
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Deka saat dokter keluar dari kamar khusus untuk putranya.
Dokter memandang sekilas kearah sosok yang masih berkutat dengan alat medis. Sesekali menarik nafas dalam-dalam, kemungkinan pasiennya itu akan betah dengan bantuan alat medis. Sejak lelaki itu di pindahkan ke rumah kediamannya Dirgantara Merdeka, seorang pengusaha sukses memiliki banyak bidang usaha, perkebunan teh di Sukabumi, agen biro angkutan barang pun juga miliknya.
"Kalau saya boleh jujur kesempatan itu sangat tipis. Ada bekas benturan keras di kepalanya, ada beberapa kemungkinan salah satunya geger otak dan bisa menyebabkan kebutaan. Untuk kakinya mengalami keretakan jadi seandainya dia sadar hanya memakai gips atau mungkin hanya di kursi roda. Saya merasa ini bukan korban kecelakaan lalu lintas melainkan di keroyok memakai benda keras,"
Pasien Harus dibantu dengan cuff tracheostomy atau manset trakeostomi, yaitu tindakan medis berupa pembuatan lubang pada bagian depan leher untuk memasang tabung pernapasan. Lubang itu berfungsi menggantikan hidung dan mulut sebagai jalur pernapasan.
Deka memandang putra yang sudah empat bulan dia temukan. Dari informasi tentang keluarga Hendarso Wijaya yang dulu memperkerjakan Sekar, Kekasihnya. Lalu beralih ke sosok Khairul yang menjadi orang terdekat keluarga Hendarso Wijaya. Sayangnya dia belum sempat menemui Khairul untuk mengetahui apa yang terjadi. Salah satu orang suruhannya mengabarkan kalau putranya di rawat rumah sakit Medika.
Tak berlangsung lama Deka langsung meluncur ke rumah sakit. Mendapati putra kandungnya terbujur tak berdaya di sana. Tubuhnya masih bertopang pada alat-alat medis. Dokter pun menyatakan kalau kemungkinan sembuh sangat kecil.
Deka tidak akan menyerah kalau bisa dia akan bawa putranya ke luar negeri. Namun sepertinya dia masih kesulitan mendapatkan izin dari sang ibu, Helena. Bahkan keputusan Deka membawa anaknya ke rumah pun di tentang oleh Helena.
Bagi sang ibu, Cucunya hanya Fadli seorang. Walaupun berasal dari darah daging putra tertuanya.
"Aku tidak akan membiarkan anak haram itu tinggal disini. Nanti apa kata orang kalau kamu membawa kesini,"
"Dia juga cucu mama, anaknya Sekar. Anakku juga,"
"Cucuku cuma Fadli, bukan dia. Kalau kamu masih ngotot bawa dia ke sini jangan harap mama mau membuka pintu, ini rumah mama juga,"
"Fadli itu anak abang Zaki, bukan anakku. Selama ini aku sudah bertahan mengalah sama keinginan mama untuk menjadi ayah pengganti untuk Fadli. Mama tahu aku mencari Sekar, kan?"
__ADS_1
"Karena itu mama menikahkan kamu dengan Dinda. Supaya kamu berhenti mencari Sekar. Dia sudah tiada, anaknya sudah bahagia dengan keluarga barunya. Kenapa kamu malah membawanya kembali ke sini?"
"Jadi mama sudah tahu soal ini. Satu-satunya keturunan yang aku punya hanya dia, Ma. Satu-satunya penerus usahaku hanya dia,"
Deka akhirnya membawa anaknya ke rumahnya yang lain. Rumah yang jauh dari jangkauan hiruk-pikuk perkotaan. Itu juga dekat dengan usaha cabang Biro jasa angkutan umum miliknya. Setelah Fadly meninggal dunia, Deka tidak pernah pulang ke rumah mamanya. Ini sudah empat bulan dia tinggal bersama putranya dan juga dua perawat pria.
"Siapa namanya?" tanya Deka pada salah satu orang suruhannya.
"Pandawa Danuarta, Pak,"
"Tapi saya harus ekstra hati-hati mengeluarkan dia dari rumah sakit. Harus ada alasan kuat untuk menghindari dari penjagaan. Soalnya dari pihak rumah sakit tidak memungkinkan untuk membawanya pulang. Apalagi masih dalam pengawasan polisi,"
"Kenapa dia sampai di jaga polisi?"
"Siapa keluarga itu? aku harus bikin perhitungan sama mereka,"
"Saya kurang tahu, pak,"
"Yasudah, kamu boleh kembali," Deka pun duduk di sofa sambil membaca berita di handphone.
Baru saja dia hendak berdiri, terasa getaran dari kantong celananya. Deka memandang nomor telepon terpampang di layar handphonenya. Ada rasa malas mengangkat telepon dari si pemilik nomor. Serasa sudah hapal dengan tabiat orang itu.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Hey, Bang. Ketus sekali kamu sama adik iparmu ini," tawa remeh terdengar dari ujung sana.
"Kau mau apa, Seno? Aku bukan kakak iparmu lagi sejak Mbak-Mu meninggal dunia,"
"Hoooh, begitu ya sekarang. Emang aku nggak tahu abang pindah karena nyimpan anak dari mantan pacar. Oh, apa perlu sampai media tahu kalau abang punya anak haram.
Dirgantara Merdeka, seorang pengusaha sukses ternyata punya anak lain di belakang istrinya,"
"Lakukan saja, aku tidak peduli. Kau tahu Seno, semua teleponku berhubungan dengan kepolisian. Bukan hanya aku saja tapi juga keluargamu. Bisa jadi kalau setelah ini polisi akan melacak keberadaanmu lewat sambungan telepon,"
Terdengar suara memutuskan telepon dari ujung sana. Deka tertawa setelah leluconnya membuat adik bungsu mendiang istrinya menutup teleponnya. Padahal dia tidak sama sekali berhubungan dengan polisi. Dia tahu kalau Seno masih buron. Hanya saja dia tidak tahu kasus apa yang sudah di perbuat Seno.
"Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu. Berilah keselamatan untuk orang-orang terdekat hamba. Ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka merawatku sejak kecil.
Ya Allah, lindungilah anak hamba dari segala marabahaya yang mengintai. Lindungilah semua yang berada dalam keluarga anda.
Janganlah Engkau menimpakan bahaya kepada mereka, berilah pertolongan kepada kami dan berilah pertolongan kepada mereka untuk taat kepada-Mu, dan berilah kami rezeki kebaikan mereka."
Deka selesai berdoa setelah merasa bahaya akan mengintainya. Apalagi dia pasti tahu kalau Seno tidak akan tinggal diam.
"Halo, inspektur Febri. Saya Dirgahayu Merdeka. Saya barusan menerima telepon dari salah satu buronan yang bernama Barseno, dia adalah adik ipar saya. Belum lama dia menelepon untuk mengancam keluarga kami. Ini nomor yang baru saja meneleponnya saya. Saya harap anda bisa mengatasi dia," Deka menyebutkan nomor telepon Seno.
"Baik, Pak. Kami akan coba melacaknya," Komunikasi pun di tutup. Deka berharap Seno secepatnya di ringkuk. Supaya tidak lagi mengganggu ketenangan keluarganya.
__ADS_1