SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 142


__ADS_3

Langit putih yang terang perlahan mengubah warnanya. Cahaya matahari yang tadi memancarkan sinar teriknya kini menjadi kuning jingga. Meredupkan sinarnya bersembunyi di balik awan, cahaya yang terang dan panas kini perlahan-lahan meredup. Juna berdiri di depan hamparan teh yang masih segar. Lelaki itu berjalan menelusuri lorong-lorong kecil pembatas. Mencium aroma mewangi daun-daun yang masih segar.


Kakinya terhenti saat beberapa petani menyapanya. Juna membalas sapaan mereka lalu kembali melanjutkan perjalanan. Tadinya dia mau ajak Dira jalan-jalan keliling. Tapi melihat istrinya tertidur nyenyak setelah sholat zhuhur. Rasanya tidak tega. Biarlah Dira istirahat, toh ada Vira yang menemaninya di rumah. Jadi Juna tidak takut meninggalkan Dira sendirian.


Arjuna Bramantyo menghentikan langkahnya di sebuah pondok kecil. Entah sudah berapa lama dia berjalan mengelilingi perkebunan. Area yang sudah mengangkat derajatnya. Area yang membuatnya bisa bersekolah hingga sarjana.


"Kalau jalan-jalan ajak aku, Mas" suara itu membuyarkan lamunannya. Juna tersenyum lalu mengajak istrinya duduk di sampingnya.


"Aku lihat kamu tidur nyenyak sayang. Kamu kesini sama siapa?" tanya Juna.


"Sama Vira dan Tio. Tadi pas aku bangun kamu sudah nggak ada. Jadi Vira menawarkan untuk ajak jalan keliling perkebunan sekaligus cari kamu. Tio bilang dia lihat kamu jalan ke perkebunan atas. Makanya dia antar kami kesini. Aku lihat kamu melamun di pondok."


"Bukan melamun, sayang. Tapi sedang mensyukuri apa yang kita dapat selama ini. Hamparan daun ini yang mengantarkan aku dan Ayu seperti sekarang ini."Ya kalau dulu papa masih kerja sebagai buruh kecil, mungkin aku hanya batas SMA sekolahnya."


"Tuhan itu akan mengangkat derajat umatnya asalkan mau berusaha. Nggak mungkin langsung di kasih senang kalau orang itu hanya berpangku tangan.


Kamu tahu, Mas. Pabrik yang di kelola Opa Han sekarang itu bekas pabrik Putra Nusa. Dari yang kecil hingga sekarang menjadi perusahaan yang menaungi ribuan orang. Seperti yang aku bilang tadi, semuanya tidak instan."


Juna meminta Dira duduk diatas pahanya. Dagunya bertumpu pada pundak milik Dira. Sesaat mereka saling bertatapan lama. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke hamparan perkebunan teh. Area yang rapi bagai karpet hijau yang menyegarkan mata.


Pondok kecil yang hanya memiliki atap. Gubuk sederhana yang hanya cukup untuk berteduh menahan dingin dan merebahkan kantuk menjadi mimpi indah. Bentuknya yang simple dan di pinggiran pedesaan membuat suasana tentram.


"Pulang yuk sebentar lagi mau sore" ajak Juna.


Dira meraih tangan Juna yang mengulur kearahnya. Keduanya berjalan mengelilingi kebun teh.


"Mas, katanya besok ada posyandu di kampung sebelah. Aku boleh ikut nggak?"


"Boleh, sayang. Besok aku antar kesana. Mama jadi mau kesini?"


"Tidak tahu, Mas. Mama belum kasih kabar apa-apa. Waktu itu mama bilang mau ajak kak Feri dan kak Tina. Tapi nggak tahu juga, soalnya kak Tina kan hamil muda sama seperti aku."


"Emang kenapa kalau hamil muda?"

__ADS_1


"Ya, kan masih lemah, Mas. Masih rawan sama yang namanya keguguran. Makanya kebanyakan hamil muda trimester pertama harus ekstra hati-hati. Karena masih belum kuat. Janin yang sudah kuat biasanya 3 bulan keatas, karena sudah terbentuk. Kalau tidak Wassalam, deh."


"Makanya kamu jangan-jangan ngomel kalau aku bantu beresin rumah. Karena aku nggak mau lagi kehilangan anak kita untuk yang kedua kalinya. Aku minta maaf dulu saat kamu hamil sering tidak ada di dekatmu." kata Juna.


Tak terasa mereka sudah sampai didepan rumah. Rumah yang hanya memiliki dua ruangan. Terbuat dari papan yang berkualitas. Udara yang sejuk menerobos dari jendela rumah. Rumah yang di bangun Juna saat belum lama dia memutuskan hubungan dengan Delia.


