
Mobil Toyota Fortuner berhenti di depan kediaman Dewi Savitri. Seakan menyambut kedatangan mereka langit sangat terlihat cerah. Salma, Ayu, Tio dan juga Bu Halimah minus pak Rohim. Sengaja Bu Halimah tidak mengajak Rohim. Dia tahu kalau ada Inah di kediaman Dewi Savitri. Antipasi supaya suaminya tidak bertemu dengan mantan selingkuhannya.
Bu Halimah melihat rumah Dira yang lebih besar dari rumahnya dan rumah adik iparnya. Bu Halimah terus berdecak kagum melihat rumah bak istana.
"Kak," sapa Salma yang melihat reaksi kakak iparnya.
"Ini rumah menantumu, Salma. Ya Allah, gede banget. Kayak istana, coba Uti ikut pasti dia juga senang."
"Iya,kak. Ini rumah besanku. Dulu Dira dan Juna sempat punya rumah sendiri. Tapi sudah mereka jual karena Dira sempat hamil dan pastinya Juna tidak mau istrinya sendirian di rumah."
"Juna sepertinya sayang sekali sama istrinya." kata Bu Halimah.
"Iya, kak. Sangat, Juna dan Dira sudah banyak melalui banyak hal. Dari di tentang, hingga Dira sempat di culik sama keluarga mantan pacarnya. Semua sudah mereka lalui. Termasuk dipisahkan oleh maut. Saat Juna hendak menengok mas Johan yang kritis dan Dira keguguran. Akhirnya mereka bisa bersama lagi."
"Kenapa bang Rohim nggak ikut, kak?"
"Abangmu sudah tidak kuat lama di perjalanan. Jadi aku saja yang gantikan."
"Oooh, begitu"
"Assalamualaikum," Salma mengucapkan salam pada pemilik rumah.
Decitan suara pintu kembali terdengar. Tampak seorang wanita menyambut kedatangan Salma. Wanita yang hanya menggunakan daster batik menjadi sorotan dari Halimah.
"Inah, kamu apa kabar?" tanya Salma.
"Alhamdulillah, baik, Bu" Netra Inah beralih pada wanita yang mengikuti Salma dari belakang.
"Bu.... Ha...limah ... apa ka .. bar?"ucapnya pada Halimah.
Halimah hanya tersenyum sinis melihat wanita mantan WIL suaminya. Tanpa membalas sapaan Inah, Halimah masuk bersama Salma.
Inah kembali menunduk. Dadanya sedikit bergetar saat melihat sikap Halimah. Dia sadar kesalahannya beberapa tahun yang lalu. Dimana seorang gadis muda yang jatuh cinta pada pria yang lebih dewasa. Saat itu pesona Rohim sangat melekat di hatinya. Bahkan tidak peduli kalau Rohim sudah ada anak dan istri.
Hingga saat Bu Halimah melabraknya membuat dirinya terusir dari kampung Tulang Bawang. Inah hanya pasrah. Padahal dia belum lama melahirkan putri kecilnya. Sebelum dia pergi, Inah menitipkan putrinya pada adik sepupunya, Ajeng.
Ibu mana yang tidak sedih meninggalkan anaknya yang masih merah. Tapi demi kebaikan sang putri, Inah harus merelakan anaknya di rawat Ajeng.
__ADS_1
"Inah," sapa Dewi.
"Iya, Bu." Inah menyeka air matanya.
"Kamu sakit?" tanya Dewi.
"Enggak, Bu."
"Wajah kamu pucat sekali. Kalau kurang sehat kamu istirahat saja. Soal tamu biar aku dan Dira yang nanganin."
"Enggak, Bu. Saya sehat kok. Biar saya yang kerja. Karena sudah tugas saya. Permisi, Bu."
Halimah memasuki rumah tempat Dira tinggal. Masih menatap kagum melihat isi rumah besan iparnya. Rumah itu pun biasanya dilengkapi dengan fasilitas mewah, semisal kolam renang, gym, kamar yang luas, dan lain-lain.Tidak hanya berada di lokasi strategis, rumah berukuran besar itu pun dibangun di atas tanah yang sangat luas.
"Ya Allah ini istana namanya." puji Bu Halimah.
"Kak," Salma menyikut lengan Halimah. merasa tidak enak melihat kehebohan kakak iparnya.
"Maaf," imbuh Salma pada keluarga besannya.
"Juna, mana?" tanya Salma.
"Nenek!" panggil Jimmy saat melihat Halimah.
"Ya Allah, cucu nenek disini juga." Halimah memeluk cucu semata wayangnya.
"Kak Halimah ini orangtuanya Awan, jeng Dewi." Salma memperkenalkan Halimah pada besannya.
