SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 219


__ADS_3

"Nikah!" Vira bicara dengan suara lantang.


"Gampang anda bilang soal nikah! padahal saat aku merasa terpuruk atas apa yang dilakukan kak Panji dan om Adrian. Anda ada dimana pak Pandawa? saat aku merasa trauma atas penculikan itu. Anda tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Selama ini nggak ada usaha kak Danu untuk memperjuangkan aku, nggak ada!"


"Aku sudah berusaha memperjuangkan kamu, Vira. Bahkan sampai saat ini aku juga masih berjuang mendapatkan restu dari Tante Dewi. Memang yang aku lakukan belum waaw di mata kamu, dimata Tante Dewi dan juga kelurgamu. Aku juga tidak mau keadaan seperti ini, tidur berbulan-bulan, duduk di kursi roda, hingga memakai tongkat penyangga kaki. Aku juga ingin menjadi yang sempurna di mata kamu,"


"Aku capek, Kak. Jujur aku capek sama anda. Kak Danu bilang sudah lama mencari saya, tapi nyatanya sempat cinta sama Kayla, lalu berpindah hati ke Elsa dan sekarang anda bilang mau ajak aku nikah. Saya bukan pelarian,"


Vira pergi meninggalkan Dawa. Gadis itu memasuki mobil yang di kendarai oleh sopir pribadi keluarga Dewi Savitri. Pandangan Dawa mengikuti arah mobil itu berjalan. Rumah yang lumayan luas halamannya di penuhi taman kecil dekat gazebo. Tadinya Dawa mau turun ke tangga bawah. Sejenak dia ragu serta menunda tujuannya. Seandainya kakinya sudah normal mungkin dia tidak akan seragu ini.


Sebuah mobil masuk ke kediaman Dewi Savitri. Tentu Dawa mengenal sang pemilik mobil tersebut. Lelaki itu memilih tetap di teras sambil menunggu sang empunya mobil.


"Papa," Dawa menyalami tangan Deka sebagai


"Danu,"


Deka sudah sampai di pelataran kediaman Dewi Savitri. Menjemput sang putra yang tadi malam terpaksa diinapkan. Kondisi tubuh yang tidak sehat efek tercebur ke kolam renang tadi malam.


Beruntung Dewi masih baik hati mendatangkan dokter dan mempersilahkan Dawa untuk menginap di tempat mereka.


"Pa," Dawa menyambut kedatangan papanya.


"Bagaimana kondisi kamu, Nak?"


"Alhamdulillah, Pa. Agak mendingan sekarang walaupun masih lemas. Apa kita pulang saja, Pa? sepertinya Tante Dewi pergi karena ada aku di rumah. Dan Vira sepertinya masih marah sama aku,"


"Kamu mau menyerah? ya, papa tahu kalau sekarang kamu dan Vira akan jadi saudara. Akan tetapi apa salahnya kamu mendekati Vira demi menjadi kakak dan adik. Bagaimana mereka akan menerima kita kalau sudah pesimis. Kamu lihat Vira dan Dewi, mereka sama-sama keras kepala.


Menghadapi orang yang keras kepala, kamu harus berbicara secara perlahan selama percakapan. Kamu perlu bersabar dan memberikan waktu untuk membuka jalan pikiran si keras kepala yang cenderung kaku. Setelah papa telusuri, papa paham Dewi masih trauma atas apa yang dilakukan kakak angkatmu. Tapi yang salah juga suaminya bukan keluarga Dewi,"


"Danu juga salah, Pa. Aku termakan ucapan om Irul saat itu. Dia bilang gara-gara keluarga Tante Dewi kakakku meninggal dunia. Tapi ternyata om Irul lah yang sengaja mengadu domba kami semua. Dan mungkin itu yang membuat Tante Dewi belum bisa memaafkan aku,"

__ADS_1


"Sudahlah yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang papa bantu kamu untuk memperbaiki semuanya. Walaupun pada akhirnya ada kepahitan harus kita terima,"


"Apa papa mau ajak aku pulang?" Deka mengangguk.


"Papa mau ajak kamu fitting baju untuk acara kita minggu depan. Sekaligus papa akan perkenalkan calon yang sudah di siapkan Oma,"


"Calon?" Dawa kaget mendengar pernyataan Deka.


"Loh, bukannya Oma bilang dia sudah ngomong sama kamu?"


"Iya, tapi waktu itu aku sudah bilang soal Vira sama Oma. Aku pikir Oma tidak akan meneruskan perjodohan itu,"


"Iya, tapi kamu dan Vira kan akan jadi saudara. Sudah pokoknya kamu kenalan dulu sama pilihan kami, masalah cocok atau tidaknya kan bisa di urus nanti,"


"Kita pamit sama kak Tina dulu, Pa,"


"Vira mana?" tanya Deka.


