SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 53


__ADS_3

Dira menatap langit yang sebentar lagi akan gelap. Udara sepoi-sepoi yang jarang dia temui selama di Jakarta. Di hidupnya dalam-dalam udara yang menyapa wajahnya. Pikiran tentang apa yang baru saja dia lihat baru akan di hempaskannya. Lirikannya beralih ke jam dinding di kamar istirahatnya.


"Maaf, mbak Dira. Malam ini mbak Dira tidur di kamar sama saya. Biar nanti Jimmy tidur sama mas Awan." tutur Naura sudah berada di depan pintu.


"Iya, mbak terimakasih. Maaf kalau kedatangan saya merepotkan. Tapi suami mbak bagaimana?" tanya Dira.


"Dia sedang di luar kota, mbak. Katanya mau ke Lembang dulu nganterin barang." ucap Naura sambil mengulum senyum.


Kaki Dira tadinya terhenti saat mendengar kata Lembang. Apakah suaminya itu akan bertemu mama dan Ayu? Dira menganggap jika mereka bertemu dan mama Salma tak mengabari dirinya berarti mereka sekongkol. Begitu kuat pikiran negatif yang menaungi pikiran Dira.


Naura meninggalkan Dira yang masih di kamar Jimmy. Lama dia menatap wanita yang di yakini istri lain suaminya. Tangan Dira mengepal erat sementara tangan sebelahnya menahan rasa sesak.


Sneaker yang membalut tubuhnya tak lagi terasa hangat. Tapi Dira tetap Dira, sesakit apapun perasaan tetap saja mengalahkan keras kepalanya.


Cerai! itu yang saat ini yang terpikirkan. Seperti kata Awan, jangan mudah memutuskan sesuatu dengan kepala yang sedang panas. Tapi apakah yang di lakukan Juna bisa di tolerir. Bagi Dira tidak! itu sama saja dia tidak belajar dari yang terjadi sama mamanya. Itu sama saja dia jatuh ke jurang yang sama. Dira tak mau yang seperti itu lagi. Dia harus bangkit.


Dira pun keluar kamar lalu berbaur melihat keakraban Awan dan Jimmy. Wanita itu pun duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu. Wajahnya memandang hamparan sawah yang mulai menguning. Beberapa penduduk lewat berlalu lalang membawa sepeda ontel. Sepertinya memang sudah waktunya pulang.


Dira melepaskan sendalnya lalu berjalan menyebrangi jalan besar. Dimana ada hamparan sawah luas terbentang.


"Tante, masuk sudah mulai magrib. Pamali!" panggil Jimmy pada Dira.


"Bentar Tante mau lihat sunset dulu. Kayaknya keren kalau lihat sunset di pematang sawah." Dira berjalan meninggalkan rumah Naura.


"Non, magrib!" panggil Awan.


Dira tetap berjalan tanpa memperdulikan teriakan Awan. Dia menoleh kearah Awan lalu kembali berjalan ke pematang sawah. Seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan baru, Dira berjalan sambil bernyanyi lagu yang sesuai perasaan hatinya.


"Non," suara lengkingan Awan masih terdengar.


Dira menebak lelaki itu pasti mengejarnya. Tangannya melambai seakan memberi sinyal kalau dia baik-baik saja. Mata coklatnya mengedipkan kearah Awan, di bingkai dengan alis yang hitam dan lebat.


Dira tidak mempedulikan panggilan Awan. Dia tetap nekat berjalan menuju pematang sawah yang berada di depan rumah Naura. Tanpa alas kaki Dira pun melangkah memasuki area persawahan.


Sekitar 10 meter perjalanan tak membuat Dira sadar kalau sudah jauh dari perumahan. Kakinya terhenti ketika sunset pun mulai turun ke belakang pegunungan. Senyumnya mengembang ketika matahari mulai menghilang.


"Goodbye Arjuna, terimakasih sudah memberi cerita indah dalam hidup aku! Terimakasih sudah membuat aku bertahan dengan kebodohan! Terimakasih sudah membuat luka yang tak akan aku lupakan!" Dira memekik di tengah persawahan melepaskan semua kepedihan yang baru saja dia temui.


Dira memutar tubuhnya melihat di sekelilingnya. Setelah mengeluarkan semua uneg-unegnya di tengah sawah. Dira merasa lega, meskipun masih ada yang harus dia selesaikan. Sesaat dia menyadari dimana sekarang berada. Tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. "Tadi arah jalan pertama dimana, ya?"


