
"Assalamualaikum"
Dira dan Juna yang sedang asyik bercengkrama di dalam kamar harus menghentikan aktivitas mereka. Dira meminta suaminya mandi dan bersiap-siap. Setelah menyuapi bayi besarnya. Dira pikir dia bisa melakukan aktivitas lain. Tapi ternyata suaminya masih menahannya di kamar.
"Mas, itu ada tamu. Kalau dari suaranya seperti Ayu, deh. Aku keluar dulu, ya."
Dira mengambil sweater untuk membungkus tubuhnya terasa dingin. Dia juga memakai syal untuk menutupi lehernya. Dimana suaminya meninggalkan jejak kepemilikan yang sangat banyak. Juna pun berkerut melihat baju istrinya yang berlapis.
"Kenapa kamu pakai sweater tebal dan pakai syal pula?"
"Dingin mas," ucap Dira masih merapikan rambutnya di depan kaca.
"Tapi nggak harus pakai syal, kan. Kayak orang sakit saja."
"Lalu aku harus pamer soal ini?" Dira menunjukkan akibat kerjaan suaminya.
"Nggak apa-apa. Biar orang tahu kalau ..."
"Kalau apa? ya kalau Ayu sendiri datang. Kalau sama mama gimana, kan aku malu. Nanti dianggap mantu yang nggak punya adab."
"Mamaku dan mamamu nggak mungkin mikir begitu. Mereka juga pernah jadi pengantin baru. Jadi pasti sudah maklum." kata Juna kembali memeluk punggung Dira.
"Sudah aku yang menemui Ayu atau kamu, Mas." kata Dira.
"Kita temui sama-sama."
Juna sudah memakai kaos oblong polos yang membentuk tubuh atletisnya.
"Assalamualaikum," suara sapaan itu kembali terdengar.
__ADS_1
Dira menyapa adik iparnya terlebih dahulu. Nampak Ayu seperti gelisah, entah apa yang membuat ibu satu anak itu kalut.
"Waalaikumsalam," jawab si empunya rumah.
Dira menyambut dengan ramah kedatangan adik iparnya. Dua sahabat yang kini menjadi iparan kini duduk saling berhadapan. Sedangkan Juna yang tadi nya memakai celana pendek mini kini mengganti dengan yang lebih sopan.
"Kak Dira sakit?" tanya Ayu.
"Dingin,Yu." jawab Dira.
"Dingin apa menutupi sesuatu?" Ayu tergelak melihat ekspresi Dira tentang pertanyaannya.
"Kamu tebak sendiri lah!"
"Kakakku pasti sudah melakukan sesuatu nih!"
Ayu menoleh kearah isi rumah. Lebih bersih dari saat sebelum Dira dan Juna menempati. Terakhir saat di tunggu sama pakde dan budenya, rumah sudah tidak tertata rapi. Ayu menebak mungkin bude dan pakde nya bukan tipe orang yang rajin atau pembersih. Atau mungkin mereka masih meraba dan merasa asing dengan kondisi di sekitar. Buktinya mereka memilih langsung pulang ke Tulang Bawang daripada ikut ke pernikahan Juna dan Dira.
Kembali ke persoalan yang membuat Ayu datang ke kediaman kakaknya. Persoalan menyangkut harga diri suaminya. Niat Ayu hanya meminta kakaknya memberi kesempatan Tio untuk membuktikan kinerjanya. Bukan menjadi asisten yang berada di bayang-bayang Arjuna.
"Tumben pagi-pagi kamu sudah kesini?" Juna muncul duduk di dekat Dira.
"Aku mau bicara penting sama kakak."
"Bicara penting? soal apa?"
"Tapi aku mau bicara berdua saja sama kakak. Bisa kan?"
Juna mengerutkan dahinya. Apa yang akan adiknya bahas? sampai harus berdua saja. Juna menoleh ke arah Dira. Istrinya hanya mengangguk pertanda dia mengizinkan. Tapi Juna berharap kode lain, berusaha menahan atau apa. Dira pun beranjak dari ruang tamu. Membiarkan dua saudara kandung itu leluasa berbicara.
__ADS_1
"Ada apa kamu datang kesini? nggak biasanya." tanya Juna sambil mengajak Ayu ke kebun bawang yang tak jauh dari mess nya.
