SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 29


__ADS_3

Bip .. bip ... bip ...bip


Suara monitor rumah sakit seakan berlomba dengan kencangnya degup jantung Salma. Tampak lelaki berjas putih berdiri di depan ranjang milik Johan. Seragam berwarna biru plus masker yang senada, tak bisa menyembunyikan wajahnya yang sembab. Sudah hampir dua hari Johan dirujuk ke rumah Sakit Hermina di kota Bandung. Selama ini fokus Salma hanya untuk suaminya. Di sebelah ranjang sebelah kanan tampak Ayu dan Tio, suaminya sedang duduk sambil menggenggam tangan sang papa. Berharap ada keajaiban untuk papanya. Suara susutan hidung terdengar dari wanita hamil tersebut. Tangan kekar itu tak hentinya menenangkan wanita halalnya untuk tidak terus bersedih.


"Sudahlah, sayang. Kamu jangan sedih terus, kita berdoa agar papa Johan bisa sembuh sediakala." bujuk Tio.


"Andai kak Juna cepat datang, mungkin papa akan baik-baik saja." ucap Ayu.


Salma mendengar ucapan Ayu langsung menjelaskan duduk perkaranya. Dia menjelaskan kalau Dira keguguran dan Salma yakin Juna tidak akan.


"Kakakmu tidak bisa datang. Dira mengalami kecelakaan di rumah sehingga kandungannya tidak bisa di pertahankan. Dira keguguran. Masa itu harusnya Juna berada di samping istrinya. Jadi kita harus mengerti, Yu."


"Andainya Dira mau ikut kak Juna. Pasti kak Juna nggak akan bolak balik Jakarta-Bandung. Sekarang saat keadaan seperti ini kak Juna malah mementingkan Dira daripada orangtuanya." suara Ayu bernada kesal.


"Sayang, kamu nggak boleh begitu. Dalam hal ini aku setuju kalau dia harus ada di samping Dira. Kalau aku di posisi kamu juga akan melakukan seperti itu. Atau kamu mau aku ninggalin kamu demi orangtuaku?"


"Enggak, mas. Tapi harusnya mas Juna sudah bawa Dira tinggal di Lembang. Buktinya sampai sekarang mas Juna harus ninggalin pabrik demi istrinya."


"Kan ada aku, sayang. Jadi kamu bilang begitu seolah tidak percaya kinerja aku. Ya, aku tahu kalau statusku hanya menantu. Tapi aku nggak mau dianggap numpang hidup dimata keluargamu."


"Maaf, mas. Aku nggak ada maksud seperti itu." Ayu merasa suaminya minder.


Salma mendengar ucapan menantunya merasa tidak enak. Johan memang terlihat mengandalkan Arjuna ketimbang Tio. Padahal Tio juga banyak andil dalam progres pabrik. Sejak dulu Juna lah yang diharapkan Johan untuk penerus pabrik. Johan masih memandang Tio yang hanya orang luar bagi keluarganya. Salma pernah meminta suaminya untuk melibatkan Tio dalam setiap proyek. Sama seperti Arjuna yang selalu membawa Tio dalam setiap pekerjaannya. Satu yang Salma sadari, keadaan yang menimpa mereka tidak membuat Johan belajar dari pengalaman. Hatinya yang masih kokoh dengan dinding kuat. Keangkuhan masih bersarang di hati suaminya.


Dulu Juna sempat pergi dari rumah karena hubungannya di tentang oleh Johan. Salma juga pernah di butakan hal yang berbentuk materi.


Flashback.


"Pa, aku tidak bisa meneruskan hubungan dengan Delia. Kami tidak sejalan, pa. Seandainya papa di posisiku pasti akan melakukan hal yang sama." Jawab Juna.


"Posisimu? kamu dikasih kehidupan yang enak kamu malah bilang begitu." Berang Mamanya Juna.


"Apa yang enak, ma? aku belum nikah saja sudah diatur ini itu. Aku melakukan ini harus lapor dulu sama tuan Shahab. Aku mau Dinner sama Delia dia juga yang mengatur lokasi dan biayanya. Aku merasa jadi pecundang disini." Adu Juna.

__ADS_1


"Yang buat kamu seperti pecundang itu diri kamu sendiri, Juna. Kamu dan Ayu dikasih fasilitas hidup mewah oleh keluarga Shahab. Dari biaya sekolah kamu sejak SD hingga tamat kuliah. Kamu dikasih calon istri yang bibit bebet bobotnya jelas. Tapi kamu malah menolaknya." beber Pak Johan.


"Apa karena Dira?" Mamanya Juna mendadak memberi pertanyaan.


