
"Nama saya Adelia. Kamu namanya siapa?"
Seorang gadis cantik datang menyapa dalam bahasa Indonesia. Rian tentu saja senang, di minggu terakhirnya di London dia bertemu gadis Indonesia.
"Orang indonesia?" Tebak Rian saat di sapa dengan bahasa indonesia.
Adelia atau Delia mengangguk. Mereka duduk berbincang ramah layaknya teman lama yang kembali bertemu. Tampak Alex mengacungkan jempol kearah Delia.
"Aku rasa kita bertukar nomor untuk lebih sering bertemu." Tawar Rian.
Rian yang pertama kali bertemu dengan Delia. Sudah merasakan panah asmara pada gadis itu.
"Hmmm..kamu bisa minta sama Alex."
Bagi Rian, itu bentuk jual mahalnya Delia saat itu. Tidak seperti gadis yang mau mengajaknya kencan dengan percaya diri memberikan nomor handphonenya.
"Kenapa kamu tidak langsung kasih ke saya saja. Bukankah kita sudah bertemu sekarang."
Delia hanya menyunggingkan senyuman. Rupanya sangat gampang membuat lelaki di depannya bertekuk lutut.
Malam itu adalah malam pertemuannya dengan Delia. Gadis cantik yang membuatnya jatuh hati dalam sekejap. Entah karena dia cantik atau hal yang lainnya. Tapi untuk saat itu Rian hanya terpesona pada Delia.
Entah apa yang sudah mereka lewati. Rian tak ingat, tapi setelah dia memeriksa cctv apartemennya. Baru dia sadar ada wanita yang sudah dia renggut kehormatannya. Meskipun saat itu dia masih meyakini Delia bukan wanita baik-baik. Karena dia tahu bagaimana pergaulan Alex. Jika suatu saat wanita itu mengaku hamil dia belum tentu akan mau bertanggungjawab.
Pertemuannya dengan Delia pun kembali terjadi. Dimana wanita itu adalah sahabat atau teman baik calon istrinya. Rian awalnya mencoba cuek, toh pada akhirnya dia tetap akan menikah dengan Dira. Walaupun pada akhirnya dia menyadari hati Dira bukan untuknya.
"Aku minta kamu ajak calon suamimu itu pulang malam ini. Kehadiran kalian hanya akan merusak hubungan ku dengan Dira."
"Kalau aku tidak mau" Delia menantang.
"Kalau kamu tidak mau nggak papa. Juna akan tahu Delia nya ini, sudah tidak perawan lagi.
Oh, kalau perlu Tuan Shahab juga perlu tahu seperti apa anaknya selama di London." Ancam Rian.
__ADS_1
"Kau mengancamku, Rian? apa kau tidak takut kalau Dira tahu lelaki yang mengambil keperawananku adalah calon suaminya."
"Lalu Dira meninggalkanku dan kembali di dekati Juna. Apa kau mau hal itu, Delia?
Aku rasa Juna akan mencampakkan kalau dia tahu tentang kamu." Delia hanya mengepal tangannya dengan erat. Tersimpan emosi yang masih di tahannya.
Pada kenyataannya Rian baru tahu kalau dialah yang sudah mengambil kehormatan Delia. Kehormatan yang kata Delia untuk Arjuna. Mereka sebenarnya di jebak, itu kata Alex.
Setelah menikah Rian pikir hidupnya sudah cukup bahagia. Apalagi Delia sudah banyak berubah. Menjadi ibu yang baik untuk Roger. Menjadi istri yang baik buat Rian. Menjadi menantu yang baik dimata kedua orangtuanya. Tapi ternyata itu tak berlangsung lama. Pernikahan yang di landasi hamil duluan membuat beberapa keluarga mengaitkan dengan primbon Jawa. Dari yang katanya tanggal mereka tidak cocok dan sebagainya. Hingga membuat sikap Arumi sedikit berubah pada Delia.
Rian yang mengamati hal itu mencoba mengambil ancang-ancang. Mengajak Delia bangun rumah sendiri. Saat itu tak ada protes dari istrinya. Keadaan makin parah saat Delia di vonis Alzheimer. Diperkuat pengakuan mama Yasmin kalau kakeknya Delia pernah mengidap penyakit yang sama.
Saat ini Rian sudah berada di dalam pesawat. membawa jenazah Delia. Rian sempat menolak sang istri di masukkan dalam bagasi. Dia ingin mendampingi istrinya dalam penerbangan. Tapi dia paham ada prosedur yang harus dia patuhi. Rian di dampingi Alex, sahabatnya beserta istrinya yang membantu membawa Dean, putra bungsu Delia yang berumur satu Minggu.
Tidak mudah meminta izin untuk membawa terbang Dean. Karena usia seperti itu masih rawan. Tapi dengan segala perjuangan, Rian akhirnya bisa membawa jenazah istrinya beserta bayi mereka yang masih merah.
Dean yang sempat merengek akhirnya di beri ASI sambung oleh Nadia, istri dari Alex. Rian pun tak bergeming saat mendengar tangisan putranya melengking di dalam pesawat. Alex duduk di samping Rian yang mematung sejak pertama berangkat hingga sampai saat ini.
"Rian, kamu harus kuat. Aku tahu tidak mudah kamu menerima semua kenyataan ini. Tapi ini sudah kehendak Allah. Kamu ingat saat itu aku yang salah dalam hal ini. Kalau saja aku tidak ..."
