SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 120


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Inah seperti biasa bangun. Sebelum jam subuh Inah langsung mendatangi dapur. Menyiapkan bahan yang akan diolah untuk menu sarapan keluarga majikannya. Wanita yang sebentar lagi berusia kepala 5 itu melakukan aktivitas layaknya ART kebanyakan.


Kalau pagi biasanya Dewi pun ikut turun langsung memasak untuk anak-anaknya. Dewi hanya minta Inah menyiapkan bahannya. Dia sendiri yang mengolahnya menjadi kudapan nikmat. Inah senang dengan keluarga Dewi yang baik hati. Tidak pernah mengganggapnya sebagai ART. Akan tetapi itu tidak membuat Inah berbangga diri. Dia tetap harus menjalankan tugasnya.


Kakinya terhenti saat Inah mendengar deringan telepon dari kamarnya. Kamar Inah tepat satu lurus dengan dapur. Langkah kakinya langsung tergesa-gesa memasuki kamar.


"Ajeng?"batinnya.


"Ada apa Ajeng menelepon aku?" batin Inah.


"Assalamualaikum, Ajeng."


"Waalaikumsalam, mbak Sarinah. Maaf subuh mengganggu, saya mau mengabari tentang anak mbak."


"Anak saya, Mutiara?"


"Iya, Mbak. Mbak Halimah sudah tahu kalau ternyata Mutiara anak mbak dan kak Rohim. Dia murka dan mengusir Uti."


"Ya Allah, jadi bagaimana keadaan Uti sekarang?"


"Uti sekarang di rumahku mbak. Dia baru selesai ujian dan kecelakaan di tabrak motor. Dokter minta donor darah, Halimah sempat bingung mencari donornya. Hingga mas Rohim mendonorkan darahnya karena cocok dengan darah Uti. Dan terbongkarlah semuanya."


"Ya Allah, maafkan hamba. Hamba yang sudah membuat anakku di posisi seperti ini."


"Mbak, apa masih di sana?"


"Iya, Ajeng."


"Mbak, maaf kalau saya boleh saran tolong ajak Uti tinggal sama mbak. Bukannya saya tidak mau mengajak Uti. Mbak tahu sendirikan saya dan mas Rohim sekarang sudah besanan. Saya tidak mau hubungan besan kami jadi rusak karena menyimpan Uti."


"Iya, tapi apakah Uti mau tinggal sama saya sebagai pembantu? saya takut dianya yang tidak mau."

__ADS_1


"Nanti saya bicarakan sama Uti, mbak."


"Saya juga akan bicarakan sama majikan. Mudah-mudahan dia bersedia menampung Uti tinggal disini."


"Terimakasih, Mbak. Maaf saya harus tutup dulu. Saya takut Uti dengar pembicaraan kita. Dia belum tahu soal mbak. Bukan ranah saya menceritakan hal ini."


"Jeng, kalau kamu mau cerita ya tidak apa-apa. Sudah saatnya Uti tahu tentang saya dan juga ayahnya, Mas Rohim. Saya tidak mau Uti tahu dari orang lain."


"Iya, mbak saya cari waktu yang tepat untuk cerita."


Setelah Ajeng menutup teleponnya. Inah duduk menyandarkan tubuhnya di tempat tidurnya. Mengingat yang pernah terjadi beberapa tahun silam.


Inah teringat saat kedua orangtuanya masih hidup. Bagaimana dia di perlakukan manja tanpa kurang apapun. Dia bukan anak orang kaya, keluarga termasuk sederhana. Namun karena saking manjanya apapun yang dia mau selalu di turuti.


Termasuk soal pasangan, beberapa lelaki mendekatinya untuk di jadikan istri. Inah menolak karena merasa yang datang bukanlah sosok yang sesuai kriterianya.


Tiba masanya dia bertemu Rohim. Lelaki yang usianya 25 tahun diatasnya. Saat itu Inah masih 18 tahun. Sedang Rohim sudah berkepala 4 dan sudah punya 2 anak. Inah langsung terpikat dengan sosok Rohim yang penyayang. Inah dan keluarga yang belum lama menempati tulang bawang langsung akrab dengan Rohim serta keluarganya.


"Ayah tidak akan merestui hubungan kalian. Gila saja ayah harus menikahkan kamu dengan dia. Kamu itu masih muda. Masih panjang perjalanan hidup."


"Aku sudah hamil, yah!" jawab Inah berbohong. Itu dia lakukan agar bisa menikah dengan Rohim.


"Apa!" amuk Santoso, ayah Sarinah.


