SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 52


__ADS_3

Suara lantunan Kalam cinta terdengar di sebuah rumah kecil. Rumah sederhana yang berada di salah satu gang kota Jakarta. Lantunan merdu berasal dari wanita cantik yang mendiami rumah tersebut. Tak hanya suara merdu nan cantik. Suara kecil pun ikut menyambung bacaan si wanita.


Si wanita dan suara kecil itu menyudahi bacaan mereka. Selepas membaca Alquran biasanya ditutup dengan mengucapkan shadaqallahul adzim.


Yang artinya Maha benarlah Allah yang Maha Agung". Sebagaimana diketahui, Allah memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir kapanpun dan di manapun.


Setelah membaca kalam cinta tersebut. Keduanya bersiap-siap untuk melaksanakan aktivitas selanjutnya. Udara subuh yang sangat dingin membuat dirinya lebih memilih memasak air hangat untuk mandi. Bukan sok atau apalah, beberapa hari ini flu terus menyerang. Kalau dibiarkan bisa menghambat aktivitasnya.


"Kak," sapa Amar sambil menenteng handuk di pundaknya.


"Iya, Mar." Tina masih asyik menyiapkan sarapan untuk bekal sekolah. Tina takut nanti kalau dia tidak sempat memasak untuk adiknya. Karena pulangnya sering sore kadang menjelang isya baru sampai dirumah.


"Aku pindah sekolah yang dekat saja, kak."


"Kenapa? apa sekolah kamu yang sekarang tidak bagus?"


"Bagus, kak. Cuma ...." Amar tidak melanjutkan ucapannya.


"Ada apa? cerita sama kakak?" Tina mengajak adiknya duduk di meja makan.


"Kak, aku minder sekolah disana. Semua temanku di jemput sama orangtuanya pakai mobil. Amar nggak minta yang mewah kak. Amar cuma pengen punya teman disana." jawab Amar.


Tina memeluk adik semata wayangnya. Meskipun mereka sudah banyak di bantu oleh Feri dan budenya. Tetap saja Tina tetap berusaha mencukupi kebutuhan adiknya. Tidak mau bergantung pada mereka. Apalagi sebentar lagi dia akan menikah. Sudah pastinya kebutuhannya akan berbeda dengan sebelumnya.


"Iya, kakak akan cari sekolah yang setara dengan kebutuhan kita. Kakak cuma nggak enak sama kak Feri. Mereka yang masukkan kamu kesana. Kamu tahu kan hadiah yang katanya dari Arjuna ternyata dari Feri. Mungkin karena dulu kakak jauhkan dia." jelas Tina.


" Eh, kamu mandi air hangat ya,Mar. Itu airnya sudah masak."Tina mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kak. Udara dingin banget." Tina menyiapkan air hangat untuk mandi Amar.


Setelah mandi, Amar pun sudah bersiap-siap untuk ke sekolah. Bersamaan dengan Tina yang sudah siap pergi kerja. Tina memasukkan bekal Amar karena adiknya bakal pulang sampai jam 12 siang.


Taman di depan kantor notaris tempat dia bekerja saat ini menjadi tempat pertemuan jam makan siang. Meskipun kota Jakarta baru saja habis di guyur hujan, tak menyurutkan wanita itu untuk menunggu sang tunangan. Setelah beberapa menit, Tina merasa ada menutup matanya secara tiba-tiba.


"Mas ...", tebak Tina.

__ADS_1


"Iya," suara itu terdengar nyata.


"Please, ngapain pake tutup mata segala."


"Sebelum aku buka mata, kamu make a wish dulu. Apa permintaanmu yang paling dalam. Harus diucapkan secara lantang."


"Mana ada? yang namanya make a wish itu ngucapnya dalam hati." protes Tina.


"Yaudah, aku nggak akan lepas."


"OOO... nggak mau lepas, ya."


Tangan Tina meraba kerah baju Feri. Setelah mendapat sesuatu yang bisa dia tarik, tangan Feri terbuka, tapi bibirnya meluncur kearah benda ranum tersebut. Lama mereka saling terdiam menikmati momen tersebut. Tina langsung mendorong tubuh kekasihnya. Mengingat mereka sedang di tempat umum "Nakal kamu, ya." protes Tina.


"Tadi siapa yang mulai duluan. Kamu yang mancing aku tadi." kekeh Feri.


"Tadi kamu bilang mau bicara sesuatu sama aku, sayang." Tangan Feri menjalar ke sela-sela rambut Tina.


"Iya, ada dua hal yang mau aku omongin ke kamu, Mas. Pertama soal pernikahan kita. Tapi maaf, bahasan ini agak sensitif, Mas."


"Apa yang mau kamu omongin? kalau kamu mau menunda lagi, aku ingin tahu apa alasannya lagi?"


"Apa kamu sudah bertemu papamu?"


Deg! benar kata Tina. Apa yang akan di bahas Feri benar-benar sensitif. Pembahasan soal papanya merupakan hal yang benci dia jelaskan. Sikap sang papa yang harusnya jadi pengayom malah jadi penghancur di keluarga mereka.


"Kenapa kamu nanya soal itu? tanpa dia kita tetap akan menikah."


