
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA
"Kamu dimana, Panji?" suara yang mengingatkan lelaki itu tentang keberadaannya.
Panji baru saja tiba di Indonesia setelah beberapa hari mengikuti pertemuan bisnis di London. Sebagai salah satu anggota pengusaha muda dalam suatu aliansi komunitas. Panji harusnya meminta Pandawa menjemputnya. Bukankah itu memang tugas Dawa sebagai sopirnya. Tapi entah kenapa dia malah meminta Junaidi salah satu staf kantornya untuk menjemputnya.
"Aku sedang di perjalanan pulang, Om Adrian." jawabnya.
"Kau jangan lupa acara kita nanti malam. Kita akan ke kediaman Irwan Chandra."
"Please, Om. Aku ..."
"Kamu tidak lupa dengan apa yang sudah dilakukan Vira. Dia sudah membohongiku kamu, dia sudah ...
Satu hal yang ingatkan sekali lagi. Hati-hati sama Pandawa."
Panji menutup telepon dari Adrian, suami dari mendiang tantenya. Dia masih belum paham sebegitunya lelaki itu ingin menjodohkan dirinya dengan anak teman Om nya.
Panji menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Memejamkan matanya sejenak, tangan kanannya memijit-mijit dahi kepalanya. Seakan ada suatu beban yang di rasakannya.
Sosok wajah imut terus menari-nari di pikirannya. Sosok yang sangat dia rindukan dan rasanya ingin sekali menemuinya.
"Apa benar kamu seperti itu, Vira? kenapa tega kamu bohongi aku? entah kenapa mendengar kamu sudah tidak perawan lagi rasanya sakit sekali. Ya mungkin ini memang bukan kehendak kamu. Tapi entahlah, aku pernah di posisi ini, Ra. Saat aku menyatakan keseriusan dengan seorang wanita, dia malah hamil sebelum aku menikahinya. Tadinya aku berharap dia yang mengobati rasa sakit setelah di tinggal Kanaya. Tapi ternyata kamu juga .... "
"Pak, ini mau langsung ke apartemen?" tanya Junaidi.
Panji menganggukkan kepalanya. Dia ingin istirahat untuk mempersiapkan nanti malam. Sejenak Panji membuka Instagram keluarga Irwan Chandra. Mata nya membulat saat tahu siapa calon yang di sodorkan padanya.
"Gila! masa aku sama Elsa. Kayak tidak ada perempuan lain. Elsa itu sahabat Vira, sudah pasti dia akan mengadu ke Vira soal ini. Astaga!" Panji mengacak rambutnya setelah mengetahui kebenarannya.
Panji memandang langit yang sudah menghitam. Sepertinya akan ada pertumpahan air yang akan turun dari langit. Panji kembali memutar tubuhnya.
Beberapa orang duduk di halte menunggu bis Transjakarta yang akan lewat.
"Biasanya Vira berdiri di depan kampus menunggu jemputan. Aku jadi rindu sama kamu, Ra. Jujur aku masih kecewa sama kamu. Tapi entah kenapa aku tidak bisa marah sama kamu.
Jun, antarkan saya di kampus Trisakti." titahnya.
__ADS_1
"Baik, pak."
Junaidi pun melajukan mobil ke kampus yang identik dengan kasus tahun 1998. Panji berharap kedatangannya menjadi kejutan untuk Vira. Mobil berhenti di depan kampus. Panji tak melihat kemunculan Vira.
Ada satu jam dia memantau tak ada hasil. Panji pun meminta Junaidi untuk menghidupkan mobilnya.
Akhirnya Panji pun sampai di apartemen. Pertama dia menanyakan apakah ada yang menitipkan kunci apartemennya. Salah seorang petugas pun memberikan kuncinya.
"Tadi saudara anda memberikan ini. Katanya dia pergi mencari kerja." Panji mengambil kuncinya dan mengucapkan terimakasih.
Memasuki ruang apartemen, Panji pun merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah perjalanan jauh dari Hongkong. Handphone di tangannya seperti mengingatkan pada sesuatu.
"Harusnya besok aku akan mengikatmu ke jenjang lebih serius. Harusnya? iya harusnya? aku benci pembohong. Apapun alasannya!"
Kamu harus hati-hati dengan Pandawa
Ucapan Adrian lagi-lagi terngiang di kepalanya. Entah ada dorongan apa dia seperti termakan pada kata-kata Om nya. Padahal dulu dia dan Adrian tidak terlalu dekat. Juga tidak terlalu akur. Sejak Adrian meminta dia dekat dengan pabrik milik opa Han.
"Jadi ini tatanan kamar Pandawa?" batin Panji.
Dulu kamar Dawa adalah kamar kosong yang hanya diisi ranjang dan lemari. Tidak ada meja nakas atau yang lainnya. Padahal itu apartemennya sendiri. Tapi Panji belum pernah memeriksanya. Kesibukan lebih menyita dan pulang hanya untuk istirahat saja. Urusan membersihkan rumah dia serahkan pada cleaning servis saja.
