
Cinta itu susah di tebak kapan datangnya. Kapanpun dia bisa pergi membawa semua harapan asa dan kebahagiaan. Manusia yang jatuh cinta sering lupa, kalau tidak selamanya hidup itu indah. Bertemu pujaan hati, jatuh cinta dan menikah. Tapi adakalanya cinta membuat orang terpuruk dan menderita.
Cinta merupakan satu di antara anugerah terindah dari Tuhan untuk manusia. Jika tak ada cinta, hidup manusia hanya akan monoton dan itu-itu saja. Menjalin hubungan bisa membuatmu lebih paham tentang arti cinta. Kamu pun akan lebih siap dan kuat untuk menghadapi status percintaanmu.Ketika kamu sudah siap dan kuat, segala masalah yang datang akan bisa diselesaikan dengan baik.
Banyak orang memperjuangkan cinta dengan cara apa pun. Mulai mengirimkan kata-kata, hadiah, hingga melakukan banyak tindakan sebagai bukti keseriusan.
SATU TAHUN KEMUDIAN....
Di sebuah rumah besar pagi ini tampak semua yang ada disana sibuk. Di salah satu kamar, sepasang anak manusia tampak mempersiapkan beberapa barang. Apalagi dengan duo krucil yang usianya tidak berjauhan.
"Mas, pakai jas ini saja," ucap Dira mengeluarkan jas berwarna abu dan kemeja biru langit. Kontras dengan kulit Juna yang sedikit menggelap.
"Kan yang masuk ke dalam cuma mama dan Dawa. Kenapa kita harus rapi sih. Cari yang agak casual saja, Yang," kata Juna.
"Tapi ini wisuda Vira, Mas. Bukan untuk liburan ke pantai," omel Dira.
"Nanti sudah pasti aku bakal pegang Fajar dan Mentari, istriku. Sudah pasti nggak akan bisa rapi, jadi aku casual saja, ya,"
"Terserah, Mas!" Dira melemparkan baju untuk Juna diatas tempat tidur.
Dira pun menuju kamar yang disediakan untuk anak-anaknya. Melihat sepasang anaknya tertidur pulas. Setelah mereka diajak bermain Playground di salah satu mall Jakarta. Itu pun berbarengan dengan Harry dan Hermina. Iya, pada akhirnya Feri dan Tina mengganti nama Putri mereka dengan Hermina sesuai nama rumah sakit tempat keduanya di lahirkan.
Usia Fajar sudah menginjak dua tahun, sementara Mentari sudah masuk satu tahun. Dua anak mereka yang sedang lucu-lucunya. Kadang keduanya sering rebutan mainan. Kalau sudah begitu Dira menenangkan keduanya secara bergantian. Menanamkan pada anak sulungnya untuk berbagi pada adiknya.
Flashback on
"Ma, adek tali akal bil obil akak( Ma, adek Tari nakal ambil mobil kakak)" adu Fajar saat itu.
"Akak, ajak adek main juga,"
"Dak oleh, obil untuk owok, adek kan ewek! ( tidak boleh, mobil untuk anak cowok, adek kan cewek!),"
"Adek kan suka mainan apa saja, kakak harus berbagi sama adek. Saudara itu harus saling menyayangi," Sayangnya ocehan Dira tak di gubris sama Fajar. Tetap saja anaknya mengambil mainan dari Tari. Mencari posisi menjauh dari adiknya. Dira hanya menggelengkan kepalanya.
"Tari mau main sama mama, nanti mama masakin donat buat Tari," bujuk Dira. Gadis usia satu tahun itu mengangguk, kakinya merayap menaiki paha mamanya. Dira pun meninggalkan Fajar yang masih asyik dengan mainannya.
__ADS_1
"Mama, kakak juga mau donat,"pekik Fajar.
"Kalau kakak mau donat harus janji sama mama. Nggak boleh pelit sama adek Tari," Fajar pun mengangguk kecil. Lalu mendekati adiknya, mengeluarkan semua mainan di laci bawah tempat tidur.
"Ayo, adek kita main. Biar mama buat Donat yang enak," sapa Fajar. Ternyata Tari enggan ikut sama sang kakak. Sudah terlanjur ngambek, tubuhnya di balik ke pundak mamanya, menggenggam erat punggung mamanya. Dira mengambil gendongan instan. Mau tidak mau dia harus bekerja sambil mengasuh putrinya.
Flashback off
Setelah membereskan kedua anaknya, Dira pun duduk di depan cermin. Sedikit tenang karena suaminya ganti menemani kedua anak mereka. Dira pun memoles wajahnya dengan riasan natural. Tak berapa lama dia pun keluar dari kamar.
Beberapa orang sudah menunggu di ruang tengah. Mama Dewi sudah cantik dalam balutan setelan dress berwarna pink. Bukan hanya mama Dewi, Tina pun juga memakai dress warna senada.
"By the way, yang mau wisuda mana?" tanya Dira.
"Masih di kamar," jawab Tina.
"Aduh, dasar bumil, lama amat," Dira kesal berjalan menuju kamar adiknya.
"Sabar, Napa? namanya juga orang hamil tidak bisa cepat-cepat," Dewi menahan Dira.
"Iya, tapi ini sudah jam berapa, Ma," Dira menunjukkan waktu di handphonenya.
