
Kadang kita terlalu sibuk meratapi rasa sakit karena hubungan cinta yang gagal. Padahal, itu tak ada apa-apanya dengan rasa kehilangan yang datang saat orang terkasih kita dipanggil kembali ke pelukan-Nya.Kata ‘sedih’ tak cukup menggambarkannya. Ada juga penyesalan dan puluhan pertanyaan yang menghantui di kepala. Untuk sejenak, kita bukan orang yang biasa kita kenal. Doa yang kita panjatkan mengalir lebih kencang. Menangis tiba-tiba jadi hal yang akrab dilakukan.
Satu-satunya yang kita ketahui adalah orang yang kita cintai tak akan kembali. Cepat atau lambat, kita harus memaksa diri untuk mengakrabi kenyataan ini. Memang tidak mudah untuk melakukannya. Namun ingatlah: mereka yang meninggalkan kita pun akan bahagia jika kita tak jatuh selamanya.
Setelah Dira semalaman mengurung diri di kamar. Mama Dewi baru selesai rapat daring dengan para stafnya. Mama masih menunggu putrinya keluar dari kamar, namun belum juga ada tanda-tandanya. Helaan nafas berat dari wanita usia kepala lima. Dia tidak sadar kalau ada Feri yang menyentuh bahunya. Spontan Dewi mencondongkan wajahnya ke arah putranya.
"Maaf, ma. Feri tahu sekarang masih dalam masa sulit untuk Dira. Feri pernah di posisi Dira, dimana saat Meyra meninggal bersama calon bayi kami. Dimana banyak rasa penyesalan yang mendera."Kata Feri pada mamanya sambil mengambil kursi di dekat tempat duduk mama Dewi.
"Tidak mudah bagi setiap pasangan yang ditinggal meninggal dunia. Perlu waktu dan bukan hanya setahun dua tahun saja. Lama, ma. Apalagi Juna adalah cinta pertama Dira."
Kehilangan pasangan hidup -baik suami maupun istri- pasti menjadi kenyataan yang sangat berat bagi semua orang.Baik kematian tersebut terjadi karena peristiwa tiba-tiba, maupun karena sakit yang telah dialami dalam waktu panjang. Suatu hari seseorang menikah. Namun, di saat yang sama, mereka juga harus siap jika suatu hari ditinggalkan oleh pasangan.
Feri tahu rasanya kehilangan orang dicintainya. Feri juga perlu waktu yang lama untuk menyembuhkan luka di hati. Walaupun Mayka mencoba mendekatinya, Feri tak berpengaruh. Dia menghormati Mayka selaku kakak mendiang istrinya. Dia juga belum bilang iya atau tidak saat pak Amran memintanya menikahi kakak iparnya. Hatinya baru tergerak saat bertemu dengan Martina. Perempuan yang dulu sempat dia kejar semasa SMA.
Flashback on
Beberapa hari yang lalu Feri dan Tina bertemu di sebuah cafe ternama. Feri senang kalau Tina tidak minder lagi kalau diajak ketemuan. Keduanya duduk sambil saling pandang satu sama lain. Namanya juga orang sedang di mabuk asmara.
"Ada apa, tumben mengajak aku makan disini?" tanya Tina sedikit heran.
"Emangnya tidak boleh kita ketemuan disini?" sahut Feri.
"Bukan tidak boleh, tapi aku sekarang kerja sama Alif. Mana berani aku minta keluar hanya untuk melepaskan kangenmu. Bisa dipecat nanti. Kalau kantor itu milik Alif nggak masalah. Tapi kan Alif juga kerja disana. Masih untung bos nya mau menerima aku sebagai staf disana." ucap Tina yang merasa tidak enak.
"Iya, maaf sayang. Aku janji akan ajak kamu keluar saat weekend saja." Feri mengacungkan tangannya berbentuk V.
"Feri..."
"Mas nya mana?"
"Ehmmm...Mas .. Feri...aku mau ngomong?" Tina mencoba tersenyum meskipun di paksakan. Feri tahu suasana hati calon istrinya sedang tidak baik.
"ada apa, sayang?"
"Anu.... itu..."
"Apa ini ada hubungannya dengan keluarga pakdemu? maaf maksudnya pakde Amran."
__ADS_1
"Tidak. Tidak ada hubungannya walaupun aku ingin sekali mereka datang."
"Yasudah kamu mau bicara apa?"
"Feri eh mas feri, aku mau kita tunda dulu rencana pernikahan kita."
Feri yang sedari tadi wajahnya cerah mendadak menatap Tina dengan tatapan selidik.
"Kenapa? apa karena kita belum di restuin oleh pakdemu? Apa karena Mayka? apa Mayka ada mengatakan sesuatu sama kamu? please, Na. Kita dua kali menunda pernikahan. Dulu waktu Dira masih berduka aku masih maklum. Tapi sekarang alasannya apalagi?"
"Maaf, Feri. Semalam mama kamu ke kantorku. Dia minta kita menunda rencana pernikahan karena Dira masih butuh waktu."
"Mama?" kata Feri tidak percaya. "Dia bilang gitu sama kamu?" Tina mengangguk.
"Karena Dira lagi?" tambah Feri setengah kesal.
"Dulu Vira gagal menikah karena mama lebih fokus dengan Dira. Sekarang mama juga mau mengorbankan aku juga. Mama maunya apa sih? kelihatan sekali memang Dira yang di utamakan ketimbang kami berdua."
"Feri kamu jangan emosi. Mama benar, kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk mengadakan pernikahan. Kamu seharusnya sebagai kakak ikut menguatkan Dira."