"Jawab Juna! apa karena Dira kamu membatalkan perjodohan ini. Apa dia mempengaruhi kamu atau menjebak kamu, sehingga kamu hilang akal memilih mana yang bagus mana yang tidak." Desak mamanya Juna.


"Ma, ini nggak ada sangkut pautnya terhadap Dira. Ini masalah harga diriku sebagai laki-laki ma. Yang memecatku di kantor Tante Dewi adalah Tuan Shahab. Mama tahu nasib perusahaan Dira sama seperti usaha mama dan papa. Dulu aku juga sempat marah ketika mereka meresign-ku sepihak. tapi sekarang aku tahu alasannya."


"Pokoknya kamu temui Tuan Shahab. Tarik kembali pembatalan tersebut. Papa tidak mau tahu! Kamu mau hidup miskin lagi. Hah!" Amuk Pak Johan.


Juna berdiri di depan papanya. Seakan bersikap menentang keinginan papanya. Dia tidak akan menyerah dengan keputusannya. Dia akan memperjuangkan Dira. Karena selama ini dia sudah memperjuangkan Delia namun serasa seperti benalu.


"maaf aku tidak bisa meneruskan keinginan papa. Kalau papa mau tetap bertahan dengan bekerja pada Tuan Shahab silahkan. Tapi jangan jadikan aku tumbal dalam keegoisan kalian."


"Juna! Kalau kamu tetap seperti itu kamu bukan anakku lagi! Kamu pergi dari rumah ini!"


"Baik! aku pergi dari rumah ini! Aku bisa mandiri tanpa campur tangan kalian." Juna bangkit dari ruang tamu keluarganya.


Flashback off


Kejadian itu malah semakin membuat Juna murka. Dia sempat marah pada papanya karena masih mau terlibat bisnis dengan Shahab.


"Ma...Juna mana?" tanya Johan dengan ucapan terbata-bata.


"Maaf, mas. Juna sepertinya belum bisa datang. Istrinya masuk rumah sakit. Mungkin setelah Dira sehat dia bisa kesini."


"Maaa...aku mau ketemu Juna. Tolong bilang ke dia waktu ku tidak lama lagi." suara Johan masih terputus-putus.


"Papa jangan ngomong gitu. Papa pasti sembuh. Papa mau lihat anak Ayu lahir kan? pokoknya papa harus sehat."


"Papa mimpi lihat Juna sambil tersenyum. Papa mau ketemu Juna."


"Mama telepon jeng Dewi dulu ya?"

__ADS_1


"Pa, pucuk cinta ulam tiba. Baru saja aku mau hubungi jeng Dewi. Dia sudah menelepon. Mama angkat dulu, ya, pa."


Salma mengangkat telepon dari besannya. Sekaligus dia juga ingin tahu kabar menantunya.


"Assalamualaikum, jeng Dewi." sapa Salma.


"Waalaikumsalam, jeng Salma." Salma suara Dewi seperti habis menangis.


"Jeng Dewi ada apa?" tanya Salma.


"Jeng, Apa Juna sudah sampai disana?"


"Belum, jeng. Daritadi di hubungi tidak aktif. Ada apa jeng Dewi?"


"Berarti benar itu Arjuna?"


"Maksud jeng Dewi apa? kenapa dengan Arjuna?"


Lama Dewi tidak menjawab pertanyaan Salma. "Jeng tolong kasih tahu apa yang terjadi pada anak saya." Salma sudah berada di luar ruangan agar tidak terdengar suaminya.


"Juna kecelakaan, jeng. Juna kemarin lusa pulang ke Bandung buat nengok papanya. Dan semalam ada polisi ke rumah mengabarkan soal kecelakaan Juna."


Masih di rumah sakit, Salma menumpahkan air matanya. Tubuhnya terasa lemas ketika tahu putranya mengalami kecelakaan. Juna kecelakaan saat berangkat ke Bandung. Dan dari keterangan besannya jasad Juna belum ditemukan. Hanya mobilnya ditemukan dari danau. Dewi juga menceritakan kalau Dira drop saat tahu suaminya kecelakaan.


Ayu melihat mamanya linglung segera menangkap tubuh wanita paruh baya itu. Bersama Tio, ayu meletakkan tubuh mamanya di salah satu kursi rumah sakit.


"Mama kenapa?" tanya Ayu.


"Kakakmu..."


"Kak Juna kenapa? apa dia masih cari alasan buat tidak datang ke sini?" tebak Ayu.


"Kakakmu kecelakaan saat berangkat ke Bandung. Mobilnya masuk danau dan belum di temukan jasadnya." tangis Salma pecah.

__ADS_1


"Innalilahi wa innailaihi rojiun" ucap Ayu dan Tio bersamaan.


__ADS_2