SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 220


__ADS_3

"Maaf,Ma. Dira sepertinya tidak bisa datang ke acara itu. Mama tahu sendiri Dira sekarang sudah hamil lagi. Jangankan mau ke Jakarta, ngantar bekal ke pabrik saja bawaan aku mual terus,"


Bukannya dia banyak alasan. Tapi memang kehamilannya kali ini membuatnya gampang lelah. Hampir sama dengan kehamilan terdahulu. Setiap selesai morning sickness, dia pasti seperti tak punya daya untuk beraktivitas.


"Apa mama bilang, Nak. Kehamilan di jarak jangan terlalu dekat. Kamu ASI untuk Fajar saja belum genap setahun dan sekarang hamil lagi. Pasti ini kerjaan Juna, harusnya dia jadi suami harus nahan diri. Kamu lihat waktu mama hamil Feri jaraknya tiga tahun sama kamu, Terus jarak sama Vira tujuh tahun. Tidak ada yang dekat jaraknya."


"Dan kamu malah jarak terlalu dekat, mana Juna, biar mama yang ngomong sama dia!"


"Mas Juna belum pulang, Ma," kata Dira.


"Yasudah, untuk kedepannya kamu harus pasang KB. Daripada bobol lagi kasihan anak kalian nanti. Mama tidak masalah kalau kamu hamil lagi, cuma ya ini, masih terlalu rapat,"


"Iya,Ma. Maaf kalau Dira sudah bikin kesal mama. Tapi Vira mau di jodohkan sama siapa ma?"


"Pandawa,"


"Haaaah! bukannya mama tidak setuju sama dia. Kok sekarang mama merestui mereka?"


"Sebenarnya mama juga masih belum respect sama Pandawa. Kalau ingat dia selalu saja ingat Padma dan Irul. Rasa sakit yang dulu mereka lakukan masih membekas di hati mama, Nak,"


"Ma, semua ini kalau tidak si punya rumah yang mengundang, sudah pasti tamunya tidak akan masuk sembarangan. Nggak bisa salahkan perempuannya wong papa juga mau. Sudahlah, Ma nggak bagus dendam, istighfar ma, istighfar..." Dira memegang kepalanya yang terasa pusing. Masih dalam komunikasi dengan mama Dewi, Dira mencari sandaran. Sungguh dia tidak mau lagi mengalami hal yang di kehamilan barunya.


"Dira!" suara bariton terdengar jelas bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk.


"Juna... Juna ... Dira kenapa?" suara speaker dari benda pipih.


"Kamu lagi ngobrol sama mama," Dira mengangguk lemah.


"Mas, kepalaku pusing sekali," keluh Dira.

__ADS_1


Juna langsung memapah Dira memasuki kamarnya. Setelah di rebahkan, lelaki itu langsung mengambil segelas air putih untuk istrinya.


"Aku panggil bidan Ratih ya?"


"Nggak usah, Mas. Aku cuma mau kamu disini, di dekat aku. Lagi-lagi kehamilan aku malah kembali merepotkan kamu, Mas,"


"Kenapa bilang begitu, aku kan ayahnya tentu ini sudah menjadi kewajibanku,"


"Fajar mana?" Juna tidak melihat putra semata wayangnya.


"Tidur, Mas di kamar sebelah. Tadi kami main-main terus dia ketiduran. Beberapa hari ini aku masih berusaha nyapih, tapi belum bisa. Sementara kandungan aku terus berkembang,"


"Maafkan aku, Sayang. Gara-gara aku kamu tersiksa seperti ini," Juna merasa bersalah atas kehamilan istrinya. Apalagi beberapa hari ini Dira mengeluh dadanya sering merasa sakit. Fajar mulai tidak nyaman dengan perubahan rasa ASI nya.