"Oh ya, Awan! aku harus hubungi Awan!" Dira merogoh saku celananya. Barulah dia ingat handphonenya pasti dalam tas.


"Astaga, aku harus gimana ini! aku lupa jalan pulang!"


Dira mendengar alunan suara adzan berkumandang. Menandakan Magrib sudah tiba. Dira bingung mencari tempat berhenti, netranya berputar ke gubuk di pinggir sawah.


"Non," suara lelaki terdengar mendekat.


"Wan, untung kamu datang. Aku kayak kesesat. Kok kamu tahu saya disini?"


"Saya kan tinggal mengikuti arah jalan non Dira tadi. Aku yakin seberapa jauh non putar sekitar sini. Tetap saja balik lagi kesini. Gini-gini aku juga anak desa. Jadi paham alur lokasinya. Non, kita ini sedang di tempat orang. Jangan bikin malu, non, warga sini rada kritis."


"Wan, saya kan nggak aneh-aneh. Saya cuma mau jalan-jalan saja. Emang tidak boleh? sudah kamu pulang duluan. Saya bisa .... Aaaaawaaaaan!"


Dira di gendong Awan seperti memakul beras. Dira memukul punggung Awan agar minta di turunkan. Sayangnya itu tak mengubah keputusan Awan.

__ADS_1


Awan menurunkan Dira di tempat dataran tinggi masih sekitar persawahan. Di balas tatapan membunuh dari majikan mudanya. Awan menjelaskan kalau Dira adalah tanggungjawabnya.


"Maaf, non. Saya terpaksa, karena saya ditugaskan pak Burhan buat jaga, non Dira. Sejengkal non melangkah pun sudah jadi tanggung jawab saya. Saya juga takut kalau non Dira bunuh diri." Awan menunjukkan pohon besar yang berjarak lima meter dari mereka.


"Non tahu, tadi saya dengar dari Jimmy, pohon itu ada perempuan bunuh diri karena suaminya nikah lagi sama perempuan kampung sebelah." Dira melototi Awan yang terkesan menakutinya.


"Kamu mau nakutin saya?" Dira berkacak pinggang melototi Awan.


"Terserah, Non. kalau nggak percaya ya sudah." Awan berjalan meninggalkan Dira. Dari belakang Dira terus mengolok-olok Awan. Lelaki itu hanya tersenyum kecil melihat sikap atasannya.


" Baru beberapa hari kerja sudah sok. Jaka aja nggak kayak gini." batin Dira.


Mereka tiba di kediaman Naura. Naura dan Jimmy sudah mengenakan mukena untuk pergi ke mushola. Naura dan Dira berjalan bersama menuju mushola. Mereka lebih banyak saling diam. Keduanya merasa canggung setelah tahu pasangan mereka orang yang sama.


Sementara di sebuah warung kecil tampak dua orang lelaki sedang duduk. Menikmati secangkir kopi yang disediakan si pemilik warung. Setelah beberapa jam mereka menempuh perjalanan jauh. Dan secara mendadak harus kembali lagi ke Tulang Bawang. Salah satu lelaki paruh baya yang usianya sekitar 50 tahun duduk menyandarkan tubuhnya di kursi berbahan bambu. Kursi yang memang di sediakan untuk para penempuh perjalanan jauh.


TING!


💌 Jimmy


Ayah kapan pulang


💌 Sandi


Ini sedang dalam perjalanan pulang. Jimmy mau apa?


💌 Jimmy


Jimmy nggak mau apa-apa. Jimmy mau ayah pulang dengan selamat.


Jimmy kangen sama ayah.


💌 Sandi


💌 Jimmy


Kata ibu, dia nanya ayah kangen nggak sama ibu?


💌 Sandi


Nak, nanti dilanjutkan lagi. Ayah mau jalan lagi.


💌 Jimmy


oke, Yah. Hati-hati di jalan.


Sandi menutup komunikasinya dengan Jimmy. Ada helaan nafas berat, saat ini dia berusaha untuk menjadi ayah yang baik untuk Jimmy. Tapi untuk Naura, dia belum merasakan getaran apapun pada wanita itu.


"Siapa, Di?" tanya pak Galih.


"Jimmy,Pak." jawab Sandi sembari memasukkan gawainya di kantong.


