
"Oke, Pa. Aku paham, tapi jangan yang aneh-aneh," kata Dawa pada papanya melalui ponsel seluler.
"Papa tidak akan aneh-aneh, Nak. Butuh perjuangan untuk melakukan hal ini. Sepertinya dia itu keras kepala, sama seperti dulu waktu dia marah-marah sama pakdemu,"
"Kok, papa tahu?"
"La wong papa jadi perantara mereka, disuruh bolak balik kasih laporan," suara tawa renyah terdengar dari seberang.
"Yasudah, Pa. Terimakasih atas kerjasamanya," Danu menutup teleponnya.
Kakinya terhenti pada sosok gadis yang duduk di kursi depan kolam buatan. Masih dengan langkah menyeret dibantu tongkat penyangga kakinya. Lelakinya itu berjalan pelan. Kapan lagi bisa sedekat ini. Dulu tiap dia mau bicara dari hati ke hati sama Vira, gadis itu selalu menghindar, sekarang apakah Vira akan menghindar lagi? semoga saja tidak.
Seperti biasa Dawa mengirimkan pesan-pesan pada "Sapi" nya gadis kecil yang dia cintai sejak lama. Dulu dia mencari Vira untuk menepati janjinya akan terus mengunjungi tiap liburan. Tapi nyatanya setiap dia datang tidak pernah di izinkan masuk ataupun menemui Vira. Dulu dia bahkan hanya memanggil gadis itu dengan sebutan "Sapi" karena hobi Vira yang suka makan.
Dawa bahkan hapal sampai di luar kepala makanan kesukaan Vira. Ayam tanpa kulit, burger Cheese, dan baru tahu kalau Vira menyukai Avocado float. Bukan hapal lagi bahkan terlalu hapal apa yang menjadi kebiasaan gadis kecil itu.
Hembusan angin menyapa kulit putihnya.Hembusan angin bisa membawa kesegaran dan kesejukan yang menangkan hati. Segala hal yang kita temui di alam seringkali dapat dijadikan pelajaran berharga. Salah satunya tentang hembusan angin segar dan menyejukkan.
Ada dua kondisi yang bisa di temui tentang angin. Pertama adalah angin berhembus perlahan namun menyegarkan. Sedangkan kedua angin berhembus kencang namun justru membawa badai bahkan kadang menghancurkan.
Dawa baru saja menjadi sosok secret admirernya Vira, menjelma sosok puitis. Berharap dengan cara itu dia bisa dekat dengan Vira.
"Akhirnya aku menemukanmu, Savira," Dawa berjalan mendekati Vira.
"Kak Danu," sapa Vira lirih.
Dawa berjalan mendekati Vira, gadis itu terus menundukkan kepalanya. Dawa masih mencoba menguasai suasana hatinya berhadapan dengan Vira. Entah karena grogi efek jantungnya sudah tidak beraturan lagi.
Sekarang kakinya hanya berjarak dua centi dari gadis itu. Masih dengan menundukkan kepalanya Vira menautkan sepasang jemarinya. Berlomba lomba agar bisa menguasai sesuatu yang aneh di dalam hatinya.
"Ra, kamu nggak pegel berdiri seperti ini?"
"Eh, iya kakak mau duduk?" Dawa mengangguk kecil.
__ADS_1
Vira menuntun Dawa duduk di kursi panjang, udara siang berubah menjadi sejuk. Sesejuk dua sejoli yang baru saja di pertemukan kembali.
"Kamu apa kabar, Sapi?" Vira menoleh sesaat ketika Dawa memanggil dirinya "Sapi".
"Ah, masih memanggilku sebutan itu," tawa kecil Vira.
Jawaban Vira membuat dua insan melepaskan tawa bersamaan. Setelah mendudukkan Dawa, Vira pun ikut duduk agak berjauhan dari lelaki itu. Dawa ikut bergeming, tangannya bergeser untuk meraih jemari Vira. Lelaki itu memutar ke gadis di sampingnya.
"Aku tidak menyangka kita di pertemukan lagi di sini. Iya, mungkin kebetulan saja. Tapi aku percaya kebetulan ini adalah takdir.
Kamu percaya sama takdir? kemanapun kita pergi Tuhan akan berusaha mempertemukan dua orang yang saling mencintai,"
"Mencintai?" Vira kaget.