"Telat, Mas. Ini udah jadi baru minta maaf. Justru aku merasa bersalah sama Fajar. Karena eksistensi ASI ku mulai menurun,"


Juna memberikan segelas air putih pada Dira. Pelan-pelan Dira meneguk air putih sampai habis.


"Astaga aku lupa matikan handphone. Kayaknya masih tertinggal di luar," Juna baru ingat tadi ada suara mama mertuanya di benda pipih tersebut.


Juna mendapati handphone Dira sudah mati. Itu tandanya mama mertuanya sudah memutuskan hubungan telepon lebih dulu.


"Mas, mama mau jodohkan Vira sama Pandawa. Ternyata Pandawa itu anaknya pak Deka. Kamu ingat pak Deka pernah datang ke rumah mama beberapa bulan yang lalu,"


"Tentu aku tahu, tapi rasanya dunia sempit. Pak Deka ternyata ayah kandungnya Pandawa. Bentar bukannya mama dulu menentang mereka. Kok bisa berubah pikiran?"


"Jika Tuhan berkehendak dalam sekejap dia bisa membolak-balikkan hati manusia. Allah memang memiliki kekuasaan untuk membolak-balikkan hati seseorang, karena memang Dia punya akses di situ.


Aku senang kalau mama mulai menerima Pandawa.

__ADS_1


Itu tandanya mama sudah menurunkan ego nya untuk kebahagiaan Vira,"


"Jadi ingat perjuangan masa pacaran dulu, sayang," Juna merangkum jemarinya di sela jemari istrinya.


"Bukannya kita nggak pernah pacaran,Mas. Bukannya kita memulai semuanya setelah menikah. Mas nggak lupa kan, sebelum menikah aku hanya menerima lamaranmu dan langsung menikah," Dira mengingatkan kisah mereka dulu.


"Iya, emang kita tidak pacaran. Tapi kan kita saling mencintai satu sama lain. Hanya terhalang sama penjaga jodoh orang saja,"


"Dan itu yang aku lihat dari kisah Vira, Mas. Dari awal aku merasa dia memang sudah terpaut pada satu orang,"


"Kamu kayaknya sudah mendingan sayang, sudah enggak pusing lagi, tapi masih pucat,"


"Lumayan berkat kamu, Mas,"


"Aku?" Dira mengangguk.


"Iya, kayaknya bakal sama kayak Fajar, nurut sama papa. Anak papa semua, ya," Dira mengeluskan ke perut buncitnya.


"Sayang, ini Papa. Kamu yang baik-baik di dalam sana. Jangan bikin mama iri sama kedekatan kita. Nurut juga sama mama ya, Nak," Juna mengecup perut Dira yang mulai membuncit.


Aroma cinta begitu melekat menusuk ke dalam hati. Sungguh jika memang cinta itu benar-benar di resapi akan membuat hidup jadi berwarna. Juna merasa bahagia memiliki istri dan anak yang lucu. Sebentar lagi ada satu anggota keluarga yang akan menghiasi rumah tangga mereka. Mau laki-laki atau perempuan tak masalah asal lahir dengan sehat.


"Sayang," kata Juna.


Dira maju lebih dekat dengan suaminya. Juna masih berada di posisi tepi ranjang. Dengan penuh cinta Juna melabuhkan kecupan di kening.


Kecupan pun berpindah ke bibir. Saat lembutnya bibir beradu dengan bibir pasangan, lalu ciuman makin 'panas' ini pembuluh darah pun jadi melebar sehingga memungkinkan lebih banyak oksigen ke otak dan bernapas lebih dalam. Dira pasrah saat Juna mulai mengeksplor titik candu di tubuhnya. Menyisakan tanda merah di leher Dira. Tangan Dira mulai menjalar ke kancing kemeja suaminya.


"Oooooeeeeee ... oooooeeeeee ..." sejenak mereka melepaskan aktivitas. Dira langsung berlari ke kamar samping.

__ADS_1


"Gagal lagi," rutuk Juna.


__ADS_2