"Kamu pintar juga, Mas bikin sanggulnya," Vira masih mematut diri di depan kaca riasnya.
"Dulu waktu Kayla SMP aku yang rias dia untuk perpisahan. Aku sering lihat kak Padma bantu teman kuliahnya merias, kadang aku bantu di suruh pegang sasakan. Dari situ aku mulai praktek pertama kali merias Kayla. Soalnya dulu di Blitar orang kan pada takut sama om Irul. Kalau riasan di protes sama Kayla bisa diancam sama om Irul," cerita Dawa pada istrinya.
"Serem, yah, kehidupan kamu, Mas,"
"Untungnya aku sangat di percaya sama om Irul. Jadi amanlah, cuma yaitu, kalau aku nolak permintaannya om Irul pasti deh dia ungkit bagaimana kami diangkat derajat setelah kak Padma di pecat. Dulu saat aku masih kecil kami hanya tinggal berdua. Tak lama setelah kak Paundra meninggal dunia rumah dan usaha punya kak Paundra diambil alih sama adik mama Claudia. setelah itu aku nggak tahu lagi. Puncaknya setelah kak Padma di pecat dan menikah dengan kak Angga. Aku di opor tinggal sama om Irul," kenang Dawa.
"Mas, sudah ya, yang pahit jangan di ingat lagi. Ambil hikmah dari semua yang pernah kita alami. Yang terpenting kamu sekarang sudah sukses. Jadi bos ekspedisi, ya walaupun itu warisan dari papa Deka," sambung Vira.
Vira meletakkan tangan suaminya di perutnya yang membuncit.
"Papa jangan sedih, nanti adek ikut sedih juga," Vira menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
Dawa jongkok sejajar di dengan posisi duduk Vira. Sambil mengecup perut istrinya berusia lima bulan. Setelah beberapa bulan mereka sempat kosong. Dawa pun membantu istrinya mencarikan bahan untuk skripsi.
Bukan dia tidak percaya istrinya pergi sendirian. Bukan dia tidak percaya istrinya pulang ke Lembang di tempat kakak iparnya. Tapi sekarang status Vira sudah menikah, tidak baik pergi sendirian. Sementara dia baru saja membangun karir yang di berikan papanya, perusahaan angkutan barang.
Sebenernya Vira dan Dawa kini menempatkan rumah yang berada di Cibubur. Rumah tempat dia terbaring beberapa bulan. Tapi sepertinya rumah itu lebih sering jadi tempat peristirahatan saja. Baik Vira sering pulang ke rumah mama Dewi sehabis dari kampus. Kalau selesai kerja Dawa datang menjemput. Kadang mereka baru pulang setelah makan malam di rumah mama Dewi.
"Anak papa hebat, ikut bikin skripsi sama wisuda bareng mama,"
"Iya, dong. Anak siapa dulu,"
"Bentar, Mas. Kayaknya dia nendang. Aku nggak bisa berdiri," Vira merasakan kontraksi di perutnya.
"Anak papa kok gitu? kasihan mama kesakitan, kan anak papa, anak yang hebat,"
"Ajaib, Mas, dia berhenti,"
"Sudah, sekarang kita keluar kasihan mereka menunggu," Dawa memapah istrinya keluar kamar.
"Bentar, Mas. Aku masih nggak enak perutnya," keluh Vira.
Kebaya Vira sudah di tutupi dengan baju toga. Tampak dia kesulitan berdiri. Lagi-lagi Dawa mensounding calon bayi mereka. Supaya sedikit tenang.
...****...
"Savira Gayatri salah satu lulusan fakultas ekonomi dengan memperoleh IPK terakhir 3,80." Tepuk tangan riuh menyambut Vira berjalan menuju ke podium wisuda. Tentu dengan perut yang sudah membesar tak membuatnya malu melenggang di depan para petinggi kampus.
Mama Dewi menatap bangga pada putri bungsunya. Walaupun bukan paling terbaik. Karena ada nilai diatas Vira. Selama ini dia tidak pernah menuntut anaknya harus IPK tinggi. Dia sadar setiap anak berbeda-beda, Feri lulus dengan IPK 4,00. Sedangkan Dira sama dengan batas IPK Vira. Semua kemampuan anak-anaknya dia dukung.
"Selamat atas kelulusanmu, sayang! Semoga ilmunya berkah, dan kebahagiaan serta kesuksesan selalu menyertaimu.Selamat memasuki kehidupan baru, sayangku. Semoga mimpi-mimpimu bisa tercapai. Aku akan selalu ada di sampingmu!" ucap Dawa.
"Terimakasih, Mas. Ini juga berkat kamu dan anak kita,"
"Ini berkat doa-doa untuk orang yang sayang sama kamu," jawab Dawa.
"Senang sekali mengucapkan selamat kepadamu atas momen indah ini. Mama sangat bangga karena kamu telah menyelesaikan kuliahmu. Mama berharap kamu akan berhasil dalam setiap aspek kehidupan.
__ADS_1
Selamat atas kelulusanmu. Harapan terbaik untuk awal kehidupan yang baru. Selamat wisuda, Nak.
Kami tahu hari ini kamu sangat bahagia. Terimalah harapan tulus kami untuk hadiah terbaik yang telah kamu berikan kepada kami hari ini. Kami sangat bangga padamu," mama Dewi pun turut mengucapkan selamat pada Vira.