil nama nya.
"Ibu Riana,? dia sampai mengejar kuu seperti ini."
Riana pun akhirnya bisa membuat Barra menghentikan langkah nya.
"Barra, ibu ingin sekali meminta atas semua yang di lakukan oleh Laura. Dia sangat keterlaluan sekali tidak menghormati suami nya, semua rencana yang kamu lakukan Ibu pasti akan mendukung kamu Barra."
Barra merasa sangat tidak tega sekali ketika Laura harus melakukan semua itu di hadapan ibu nya sendiri.
"Maafkan aku Buu, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Laura. Aku tidak bisa mendidik Laura dengan baik dan bersikap apalagi dalam ucapan terhadap Gisella."
Riana pun langsung memeluk Barra dia merasa sangat bersalah sekali.
Barra hanya bisa menenangkan perasaan Ibu Riana.
"Sudah yaa Buu sudah, semoga Laura bahagia bersama dengan lelaki pilihan nya. Saya tetap akan bertanggung jawab atas kehamilan Laura jika anak yang di kandung oleh Laura itu adalah anak ku sendiri."
Riana pun melepaskan pelukan erat dan dia merasa permasalahan yang semakin rumit ketika Barra yang tidak percaya jika anak yang ada di kandungan Laura itu bukan anak nya.
"Maafkan saya yaa Buu, saya harus pergi ke kantor dulu ya."
Barra pun akhirnya masuk ke dalam mobil nya dan melambaikan tangan nya kepada Riana.
Langkah kaki Riana merasa sangat berat sekali untuk pergi kembali ke ruangan Laura.
"Barra yang akan menceraikan Laura dan Barra juga yang tidak percaya dengan bayi yang di kandung oleh Laura."
Riana pun duduk lemas dia begitu sangat pusing sekali melihat jalan hidup Laura.
Laura menunggu kedatangan ibu nya, sedangkan Dokter Rivan yang masih setia bersama dengan Laura.
"Barra, semakin benci sekali dengan ku. Dan dia pun menginginkan kita berdua untuk secepatnya berpisah. Sudah tidak ada lagi cinta untuk dari nya dan aku sangat sedih sekali ketika aku sebentar lagi akan melahirkan bayi ini."
Laura pun seketika langsung melamun dan membayangkan nasib anak nya nanti.
"Aku tidak akan menemani mu Laura, aku yang akan bertanggung jawab atas semua yang sudah aku lakukan dengan kamu. Dan aku juga akan membuat kamu bahagia sekarang bukan Barra yang selalu membuat hati mu sakit."
Laura memandangi wajah Dokter Rivan yang begitu sangat serius sekali mengungkapkan perasaan hati kepada nya.
"Tapi hanya mencintai Barra, aku dan kamu itu hanya sebuah cinta sesaat saja. Dan sekarang aku sangat menyesal sekali telah melakukan itu semua."
Perkataan Laura tidak pernah membuat Dokter Rivan merasa menyerah dengan perjuangan cinta nya kepada Laura.
Dokter Rivan pun memilih untuk meninggalkan Laura sendiri di dalam ruangan dia merasa selalu saja gagal dalam mendapatkan hati Laura.
Melihat Dokter Rivan pergi, Laura pun seperti tidak mendapatkan ide di pikiran nya.
"Aku pikir setelah aku mengalami kecelakaan seperti ini, sikap nya akan berubah menjadi lebih baik. Bahkan Laura merasa jika Barra akan membatalkan rencana perpisahan dengan dirinya."
Laura hanya bisa memikirkan bagaimana dengan masa depan nya bersama dengan anak nya nanti.
"Apakah aku akan menjadi singel mother seperti Gisella, apa yang di rasakan oleh Gisella akan aku rasakan juga."
Laura meneteskan air mata nya sambil memegang perut besar nya.
Riana pun memperhatikan Laura dan dia juga merasa sangat sedih sekali ketika melihat Laura yang sekarang.
"Dulu kamu yang membuat masa depan adik mu berakhir, kamu membuat Gisella harus menikah dengan terpaksa di usia muda dan seketika juga kamu menginginkan Gisella untuk berpisah dengan Barra sampai akhirnya Gisella yang harus berjuang keras menjadi seorang singel mother. Padahal Gisella yang sudah mempunyai kekasih yang dia sayangi yaitu Erlangga Rangga, tapi dia memilih untuk mengikuti apa yang kamu inginkan hanya untuk kamu Laura."
Riana pun masuk ke dalam dan menghampiri Laura.
Laura menagis dan memeluk erat tubuh Ibu nya, Laura menangis dan menangis di pelukan erat ibu nya. Laura seperti meluapkan emosi rasa sakit hati nya kepada ibu nya.
"Laura bisakah kamu bercermin dengan apa yang sudah kamu lakukan dengan Adik mu, mungkin ini tidak seperti yang di rasakan oleh Gisella. Rasa sakit Gisella lebih besar dari apa yang kamu rasakan sekarang. Hargailah perasaan adik mu sendiri jangan selalu menyalakan nya di setiap permasalahan rumah tangga mu. Karena Gisella masuk ke dalam rumah tangga mu karena kamu sendiri yang membukakan pintu untuk nya masuk."
__ADS_1
Riana sangat berharap besar Laura bisa merubah sikap nya.