SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 33


__ADS_3

Tina, bude dan Amar menaiki angkutan umum menuju rumah sakit. Karena Amar diliburkan oleh sekolahnya. Di dalam Angkutan umum Amar bercerita kalau temannya pada takjub dengan tas baru serta sepatu miliknya. Dia dengan bangga kalau tas nya itu mahal. Tina menegur adiknya agar tidak sombong hanya karena sebuah pemberian.


"Hadiah yang kamu dapat itu adalah amanah. Mereka mempercayakan kamu pada barang itu agar bisa di rawat dengan baik. Bangga boleh tapi kamu harus ingat, tidak semua temanmu beruntung dapat hadiah ini. Dan kalau kamu memamerkan pada mereka akan membuat teman-temanmu minder. Jadi jangan jadikan semua ini untuk ajang pamer." jelas Tina pada Amar.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah sakit yang di tuju. Tina, bude dan Amar masuk ke pelataran rumah sakit. Tina dan Amar hanya mengikuti kemana bude berjalan. Mereka bahkan tidak tahu siapa yang akan di jenguk budenya.


Mereka berdiri di depan semua kamar rawat. Tapi baru ingat ini arah ruang tempat dimana dia bertemu dengan Feri. Hingga mereka memasuki kamar tersebut.


Tina awalnya merasa ragu masuk ke dalam. Bude meyakinkan wanita itu tidak akan ada masalah kalau hanya menjenguk saja. Tina rasanya ingin pulang saja bersama Amar.


"Na, bude tahu apa yang kamu takutkan. Kamu tidak perlu takut. Apapun yang terjadi mereka itu tetap besan bude. Kan Mey sama Feri tidak bercerai melainkan dipisahkan oleh maut. Kalau memang Feri nantinya sama kamu jatuhnya naik ranjang. Karena kamu adalah kakak kandung Meyra."


"Tapi bude, nanti pakde..." Tina masih takut akan kemurkaan pakdenya.


"Bude yang akan tanggung jawab dengan semua ini. Kamu tenang saja." bude masih membujuk Tina agar ikut masuk.


Pada akhirnya Tina memilih ikut masuk bersama bude nya. Dengan wajah menunduk Tina hanya menyembunyikan sedikit badannya di belakang budenya. Dewi yang melihat kedatangan besannya menyambut dengan ramah. Dia juga menyambut Tina, wanita yang di cintai putranya.


"Apa kabar, mbak?" tanya mama Dewi.


"Alhamdulillah baik, saya dapat kabar kalau anak jeng Dewi masuk rumah sakit." jawab bude nya Tina.


"Iya, jeng anak saya yang nomor dua adiknya Feri."


"Ya Allah, Dira." ucap Tina kaget melihat siapa yang terbaring di ranjang tersebut.


"Dira kenapa Tante Dewi?" ucap Tina.


"Dira keguguran, Na. Tapi yang membuat dia drop adalah kabar suaminya kecelakaan."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun." kata mereka bersamaan.

__ADS_1


"Iya jeng, Juna kecelakaan saat mendapat kabar ayahnya sakit keras. Saat dalam perjalanan ke Bandung kejadiannya." cerita Dewi.


"Apa Dira tahu, Tante?"


"Karena Dira mendengar berita ini dia jadi drop." jelas Mama Dewi.


Tina menatap Dira dengan tatapan Iba.


"Juna itu, orang baik. Dia membantu adikku membelikan tas baru dan mahal serta sepatu baru. Saya belum sempat membalas kebaikan Juna. Kita manusia hanya menjalankan apa yang ada di depan mata tapi Allah yang menentukan semuanya. Kamu yang sabar Dira." ucap Tina pada Dira yang masih terpejam.


"Terima kasih, Tina kamu baik sekali. Doakan Dira cepat sembuh sediakala. Andai kamu jadi menantu saya pasti Feri akan senang sekali." kata mama Dewi.


"Tante, maaf kalau saya belum bisa membuka hati untuk Feri. Saya tahu diri Tante, tidak mungkin bisa bersama Feri. Ada yang lebih baik dari saya pastinya."


Bude mendengar ucapan Tina merasakan sesak yang sangat dalam. Dia tahu bagaimana perasaan Tina dan juga perasaan Feri. Tina pun bersikap seperti itu untuk mengalah demi Mayka. Walaupun dia tahu Mayka memang sifatnya tidak mau kalah dari adiknya.


Dari jauh Feri menatap semua yang dipakai Amar. Senyumnya mengembang, ada rasa senang Amar mengenakan pakaian barunya. Lalu tubuhnya berbalik melihat seorang wanita berdiri di belakangnya.


