
Keluar dari rumah sakit, Elsa melihat Pasha sudah menunggu di depan pintu gerbang. Gadis muda menghela nafas, rencananya dia ingin merasakan jalan sendirian tanpa di kawal. Sepertinya akan susah. Sejak kabar Adrian di tangkap dan juga antek-anteknya masih buronan, Irwan memperketat penjagaan untuk putrinya. Elsa tidak bisa menyalahkan orangtuanya, yakin kalau itu sebagai bentuk rasa khawatir pada dirinya.
Pasha melihat Elsa berjalan mendekati dirinya pun merapikan cara berdirinya. Bahkan rokok yang menyulut bibirnya pun di matikan. Lelaki berusia 40 tahun itu menundukkan kepalanya di hadapan anak majikannya.
Pasha merupakan salah satu dari 10 orang bodyguard yang diambil Irwan Chandra di kemiliteran. Mereka baru saja lulus dari kependidikan langsung di daulat, di berikan pelatihan. Selesai pelatihan Pasha pun langsung di daulat menjadi sopir untuk Elsa.
Pertama kali dia bertemu gadis itu saat baru kelas lima SD hingga sampai SMA. Pasha pun sudah kenal dekat dengan semua teman Elsa, termasuk Vira.
"Kak Pasha, kok masih disini, kan aku sudah bilang jangan di tunggu. Aku masih harus jaga Vira sampai ada salah satu keluarga Vira yang datang" Elsa terus mencerocos tanpa memberikan kesempatan Pasha bicara.
"Maaf, non. Tadinya saya sudah pulang ke rumah. Tadi sampai disana tidak ada yang bisa saya kerjakan ya akhirnya balik ke sini lagi."
Elsa menarik nafas dalam-dalam. Ada benarnya juga kalau diam tanpa aktivitas rasanya gimana gitu. Elsa yang mengenakan kaos oblong setelan celana 3/4, merogoh handphonenya menghubungi seseorang. Tapi lagi-lagi dia mengumpat karena yang di hubungi tidak aktif.
"Kak Dawa kemana sih? kata nya dia mau memperjuangkan Vira. Tapi saat Vira seperti ini dia malah ngilang. Mana sudah tiga hari handphonenya nya tidak aktif. Berbarengan dengan Vira di culik pula.
Kalau kayak gini kak Panji akan kembali mendekati Vira. Bukan aku iri, tapi kak Panji itu plin-plan. Gampang banget di cuci otaknya." Elsa terus mengomel tanpa memperdulikan keberadaan Pasha.
Pasha masih menunggu instruksi dari Elsa. Akan tetapi keberadaannya masih di abaikan. Dia pun memilih berjalan menuju ke mobil, mungkin di mobil lebih adem ketimbang di luar.
"Aduh," Elsa menjerit sambil memegang tubuh Pasha. Seperti ketakutan melihat sesuatu. Kepala Elsa di benamkan balik dada besar milik Pasha.
"Ada apa non? apa ada yang ganggu non Elsa? sini biar saya yang ..." Pasha mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena jantungnya berdegup kencang. Aroma parfum khas milik Elsa membuat dirinya merasa tidak karuan.
"Tadi ada kecoa, kak." suara Elsa masih terbenam di balik dada bidang milik Pasha.
"Non masih takut kecoa? non kan sudah gede," ucapan Pasha langsung mendapat tatapan tajam setajam silet.
Elsa melepaskan pelukan dari Pasha. Sebenarnya dia pun merasa aneh pada dirinya. Aroma parfum khas milik Pasha pun membuat gadis itu tidak karuan. Jantungnya berdetak lebih kencang. Serasa ada sesuatu yang membuatnya sesak yang datang mengaliri tubuhnya.
"Kenapa, Non? apa ada ucapan saya yang salah. Saya minta maaf, non. Jangan diadukan sama Tuan."
"Heh! kak Pasha nggak mau aku adukan sama papa kan? Ada syaratnya, nggak gratis," Elsa menyeringai tapi tidak membuat Pasha takut pada anak majikannya. Yang ada malah bikin dia gemes sendiri.
__ADS_1
"Apa, non Elsa? kalau saya mampu pasti saya kerjakan,"
Elsa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seakan memikirkan apa yang membuat Pasha tidak mengikutinya.
"Ini," Elsa memberi photo seorang lelaki.