"Aku hanya ingin kamu memaafkan papamu. Dia sudah tobat. Kamu lihat masjid di depan, aku sering bertemu papa kamu yang sholat disana. Kalau kamu nggak percaya nanti pas ashar coba sholat disana." saran Tina.


Dengusan nafas Feri menembus indera pendengaran Tina. Raut wajah gusar terpampang jelas tidak membuat Tina takut dengan kekasihnya. Dengan tenang Tina menuntun Feri kembali duduk di sebelahnya. Tangan Tina menggenggam erat menguatkan lelaki itu.


"Mas, kamu tahu? saat mengetahui papaku ternyata punya anak lain, hatiku sakit banget. Papa yang selama ini terlihat setia dan tampak bahagia sama mama. Ternyata pernah memberikan luka mendalam di keluarga. Dan mama menutupnya sangat rapat demi anaknya yaitu aku dan Amar.


Setelah aku mengetahui kalau Meyra ternyata adik satu ayah. Ada dentuman keras menusuk dada. Papa yang selama ini menjadi standar pria idaman buat aku, ternyata ayahnya Meyra.

__ADS_1


Tapi setelah aku pikir-pikir, buat apa aku membenci terlalu dalam. Seburuk-buruknya papa, dia tetap orang tua aku, Mas. Dia tetap ayah aku dan Amar."


"Intinya?"


"Intinya kalau Tuhan saja bisa memaafkan umatnya yang lalai. Kenapa kita tidak bisa memaafkan orang yang pernah menyakiti kita?


oke, aku tahu luka yang diberikan om Andre begitu dalam. Mungkin sulit di maafkan. Tapi selama dia bisa memperbaiki diri apa salahnya kembali menjalin silaturahmi. Ada mantan pasangan tapi tidak ada mantan anak."


“Saya tidak memintamu untuk memaafkan atau jangan marah pada orangtuamu, tetapi berusahalah untuk melihat mereka sebagai manusia biasa. Turunkan mereka dari tempat tinggi yang selama ini kamu persepsikan pada diri mereka. Ini memang sangat sulit untuk bisa dipahami anak kecil, tapi karena sekarang kamu adalah seorang dewasa, kamu harus berusaha untuk memahami mereka.”


Untuk bisa memaafkan, kita harus lebih dulu bisa memahami bahwa semua orang adalah manusia biasa yang sudah pasti tak akan luput dari sifat lupa dan salah. Tidak mungkin untuk berharap manusia untuk tidak menyakiti atau mengecewakan karena memang manusia tak bisa lepas dari alpa dan kesalahan.


Adalah hal yang terkadang sulit untuk dilakukan oleh seseorang. Untuk bisa memaafkan orang lain, seseorang bahkan bisa melalui proses yang panjang. Oleh karena itu, tidak semua bisa memaafkan orang lain.


Tina berharap tidak ada lagi kebencian yang di tanamkan Feri pada orangtuanya. Walaupun sulit memberikan kata maaf, karena manusia tidak ada yang sempurna.


"Memaafkan itu lebih mulia daripada membenci atau bermusuhan. Mengampuni kesalahan orang lain bermanfaat bagi diri sendiri karena hal tersebut dapat membuat hatimu menjadi lebih tenang dan penuh kedamaian.


Kamu saja bisa memaafkan aku. Padahal waktu SMA aku yang membully kamu. Aku dan Glen yang sudah buat kamu hampir dikeluarkan dari sekolah.


Feri aku mau nanya, apa kamu masih dendam sama Glen?"


Feri menghirup nafas dalam-dalam. Jujur dia masih belum bisa memaafkan Glen, rasa sakit dan kecewanya masih bersarang di dadanya. Dulu itu yang dia rasakan pada Tina, saat menemukan wanita itu bekerja di kantornya. Dulu dia juga membenci Tina dan ingin menghancurkan wanita itu. Salah satu mengancam Glen untuk menceraikan Tina sebagai istrinya.


Tapi nyatanya saat Tina berhenti dari kantornya, Feri merasakan ada yang hilang. Wanita yang dia bully selama menjadi OB, wanita yang selalu melayangkan protes ketika dirinya semena-mena di luar batas. Sikap Feri yang membalaskan sakit hatinya saat SMA dulu. Feri mendatangi kediaman Tina, memastikan keadaan wanita itu. Hatinya tersulut panas saat mengetahui kalau Tina dekat dengan Jamal.


Gila memang! tapi itulah cinta. Feri berusaha meyakinkan Maryam, mamanya Tina, tentang keseriusannya. Feri terus mendatangi rumah Tina seakan rumah sendiri. Amar dan Maryam membuka silaturahmi dengan Feri, tapi meluluhkan hati Tina masih penuh perjuangan.


"Dan sekarang kita berbuah manis." ucap Feri tiba-tiba.


"Kamu ngomong apa, sih? apa kamu sudah menerima papamu?" Tina menimpal ucapan Feri barusan.


"Aku balik kantor, ya? ini sudah lewat jam satu. Kamu juga balik kantor, kan? atau mau ikut aku ke kantor?"


"Ngapain aku ke kantormu, Mas? aku juga punya kerjaan." Tina pun ikut berdiri.

__ADS_1


__ADS_2