SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 18


__ADS_3

Area kampus terlihat ramai. Katanya ada salah satu personil Citayam yang jadi mahasiswa baru disana. Vira yang baru saja sampai di kampus melihat fenomena tersebut. Tapi dia tidak peduli, yang di pikirkannya saat ini masuk kelas dan membuka laptop.


Di ufuk timur, langit menyemburatkan warna putih. Fajar pun masih dengan pesonanya. Terdengar suara kumandang azan entah dari mana. Vira baru ingat kalau di depan kampusnya ada mushola yang baru di resmikan.


Gadis muda itu berjalan masuk ke dalam kampus. Tentu saja dia akan berbaur dengan teman-temannya. Setelah libur dua bulan, ada rasa rindu berbagi cerita pada mereka. Sesaat dia menoleh kearah taman kampus. Tampak Elsa sedang duduk sambil bermain gawai. Vira pun langsung menemui teman karibnya tersebut.


Namanya Melsana Glorya Bernardito, sosok teman yang mengisi hari-hari seorang Savira Gayatri. Sosok teman yang ada dalam suka dan duka sejak SMA. Elsa bukan berasal dari keluarga sembarangan. Gadis muda usia 19 tahun itu anak dari petinggi dari sebuah stasiun televisi ternama.


Meskipun anak orang kaya Elsa tidak pernah menonjolkan diri dengan kekayaannya. Dia juga tidak pernah berpakai layaknya sosialita. Tapi Elsa selalu merasa dirinya bukan siapa-siapa. Di samping memang untuk ukuran tubuh Elsa yang tambun sangat susah menemukan gaya pakaian bak model.


"Kamu ngapain?" Vira mengagetkan Elsa.


Beberapa saat Elsa gelagapan melihat kedatangan Vira. Entah apa yang dia sembunyikan, namun itu tak membuat Vira kepo. Vira mendaratkan tubuhnya di samping Elsa. Bangku panjang di taman kampus pun penuh dengan tubuh Vira. Sambil menaikan kakinya di pegangan kursi tersebut.


"Ngapain kamu tidur di kursi? nanti dilihat orang nggak enak, Vira." sahut Elsa.


"Aku kangen menghirup udara dekat pohon ini. Setelah yang terjadi di keluarga. Kak Dira di culik sahabatnya sendiri, terus kak Dira masuk rumah sakit, tidak lama dia menikah. Sekarang kak Feri masuk penjara karena kasus yang aku sendiri kurang begitu paham. Kemarin dia bebas, hanya saja bebas nya dia bukan karena masalahnya selesai. Melainkan ada perjanjian antara kak Feri dan keluarga kak Meyra."


Elsa yang tadinya sibuk dengan ponselnya kini beralih menjadi pendengar Vira. Elsa paham masalah keluarga Vira yang tidak kunjung selesai karena diawali dengan sayembara jodoh. Sayembara dimana kedua kakaknya Vira diminta berlomba sebelum di langkahi adik mereka.


Tujuannya baik. Hanya saja banyak yang terkorbankan. Salah satunya persahabatan kakaknya. Keluarga Elsa dan keluarga Vira saling menjalin hubungan baik. Elsa sering menginap di rumah Vira kalau ada tugas. Begitu juga sebaliknya.


Makanya Elsa tahu semua permasalahan keluarga Vira.


"Dan nyatanya kamu yang kalah,Vira." kata Elsa.


"Heeeh, lebih baik aku kalah daripada aku menyesal nantinya." Vira terdengar lebih optimis.


"Kenapa begitu? waktu kamu batalin rencana pernikahan dengan kak Satria, aku bisa lihat kamu down banget. Makanya sempat ragu saat mau menceritakan soal malam lamaran kak ana dan Satria."


"Ya, namanya juga patah hati, Sa. nggak gampang aku buat keputusan ini. Aku hanya ingin mengejar cita-cita. Jika aku menikah nanti belum tentu bisa mewujudkannya lagi." Vira menghela nafas panjang. Memandang ke segala arah.

__ADS_1


"Sa, sekarang jam berapa?"


"Sudah jam setengah dua belas,Ra."


"Astaga! aku ada janji sama kak Dira. Dia pasti bakal kasih ayat-ayat cinta kalau terlambat." Vira tampak buru-buru.


"Ra, kita masih ada jam pak Johan!" panggil Elsa.


"Titip absen!" pekik Vira yang sudah jauh dari jangkauan.


"Hadeh!" Keluh Elsa.


