SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 141


__ADS_3

"Sayang, aku kayaknya bakal lama pulangnya." lapor Feri pada istrinya melalui sambungan telepon.


"Emangnya mau kemana, Mas?" tanya Tina.


"Aku mau nengokin papa. Sudah lama sejak papa meninggalkan rumah tidak pernah aku jenguk. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku pulang agak lama."


"Kenapa nggak ajak aku, mas? aku juga mau ikut nengokin papa. Kalau tahu kan aku bisa masak buat papa."


"Iya, maaf. lain kali aku ajak kamu, sayang. Ini juga mendadak sih. Tadi pas belikan ayam bakar pesanan mama. Aku jadi ingat papa. Sekalian aku belikan buat papa dan keluarga temannya itu.


Oh ya ayam bakar pesanan mama tadi aku kirim melalui gojek. Soalnya kalau nunggu aku takutnya nggak enak lagi."


"Oh, tadi ada yang antar makanan kata Bi Inah. Mungkin itu yang pesanan mama kali ya. Yasudah, sayang, kamu nyetirnya hati-hati ya. Jangan ngebut."


"Iya, sayang terimakasih sudah diingatkan. Aku janji nggak akan ngebut. Di aku mau ngomong sama my baby.


Anak papa, jangan rewel ya. Jangan bikin mama kamu capek. Nanti papa pulang, papa mau ke tempat opa dulu, ya. Mmmmuuaaah."


Setelah menutup teleponnya. Feri kembali melanjutkan perjalanan ke rumah pak Saiful. Sejak dia menjadi calon ayah, Feri mencoba belajar dari yang terjadi di masa. Belajar bagaimana papanya mendidik dirinya walaupun pada akhirnya kecewa. Kecewa yang di rasakan Feri saat itu cukup dalam. Papa yang sempat menjadi panutannya.


Feri kini mulai menerima perubahan papa nya yang ingin bertobat. Ingin dekat Allah, saat Andre minta diantar ke rumah Saiful, Feri pun menyanggupi keinginan Andre. Walaupun Feri sudah menahan papanya supaya tetap di rumah sambil di carikan rumah. Sayangnya Andre menolak keinginan anak.


"Papa sudah tua, kalau kamu mau beli rumah nanti mubazir. Kan papa tinggal sendiri, tinggal di rumah sendirian. Lebih baik kamu simpan biayanya untuk rumah tangga saja."


"Tapi, pa ..."


"Papa mohon sama kamu, Feri. Tidak usah belikan papa rumah. Papa mau tinggal bersama teman papa. Sekalian cari kerja. Papa sudah lama tidak kerja sejak berhenti sama keluarga Rahansyah."


"Kenapa papa berhenti? setahu Feri keluarga itu orang baik."


"Papa sering sakit-sakitan, Feri. Jadi tubuh papa sudah tidak produktif untuk bekerja sebagai sopir. Walaupun sebenarnya papa sudah senang sama mereka."

__ADS_1


"Jadi rencana papa apa? kerja lagi?" Andre mengangguk kecil.


"Kalau papa mau kerja Feri bisa minta Juna ajak papa ke Lembang. Kata Juna ada vila om Johan yang tidak ada yang jaga."


"Tidak usah, nak. Papa mau diajak jadi marbot di dekat rumah Saiful. Rencana papa mau tinggal di sana saja. Bebas uang kontrakan. Papa minta maaf kalau sudah merepotkan kamu dan mama kamu."


Mobil yang Feri kendarai berhenti di depan gang kecil. Feri mencari parkiran yang pas agar tidak menghambat lalu lintas sekitar. Kakinya turun dari mobil. Tak lupa membawa bungkusan makanan yang sudah di belinya tadi.


Feri memasuki gang kecil yang bernama gang Patih. Gang yang jauh dari keramaian dan berada di belakang gedung besar dan bertingkat. Anak-anak kecil berlarian. Suara ketak ketuk lato-lato pun terdengar di setiap rumah.