Beberapa satu bulan yang lalu Rian sempat menceritakan tentang penyakit Delia pada Alex. Di awali dari pundi pundi ingatan Delia yang mulai punah. Dimana sikap Delia yang seperti anak-anak. Dan terakhir kebutaan yang merenggut nyawa istri. Ditengah terapi mereka di beri kebahagiaan dengan hamilnya Delia.
Setelah mendengar cerita Rian, Alex pun membawa Nadia, istrinya terbang ke Singapura. Tentu menjenguk dua sahabatnya yaitu Delia dan Rian. Di saat sampai Alex tercengang melihat kondisi Delia yang sedang hamil sekaligus pengobatan. Rasanya hati Alex ikut tercabik-cabik. Delia yang cantik dan bohay kini berubah sekali.
Alex yang dalam satu tahun sudah sukses dengan usaha makanan kecil. Tentu saja dengan bantuan dana dari papa Anca. Karena sudah dianggap sebagai anak sendiri. Alex yang sudah mengubah status kewarganegaraannya menjadi WNI. Karena dia di London memang sudah tak punya keluarga lagi.
Sementara di Lembang, semua keluarga besar sudah berkumpul. Bendera kuning yang berkibar di depan kediaman Shahab. Semua orang-orang di sekitarnya bahu membahu mempersiapkan segala keperluan pemakaman. Yasmin berada di kamar bersama Arumi. Besan wanitanya mencoba menguatkan Yasmin.
"Jeng, kamu harus kuat. Delia sudah bahagia disana. Sudah di tempat Allah. Delia sudah berjuang sampai titik ini. dan kita sudah berusaha mendukung kesembuhan Delia. Kalau ternyata hasilnya di luar ekspektasi kita. Itulah namanya takdir jeng."
"Dan sepertinya Renata yang akan menggantikan posisi Delia. Dia cantik, terpelajar." batin Arumi.
"Assalamualaikum," suara sapaan terdengar dari luar.
__ADS_1
Arumi datang menyambut tamu besannya. Setelah menyambut kedatangan mama Salma dan mama Dewi, Arumi mendekati suaminya. Tampak Roger masih menggelendot manja pada opa nya. Kediaman Shahab yang berada di dekat pabrik. masih satu kelurahan dengan pabrik milik Johan. Arumi berbaur dengan suaminya. Mengambil Roger untuk mengganti peran.
"Apa ada kabar dari Rian,ma?" tanya Anca pada istrinya.
"Semalam Alex meneleponnya. Katanya sepanjang proses persiapan Rian melamun terus. Bahkan Dean menangis dia nggak ada respon." kata Arumi.
"Ya wajar, ma. Namanya kehilangan istri, perempuan yang dia cintai. Sudah memberikan dua anak. Papa pun kalau mama pergi ninggalin papa, mungkin akan sama seperti Rian, atau mungkin lebih parah."
"Alah, papa paling cari istri lagi."
"Emang ada yang mau bangkotan seperti papa?"
"Ada, pa. Dia nggak lihat papa bangkotan tapi dia lihat dompet papa.
Mama cuma nggak bisa bayangkan kalau Rian harus jadi duda dengan dua anak. Membesarkan anak sendiri tanpa campur tangan istri. Mama harap..."
Anca tahu arah omongan istrinya. Dia pernah dengar kalau istrinya mau mencarikan Rian wanita baru. Padahal Delia masih sedang pengobatan. Anca sepertinya harus mengingatkan istrinya.
"Mama ingat waktu papa sempat di suruh nikah lagi. Karena kita lama belum punya anak. Padahal kalau bersabar pasti Tuhan akan memberi. Dan disaat mama malah mau menyerah, Tuhan malah menitipkan Rian dan Ridho ke rahim mama.
Walaupun saat lahir Ridho tidak bertahan lama. Kita masih punya Rian yang perlu di beri kasih sayang."
Arumi menunduk malu. Dia ingat bagaimana keluarga anca menentang hubungan mereka. Bahkan setelah menikah pun mereka lama diberi keturunan. Lima tahun menunggu akhirnya Tuhan mempercayakan mereka. Arumi tidak lupa, bagaimana Anca dipilihkan wanita baru. hanya karena dia belum memberi cucu pada mereka.
"Dan mama mau mengulangi kesalahan ibuku?" Anca meninggalkan istrinya. Sambil melintas Anca terus menggelengkan kepalanya.
"Berapa lama mereka akan sampai,pa?" tanya Arumi.
"Sepertinya mereka akan sampai nanti sore. Kata Alex mereka tiket sekitar jam 10 dengan penerbangan 2 jam. Belom lagi transit ke Bandung. Itu kalau pesawatnya tidak delay, ma."
"Semoga tidak ada kendala ya, pa. Mama pengen lihat cucu ganteng kita. Tapi tetap saja mama tidak bisa membayangkan bagaimana di posisi Rian."
"Peristiwa kematian selalu mengguncang akal dan batin manusia. Dalam menghadapi kematian orang yang sangat dicintai, seperti suami, Istri, anak, dan orang tua, kita dihadapkan kepada suatu peristiwa yang tidak dapat diterima/dipercaya oleh akal dan batin kita."
__ADS_1
"Kita tidak tahu kapan masa itu menyapa kita, ma. Tidak lihat tempat, siapa kita dan berapa banyak harta kita. Ketika kita kembali pada sang pencipta. Kita akan sama dimatanya. Bukan lagi Anca pengusaha WO, bukan lagi Arumi istri seorang pengusaha. Nggak ada lagi itu."
Arumi sedikit merasa tercubit dengan ucapan suaminya. Ada benarnya kalau kematian terus mengintai makhluk hidup di dunia.