
Elsa mengajak Panji meninggalkan Vira dan Dawa di kamar. Sementara itu Dawa masih dengan sikap sok cool nya tetap berkutat dengan gawainya. Ada amarah yang membendung dalam dadanya. Kekesalan atas sikap Dawa yang terkesan tidak menghargai kedatangannya.
"Sekarang jelaskan apa yang ingin kamu sampaikan, Vira"
"Sebelum aku meminta maaf sama anda. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan?"
Dawa menoleh kearah Vira lalu kembali berkutat ke gawainya "Silahkan,"
"Hal yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana saya bisa percaya sama anda. Kalau Kayla tidak mengandung anak anda. Saya menanyakan hal ini karena saya tidak mau Elsa bernasib sama dengan Kayla,"
"Bukti pada anda? untuk apa?" Dawa masih merasa mempertahankan harga dirinya.
"Untuk memastikan kalau anda mendekati Elsa tulus. Saya hanya ingin Elsa mendapatkan lelaki yang tepat. Bukan untuk pelarian saja"
"Pelarian? apa lagi itu, anda menuduh saya menghamili Kayla, sekarang anda bilang soal pelarian ckckckck!"
"Karena saya sayang Elsa. Bukan anda yang tiba-tiba muncul lalu datang mengajak Elsa menikah. Sementara urusan anda dengan Kayla belum selesai. Sebelum anda membuktikan pada saya dan juga keluarga Elsa tentang anda dan Kayla. Saya belum bisa menyetujui hubungan kalian"
"Apa hak kamu mengatur hubungan saya dan Elsa? orangtua Elsa saja sudah merestui kami. Saya dan Elsa sudah lama punya rasa. Bahkan sejak kecil dia selalu bilang kalau aku adalah calon suaminya. Maka saya kembali untuk menepati janji."
Vira mengepalkan tangannya. Itu bukan janji Danu pada Elsa, tapi pada dirinya. Vira menghirup nafas dalam-dalam. Ingatannya beralih pada janjinya pada sang mama. Janjinya untuk tidak punya rasa pada Danu.
Apa dia termasuk cemburu melihat kedekatan mereka? tidak. Ini bukan cemburu tapi identitasnya sedang di pakai orang lain. Orang lain itu sudah seperti saudaranya sendiri. Sudah bukan sekedar berteman atau sahabat bahkan lebih dari itu.
"Aku tidak masalah kalau Elsa mencintai kak Danu. Asal menjadi dirinya sendiri. Bukan memakai identitas orang lain.
Sa, kamu tahu masalah yang sebenarnya. Tapi kenapa kamu seperti ini?" batin Vira.
Dawa melirik Vira yang masih terdiam. Entah kenapa ada desiran yang berbeda melihat gadis itu. Lagi-lagi dia menepis pikirannya. Tidak mungkin dia bisa punya rasa pada anak dari lelaki musuhnya. Anak dari pria yang sudah menghancurkan kakaknya.
"Saya tidak tahu apa yang kamu pikirkan kemarin. Sebenci Itukah anda pada saya. Anda tahu kan tadi saya sudah bilang, saya mencintai Elsa. Sejak kecil kami saling mencintai. Saya kembali untuk menepati janji...."
Vira langsung menyahut sebelum Dawa menyelesaikan ucapannya.
"Oke, saya hanya minta pembuktian anda tentang ayah biologis bayi yang di kandung Kayla. Dan saya minta maaf kalau semalam saya kasar sama anda. Saya terbawa emosi karena ingat bagaimana kesedihan Kayla."
"Kalau saya tidak bisa memaafkan kamu bagaimana? gara-gara kamu saya tidak bisa beraktivitas. Saya tidak bisa pulang ke Jakarta. Dan kamu dengan gampangnya minta maaf. Berhubungan saya bukan orang pendendam, kamu di maafkan. Sekarang silahkan anda pulang saja."
"Sebelum saya pulang izinkan menyelesaikan urusan kita." Vira menarik nafas dalam-dalam lalu melanjutkan ucapannya.
"Savira Gayatri, meminta maaf kepada saudara Pandawa Danuarta karena sudah membuat anda terluka. Saya saat itu sedang dalam keadaan emosi dan mungkin tidak berpikir dalam jangka panjang. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Permisi"
"Tunggu...."
__ADS_1
"Ada apa lagi?"
"Tolong bantu saya untuk keluar kamar"
Vira menghela nafasnya lalu berjalan mendekati Pandawa yang hendak bangkit dari tempat tidur. Vira pelan-pelan membantu lelaki itu berdiri. Tubuh Dawa yang lumayan berat membuat Vira kesulitan menuntun.
Vira masih berusaha menuntun lelaki itu dengan baik. Berharap urusannya cepat selesai dan langsung pulang. Dawa memegang Headboard ranjang agar bisa menyeimbangkan posisi tubuhnya. Di bantu Vira yang tubuhnya jauh lebih mungil dari dirinya dengan melingkarkan tangannya ke tubuh Dawa. Ternyata dia belum kuat untuk berdiri sehingga tubuh Dawa kembali terjatuh di ranjang. Bersamaan dengan itu, Vira pun ikut tertarik jatuh dan tertimpa tubuh Dawa dan mencium aroma khas lelaki yang menguar ke indera penciuman nya, hatinya berirama sangat cepat.
