SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 96


__ADS_3

Dira diajak pulang ke mess yang sudah di siapkan Arjuna. Mess yang akan mereka tempati nanti. Tadinya mereka akan menginap di rumah mama Salma. Berhubung ada mama Dewi dan Ayu serta keluarga kecilnya. Kamar di rumah mereka cuma ada tiga. Mama Salma dan mama Dewi satu kamar. Ada kamar bekas Juna yang di tempati mak Wiwit. Sementara kamar satu lagi di tempati Ayu dan keluarga kecilnya.


Setelah kepulangan Juna. Mak Wiwit tidur sama mama Salma. Sementara Juna balik ke kamar lamanya. Rumah mereka yang di Bogor sudah di jual. Efek aset pabrik banyak di tahan karena modal dari tuan Shahab.


Waktu menunjukkan pukul 21. 00, semua pelayat sudah meninggalkan lokasi. Hanya beberapa yang masih tersisa. Para bapak-bapak yang kelelahan membantu membersihkan bekas acara. Rencananya besok sore bakal diadakan tahlilan sehabis ashar.


Dira tadinya ingin bertemu dengan Rian. Menyampai rasa belasungkawa pada mantan kekasihnya. Tapi rasa lelah jauh lebih kuat. Juna tahu kalau istrinya lelah akhirnya mengajak pulang ke mess. Setelah pamit pada Tante Yasmin, di susul pamit sama mama Dewi dan Mama Salma. Mereka pun bertolak menuju mess kecil tersebut.


"Kamu suka"


Juna menempelkan kepalanya di bahu Dira. Tangan Juna mengalung di pinggang istrinya. Kedua jemari saling bertautan. Senyuman terpancar dari keduanya.


"Cakep, mas. Mirip rumah muslim panas di luar negeri."



"Terimakasih. Aku tadinya takut kamu tidak cocok dengan desainnya."


"Apapun yang kamu buat, aku akan menerimanya. Bukankah Sejatinya seorang istri harus menerima apapun yang di beri suaminya."


"Sekarang kita masuk ke dalam. Kamu pasti sudah capek kan setelah perjalanan jauh kita." Dira mengiyakan ucapan suaminya.


Mereka memasuki rumah yang sederhana tapi manis. Dira memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan. Aksesoris yang sederhana simple namun elegan. Kakinya terhenti pada sebuah photo masa kecilnya. Bersama seorang anak lelaki. Dira hanya menundukkan malu.


"Kamu tahu kenapa aku pasang photo ini?"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena barang seperti ini yang membantu aku membangkitkan ingatanku."


"Oh ya, jadi mas benar-benar sudah ingat? aku pikir itu cuma akal-akalan kamu."


"Ish, sejak kapan aku mau ngerjain kamu, sayang?"


"Sejak waktu di pingit. Bilangnya belum ingat apa-apa, nggak tahu nya sudah sembuh. Di situ kelihatan mulai suka bohong."


"Aku nggak bohong itu, cuma kalau aku bilang aku dah sembuh bukan surprise lagi namanya."


"Tetap saja ...."


Juna langsung mencium bibir Dira. Sambil menggendong tubuh istrinya. Dira tidak melawan, dia menikmati apa yang dilakukan suaminya. Tak terasa tubuhnya sudah berada diatas ranjang. Ranjang putih yang sudah ada taburan bunga melati. Sesaat Juna melotot dengan hasil kreasi orang suruhannya.


"Kok bunga melati? emangnya kami mayat?" batin Juna.


"Ada ada, mas?" Dira merasa heran tiba-tiba suaminya melepaskan tautan bibirnya.


Tangan Dira menahan lengan suaminya. Dia masih asing dengan suasana rumah tersebut. Di tambah suaminya malah pamit keluar.


"Mas mau kemana? jangan pergi, Mas. Aku takut." Juna pun duduk di samping istrinya.


"Aku cuma mau menemui mang ibing, sayang. Cuma sebentar." Dira menggeleng. Dia tetap melarang suaminya pergi meskipun sebentar saja.


"Baiklah, aku akan disini bersamamu." Juna menggerakkan tangannya menyingsing helaian rambut yang menutupi area telinga Dira.


Dira tersenyum sambil kembali mengeratkan pelukannya. Hiasan senyuman manis dari sang istri membuat Juna kembali di buat rasa. Juna kembali melabuhkan kecupan di bibir Dira.

__ADS_1


"Padahal baru semalam, tapi ternyata aku merindukannya kembali, sayang." suara bisikan Juna melambung Dira ke tempat yang lebih tinggi. Hentakan bibir mendaratkan di tepi lehernya.


"Mas, aku masih capek." bisik Dira.


"Aku akan pelan-pelan sayang. Kamu tenang saja."


"Mas, kamu harus janji tidak akan meninggalkan aku lagi. Kamu harus janji kita akan bersama selamanya sampai anak-anak kita dewasa nanti."


"Aku janji akan mencintaimu seumur hidupku, Dira. Tak akan ada wanita yang lain selain dirimu."


"Terimakasih, Mas."


Juna mulai melancarkan aksinya. Dira menikmati apa yang di lakukan suaminya. Hasrat yang menguasai keduanya. Mereka sudah sah menjadi suami-istri.


Malam yang mereka lalui terasa begitu indah. Malam penuh hasrat membuat keduanya kembali memadu kasih. Dira tampak puas dengan apa yang dilakukan suaminya. Setelah bertempur, Juna meminta istrinya tetap di kamar. Sementara dirinya kedapur meracik minuman hangat, karena udara malam yang dingin.


Lembang berada di puncak gunung Kecamatan Lembang berada pada ketinggian antara 1.312 hingga 2.084 meter di atas permukaan laut. Titik tertingginya ada di puncak Gunung Tangkuban Parahu. Sebagai daerah yang terletak di pegunungan, suhu rata-rata berkisar antara 17°-27 °C.


Dira menutupi tubuhnya di balik selimut. Waktu semakin larut semakin tinggi temperatur udara. Juna menemui Dira di dalam kamar membawa dua gelas bandrek susu.


"Minum dulu, sayang. Biar hangatin badan." Juna memberikan satu gelas bandrek pada Dira.


"Terimakasih, Mas. Oh ya besok kita ziarah ke tempat Delia dan juga ke makam papa Johan. Sejak setelah sadar dari tidur selama satu minggu lebih. Aku belum sempat datang ke sini ziarah ke makam papa. Bahkan mama Salma yang sering jenguk aku. Dulu rencananya sebelum ke Tulang Bawang aku mau silaturahmi ke Lembang. Tapi ternyata kita malah bertemu di Tulang Bawang."


Juna mendengar cerita Dira dengan seksama. Dia juga tidak menyangka kalau kedatangan Dira malah membantu kesembuhannya. Selama ini dia sudah mengasah ingatannya pada orang-orang disana. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang memancing terbukanya pada kenangan disana.


"Kamu istirahat ya, sayang. Aku beresin bekas di dapur dulu." kata Juna pada istrinya.

__ADS_1


"Jangan lama-lama, Mas." Juna tersenyum mengiyakan permintaan istrinya.


Dira merebahkan tubuhnya lalu perlahan memejamkan mata. Tubuhnya benar-benar sangat lelah. Sangat ingin beristirahat.


__ADS_2