Sekarang mereka sudah sangat nyaman untuk tinggal disana. Dira menyetujui pendapat suaminya kalau tinggal jauh dari keramaian kota memang membuat hati tenang. Walaupun sebenarnya dia rindu sama rumahnya di Jakarta. Tapi yang namanya istri harus ikut kemana suaminya pergi bukan.


"Vira mana?" tanya Dira memeriksa kamar adiknya.


"Mungkin lagi jalan-jalan."


"Tapi ini sudah mau gelap. Nanti kesasar tuh anak." Dira masih cemas ketika adiknya belum juga pulang.


...****...


"Sudahlah, kak biarkan saja. Kak Feri tidak usah cemas mikirin papa. Kalau itu sudah keputusan dia mau pergi ya sudah. Kakak kan sudah berusaha menawarkan supaya papa tidak jauh-jauh lagi. Kelihatan papa itu sok playing victim, dia merasa minder, merasa tidak pantas sama kita. Itu tandanya papa tahu diri."


"Kamu kok bicara seperti itu, Vira. Walau bagaimanapun dia itu ..."


"Iya, mama tadi juga bilang gitu." nada suara Feri terdengar pasrah.


"Nah, kalau mama saja sudah bilang begitu, kakak tidak usah lagi cari papa. Biarlah dia dengan kehidupannya sendiri. Dan kita juga melanjutkan hidup masing-masing. Gitu aja sih menurut aku, kak."


Vira dan Feri menutup komunikasi mereka. Sesaat dia meraup nafas dalam-dalam. Vira kesal bukan main melihat sikap papanya yang sok tersakiti. Sewaktu papa pamit meninggalkan rumah. Vira merasa kasihan. Dimana papanya sudah tidak punya tempat pulang. Akan tetapi setelah mendengar cerita Feri. Vira menjadi kesal.


"Hey!"


Tepukan bahu kencang membuyarkan lamunannya. Vira menoleh kearah sosok lelaki yang beberapa hari ini menemaninya.


"Anak gadis nggak bagus melamun sendirian. Nanti di culik wewe gombel. Kenapa sih?"


"Nggak apa-apa. Banyak nggak dapat stroberinya?"

__ADS_1


"Kamu lihat saja sendiri!" Panji menyodorkan keranjang rotan.


"Banyak sekali. Mau makan sendiri?"


"Mau di bawa pulang. Nanti malam aku akan pulang ke Jakarta. Randi mau adakan kumpul keluarga. Kan kemarin pesta dari pihak perempuan. Nah dari keluarga kami ya cuma pesta kecil-kecilan."


"Oh, begitu. Mbak Hanum diajak dong."


Kaki Panji terhenti. Kenapa Vira membahas soal Hanum padahal dia belum pernah cerita soal itu.


"Kamu cemburu sama Hanum?"


"Hah! cemburu? enggaklah, ngapain juga cemburu. Kan memang Om dekat dengan mbak Hanum. Seantero fakultas sudah tahu semua kali."


"Tapi nada suara kamu seperti sedang sewot gitu" kata Panji.


Vira menghentakkan kakinya meninggalkan kebun stroberi. Mood nya sudah hilang. Dia bahkan tidak memperdulikan panggilan dari Panji. Entah kenapa sejak datang ke Lembang ada saja yang membuat moodnya rusak.


Setelah Mendaki gunung lewati lembah Sungai mengalir indah ke Samudra. Vira akhirnya sampai di rumah Dira. Tampak sebuah mobil silver terparkir di depan rumah kakaknya.


"Ini bukannya mobil...."


Seorang gadis muda berlari memeluk Vira. Pelukan penuh rindu pada dua sahabat. Vira dan Elsa saling berseru riang. Dira hanya tersenyum kecil memandang keseruan dua gadis itu.


"Hayo Elsa, kamu belum kenalin calon suamimu sama Vira." sahut Dira.


"Jadi benar kamu kesini sama calonmu?" Elsa mengangguk. Tangannya menarik Vira masuk ke dalam.


"Kak Dawa..."


Tubuh Vira seakan membeku saat tahu siapa calon suaminya Elsa. Tangannya mengepal keras. Darahnya terasa mendidih. Seketika dia menarik Elsa jauh dari Dawa. Kalau Dawa bukan lelaki yang merusak Kayla, kalau Dawa bukan adik dari perempuan yang merusak rumah tangga orangtuanya, mungkin akan beda ceritanya. Semua citra buruk Dawa sudah menempel di otaknya.


PLAAAAAK!

__ADS_1


"Jauhi Elsa. Lelaki bajingan seperti kamu tidak pantas untuk Elsa. Kamu tahu Elsa, dia yang sudah mencampakkan Kayla, dia buat Kayla hamil, lalu sok playing victim merasa di khianati karena dia tidak mau tanggung jawab atas kehamilan Kayla."


"Itu fitnah," Dawa langsung menarik Elsa dari tangan Vira. Vira langsung menarik tangan Dawa dari Elsa dengan kasar.


__ADS_2