"Ayaaah!" pekik Inah mendapati ayahnya langsung drop.


"Ibuu!" pekik Inah memanggil sang ibu.


"Ya Allah, Nak. Kenapa dengan ayahmu?" tanya ibunya Inah.


"Ayah pingsan, Bu." Ibunya Inah memeriksa denyut nadi suaminya.

__ADS_1


"Nah, ayahmu jantungnya tidak terdengar lagi."


Inah yang mendengar hal itu langsung lemas. Secara tidak langsung dia lah yang membuat ayahnya meninggal dunia. Karena dia berbohong tentang kehamilannya agar bisa dinikahi Rohim. Dan setelah dia menyadari hal itu dia hanya bisa menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Terus-terusan menyalahkan dirinya. Tapi semua sudah terlambat.


Apalagi saat ibunya tahu kalau putrinya sudah berbadan dua. Dia membela diri mengatakan kalau semua itu alasan untuk menikah dengan Rohim. Tapi nasi sudah jadi bubur. Inah dan Rohim dinikahkan secara siri. Setelah menikah Inah di usir dari rumah. Dia dan Rohim tinggal di sebuah rumah kecil. Setiap seminggu dua kali Rohim pulang ke rumahnya. Kampung Inah dan Rohim hanya beda kecamatan saja.


Hingga pernikahan mereka tercium oleh Halimah. Inah hanya bisa pasrah saat istri sahnya Rohim melabrak dan memakinya habis-habisan. Tentu saja Halimah langsung memviralkan dirinya seantero Tulang Bawang. Dalam sekejap, Inah pun pergi dari desa Tulang Bawang. Tanpa tahu tujuan, meminta tolong pak sang ibu pun dia tak berani.


Inah tinggal di masjid desa Mening Agung. Bekerja menjadi marbot wanita. Tak berapa lama dia mendapati dirinya berbadan dua. Untungnya Inah mengatakan kalau suaminya baru seminggu meninggal dunia. Sehingga warga tidak curiga sedikitpun. Menjelang melahirkan, Inah minta pada Ajeng agar merawat putrinya yang bernama Mutiara.


Lamunan Inah terhenti saat mendengar suara mesin cuci. Kakinya melangkah menuju kamar mandi. Tampak Tina sedang memilih beberapa pakaian untuk di masukkan ke dalam mesin.


"Non, biar saya saja."


"Nggak apa-apa, Bi. Saya sudah terbiasa pagi-pagi kerja." jawab Tina ramah.


"Iya, tapi kan ini tugas saya."


"Kan ada kata pepatah ringan sama di jinjing berat sama dipikul. Kan kalau banyak yang bantu pekerjaan jadi ringan."


"Mas Feri beruntung punya mbak Tina. Mbak Mey jarang turun ke belakang. Paling masak dia baru ke dapur. Mbak Mey nggak pernah cuci piring bekas makan atau cuci baju seperti yang mbak Tina lakukan."


"Bi, setiap orang punya kepribadian masing-masing. Ada yang bisa masak tapi nggak bisa kerja yang lain. Ada yang bisa kerja yang lain seperti beres rumah, tapi dia nggak bisa masak. Karena tugas seorang istri bukan hanya dapur dan tempat tidur."


"Ya kan kebanyakan kalau istri direktur jarang masuk dapur. Non Vira saja juga jarang dia bantu non Dira masak." kata Bi Inah.


Pada umumnya, banyak orang yang beranggapan bahwa mencuci dan memasak adalah kewajiban seorang istri. Sedangkan mencari nafkah merupakan kewajiban bagi suami. Akan tetapi, baik istri maupun suami, keduanya memiliki hak dan kewajiban masing-masing.


Wajib atau tidakkah bagi suami memberitahu istrinya bahwa sang sitri tidak wajib membantu memasak, mencuci dan sebagainya sebagaimana yang berlaku selama ini? Jawabnya adalah wajib bagi suami memberitahukan hal tersebut, karena jika tidak diberitahu seorang istri bisa menyangka hal itu sebagai kewajiban bahkan istri akan menyangka pula bahwa dirinya tidak mendapatkan nafkah bila tidak membantu (mencuci, memasak dan lainnya). Hal ini akan manjadikan istri merasa menjadi orang yang terpaksa.


Jadi, meskipun istri dengan ikhlas melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci, memasak, menyapu, dan lain sebagainya, tetap wajib bagi seorang suami untuk menjelaskan bahwa pekerjaan itu bukanlah kewajibannya. Pun jelaskan bahwa pemberian nafkah dari suami tidak ada hubungannya dengan pekerjaan rumah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2