"Ini bukannya yang mau ngelamar non waktu itu. Yang nggak di restui sama tuan Irwan. Non bukannya sudah putus sama dia? sampai non sempat nangis karena bertepuk sebelah tangan,"
"Kak Pasha lama-lama kayak akun gosip tahu nggak! kamu cari tahu orang ini, dan bawa dia kehadapan saya. Ini penting demi Vira!" titah Elsa.
"Baik, non. Kapan saya akan mulai?"
"Tahun depan! ya sekarang lah,'' Elsa mengeluarkan bola matanya. Yang ada malah bikin Pasha tertawa.
"Non kayak gitu tambah cantik," kata Pasha
BLUSH!
"Iyakah aku cantik?"
...*****...
"Bagaimana keadaan tunangan saya, Dok?" tanya Panji pada dokter menerima kondisi Vira.
"Nona Savira untuk kondisi tubuhnya sehat, tidak ada masalah sedikit pun. Tapi dia sedang dalam kendali alam bawah sadarnya.
Pikiran bawah sadar adalah pikiran yang berhubungan dengan energi dan penciptaan; pikiran kreatif yang melaksanakan apa yang direncanakan pikiran sadar seseorang.
Pikiran bawah sadar merupakan seperangkat emosi dan tempat penyimpanan memori yang dikenal sebagai pikiran subyektif karena secara subyektif sekedar merespon apa yang disampaikan, dikesankan, diminta dan dipustuskan pikiran sadar, tanpa membantah.
Saya tidak tahu apa yang telah terjadi selama penculikan tersebut. Akan tetapi saya yakin ada kejadian yang membuat dia seperti ini."
"Ya Allah, kenapa jadi begini Vira. Maafkan aku yang kurang tanggap atas apa yang terjadi. Seandainya aku tidak termakan ucapan om Adrian. Kamu percaya sama aku, Ra. Perjuangan kita sampai di titik ini tidaklah mudah,"
__ADS_1
Panji duduk memandang wajah Vira yang masih pucat. Sudah masuk dua malam gadis itu terbaring di tempat tidur. Panji menggenggam tangan Vira. Tangannya membelai rambut serta mengecup kening Vira. Selang infus sudah tidak terpakai lagi. Karena di rasa sudah tidak ada masalah dalam tubuh Vira.
"Ra, aku janji kalau nanti kamu sudah sadar. Kita tunangan, ya. Mengikat hubungan lebih serius lagi. Bangun dong, sayang. Aku rindu jutek kamu, Rindu keceriaan kamu"
Elsa hendak mengambil tas nya di kamar rawat Vira. Melihat Panji duduk di samping sahabatnya. Gadis itu hanya bisa jadi penonton saja.
Elsa berjalan pelan memasuki kamar rawat Vira. Sambil menenteng tas selempangnya dia pun berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Kamu hebat Vira, ada dua pria yang sangat mencintaimu. Ada kak Panji yang sejak awal mendekati kamu, ada kak Dawa yang bertahan dengan janji cinta kalian.
Ya Allah kemana, ya kak Dawa. Sudah beberapa hari tidak ada kabarnya. Semoga dia baik-baik saja,"
...****...
Mobil ambulans berhenti di depan rumah sakit. Beberapa petugas rumah sakit berlari membawa brankar pasien. Tampak petugas kepolisian ikut turun dari mobil mereka. Ada dua brankar yang di turunkan. Salah satu korbannya adalah seorang lelaki tua.
"Ini korban apa?" tanya salah satu dokter.
"Sepertinya korban pembunuhan. Dua-duanya kritis. Mereka di temukan di hutan area villa." jawab dokter yang lain.
"Hati-hati bawanya!" seru petugas yang lainnya.
Beberapa petugas kesehatan mengiring pasien dengan menggunakan brankar. Memindahkan pasien ke brankar lainnya lalu membawanya ke dalam rumah sakit.
"Yang muda tadi sudah kami masukkan ke dalam kantong mayat. Tapi ternyata dia bergerak mengeluarkan rintihan. Makanya kami memindahkan ke brankar pasien" lapor salah seorang perawat laki-laki.
"Terus yang satu lagi?" tanya perawat yang lainnya.
"Kritis kayaknya," ucap perawat yang lain.
Di belakang mereka pasukan berseragam coklat mengikuti kemana arah dua brankar tersebut.
"Kami dari kepolisian, kedua pasien adalah korban dan pelaku penculikan. Tadi kami mendapat telepon dari seseorang melaporkan bahwa buronan sudah di temukan. Bersamaan dengan itu kami juga di informasikan dengan keberadaan korban yang di buang pelaku," kata polisi.
__ADS_1