SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 114


__ADS_3

"Ada apa, Mas?"


Dira melihat suaminya seperti sedang pusing. Wanita itu duduk di samping Juna sambil menggenggam erat jemari suaminya.


"Tadi Ayu menelepon, katanya Maria menghubungi Tio terkait kerja sama dengan klien kita, pak Suprapto. Kamu tahu kan kalau kita sudah membatalkan kerjasama dengan mereka."


Dira ikut kaget. Kenapa Maria berani mengambil keputusan tanpa diskusi dengan Arjuna. Bukankah gadis itu hanya asisten. Kenapa Maria begitu lancang?Dira kembali menoleh kearah Arjuna. Lelaki itu membaringkan tubuhnya menatap langit dinding kamar hotel. Tangan sebelah tak lepas dari genggaman Dira.


Dira pun ikut membaringkan tubuhnya. Kali ini kepalanya menyelip diantara pundak milik Arjuna. Dira pun membelitkan tangannya di pinggang Juna. Mungkin dengan cara ini bisa menenangkan hati suaminya. Walaupun belum tentu ampuh. Setidaknya dia sudah mencoba.


"Mas," suara lirih Dira terdengar mendayu di gelombang pendengaran Juna.


"Sayang, aku salah apa, ya? begitu banyak masalah yang terjadi setelah pulang dari Tulang Bawang. Apakah ini teguran dari Tuhan?"


"Mas, masih memikirkan soal Maria tadi, ya? bukankah ada Tio yang bisa menangani semua ini. Bukankah kamu pernah bilang kalau Tio merasa di anak tirikan. Kalau menurut aku ya, Mas. Kita kasih kesempatan Tio membereskan masalah ini."


"Aku juga tidak tahu, sayang. cukup kaget saat tadi Ayu menyampaikan hal itu. Buat apa Maria berbuat seperti itu? apa karena aku sudah memecatnya?"


Dira sedikit menengadahkan wajahnya kearah Juna. Dia baru tahu kalau Maria bukan asisten suaminya.


"Sejak kapan, Mas?"


"Sejak aku pulang dari Tulang Bawang. Aku memberhentikan Maria, karena dia bilang ke orang-orang kalau aku ada hubungan dengan dia.


Aku tidak suka dengan sikapnya yang seperti ini. Selama ini aku anggap dia sebagai sahabat, karena waktu SMA kami lumayan akrab.


Tapi bukan berarti dia bisa sesuka hatinya mendekati aku. Harusnya dia tahu, aku sudah beristri. Eh, dia malah bilang ke orang kalau kamu punya hubungan. Jadi aku berhentikan saja."

__ADS_1


"Cuma alasan itu?" jawab Dira.


"Iya, aku juga sudah lama merasa kalau kamu kurang begitu suka dengan Maria. Iya, kan sayang. Paling aku sudah siaga supaya rumah tangga kita aman dan bahagia." Juna mengecup kening istrinya.


"Ya meskipun ada yang mencoba masuk, tapi kalau si empunya rumah tetap kuat iman. Nggak akan terpengaruh, Mas. Jangan seperti papa yang gampang goyah. Jangan seperti mama yang terlalu mandiri sampai dia lupa sudah punya suami. Mama dulu terlalu sibuk kerja. Sampai anak-anaknya lebih banyak sama papa. Sama opa Han juga.


Waktu kak Feri kena kasus narkoba, yang katanya di jebak sama temannya. Opa Han yang jaminkan. Itu juga sempat bertentangan sama papa karena papa masih percaya kalau Feri makai barang itu."


Juna juga ingat hal itu. Dimana Feri di bebaskan setelah semalaman nginap di prodeo. Akan tetapi dia tidak tahu kalau itu campur tangan opa Han. Dia juga tidak mengenal opa Han saat itu.


"Percaya sama aku, sayang. Aku tak mungkin berpaling dari kamu. Dapetin kamu aja susah. Di ibarat es di tengah matahari. Mending kalau cair, ini lama bener cairnya. Aku sampai menyerah ketika tawaran perjodohan itu datang. Ku pikir ini caranya melupakan kamu. Tapi nyatanya kita malah di pertemuan dalam perjodohan itu. Jadi kamu tahu kan artinya."


"Iya, tahu. Kalau sampai ke ujung dunia pun yang namanya jodoh pasti akan bertemu kembali. Jadi bagaimana menyingkapi soal kak Maria?"