"Ya mungkin dua orang sih, tapi lebih tepat lelaki yang mencintai gadis kecil yang pernah menendangnya demi membela sahabatnya. Gadis muda yang tidak gampang baper,"
"Oh, Kakak apa kabar?" Vira sudah mulai sedikit tenang.
Sepasang anak manusia saling terdiam mengikuti suasana hati mereka. Langit mulai kemerahan, menandakan senja akan tiba.
Keindahan senja memang tiada dua. Sebab, panorama senja selalu menawarkan keindahan yang bikin mata terpana. Tidak heran jika hadirnya senja selalu dinanti banyak orang.
Semua orang menyukai senja. Saat dimana matahari kembali ke peristirahatannya setelah seharian berjuang memberi sinar kehidupan untuk bumi. Pemandangannya yang indah membuat momen tersebut kerap ditunggu banyak orang. Bahkan, tak sedikit orang yang rela mencari tempat terbaik dan terindah hanya untuk menikmati senja.
"Senja akan selalu seperti itu. Datang dengan keindahannya, dan lalu akan pergi begitu saja dengan sangat cepat, tergantikan dengan kehampaan malam yang sunyi.
Jika kamu merindukan seseorang, tataplah matahari sore. Kirimkan pesan rindumu untuknya lewat senja"
Itulah yang aku lakukan jika aku merindukanmu kamu, Ra. Merindukan momen yang pernah terjadi diantara kita, walaupun momen itu sebelum prahara terjadi,"
Dawa menggeser posisi duduknya mendekati Vira. Seketika tangan Dawa sudah menggenggam erat jemari gadis itu.
"Aku boleh nanya sesuatu?"
__ADS_1
Vira menelan salivanya, jantungnya berdetak kencang saat Dawa merangkum jemarinya.
"Apa?" jawab Vira terbata-bata.
"Apa saat ini ada seseorang yang sedang menjalin hubungan dengan kamu?" Vira menggelengkan kepalanya.
"Alhamdulillah," kata Dawa.
"Eh, ..."
"Alhamdulillah, berarti aku nggak nikung punya orang,"
"Maaf, kak mama pasti menunggu," Vira hendak berdiri tertahan karena tangannya di pegang Dawa
****
"Dirga!" Dewi kaget lelaki itu masuk ke mobilnya. Deka paham kekagetan wanita itu hanya tersenyum santai.
Deka masuk ke dalam mobil Dewi supaya bicara dari hati ke hati. Untuk masa depan anaknya, mengenyampingkan ego dan rasa malu. Dia kenal Dewi sebagai perempuan berhati lembut, dari rasa yakin itu dia memberanikan diri masuk ke mobil.
"Pak, mobilnya jalankan saja," kata Deka.
"Apa-apaan kamu! seenaknya memerintah orang untuk menjalankan mobil," amuk Dewi pada Deka.
"Maaf, kak Dewi. Saya melakukan ini demi anak saya, Pandawa. Kak Dewi juga seorang ibu kan, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, begitu juga saya, kan. Saya ingin melihat Pandawa bahagia bersama gadis yang dia cintai,"
"Tapi apa kamu tahu apa yang sudah di lakukan pada Pandawa dengan keluarga saya. Kakaknya pacaran sama suami saya, kakaknya dan juga Irul berkerjasama untuk menghancurkan keluarga saya. Dan Dawa masuk ke keluarga saya untuk membalaskan apa yang terjadi pada kakaknya. Padahal itu murni kesalahan kakaknya, bukan karena keluarga kami. Sebagai ibu saya tidak mau anakku terjerumus sama lelaki yang mau menghancurkan kami. Kamu nggak akan ngerti, Dirga! kamu nggak akan ngerti!"
"Iya, saya memang tidak berada di posisi kakak. Saya paham apa yang kak Dewi rasakan. Apakah kakak tahu Tuhan memberikan Danu kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. Danu juga sudah berusaha untuk lebih dekat dengan Allah. Tuhan saja bisa memaafkan umatnya, kenapa kak Dewi tidak,"
"Saya minta kamu turun dari mobil"
"Kak, saya mohon kasih kesempatan Pandawa untuk mengejar cintanya, saya janji akan mendidiknya lebih baik lagi. Saya mohon, kak," Deka bersujud di lutut mama Dewi.
__ADS_1