"Jadi Awan dan Juna sepupu kandung? wah, kok bisa kebetulan, ya."
Juna muncul dengan kursi roda. Salma tentu saja kaget melihat putra semata duduk di kursi roda.
"Nak, kenapa kamu jadi seperti ini? apa yang terjadi?"
"Maaf, Ma. Juna tidak hati-hati makanya keserempet motor."
"Ya Allah, gimana mau nikah kalau pengantinnya malah begini. Ya mau tidak mau, pernikahannya di tunda sampai sembuh."
"Nggak apa-apa, Ma. Kan ada yang merawat saat aku sudah nikah nanti." tatapannya beralih ke wanita yang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Dira jangan dekat-dekat dulu. Pamali!" Mama Salma meminta Dira sedikit menjauh dari Juna.
"Ih, mama." Protes Juna.
Setelah mereka beristirahat sebentar. Salma dan yang lainnya langsung berkumpul di ruang tengah. Tentu saja membicarakan soal pernikahan Dira dan Juna. Mereka akhirnya sepakat kalau Juna dan Dira menikah berbarengan dengan Feri dan Tina. Seperti yang mama Dewi katakan kalau pernikahan Tina dan Feri akan di langsungkan minggu depan.
Besok adalah acara pengajian menjelang pernikahan dua pasang anaknya. Acara yang tadinya hanya untuk Feri dan Tina, kini di tambah satu pasangan lagi, Juna dan Dira yang akan menikah lagi.
*
*
*
Sebelum melangsungkan acara pernikahan biasanya keluarga ingin mengadakan acara pengajian terlebih dahulu. Acara pengajian tersebut dibuat sebagai salah satu cara untuk meminta perlindungan dan kemantapan hati agar acara akad nikah dan berikutnya bisa berlangsung dengan lancar. Susunan acara pengajian juga perlu dibuat sebelumnya agar acara ini berjalan dengan lancar.
Acara tersebut juga dibuat untuk bisa menyampaikan permohonan maaf dan terimakasih serta mohon izin untuk melangsungkan acara pernikahan dari pengantin khususnya perempuan. Acaranya sering kali digelar terpisah untuk pengantin laki-laki dan perempuan yang akan diselenggarakan di rumah masing-masing calon pengantin.
Namun secara umum yang paling sering melangsungkan acara pengajian seperti ini ialah calon pengantin perempuan. Berbagai persiapan sering dibuat agar acara ini bisa berlangsung dengan khidmat dan juga penuh kesakralan. Didalamnya biasanya sering menjadi suasana yang haru dan sedih karena menjadi rangkaian untuk melepas calon pengantin.
Dalam suasana khidmat, Dira dan keluarga besarnya tampil kompak dan anggun dalam busana bernuansa Putih.
Budenya Tina datang sebagai perwakilan pengantin wanita. Bude datang bersama Alif, putra bungsunya. Bude menceritakan kalau Mayka dan Amran masih keras kepala membenci serta tidak memberikan restu pada Feri dan Tina.
"Maafkan saya, Ma. Karena saya, Tina dan keluarga papa Amran terpecah belah. Gara-gara saya. Papa Amran tidak merestui pernikahan kami."
"Tidak, kalian tidak salah. Dalam silsilah aslinya, baik papa Amran dan Alif tidak ada hubungan darah dengan Tina. Papanya Tina adalah anak angkat dari orang tua mereka. Mama sudah mencarikan wali untuk pernikahan kalian. Sebab Amar belum cukup umur untuk menikahkan kakaknya."
"Dan ketahuilah, mama dan Alif akan menjadi perwakilan keluarga dari pihak Tina. Arsyad dan keluarganya juga akan datang ke acara kalian."
"Terimakasih, Ma. Terimakasih sudah merestui kami." Feri menunduk mencium telapak tangan mantan mertuanya.
Karena akan ada dua pasangan yang menikah. Yaitu Dira dan Feri. Dua anak mama Dewi yang sama-sama pernah menikah. Hanya saja Feri melepas masa duda, sementara Dira kembali mengesahkan setelah satu tahun terpisah dengan suaminya.
"Mas, kamu beberapa hari ini nginap di tempat opa dulu, ya?" ujar Dira yang hanya bisa berkomunikasi dengan suaminya di handphone.
"Minggu depan kok lama banget, sih. Aku sudah kangen sama kamu." suara manja Juna.
"Sama sih, aku juga kangen. Tapi gimana lagi, meskipun pengajian untuk pernikahan kita. Kamu tetap tidak boleh datang karena sudah masa pingitan. Jadi kamu sabar, ya."
__ADS_1