Kaki Feri berdiri di depan rumah cat putih berpagar bambu. Tampak seorang lelaki paruh baya duduk membersihkan motornya. Feri pun mengucapkan salam pada lelaki itu. Tak lama lelaki itu menengadah ke arah pagar. Di sambut senyuman khas.


"Ya Allah, nak Feri. Saya kira siapa? ayo masuk, nak. Maaf, nih bapak sedang benerin motor." Saiful membuka pagar dan mempersilahkan tamunya masuk.


Feri duduk di kursi rotan beralas bantal panjar. Matanya memandang ke sekelilingnya. Dia pun berfokus pada photo photo tertempel di dinding. Salah satunya foto seorang pria muda berbaju army.


"Itu anak bapak?"


"Iya, nak. Anak saya yang satu-satunya. Itu waktu dia masih sekolah tahap pertama. Dia memang bercita-cita menjadi tentara. Maka itu dia sering bantu istri saya jualan.


"Sudah pasti anak bapak sudah jadi tentara yang berhasil sekarang."


"Itu photo pertemuan kami yang terakhir. Patra meninggal dunia setelah bertemu dengan kami. Dia di temukan meninggal dunia di gedung latihan. Sampai sekarang kami belum menemukan titik terang pelakunya."


Feri memandang raut wajah pak Saiful. Bukan maksud dia membuka luka lama pak Saiful. Ada rasa tidak enak karena membuat mereka teringat pada anak yang sudah tiada.


Sejenak ruang tamu itu senyap. Feri dan pak Saiful tenggelam dalam pikiran masing-masing. Feri langsung ingat pada tujuan utamanya.


"Maaf, pak. Saya tidak bermaksud..."


"Tidak apa, nak Feri. Sebenarnya ada apa nak Feri datang ke sini?"

__ADS_1


"Saya kesini menjenguk papa saya. Apakah dia ada disini, atau masih di tempat kerja?"


Pak Saiful terdiam sesaat. Seakan bingung harus memulai pembicaraan darimana. Tangannya terus melipat.


Feri melihat hal itu langsung menyimpulkan ada sesuatu yang di sembunyikan pak Saiful.


"Pak, apa papa saya masih kerja di masjid dekat sini?"


"Anu... aduh bagaimana saya harus menjelaskan?"


"Apa terjadi sesuatu sama papa saya?" tebak Feri.


"Sebenarnya begini nak Feri, satu hari setelah diantar kesini, pak Andre langsung meminta tinggal di masjid. Sebuah kamar kecil di dekat WC. Saya terus mewanti-wanti beliau agar pindah ke tempat lain saja. Dia menolak dan tetap kekeuh tinggal disana. Hingga setelah satu minggu disana, suatu pagi pak Andre menemukan kotak amal kosong di depan kamarnya. Tentu saja pihak masjid mau membawa pak Andre ke polisi."


"jadi papa saya sekarang di penjara?" suara Feri terdengar meninggi.


"Tidak, pak. Saya menjamin agar dia bebas dari penjara. Karena saya yakin dia di fitnah. Tapi tidak ada yang percaya. Saat saya bawa ke rumah. Orang-orang demo. Mereka minta Andre di usir. saya tidak bisa apa-apa, nak. Dan saya tidak bisa melarang saat pak Andre memilih meninggalkan rumah. Tanpa tahu kemana tujuannya."


Feri mengusap wajah dengan kasar. Tangannya mengepal keras.


"Apa bapak tahu keberadaan papa saya?"


"Dia pernah bilang kalau mau tinggal di panti jompo. Katanya disana dia banyak teman. Tapi panti jompo yang mana saya tidak tahu.


Feri membuka gawainya. Tangannya menari di atas layar lalu menempelkan diatas layar tipis itu.


"Riko, saya minta kamu cari tahu semua panti jompo yang ada di Jakarta. Segera hubungi saya setelah kamu dapat informasinya." perintah Feri.


"Buat apa, pak? jadi saya bisa kasih alasan."


"Kamu cukup cari alamatnya dan kabari saya!"

__ADS_1


"Baik, pak."


Papa dimana, Pa.


__ADS_2