Lama keduanya merasakan ritme jantung yang semakin kencang. Wajah Dawa tanpa berjarak dari wajah Vira. Deru nafas keduanya semakin terasa. Darah mudanya berdesir ketika melihat bibir Vira yang mungil.
"Enggak! ini tidak boleh terjadi! ingat mama, Vira. Kamu jangan menghancurkan perasaan mama"batin Vira.
"Sial! kenapa aku tidak mengendalikan diri di dekat gadis ini. Ingat Dawa kamu fokus sama Elsa. Elsa yang kamu cari selama ini. Elsa yang jadi cinta masa kecilmu. Bukan Vira, tapi kenapa aku jadi begini?" batin Dawa.
"Lepaskan!" Vira mendorong tubuh Dawa hingga terguling di sampingnya.
"Jangan cari-cari kesempatan! ingat kamu sudah punya Elsa,"
"Bukankah tadi tidak di sengaja. Kamu nya juga diam saja, atau memang sengaja mau berdua seperti ini sama saya" Dawa tidak mau kalah dan tidak mau di salahkan.
"Dasar otak mesum!" Vira berlari meninggalkan kamar Dawa.
Dawa akhir bisa meraih tongkat penyangga kakinya yang sudah disiapkan Elsa. Gadis muda itu muncul membantu Dawa untuk berjalan keluar. Di depan pintu ada Panji yang hendak menyusul Vira.
"Iya, Om hati-hati," seru Elsa saat Panji hampir hilang dari pandangan mereka.
"Itu Panji bukan?" tanya Dawa.
"Iya, Panji dan Vira sudah tunangan. Mereka cocok kan?" Dawa hanya mengangguk pelan selebihnya dia memutarkan tubuhnya ke dalam rumah.
"Sa, kita pulang hari ini. Aku mau menyelesaikan urusanku dengan Kayla. Dan ..."
"Apa kak Danu?" Elsa bergelayut manja.
"Kalau om Irul meminta aku meninggalkan jabatan. Aku akan jadi pengangguran. apa kamu masih mau sama aku?"
"Kakak tenang saja, papa pasti bantu kakak menyisihkan lowongan kerja di kantor"
"Tapi aku ingin cari kerja sendiri, Sa. Aku tidak mau dianggap numpang sama keluarga ..." Elsa menempelkan jari telunjuknya di bibir Dawa.
"Pokoknya kakak tidak usah memikirkan yang
macam-macam. Aku akan bantu kakak semampuku"
__ADS_1
...****...
Sesampainya di mobil, Panji melihat Vira hanya menoleh ke luar. Dengan wajah muramnya gadis itu tak menyadari kalau Panji sudah berada di sampingnya.
"Ra," tak ada respon dari Vira.
"Sebenarnya aku mau nanya sesuatu sama kamu. Soal di rumah Elsa tadi. kamu sebenarnya ada masalah apa sampai harus minta maaf sama Pandawa," Panji tetap mencerocos walaupun tak di respon oleh Vira.
Vira menoleh kearah Panji. Melihat posisi mobil masih di gerbang Villa Elsa.
"Kok belum berangkat, aku mau pulang," kata Vira masih bersikap datar.
"Eh, non Vira baru bangun dari bengong nya?" sapa Panji membuat Vira terkekeh.
"Mana ada bengong pakai bangun. Yang namanya bangun kan dari tidur bukan bengong," Panji tertawa akhirnya dia bisa bikin Vira cerewet lagi.
"Nah gitu dong. Ngomong kek, ngomel kek, kan kelihatan hidup,"
Panji menggenggam erat jemari Vira dengan erat. Ada rasa bahagia bila di dekat gadis itu, namun masih terselip pertanyaan, apa hubungan Vira dengan Pandawa. Kenapa sejak keluar dari rumah Elsa tak ada keceriaan yang biasa dia lihat.
Tak jauh dari mobil mereka ada orang membawa motor gede mendekati mobil mereka. Panji pun berseru seakan memang sudah janji pada si pemilik motor itu.
"Turun!" ajak Panji.
"Kok turun? itu siapa? apa om mau gadai aku?"
"Iya, kamu di gadaikan dengan bismillah," jawab Panji.
Vira mencibir di depan Panji. Dia pun turun dari mobil Panji. Lelaki itu menyerahkan kunci mobil ke si pemilik motor.
"Dia siapa, Om?"
"Itu Rully, teman satu komunitas. Aku pinjam motornya buat jalan-jalan sama kamu," jelas Panji.
"Pegang kuat-kuat!"
Vira duduk di belakang motor traktor hanya memegang ujung baju lelaki itu. Panji langsung menarik tangan Vira melingkar penuh di pinggang lelaki itu.
"Kuat-kuat, Vira. Soalnya bakal kencang bawanya", Panji melaju kencang membuat Vira makin lengket berlindung di belakang punggung Panji. Senyumnya mengembang saat melihat Vira seperti ketakutan.
"Kan romantis kalau kayak gini," batin Panji.
__ADS_1