"Yasudah, kita pamit. Oh ya kamu sudah dengar kabar soal Panji yang menikah dengan sekertarisnya,"


"Maksudnya There, Pa? kapan?"


"Tadi malam Panji menelepon minta di tunda soal pertemuan kerjasama dengan pabrik teh kita. Katanya dia baru saja selesai ijab Kabul di Jogja,"


"Alhamdulillah, sainganku berkurang," sahut Dawa lirih.


"Saingan? emang dia saingan sama kamu soal apa? Vira?" Dawa mengangguk.


"Astaga, dunia sempit ternyata," Deka mengerutkan dahinya. Tidak menyangka kalau Panji punya hubungan dengan Savira.


"Bahkan mereka hampir bertunangan, Pa," sahut Dawa.

__ADS_1


"Aduh, kenapa kita malah nenggosip sih. Kayak infotainment saja. Sekarang kita pulang, kamu istirahat di rumah. Sebab papa sudah mengundang orang untuk fitting baju,"


"Astaga papa, Ini mau nikah kayak anak muda saja pakai fitting baju segala,"


"Ya kan kamu juga bakal di pertemukan dengan calonmu di acara kami nanti, papa juga pakai EO nya Anca,"


Setelah pamit dengan Tina sebagai tuan rumah, serta berterimakasih atas kesediaan keluarga Dewi Savitri untuk menampung dirinya walaupun hanya semalam. Karena dia tahu sebenarnya Tante Dewi orang yang baik. Hanya saja dia masih jaga jarak dengan Dawa.


Deka menuntun putranya untuk turun kebawah. Dimana turunan bentuknya tangga petak mengingat kaki Dawa belum kuat. Ada dua tangga di depan pintu rumah Dewi Savitri yaitu tangga petak dan seluncuran.


Terserah papa sajalah, Dawa ikut saja," lelaki itu sudah duduk di dekat pintu mobil. Menatap kearah jalanan luas.


Ucapan Vira tadi terus berputar di pikirannya.


"Apa iya aku kurang usaha selama ini?" batinnya.


Dawa menyandarkan kepalanya di pinggir jendela mobil. Sejenak matanya terpejam memikirkan semua yang dia alami selama ini. Lika-liku kehidupan yang dia temui ternyata tak semudah orang lain pikirkan. Mungkin banyak yang mengira karena jabatannya tinggi di masa lalu, hidupnya aman dan sejahtera.


Hidup di bayangi dendam masa lalu. Dalam pengaruh seseorang yang dianggapnya berjasa selama ini. Hidup yang terkungkung antara perasaannya pada Vira. Perasaan yang tercipta sejak dia masuk dalam keluarga Dewi Savitri. Tapi dia masih fokus dengan dendamnya.


"Semua salahku, Pa, kalau saja aku tidak terhasut sama Om Irul, mungkin tidak akan begini ceritanya. Dulu sebelum Tante Dewi tahu soal aku dan kakakku. Dia baik sekali, menganggap aku seperti keluarganya. Tapi sejak dia tahu aku adiknya kak Padma dan masih keluarga Om Irul. Seketika sikapnya berubah,"


"Soal kamu dan Vira, sejak kapan kamu mencintainya," tanya Deka.


"Sejak dia kecil, tadinya aku pikir ini hanya perasaan rasa sayang kakak pada adik. Dulu kak Padma kerja dengan Tante Dewi. Bahkan kata kak Padma, atasannya memberikan aku beasiswa hingga ke jenjang SMA.


Tante Dewi saking sibuknya, Vira sering ikut kak Padma main bahkan menginap di rumah. Aku tentu senang karena ingin sekali punya adik. Aku hanya pernah melihat ibu angkatku saat usia kelas satu SD. Setelah itu mama Claudia meninggal dunia karena demam dalam satu malam. Masa itu kak Padma yang aku kenal. Kak Paundra sudah meninggal dunia saat kecelakaan mobil. Katanya waktu itu dia mau melamar kekasihnya,"


Dawa menceritakan semua yang pernah dia lakukan pada keluarga Dewi Savitri. Mungkin dimata Dewi apa yang dia lakukan terlihat jahat sampai wanita itu sangat membencinya. Deka yang mendengar cerita Dawa menjadi paham apa yang di rasakan Dewi. Perempuan itu sepertinya masih trauma jika berurusan dengan anaknya.


"Sepertinya kamu memang harus kerja keras, Nak," Deka menepuk pundak putranya. Memberi semangat agar lebih giat lagi melunakkan hati calon mertua.

__ADS_1


__ADS_2