Ayu memandang Juna sesaat. Lalu kembali melihat pemandangan di depannya. Sebelum memulai bicara dia menarik nafas dalam-dalam. Berdoa agar kakaknya mau mendengarkan permintaannya.
"Yu," Juna mengulangi panggilannya.
"Sebelumnya Ayu minta maaf kalau kedatangan aku bikin kak Juna terganggu.
Kakak liat pondok itu. Yang di cat warna-warni sedemikian rupa. Itu adalah hasil kreasi mas Tio. Dia membuat pondok dan pagar mirip jembatan. Itu diantipasi agar para pengunjung bisa menikmati pemandangan tanpa merusak tanaman di perkebunan.
Tio membuat rencana itu tidak mudah, kak. Banyak warga yang tidak mau berpartisipasi dalam programnya. Mereka membandingkan kinerja kakak dengan Tio. Tapi saat di bangun, apresiasi warga sangat tinggi. Apalagi Tio terjun langsung dalam promosi, minta dukungan pada pejabat setempat. Kakak tahu karena apa? Mas Tio mau membuktikan pada kita dan juga warga disini kalau dia juga bisa diandalkan."
"Jadi arah pembicaraan kamu mau mengatakan kalau Tio bisa dilibatkan. Iya kakak tahu dari dulu Tio memang bagus cara kerjanya. Kakak juga sangat berharap dia juga ikut memajukan pergerakan ekonomi desa. Melalui pabrik ini. Kamu tidak lupa kan,Yu bagaimana papa berjuang menghidupkan ekonomi para warga disini. Kamu juga tidak lupa bagaimana papa tidak menerima warga di luar tempat kita, itu karena papa ingin menekan angka pengangguran di sekitar pabrik. Koperasi yang di bangun papa juga hidup karena melibatkan warga sekitar." jelas Juna
"Beberapa waktu yang lalu mas Tio terlibat kontrak dengan beberapa pengusaha. Salah satunya dengan pak Suprapto. Kakak tahu kan pak Suprapto itu orangnya perfeksionis. Kakak tidak lupa betapa percayanya pak Suprapto pada pabrik kita. Dan tadi dia menelepon mas Tio, dia mengajukan syarat, dia mau bekerjasama asal kak Juna juga dilibatkan. Kak, Mas Tio itu sedang mencoba untuk keluar dari bayang kakak. Mereka hanya tahu mas Tio itu menantu dan asisten kakak selain kak Maria.''
Juna langsung menebak arah pembicaraan adiknya bungsunya. Dia tidak pernah berpikir akan ada rasa iri yang bersarang di hati adik iparnya. Selama ini Juna selalu melibatkan Tio dalam setiap kegiatan dalam urusan pabrik maupun di luar pekerjaan.
Setiap ada kegiatan warga tak pernah dia melupakan Tio. Walaupun dia tahu, papa Johan suka meremehkan Tio. Walaupun dia tahu papa Johan sering membanggakan dirinya di depan orang lain. Tapi Juna sama sekali tidak berpuas diri. Dia juga masih banyak belajar lagi. Dia berharap Tio pun juga begitu. Tidak gampang berpuas diri dan mempunyai semangat yang tinggi.
"Ayu cuma minta kakak bicara sama pak Suprapto dan beberapa klien yang lain. Supaya mereka meneruskan kontrak kerjasama mereka sama mas Tio. Meskipun tanpa keikutsertaan kak Juna. Aku cuma tidak mau melihat suamiku sedih. Karena dia kepala keluarga aku, Kak. Sebelum kak Juna pulang aku tidak pernah mendengar Tio mengeluh. Tapi sejak ..."
"Kakak paham. Nanti kakak akan bicara sama mereka."
Berada diantara adik ipar yang saling iri memang tidak mengenakkan. Tidak yang ingin konflik yang berkepanjangan dan ribut. Adanya rasa iri hati biasanya berhubungan dengan kurang percaya diri. Untuk mengatasi kekurangan ini biasanya mereka akan menyombongkan diri. Ini membuat adik ipar kurang merasa nyaman untuk saling berhadapan.
Juna sendiri tidak pernah merasa orang yang lebih dari orang lain. Dia juga masih harus banyak belajar lagi.
__ADS_1