Mayka tersenyum menang. Dia datang untuk menjenguk Dira sekaligus cari muka dengan mama Dewi. Dia minta Feri menemaninya masuk ke dalam ruangan. Feri mengiyakan meskipun dengan wajah datar.


"Assalamualaikum," sapa nya memasuki kamar rawat Dira.


"Waalaikumsalam, ..." sahut semua yang ada di ruangan.


Mata Tina terpaku pada tangan Mayka yang menyelip di pinggang Feri. Sesaat dia merasa sadar diri kalau Mayka memang pantas untuk Feri.


Feri berjalan memasuki kamar rawat adiknya dengan wajah datar. Tangan Mayka yang bergelayut manja membuat perasaannya tak menentu. Apalagi dengan tatapan Tina yang penuh arti. Wanita di depannya menunduk sesaat lalu memilih keluar dari ruang.


Feri memandang langkah kaki Tina yang sudah menjauhi kamar adiknya.


Tina mendengar ada rooftop diatas gedung rumah sakit. Langkahnya berjalan memasuki tangga menuju rooftop untuk melepaskan beban yang menghimpit. Dia mencoba untuk tidak terbawa perasaan pada lelaki itu. Namun pertemuan tadi membuat hatinya semakin gelisah. Matanya di pejamkan agar menikmati udara yang lumayan terik. Rooftop yang memang sudah di desain oleh pihak rumah sakit untuk beristirahat.

__ADS_1


"ini salah Tina, kamu nggak boleh begini! ingat dia jodoh kak Mayka dari kecil. ingat Tina kamu sudah di beri tempat tinggal oleh mereka. Kamu harus menempatkan diri." ucapnya dengan lirih.


"Ini nggak salah. Nggak ada perasaan yang salah. Kita tidak tahu hati akan berlabuh pada siapa. Aku memang mencintai Meyra dan aku juga pernah berjanji tidak akan jatuh cinta lagi. Tapi kenapa setiap bersama kamu aku selalu nyaman. Ada rasa ingin melindungi kamu. Ada rasa ingin menjadi sandaramnu."


"Feri, please jangan di bahas lagi." mohon Tina.


"Barusan kamu duluan yang membahasnya dan kamu minta aku tidak mengungkitnya lagi. Please, Martina Priscilla Agatha... Aku ..."


"Hargai perasaan kak Mayka, bagaimana kalau dia ..."


"Yang aku cinta dari SMA kamu, Na. bukan Mayka! kenapa kamu masih peduli perasaan Mayka? dia saja tidak pernah menghargai perasaanmu."


"Kamu nggak cinta sama aku, Feri. Kalau kamu cinta sama aku kenapa kamu menikah dengan Meyra? itu tandanya kamu sudah move on dari aku. Itu ..."


"Karena hidup terus berjalan, Tina. Aku memang mencintai kamu tapi kamu sendiri entah ada dimana. Aku menemukan kamu dalam diri Meyra, Tina yang jual mahal, Tina yang arogan tapi bikin aku makin penasaran. Semua aku temukan dalam diri Meyra, meskipun sifat aroganmu tidak menurun sama Mey."


Tina berjalan meninggalkan Feri di rooftop. Kalau semakin lama dia disana akan semakin membuatnya galau. Netranya berputar kearah wanita di depannya. Wajah penuh emosi menghampiri dirinya.


PLAAAAAK!


"Dasar tidak tahu diuntung! ini balasanmu setelah kebaikan keluargaku! kamu selalu bilang kamu tidak punya perasaan apapun dengan Feri. Tapi nyatanya kamu tetap meladeni Feri."


"Mayka!" suara menggelegar terdengar memantul dari kejauhan.


"Kamu membela dia, Feri?" amuk Mayka.


"Tentu, karena dia adalah calon istriku. Dia yang telah di jodohkan dengan aku sejak kecil. Bukan kamu. Kalau kamu mau usir Tina dari rumah kamu silahkan. Karena dia akan langsung aku nikahi dan ku bawa ke keluargaku."


Feri menarik Tina meninggalkan Mayka sendirian di rooftop. Tina masih tidak percaya apa yang di ucapkan Feri barusan. Apa benar dia yang selama ini di jodohkan oleh kakeknya? Kalau iya kenapa keluarganya bungkam selama ini?


Feri dan Tina akhirnya sampai di depan pintu kamar rawat Dira. Keduanya saling bertatapan lama, Tina menundukkan kepalanya. Netranya sedikit terkejut saat Feri melabuhkan kecupan di dahi Tina.

__ADS_1


"Aku mohon jangan pergi lagi dari hidupku, Martina Priscilla Agatha. Menikahlah denganku!"


__ADS_2