
"Pak Panji kenapa?" tanya There saat atasannya datang dengan wajah kusut.
"Harusnya kamu tahu saya kenapa?" There mengerutkan dahinya.
"Mana saya tahu, Pak. Saya bukan cenayang. Apa bapak mau curhat lagi? perasaan saya sudah banyak nampung curhatan bapak. Pasti soal non Vira lagi? kenapa pak belum move on?"
Panji menceritakan banyak hal yang dia temui mengingatkan kebersamaannya dengan Vira. Dari gaya bicara gadis itu yang terkesan cuek. Dari beberapa makanan yang dia hapal tentang Vira. Dari semua yang membuatnya masih merindukan gadis itu.
"Bapak harus membuka hati sama gadis lain," tiba-tiba There memberi saran yang membuat alis mata Panji naik.
"Buka hati? sama gadis lain? bagaimana bisa saya selalu di kejar kenangan bersama Vira. Kamu malah suruh cari wanita lain,"
There memandang penuh arti kepada Panji. Beberapa nama wanita yang di sodorkan There pada atasannya.
"Gadis pertama, namanya Anastasia Khairunisa, putri dari seorang CEO ternama. Lulusan Universitas Andalas Padang. Fasih lima bahasa, Indonesia, Inggris, Chinese, Jepang dan juga Itali.
Gadis kedua namanya Mayka Aulia, usia 35 tahun, sebagai staf perusahaan ternama. Kalau tidak salah dia kakak ipar Feri Andreas, pewaris utama PT. PUTRA NUSA,
Dan yang ketiga...."
Panji meminta There tidak melanjutkan soal kandidat kencan buta.
"Bagaimana kalau yang ketiga kamu coba dekatkan aku sama Vira? atau kalau Vira tidak berhasil ya tidak ada pilihan lain. Kandidat terakhir ya kamu,..."
There melongo saat disebutkan sebagai kandidat terakhir. Sungguh memikirkan jadi kandidat kencan buta atasannya saja tidak terlintas di benaknya.
"Bapak becanda, kan?" Panji menggeleng.
"Aku nggak bercanda, There. Kamu jomblo, saya juga jomblo, kamu sibuk mencarikan aku pasangan, sementara kamu sendiri belum ada. Klop kan?"
"Saya punya pasangan, pak. Pacaran sih enggak tapi saya sudah nunggu dia sejak kecil. Saya tidak mengada-ada, saya sering ketemu dia, dan ....
Saya bukan pelarian," kata There tegas.
"Saya tidak pernah merasa menganggap kamu pelarian. Saya cuma merasa kamu itu seperti dekat. Tapi entah kenapa kamu seperti sosok tidak asing,"
"Kamu ingatkan saya sama Echa, gadis kecil yang sudah seperti adik saya sendiri," batin Panji.
"Kak Ji, ini aku Theresia alias Echa. Gadis kecil yang dulu selalu mencari kakak," batin There.
"Oke, saya akan mendekatkan bapak dengan non Savira. Dan jika tidak berhasil kencan buta sudah di tutup. Maaf, pak saya tidak bisa ikut jadi peserta. Karena itu masalah hati,"
"Kamu menolak saya?"
__ADS_1
"Emangnya bapak nembak saya? enggak kan?" There meninggalkan ruang kerja. Entah kenapa rasanya sesak sekali. Namun dia mencoba profesional.
There mendaratkan tubuhnya di kursi kantin pabrik. Biasanya dia tergugah dengan menu yang di tawarkan ibu kantin. Tapi entah kenapa selera makannya sedang menurun. Apa karena soal Panji tadi? entahlah, There malas berspekulasi.
Beberapa saat lamunannya buyar saat getaran di kantong celananya. There langsung merogoh handphonenya. Bibirnya melengkung keatas saat tahu siapa yang meneleponnya.
"Ibuk," sapa nya.
"Nak, kamu nggak sibuk kan? ibu sedang dalam perjalanan ke rumah kamu,"
"Aku masih di pabrik, Bu. Tadi kunci rumah aku titip sama tetangga. Soalnya Indri tadi menelepon mau ke Jakarta,"
"Indri nggak jadi datang. Ibu yang gantikan, ya sudah. Ibu sudah sampai di kontrakan kamu,"
"Ibu tunggu di kontrakan saja, ya. Nanti aku segera pulang," pesan There.
There segera menyelesaikan makanannya. Berharap tidak banyak pekerjaan yang di berikan Panji nantinya. Supaya bisa cepat pulang dan bertemu sang ibu.
Theresia dulu adalah gadis desa yang merantau ke kota Jakarta. Berbekal ijazah Sarjana di kota kelahirannya, yaitu Jogjakarta. There akhirnya di terima bekerja pada sebuah pabrik PT. MADU BERKAH.
Tidak di sangka sang pemilik adalah tetangganya semasa di kampung. There memilih tidak memberitahukan tentang dirinya, karena dia yakin Panji tidak akan ingat hal itu.