"Ini bukannya Vira saat masih kecil. Kenapa ada di barang Pandawa? siapa anak lelaki ini? Apa ini Pandawa?
Hah! rahasia apalagi yang mereka sembunyikan! kenapa begitu banyak kejutan yang kalian simpan?"
"Jika waktu bisa kuputar kembali, aku ingin membuktikan janji masa kecil kita, Vira." Panji membacakan catatan kecil di balik photo Vira kecil.
"Kurang ajar! dia mau menikung aku dari belakang. Dia mau merebut Vira dari aku. Jangan mimpi!"
Panji mendengar langkah kaki mendekati pintu. Dadanya sudah bergemuruh akibat kemarahan yang akan dia luapkan. Perasaan kecewa karena merasa di bohongi gadis dan sahabatnya."
BUUUUUGH!
"Kak, Panji!" Dawa kaget saat lelaki itu menghujamkan tangannya ke perutnya. Belum sempat dia bangkit Panji masih menghajar Dawa habis-habisan. Tidak ada ampun sepertinya.
"Dasar pengkhianat! diam-diam kamu dan Vira punya hubungan di belakangku. Diam-diam kalian menusukku dari belakang. Tega kamu Dawa setelah saya memperlakukan kamu sudah seperti saudara sendiri."
__ADS_1
"Pengkhianat anda bilang. Sekarang siapa yang pengkhianat? kamu buat Vira down setelah membatalkan pertunangannya dan kamu malah mau di jodohkan dengan Elsa. Maruk anda tuan Panji!"
"Heh, jangan asal bicara!" Dawa melemparkan koran berita tentang Panji yang akan di tunangkan dengan Elsa.
"Kamu tahu kak Panji! Vira sangat mencintaimu, saat kamu membatalkan pertunangan dia sampai drop dan masuk rumah sakit. Dan apakah berita ini bisa membuat dia tenang. Tidak! sudah cukup dia gagal menikah dengan pacar terdahulunya. Dan anda kembali mengulang luka lamanya.
Aku memang cinta sama Vira sejak dulu. Sejak kami masih kecil. Tapi satu hal yang harus Anda tahu, aku dan Vira sudah beda jalan. Dia punya pilihan sendiri yaitu anda."
"Jangan sok tahu Pandawa!" Amuk Panji.
"Sebelum aku meninggalkan tempat ini satu yang aku minta. Temui Vira, teruskan pertunangan kalian. Elsa juga tidak mau di jodohkan dengan anda. Dan aku akan mundur dari hidup kalian. Cinta itu bisa tercipta jika orang yang kita cintai bahagia dengan orang yang tepat. Jika Vira bahagia bersama kak Panji aku ikhlas" kata Dawa lirih.
BEBERAPA JAM SESUDAHNYA
Dawa hanya menatap pilu ketika semua barangnya sudah di teras apartemen. Saat ini dia masih bingung harus kemana lagi. Ini konsekuensi yang harus dia terima. Lelaki itu turun ke lobby untuk meminta petugas membawa barang-barangnya.
"Mau diantar kemana pak?" tanya salah satu sopir pengantar barang.
"Saya mau cari kontrakan, pak. Sekaligus cari kerja." kata Dawa.
"Biasanya orang yang menempati apartemen orang berduit. Tapi anda cari kontrakan dan cari pekerjaan. Jangan-jangan anda tidak bisa membayar saya nantinya."
"Saya ada tabungan,pak. Insyaallah cukup buat bayar anda dan juga kontrakan."
"Kalau begitu saya anda tempat kosong di dekat rumah. Katanya sudah lama kosong nggak ada yang mau beli. Itu kalau anda mau. Soal kerjaan ada kok, Mas. Jadi kernet saya. Itu juga kalau anda mau.
Soalnya saya lihat dari penampilan anda ini bukan orang sembarangan."
"Nama saya Pandawa Danuarta, pak." Dawa memperkenalkan diri.
"Saya Bagus Laksono." pak Bagus pun ikut memperkenalkan diri.
Dawa membaca pesan dari Wati tentang kondisi Kayla. Ada rasa marah saat tahu Kayla keadaan kritis dalam sekapan Irul. Dawa tidak habis pikir kenapa Irul bisa setega itu pada anaknya sendiri.
Dawa minta pak Bagus mengantarkan ke perusahaan Global Machine. Karena dapat info kalau Irul yang memimpin Global Machine. Setiba di sana Dawa langsung mendobrak pintu ruang kerja Irul. Lelaki itu sedang ada tamu tanpa pikir panjang Dawa langsung menghajar Irul.
"Bangsat!" amuk Dawa.
__ADS_1
Dawa langsung mencengkeram erat kerah baju Irul. Emosinya langsung memuncak karena membayangkan apa yang terjadi pada Kayla. Dia memang tidak cinta sama Kayla, tapi sudah seperti adiknya sendiri.
"Dimana Kayla! Katakan dimana kamu menyimpan Kayla!"