Elsa memandang Vira dari jauh. Senyumnya mengembang melihat keceriaan Vira. Hidup itu tidak hanya berpusat pada masalah percintaan saja.


Dalam menjalani kehidupan, ada masanya manusia mengalami ritme pasang surut. Terkadang merasa bahagia, penuh syukur, dan positif. Namun ada kalanya juga merasa terpuruk, galau, dan merasa malas-malasan. Terutama jika sedang menghadapi masalah yang berat.


Memang rasanya terkadang semangat itu naik-turun, terkadang menggebu-gebu terkadang redam seketika. Oleh karena itu, seseorang membutuhkan kata kata bijak tentang kehidupan dan cinta untuk membuat semangatmu yang redam kembali menyala, dan kamu bisa melanjutkan impianmu.


Suatu saat kebahagiaan itu akan datang, Ra. Percayalah.


Elsa pun kembali berjalan menuju gedung kampus. Hari ini mata kuliah pak Johan. Elsa menghela nafas panjang, dosen yang satu ini termasuk killer dalam memberi nilai. Meskipun cara dia mengajar termasuk santai plus bikin ngantuk.


Selesai kuliah Vira pun menghempaskan tubuhnya di sofa. Pandangannya mengedarkan ke setiap sudut ruangan. Suasana rumah yang sepi membuatnya memilih merebahkan diri ke sofa depan televisi. Pakaiannya tadi sudah berganti dengan setelan hoodie pendek. Kakinya di rentangkan keatas pinggir sofa dengan cemilan di sampingnya. Untung saja tidak ada Juna dirumah. Sepertinya kakaknya Dira juga masih istirahat dikamar.


Vira merasa dirinya bebas selonjoran. Karena kalau mamanya lihat, pasti akan ada siraman rohani. Mama Dewi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Vira ingat dulu saat Satria datang mengapelnya mama selalu mengoreksi pakaiannya. Beda dengan kakaknya Dira, yang memang kurang suka pakaian sexy.


Sementara itu di depan rumah yang kokoh dan mewah. Sebuah mobil bertema sport bertengger di depan pagar kediaman Dewi Savitri. Lama pemilik mobil itu memandang rumah besar tersebut. Senyumnya menyungging tanda dia akan melakukan rencananya.


"Kamu lihat Andre? aku akan masuk dalam keluargamu dan menghancurkan mereka satu persatu. Baik famili maupun keluarga inti." batinnya sambil mengepalkan tangan dengan erat.


"Kenapa kakak belum beraksi? aku akan mendukung kak Dawa. Tapi satu hal kak, kakak janji tidak akan jatuh cinta sama Vira." ucap Kayla yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


Dawa merangkum wajah kekasihnya dengan lekat. Tentu saja dia akan menepati janjinya pada Kayla. Dia juga masuk kesana bukan untuk menggaet Vira.


"Kamu harus tahu kalau cuma satu orang yang ada disini." Dawa meletakkan tangan Kayla di dadanya. Keduanya saling melempar senyum. Adegan peraduan bibir pun tak terelakkan. Dawa menurun sandaran kursi hingga keduanya pun asyik dengan dunia mereka.


"Yasudah kakak segera keluar. Nanti aku hubungi taksi." ucap Kayla sambil merapikan pakaiannya.


"Doakan aku ya, sayang." Dawa pun meninggalkan Kayla sendiri di mobil.


Setelah jauh dari pandangan, Kayla pun menghubungi seseorang. Dengan santai dia berjalan meninggalkan mobil Dawa di depan pagar kediaman Dewi Savitri.


"Jo, jemput aku di depan gerbang perumahan Griya Samara." telepon Kayla.


Vira berjalan kearah pintu masuk. Suara bel yang tak berhenti berdering membuatnya sedikit kesal.


"Siapa sih yang mencet bel kayak main-main?"


"Assalamualaikum," suara bariton itu muncul di depan pintu. Vira mengerutkan dahinya melihat sosok tampan di hadapannya.


"Kak Dawa?"


"Iya, ini aku."


"Oh, ada apa? darimana kakak tahu rumahku?" Vira masih berdiri di depan pintu.


"Masa tamu dibiarkan di depan pintu?" Dawa meminta kode agar diajak masuk.


"Duduk disana saja." Vira mengajak lelaki itu duduk di kursi teras.


"Kenapa tidak di dalam?"


"Disini cuma kita berdua dan saya tidak mau ambil resiko membawa lelaki masuk ke dalam rumah. Katakan ada apa?"

__ADS_1


"Judes amat nih cewek!" batin Dawa.


__ADS_2