"Alhamdulillah akhirnya Jimmy merasakan punya seorang ayah kandung. Sejak Naura hamil, banyak kepahitan yang dia lalui. Semula dari kamu yang kabur dari pernikahan kalian. Ibunya Naura langsung drop dan akhirnya meninggal dunia.


Naura di usir dari rumah, di kucilkan orang sekampung. Bahkan saat dia hendak melahirkan pun hanya di bantu sama ibumu dan Ajeng. Bapaknya Naura masih keras hati saat itu."

__ADS_1


Pak Galih masih ingat bagaimana menderitanya Naura saat itu. Di kucilkan keluarga dan tempat dia tinggal. Naura lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga Sandi ketimbang keluarganya. Pernah suatu hari ketika Jimmy sakit, pak Rohim sampai meminjam motor untuk membawa Jimmy ke bidan desa sebelah. Karena bidan di daerah mereka menolak Jimmy dengan alasan takut sial.


"Apa aku dulu sebegitu jahat?"


"Entahlah, Di. Bapak tidak bisa memberikan pendapat kalau soal kalian berdua. Bapak cuma mau pesan sama kamu, kunci semua permasalahan ini hanya kamu, nak. Bapak tidak tega melihat Naura dan Jimmy. Kan nggak mungkinlah bapak yang nikahi Naura." kata pak Galih.


"Terimakasih, pak sudah perhatian sama Naura dan Jimmy. Saya minta maaf kalau selama ini sudah bikin malu satu desa. Saya tidak menyangka akan besar dampaknya."


"Katanya kamu tidak ingat apa-apa? apa kamu masih tersisa sedikit ingatan. Biasanya kalau orang amnesia, punya kilasan ingatan di masa lampau. Apa ada sisa ingatan yang kamu miliki?"


Tadi malam dia bermimpi aneh. Seorang anak kecil wanita berjalan mendekati seorang anak laki-laki. Gadis kecil itu berlari menangis. Mengadukan kalau ada yang mengganggunya. Dengan sigap anak lelaki itu melindungi gadis kecil tersebut. Mendatangi orang-orang yang mengganggu si gadis kecil.


"Siapa anak kecil itu?


kenapa dia memanggilku dengan sebutan kakak? apa itu Uti?


tapi kalau lihat dari lingkungannya seperti di kota. Apa kami dulu pernah tinggal di kota?"


"Di, yuk kita berangkat lagi. Tapi maaf saya boleh minta tolong kamu yang nyetir. Saya merasa kurang sehat. Bisa kan?"


"Bisa, pak. Yuk gas keun ... ini sudah mau gelap." Sandi pun beranjak dari warung diikuti pak Galuh yang terlihat pucat.


Pak Galih duduk di sebelah Sandi. Menyenderkan kepalanya di sandaran kursi.


"Di, ayo jalan."


Tangan Sandi merasa gemetar memegang setir mobil. Lintasan bayangan yang menyeramkan pun kembali menghantuinya. Nafasnya terputus-putus. Kepalanya mendadak pusing.


"Di, Sandi, kamu kenapa?" Sandi terus memegang kepalanya seperti kesakitan.


*


*


*


"Pak, ini ada telepon dari pak Galih!" panggil Bu Halimah ketika mendapati handphone suaminya berdering di kamar.


Pak Rohim masih berkutat di teras bersama ayamnya jagonya. Ayam yang dibelikan Sandi untuk ternak. Lelaki usia 55 tahun tersebut pun meninggalkan teras rumah, lalu menemui istrinya.


"Nih, pak." Bu Halimah menyodorkan handphone suaminya. Dia bingung kenapa Galih beberapa kali menghubungi suaminya.


"Bu," suara bapak berganti terdengar panik.


"Iya, pak. ada apa?"


"Uti mana?" tanya pak Rohim.


"Uti tadi ikut remaja Islam di mushola. Ada apa?"


"Yasudah bapak saja cari Inggar." kata pak Rohim kembali masuk ke kamar.


"Ada apa,pak?"


"Sandi... sandi tadi kata Galih,dia drop. Seperti kepalanya sakit gitu. Galih juga kurang sehat. Biar bapak suruh Inggar menyusul mereka. Karena sekarang mereka berada di perbatasan Mening Agung dan Desa kita. Bapak pergi dulu, Bu."

__ADS_1


"Iya, pak hati-hati."


"Ya Allah lindungilah anakku."


__ADS_2