
Dira terbangun ketika mendengar lantunan suara adzan. Sejenak melonggarkan otot badannya. Langkah kakinya yang panjang meninggalkan kamar Jimmy. Sejak dirinya menginap di rumah Naura, Jimmy pun tinggal di rumah neneknya. Itu yang dia tahu dari Awan.
Dira melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Suasana rumah masih sepi dan gelap. Dira pikir Naura ataupun Awan akan bangun setelah mendengar lantunan suara adzan. Selama Dira disini, dia belum pernah melihat Naura shalat.
Selesai wudhu, Dira pun memakai mukena. Melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim. Melaporkan kegundahan hatinya pada yang maha kuasa. Seperti yang sering di katakan shalat adalah pedoman tiang agama.
Setelah Shalat, Dira pun membersihkan kamar Jimmy Serapi mungkin. Senyumnya mengembang ketika melihat apa di kerjakannya menjadi hasil yang baik. Tatapannya beralih ke koper yang bertengger di dekat jendela.
Tak perlu menghabiskan waktu yang lama, Dira sudah selesai mandi. Bersiap-siap untuk keberangkatan pulang ke Jakarta. Setelah tiga hari berada di desa Tulang Bawang. Harusnya liburan ini bisa membuatnya hatinya tenang. Tapi nyatanya malah kekacauan yang terjadi.
"Tante," suara kecil itu terdengar memanggil di depan pintu kamar.
Dira mendengar suara panggilan itu segera membuka pintunya. Tampak sosok kecil sudah berdiri di depan pintu kamar. Dira pun menjongkok sejajar dengan Jimmy.
"Jimmy bukannya tidur sama nenek? kok pulang?"
"Tante katanya mau pulang ya? jangan pulang dulu. Jimmy senang kalau Tante disini. Seperti kayak kemarin Tante ngajarin Jimmy ngerjain PR. Tante juga masakannya enak. Tante jangan pergi, nanti yang ngajarin Jimmy ngerjain PR siapa?"
"Kan ada ibunya Jimmy?"
"Ibu kalau ngajar galak. Mending sama Tante nggak suka ngomel-ngomel. Jimmy cepat mengerti kalau sama Tante. Please, Tante jangan pergi."
"Maafkan Tante, ya Jimmy. Tante harus pulang. Keluarga Tante menunggu di rumah. Kasihan mama Tante rindu sama anaknya. Nanti kalau Jimmy libur sekolah main ke Jakarta, ya."
Jimmy memeluk Dira dengan erat. Tangisan seorang anak kecil karena mulai nyaman dengan sosok Tante yang sudah dua hari tinggal di rumahnya. Dira meyakinkan Jimmy kalau dia ada waktu akan sering main ke desa Tulang Bawang. Setelah beberapa saat anak itu mulai tenang Dira memberikan uang 100 ribu untuk jajan Jimmy.
"Terimakasih, Tante. Jimmy simpan duitnya buat di tabung. Tadi om Awan juga kasih Jimmy duit seratus kayak gini." cerita Jimmy.
"Tante juga berterimakasih karena di bolehkan tidur di kamar Jimmy. Tante minta maaf kalau ada salah selama disini."
"Tante nggak pernah salah. Tante orang baik. Buktinya Tante kasih uang sama Jimmy."
"Non, Jaka sudah di depan." Awan muncul diantara Jimmy.
"Wan, saya boleh minta tolong?"
"Apa yang bisa saya bantu, non?"
__ADS_1
"Saya minta kamu hubungi ke nomor ini. Minta mereka datang ke desa ini."
"Ini nomor siapa, non." tanya Awan.
"Nanti juga kamu tahu. Saya minta kamu jujur pada pak Rohim dan keluarganya soal identitas kamu sebenarnya. Sejak saya kesini dan melihat perbedaan antara kamu dan Sandi. Saya yakin kamulah Sandi yang asli. Bukan yang sekarang tinggal di rumah pak Rohim. Kenapa mereka tidak bisa mengenali kamu?"
"Ini photo saya dulu, non."
Awan memperlihatkan photonya sebelum memiliki wajah seperti sekarang. Dira memperhatikan wajah Awan yang memang mirip dengan Arjuna.
"Masya Allah, kalian benar-benar mirip. Bagaikan kembar. Tapi mas Juna itu 3 tahun diatas saya. Kami bertetangga sejak kecil. Kalau pun kalian itu mirip pasti kelihatan dari usianya. Mas juna itu tingginya standar. Tapi kamu lebih tinggi dari mas Juna.
Kenapa dengan wajahmu, Wan? apa Terjadi sesuatu?"
Awan menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menceritakan kejadian yang pernah menimpanya. Sesaat suasana hening. Tenggelam dalam ketegangan.
Masih terbayang di ingatannya. Bagaimana tubuhnya di lalap si jago merah. Bagaimana dia sudah pasrah jika ajal menjemputnya.
