
Tio baru saja selesai mandi setelah semalam begadang dengan warga di kediaman Shahab. Meskipun dia dulu pernah kerja dengan tuan Shahab. Dan dia juga tahu bagaimana perlakuan keluarga Shahab pada mertuanya. Tapi dia masih menghormati keluarga itu. Mama mertuanya juga tidak mempermasalahkan soal yang sudah berlalu. Itu mereka buktikan ketika jenazah Delia belum sampai. Mama Salma mau berlama-lama di kediaman Shahab.
Tadinya dia memilih masuk ke kamar menemani istri dan anaknya. Tapi melihat keduanya sudah terlelap sangat nyenyak. Tio tak tega membangunkannya. Dia memilih tidur di sofa ruang tamu sambil menghidupkan televisi.
Ketika pagi ini Tio baru selesai sholat subuh. Untuk subuh sebenarnya termasuk kesiangan. Sekarang sudah menunjukkan pukul setengah enam lewat sepuluh menit. Masih ada waktu sebelum matahari meninggi
Selesai melaksanakan sholat subuh. Tio pun membuka kulkas. Rasanya kerongkongannya terasa sangat kering. Tio melihat banyak makanan di kulkas. Dia membuka salah satu kotak makanan dan memanaskannya dengan microwave.
"Mas kapan pulang?" sapa Ayu yang muncul dari belakang.
"Aku sudah pulang dari tadi malam." jawab Tio sambil meneguk segelas air mineral.
"Kok nggak bangunkan aku?"
"Kamu nyenyak sekali. Aku tidak tega ganggu tidur kalian. Salsa masih tidur?"
"Masih mas, tadi jam tiga dia rewel. Aku kasih ASI langsung nyenyak lagi."
"Kamu kalau mau lanjutin istirahat nggak apa-apa. Pasti capek sekali abis bangun tengah malam nyusuin Salsa."
"Ini juga baru bangun. Nggak bisa tidur lagi. Nanti aku mau ajak Salsa main sama Dira. Bolehkan, Mas?" Tio mengangguk.
"Terimakasih, Mas. Aku mau cari sarapan dulu. Lapar sekali."
"Tadi aku lihat makanan terus aku panaskan. Kamu makan itu saja. Ibu menyusui harus banyak makan."Tio langsung mengambil makanan yang tadi dia panaskan.
Ayu dan Tio mendengar suara tangisan dari kamar. Pertanda Salsa sudah bangun. Ayu tadi nya mau makan, mendadak dia berlari menuju ke kamar. Tio pun menyusul Istrinya.
"Kamu lanjutkan makannya! Salsa biar sama aku saja."
"Tapi, Mas ..."
"Sudah nggak apa-apa. Kamu harus makan biar ada energi setelah menyusui Salsa."
"Baiklah kalau begitu." Ayu pun meninggalkan suami dan anaknya yang masih di kamar.
Tio bermain bersama anaknya. Sebuah kebersamaan yang selalu dia utamakan. Tio tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bersama Salsabila. Anak yang mereka tunggu setelah hampir tiga tahun pernikahan. Seorang ayah memiliki peran yang begitu istimewa, terutama anak perempuan. Pasalnya, ketika anak perempuan beranjak dewasa, dia akan mencari laki-laki yang mirip dengan karakter sang ayah, karena baginya ayah adalah pria terbaik.Ikatan batin seorang ayah dan anak perempuannya tak bisa dibangun dalam sekejap. Maka sejak dini seorang ayah sudah menunjukkan kepedulian dan selalu dekat dengan anak-anak perempuannya.
__ADS_1
"Mas, Aku gemukan ya?" Ayu tiba-tiba muncul sambil berdiri di depan kaca.
"Enggak kok. Kamu masih cantik, sayang."
"Tapi aku lihat body Delia sebelum di makamkan. Dia masih singset, padahal baru melahirkan."
"Bedalah, sayang. Delia itu sedang sakit. Makanya badannya terlihat kecil. Sedangkan kamu kan sehat. Sudah jangan bandingkan sama orang lain. Apapun yang terjadi sama kamu. Aku tetap cinta sama kamu. Aku tetap menerima kamu apa adanya."
"Terimakasih, Mas."
"Kamu temani Salsa dulu, ya. Aku lapar," Tio menyerahkan Salsa pada istrinya.
Tio sudah duduk di dapur. Membuka satu bungkus Indomie goreng untuk diolah. Sambil membuat kopi untuk menemani Indomienya. Setelah selesai menyajikan mie nya. Fokus Tio terhenti pada panggilan dari istrinya.
"Mas ada telepon dari pak Suprapto." kata Ayu.
Tio menerima telepon dari Suprapto, salah satu kliennya dari Sukabumi. Tio langsung pergi ke teras belakang untuk menerima telepon dari pak Suprapto.
"Assalamualaikum, Pak Prapto."