Kebanyakan orang yang sudah sukses jarang ada yang ingat tempat asalnya. Itu sudah dia buktikan pada mendiang ayahnya. There ingat saat SMA nekat ke solo, setelah mendengar kabar ayahnya sudah sukses disana.
"Ayah jahat! aku ini anak ayah, kenapa ayah tidak mengakui hal itu. Apa karena istri baru ayah?" protes There kala itu.
"Ayah dan ibumu sebenarnya sudah bercerai, Nak. Kami tidak ada kecocokan lagi, bukan tidak ada kecocokan melainkan tidak pernah ada rasa cinta. Istriku sekarang adalah wanita yang pertama ayah cintai sebelum menikah dengan ibumu,
Satu hal yang ayah tekankan sama kamu, jangan bawa-bawa tempat tinggal kita di depan keluarga ayah. Bagi ayah urusan itu sudah selesai,"
Tidak perlu waktu yang lama There langsung memutuskan pulang ke Jogja. Baginya untuk apa bertahan di sana, kalau pada akhirnya dianggap orang asing. Rasa sesak mendera di dadanya. Air matanya luruh membasahi pipinya.
"Kenapa ibu tidak cerita kalau kepergian ayah waktu itu karena sudah bercerai dari ibu? kenapa ibu membiarkan aku memupuk harapan agar ayah bisa pulang berkumpul dengan kita?" There langsung mengeluarkan isi hatinya saat tiba di rumahnya.
"Maafkan ibu, Nak. Bukan maksud ibu membuat kamu berharap. Ibu hanya tidak ingin kamu membenci ayahmu. Kami sudah berusaha mempertahankan rumah tangga, demi kamu. Tapi sepertinya ayahmu tidak pernah meninggalkan perempuan itu. Saat ayahmu membahas soal perceraian ibu tidak bisa apa-apa,"
"Kalau ayah tidak bisa mencintai ibu, kenapa bisa ada aku diantara kalian,"
"Karena tuntutan dari dua keluarga, Nak. Keluarga ibu dan juga keluarga ayahmu. Walaupun ibu mencintai ayahmu, dan ibu tetap melakukan kewajiban layaknya seorang istri pada umumnya,"
"Re," lamunannya buyar saat ada yang menepuk pundaknya.
"Iya, pak," jawab There
__ADS_1
"Nanti jam tiga sore ada pertemuan dengan kolega dari Sukabumi. Kamu bisa ikut kan dengan saya," kata Panji.
"Jam tiga sore?" There terhenyak, padahal dia janji akan pulang cepat sama ibunya.
"Iya, kenapa?"
"Pak bolehkah saya tidak ikut? ibu saya baru sampai sekarang menunggu di rumah," ucap There.
"Please, Re. Ini tentang pekerjaan. Kamu itu asisten saya, jadi harus ikut kemana pun saya pergi,"
"Maaf, Pak. Kalau tadi saya lancang,"
"Sekarang kita persiapkan bahan untuk pertemuan dengan mereka," titah Panji.
"Baik, Pak," There memasuki meja kerjanya untuk menyiapkan bahan meetingnya.
Seperti yang di bahas sebelumnya, mereka berangkat ke cafe sesuai janji. Dimana Panji mendapat informasi kalau perwakilan dari kliennya sudah menunggu di sana.
Panji dan There sampai di cafe tujuan mereka. There kesulitan membuka sabuk pengaman, Panji melihat kesulitan asistennya langsung membantu membuka.
Aroma tubuh lelaki itu membuat There tidak karuan. Sebisanya dia menghindar tabrakan pandangan dari lelaki itu.
"Sudah," ucap Panji.
"Terimakasih,Pak," Ucapnya sambil turun dari mobil.
"Sama-sama" There mengikuti Panji meninggalkan tempat parkiran mobil.
Mereka melenggang masuk ke area cafe. Baik Panji maupun There mengedarkan pandangannya ke setiap sudut cafe. Mencari klien perwakilan dari tuan Merdeka.
"Apa tuan Merdeka sudah datang?" tanya Panji tanpa lawan bertanya.
"Maaf, apa anda sudah memesan tempat?" sapa karyawan cafe.
"Saya ada janji dengan pak Merdeka, apa dia sudah datang atau ada perwakilannya?"
"Oh, ada pak. Itu orangnya sudah menunggu anda. Mari saya antar ke sana," Panji dan There mengikuti langkah karyawan cafe, tampak dari belakang seorang lelaki berkursi roda sedang asyik dengan gawainya.
"Pak Deka punya staf berkursi roda. Kalau anaknya tidak mungkin. Setahu aku anaknya meninggal dunia," batin Panji.
Panji pun berjalan mendekati tempat kliennya.
"Perwakilan pak Merdeka?" sapa Panji.
__ADS_1
Lelaki itu menghentikan aktivitasnya lalu menoleh kearah pemilik suara. Panji dan lelaki itu kaget saat tahu siapa yang mereka temui.