Empat tahun yang lalu, saya bekerja sebagai driver travel lintas pulau. Sebagai pria yang tidak tamat SMA, hanya itu yang bisa menerima saya. Saya pernah mendatangi pabrik tempat buklik, adik ayah saya. Tapi nyatanya saya malah di tolak.
Kata bapak, aku nurun wajah ke kakek. Begitu juga kakak sepupu saya, anaknya buklik. Saya lupa namanya siapa. Tapi embel belakangnya pake nama Bram. Tapi yang pasti saat itu kalau mereka datang kerumah ibu selalu membanggakan anaknya buklik.
Terakhir mereka datang saat bapak sempat ketahuan selingkuh sama perempuan yang bernama Sarinah. Itu aku sudah kelas satu SD. Setelah itu mereka tidak pernah datang lagi.
Setelah perempuan selingkuhan bapak di usir dari kampung. Kami kembali hidup normal seperti biasa. Dulu saya terkenal bandel, saking bandelnya saya sempat hamili anak gadis orang. Dan hasilnya Jimmy.
Saya kabur dari rumah saat di pernikahan aku dan Naura. Tapi saya kabur bukan karena tidak mau tanggung jawab. Melainkan saya diancam oleh salah satu keluarga Naura. Dia tidak suka dari awal dengan hubungan aku dan Naura. Entah apa alasannya saya juga tidak tahu. Dia juga yang membiayai semua biaya uang kaburku. Namanya juga saat itu ketakutan ya aku nurut saja.
Setelah empat tahun saya bekerja di Travel lintas pulau. Saya sudah menyiapkan dana untuk pulang ke desa dan akan bertanggung jawab pada Naura. Saat membawa penumpang, saya bertemu Dodi di salah satu penumpang yang saya bawa.
Dari Dodi, saya mendengar kalau Naura masih menunggu saya. Masih bersilaturahmi dengan kedua orangtua saya. Dalam perjalanan mobil yang saya bawa mengalami rem blong. dan mobil saya terbakar.
Saat saya sadar, saya mendapati wajah saya sudah seperti orang lain. Kata dokter tubuh saya terbakar seluruhnya. Dan kata dokter dalam semalam saya sudah sempat di letakkan di kamar mayat. Saya yakin Dodi meninggal karena kecelakaan mobil yang saya bawa.
Non tahu, kalau photo yang di pajang Naura adalah photo saya. Bukan photo Sandi yang sekarang.
"Tapi kenapa kamu diam saja saat saya disidang, Wan? Kenapa kamu tidak jujur didepan warga? saya malah berharap kamu membela saya. Tapi nyatanya tidak. Kamu malah diam saja." ucap Dira meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
"Maafkan saya, non. Saya bingung melakukan apa. Sebab kalau saya jujur belum tentu mereka akan percaya sama saya. Saya belum siap dengan konsekuensinya, non. Maafkan saya. Tadi saya sudah bilang sama Jaka, non. Saya sudah mengundurkan diri. Saya juga titip sama Jaka untuk memberikan surat resign di tempat kerja saya."
"Tapi tolong di depan saya kamu hubungi nomor ini. Saya yakin kalau mereka tahu kabar ini pasti senang sekali. Bilang sama mereka kalau anak mereka masih hidup."
Tok ... tok ...
Dira membuka pintu kamar Jimmy. Ada Jaka yang sudah berdiri disana dengan wajah pucat.
"Kamu sakit, Jaka?" Jaka menggeleng.
"Kamu kenapa?"
"Non, saya tadi ngelihat,.... Mas Juna."
"Oh jadi kamu sudah ketemu sama dia?"
"Kok, non biasa aja? emang itu mas Juna atau bukan sih, non."
"Bukan, itu namanya Sandi. Suami yang punya rumah ini." Jawab Dira.
"Apa aku harus bilang sama non Dira kalau Sandi bukan suami Naura?" batin Awan.
"Ini barang, non Dira." tanya Jaka sambil mengangkut koper milik anak majikannya.
"Iya, Jaka. Mbak Naura mana?" tanya Dira.
"Ibu tadi sudah ke puskesmas, Tante. katanya ada orang melahirkan disana." kata Jimmy yang masih berada di rumah.
"Assalamualaikum," sapa beberapa ibu-ibu yang mendatangi kediaman Naura.
"Ada apa, ibu-ibu? Naura nya sedang ke puskesmas."
"Mbak Dira, kami di suruh menjemput anda ke balai desa."
"Kenapa lagi, Bu. Saya kan sudah menuruti keinginan warga untuk pergi dari desa ini. Sekarang kenapa saya harus ke balai desa lagi." kata Dira sedikit meninggi.
"Maaf,mbak Dira. Kami mau anda datang kesana sekarang. Ada yang ingin bertemu dengan anda." kata salah satu ibu-ibu.
__ADS_1