"Aku akan mencoba bicara sama Maria waktu pulang ke Lembang. Aku yakin bisa membuka pikiran dia. Eh, tapi orangtuanya Maria kan di Bandung. Apa kita ke rumahnya besok?"


"Aku terserah kamu saja, Mas. Aku yakin Maria itu sakit hati karena kamu pecat cuma karena masalah pribadi bukan karena pekerjaan. Sekarang kita ngapain? hujan masih lebat." Dira memandang langit dari kaca kamar hotel. Juna mengangkat tubuh Dira hingga saling terhempas di atas ranjang.


...*****...


Sehari sebelumnya


Maria sudah bersiap-siap pergi menemui pak Suprapto. Pak Suprapto yang terlebih dahulu mengajak gadis usia 29 tahun itu untuk bertemu. Tentu saja Maria menyanggupi, dia punya rencana tersendiri untuk Arjuna. Rasa sakit hatinya karena di pecat karena masalah pribadi belum terobati. Bagaimana mungkin dia di berhentikan hanya karena dia punya perasaan sama Arjuna. Meskipun begitu toh Arjuna tidak tergoda. Jadi masalahnya dimana?


Pak Antoni, Papanya Maria melihat anak gadisnya sangat cantik. Dia pun berpendapat kalau Maria akan berkencan dengan seseorang yang istimewa. Pak Antoni tidak pernah memberi titik berat dalam memilihkan menantu. Dia serahkan semua ke Maria. Dulu pak Antoni pernah mendekatkan Maria dengan salah satu anak tuan Shahab. Sayangnya tidak ada yang cocok dengan putrinya.


"Anak papa cantik sekali. Mau kemana? Kalau janjian dengan klien rasanya tidak mungkin. Bukankah kamu tidak lagi kerja di tempat Arjuna?"

__ADS_1


"Aku ada acara sama teman-teman, Pa. Mumpung jadi pengangguran, nanti kalau sudah dapat kerja, akan susah kumpul bersama lagi."


"Tapi kalau menurut papa, lebih baik kamu memikirkan soal pasangan. Usia kamu itu sudah matang. Kamu tidak mau kan betah jadi perawan tua? atau jangan-jangan anak papa ini sudah punya pasangan tapi belum di perkenalkan. Kalau pria itu belum menunjukkan keseriusan mending kamu cari yang lain, nak."


"Aku hanya mau Arjuna, pa." batin Maria.


"Belum saja, pa. Nanti aku perkenalkan. Maria pergi dulu, pa. Soalnya lokasi kumpulnya jauh." Maria menyalami ayah papanya. Sungguh tiada maksud berbohong.


Setelah mengelilingi kota Bandung dengan mobil pribadinya. Akhirnya Maria sampai di tempat tujuan. Tentu saja dengan lokasi yang diminta pak Suprapto. Entah kenapa Lelaki tua itu memintanya bertemu di lobby salah satu hotel ternama. Apakah ada tujuan lain di balik pertemuan itu. Maria enggan menebak. Toh nanti juga dia tahu.


"Maria."


Sepertinya pak Suprapto sudah sampai. Dia pun berdiri menyalami lelaki itu.


"Bapak apa kabar?" tanya Maria basa-basi.


"Saya baik. Kamu pasti tidak baik-baik saja, kan." Pak Suprapto duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya.


"Saya tentu baik-baik saja. Ada apa bapak meminta pertemuan ini. Apakah ini untuk urusan kerja bukan? atau hal yang lain."


"Saya tahu kamu di berhentikan Arjuna karena kecemburuan istrinya. Saya juga tahu kalau kamu sudah lama suka sama Arjuna. Kamu mau memiliki Arjuna dan saya mau mengadu domba Arjuna dan Tio. Bagaimana?"


Maria tersenyum kecil. Rupanya lelaki di depannya punya tujuan yang sama dengan dirinya. Maria mengangguk tanda menyetujui rencana yang di tawarkan pak Suprapto.


"Tapi tidak gratis, Maria."


Maria mengerutkan dahinya. Lelaki itu mendekatkan diri di samping Maria.

__ADS_1


"Aku mau servis yang cantik dari kamu."


"Tidak masalah, pak. Asalkan bapak menepati janji." Maria duduk di atas paha pak Suprapto. Menyentuh kulit lelaki yang sudah berambut putih itu.


__ADS_2