"Waalaikumsalam, Pak Tio. Maaf saya pagi-pagi mengganggu anda."
"Begini pak Tio, saya mendapat kabar kalau Arjuna sudah pulang dengan selamat. Begini pak Tio, saya mau mengubah surat kerjasama kita tapi dengan syarat, melibatkan Arjuna dalam proyek ini."
"Apa anda tidak percaya sama saya?" Tio merasa kecewa dengan permintaan kliennya.
"Saya percaya dengan anda pak Tio. Tapi saya sudah beberapa kali terlibat kerjasama dengan Tuan Johan dan Arjuna. Mereka tidak pernah mengecewakan kliennya. Apa salahnya anda mengajak Arjuna kan dia yang pemilik sebenarnya. Anda hanya menantu disana."
Tio mengepalkan tangannya. Dia benar-benar merasa tersinggung pada perkataan Bapak Suprapto. Tio langsung menutup teleponnya. Lalu membanting ke tempat tidur.
"Arjuna lagi! Arjuna lagi! bisakah aku bekerja sendiri tanpa gangguan dari lelaki itu!"
"Mas kenapa?" Ayu mendengar amukan suaminya membawa nama kakaknya.
"Kamu lihat ulah kakakmu! semua orang ingin melibatkan dia. Semua Klien yang tadi nya mau bekerjasama sekarang meminta Arjuna untuk ikut. Kalau tidak mereka menolak bekerjasama kembali. Aku ini apa, Yu! apa arti aku di dalam pekerjaan ini!
"Mas, sabar dulu. Kita rundingkan dengan kak Juna. Kita ambil jalan keluarnya. Jangan langsung emosi seperti ini." Ayu masih berusaha menyabarkan suaminya.
__ADS_1
Tio pergi meninggalkan Ayu dengan perasaan marahnya. Ayu berusaha mengejar Tio, dia takut suaminya melabrak kakaknya. Tapi dugaannya salah, Ayu melihat Tio masuk ke area perkebunan. Dia pun membiarkan suaminya untuk menenangkan diri.
...****...
Dira sudah bangun lebih cepat. Rasa lelahnya kini berganti dengan semangat pagi dalam melakukan aktivitas. Tinggal berdua di rumah bukan hal yang pertama bagi keduanya. Setelah sholat subuh yang lumayan kesiangan. Dira menyiapkan sarapan untuk dia dan suaminya.
"Mas, bangun ini sudah jam enam pagi." Dira mengguncang tubuh suaminya.
"Hmmm..." igauan suaminya menandakan lelaki itu masih ingin istirahat.
"Mas, aku sudah masak nasi goreng telur setengah matang. Ayo dong, sayang. Aku sudah capek masak. Kalau sudah dingin nggak enak lagi." bujuk Dira pada suaminya. Juna emang sengaja memberatkan badannya agar Dira bisa lama di kamar.
"Suapin, ya." rengeknya manja.
"Ih, ngegombal pagi-pagi. Udah, ah. Makan sendiri ya."Namun langkahnya tertahan ketika tangannya di tarik hingga terduduk diatas paha Juna. Tangan lelaki itu melingkar di pinggang Dira.
"Astaga bayi besar. Yasudah duduk dulu. Masa suapin sambil tidur."
Juna hanya tersenyum nakal melihat wajah kesal istrinya. Momen ini juga dia manfaatkan untuk menebus satu tahun yang dia tinggalkan.
"Ini aku tadi sudah masak nasi goreng kesukaan kamu. Namanya nasi goreng telur setengah matang. Cuma maaf mas aku nggak pakai petai. Biasanya kan kamu suka pakai petai. Aku nggak nemu petai di rak bahan." Dira menyuapi Juna.
"Mas, aku mau ambil minuman dulu. Kamu makan sendiri bisa kan?" Juna menggeleng.
"Kalau mengerjakan sesuatu harus tuntas. Nggak boleh setengah-setengah, jadi harus suapin aku sampai habis." paksa Juna.
"Ya udah lepasin aku. Masa aku nyuapin dengan pose kayak gini."
Nggak, mau! aku mau nya disuapin kayak gini." Rengek Juna.
"Aduh, suamiku kok gini sih?" Dira risih dengan kelakuan suaminya.
Selesai sarapan Dira membereskan bekas makanan suaminya. Sarapan yang lumayan lama karena kejahilan dan sikap manja Juna yang tiba-tiba.
"Mas,mandi ya. Katanya mau ziarah. Belum lagi aku mau main sama Salsa." kata Dira.
"Schedule kamu banyak banget, sayang. Terus quality time buat aku kapan?"
__ADS_1
"Emangnya yang kemarin-kemarin kurang?"
"Kurang banget. Kalau kata orang Padang, Tambuah ciek. Aku mau lebih banyak waktu buat kita berdua. Mengganti waktu kita yang hilang dalam satu tahun ini. Maka dari itu, aku mau kita menetap disini."