Feri mengangkat wajahnya dengan terperanjat. Ketika matanya bertemu dengan kekasihnya, dia sudah merasa ada yang tak bahagia. Sesuatu yang sudah menghancurkan rencana yang sudah matang.
Sesampainya di rumah Feri mendatangi mamanya di ruang makan. Tampak mama Dewi sedang makan malam sendirian tanpa Vira ataupun Dira. Feri menanyakan kemana kedua adiknya. Mama Dewi menjelaskan kalau kedua Adiknya sudah makan terlebih dahulu sebelum mamanya pulang dari kantor.
Feri membicarakan tentang apa yang di sampaikan Tina. Mama Dewi minta maaf pada putranya. Karena perusahaan sedang ada trouble dan Dira ngotot ingin bepergian.
"Maafkan mama, nak. Sekali ini tolong mengerti keadaan sedang tidak memungkinkan." kata mama Dewi saat Feri mengutarakan kekecewaannya.
"Tapi, ma. Aku tidak masalah kalau Dira tidak mau datang ke pernikahanku. Aku maklum kalau kondisinya masih seperti itu. Tapi please. Bukan pertama rencana ini di undur. Tapi yang kedua kalinya."
"Mama tahu, nak. Mama bicara sama Tina untuk minta pengertiannya. Mama juga pengen melihat kalian menikah. Sudah banyak yang kalian lalui. Mama cuma minta kamu ngerti dengan keadaan ini. Lagian kalian kan cuma menunda bukan memutuskan hubungan." kata mama Dewi.
Flashback off
Pagi ini mama Dewi bangun setelah mendengar lantunan ayat-ayat Alquran dari kamarnya. Mama Dewi memilih tidur di kamar bersama Vira karena ambekan Dira. Sepanjang malam mama mendengar cerita Vira tentang temannya. Hingga rasa kantuk pun menyergapnya. Mama Dewi pun tertidur pulas di sambut muka masam Vira. Bagaimana tidak, matanya sudah bisa di kompromi lagi, sementara putri bungsunya masih asyik bercerita.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00. Matahari sudah berpijta di tengah langit. Teriknya sudah terasa padahal masih jam delapan pagi.
__ADS_1
Dira masuk ke ruangan kerjanya. Ruangan kantor yang beda dengan tempat kerja lamanya. Di pabrik hanya ada kipas angin, tidak menggunakan AC. Ruang kerjanya juga terdapat jendela, dimana ada pemandangan perkebunan tebu.
Dira duduk di meja kerjanya. Ada sebuket bunga dan satu bungkus makanan. Sesaat dia memutarkan kepalanya mencari tahu siapa yang mengirimkan bunga untuknya. Tak ada nama pengirim. Hanya ada ucapan
"Buat penyemangat harimu. Jangan lupa sarapan."
Dira menarik nafas panjang dalam-dalam. Sudah bisa di tebak siapa pengirim makanan tersebut. Dira memanggil Retno untuk masuk ke ruangannya.
"Iya, Bu." Retno sudah masuk ke ruangan Dira.
"Ini bagikan sama buruh kita satu orang satu tangkai. Biar mereka semangat bekerja." kata Dira menyerah buket bunga mawar merah.
"Kan buat ibu, kenapa nggak di terima saja dan ibu simpan saja."
"Saya nggak suka mawar merah. Lagian saya tidak punya tempat buat simpan mawar tersebut. Jadi kamu bagikan saja sama yang lain."
"Baik, Bu." Retno meninggalkan ruangan atasannya.
"Lagi sibuk, nak." suara bariton terdengar di depan pintu kerja Dira.
"opaaaa!" Dira berlari memeluk opa Han.
"Maafkan opa, ya, nak. Opa malah membebanimu dengan pekerjaan ini. Opa sudah tua, opa bingung mencari penerus pabrik ini. Kalau opa sudah tidak ada nanti rencananya mau opa jual."
"Kenapa di jual opa? bukannya opa merintis usaha ini dari bawah. Sayang kalau di jual. Mending opa didik orang kepercayaan untuk bantu menaikkan pabrik ini lagi."
"Harapan opa adalah kamu dan Vira. Tapi kalau kamu pasti nanti akan menemukan seseorang dan pastinya akan ikut suami. begitu juga dengan Vira."
"Opa, aku nggak akan nikah lagi. Bagiku nikah itu sekali seumur hidup. Lelaki yang aku cintai cuma satu orang dan tidak akan terganti."
"Kamu perlu seseorang untuk mendampingimu suatu saat, nak. jangan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Opa tahu kalau kamu belum move on dari Arjuna. Tapi hidup terus berjalan, nak. Masa depan kamu masih panjang."
"Maaf, opa. Selama jasad mas Juna belum di temukan. Aku yakin mas Juna masih hidup. Bukan berharap yang tidak pasti. Tapi feeling aku kuat sekali, Opa. Opa boleh bilang aku belum move on atau apalah. Aku tetap meyakini mas Juna masih hidup.
Kalau pun memang dia sudah tiada. Aku tidak akan menikah lagi. Aku akan setia dengan suamiku."
"Dan kamu tidak berkeinginan untuk memiliki keturunan, Dira. Kamu jangan seperti opa yang menduda sebelum memiliki keturunan. Opa melimpahkan kasih sayang ke mama kamu sebagai tanggung jawab pada kakekmu. Opa harap kamu berpikir lagi. Opa ingin lihat kamu punya pasangan lagi, mempunyai anak sebagai penerus."
__ADS_1