SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 115


__ADS_3

Dua hari kemudian


"Bagaimana?" tanya Maria melalui saluran telepon.


Maria penasaran apa reaksi Tio saat pak Suprapto kembali mengajukan kerjasama lagi. Harapannya agar umpan yang dia pancing bisa manjur. Apalagi dia sudah menuruti lelaki tua bangka itu memberikan tubuhnya. Memuaskan lelaki itu, kalau ternyata nanti tidak berhasil, usahanya jadi sia-sia.


"Tio sangat senang sekali saat saya kembali menawarkan kerjasama dengannya. Terdengar suaranya sangat senang. Sewaktu saya pertama kali bertemu Tio saat Johan masih ada, saya merasa kinerjanya masih jauh. Itu juga beberapa kali Johan memarahinya. Saya dan Johan memiliki pemikiran yang sama.


Jadi kesimpulan saya, Tio merasa diatas angin saat Juna di kabarkan meninggal dunia. Dia membuat beberapa proyek yang sebenarnya tidak perlu.


Saya pernah menjelaskan kalau yang dia kerjakan itu tidak ada hubungannya dengan perkebunan."


Maria mendengar cerita itu tersenyum kecil. Itu yang dia tunggu selama ini. Mengadu domba dari Tio, Juna dan menghilangkan kepercayaan klien yang bekerjasama dengan PT. Bramantyo. Termasuk menjelekkan Dira di mata warga sekitar perkebunan. Itu yang membuat Juna murka kepadanya.


Namun, hal itu bukan mengecilkan hatinya. Dia juga mendengar percakapan warga saat di rumah Juna waktu itu. Baginya apa yang di ucapkan warga juga tidak asal pendapat. Juna pernah cerita kalau Dira belum bisa ikut dengannya. Juna terlihat legowo ketika istrinya menolak diajak ke Lembang dengan berbagai alasan.


"Maria?"


Suara lelaki paruh baya itu kembali mengagetkan lamunannya. Maria menarik nafas dalam-dalam. Sekarang dia harus kembali fokus sama dendamnya pada Arjuna.


"Iya, om."


Om? entah kenapa dia harus memanggil lelaki itu dengan sebutan om. Rasanya ada kegelian. Tapi sekarang dia bukan lagi seorang sekretaris. Jadi rasanya memanggil sebutan pak terlalu formal. Toh, memang lelaki itu adalah om-om.


"Jadi bagaimana? apakah Tio sudah mengirimkan uang mukanya?" tanya Maria


"Saya belum check M-banking di handphone yang satu lagi. Maklum saya sebagai pebisnis harus memiliki banyak kontak penting. Ya kamu tahu sendirilah kalau saya termasuk lebih sukses dari Johan. Tapi karena sudah berteman lama dengan Johan dan Abdul jadi aku mau jadi klien mereka."


Ckckck... ternyata bapak tua itu sombong juga. Kalau dia memang lebih sukses dari PT. Bramantyo, kenapa dia ngemis kerjasama? di tambah waktu itu anaknya kegenitan sama Arjuna. Sepertinya aku bisa sekali tangkap dua lalat sekaligus.

__ADS_1


"Sepertinya saya dan kamu bisa bertemu lagi. Kita membahas langkah selanjutnya. Saya belum lihat kehancuran Arjuna karena menginjak harga diri saya karena membela istrinya yang mantan pelakor itu. Membela adik ipar yang sebenarnya musuh dalam selimut."


Maria mengerutkan dahinya. Mantan pelakor? dia baru tahu hal itu. Huft, ternyata tidak susah menghancurkan rumah tangga Juna dan Dira. Maria menebak pasti Juna tidak tahu masa lalu Dira.


"Dari mana anda tahu kalau Dira itu mantan pelakor? kenapa anda menuduh Tio itu musuh dalam selimut?" tanya Maria.


"Dari anak saya, Tania. Dia satu angkatan kuliah dengan Dira. Nanti saya cerita pas kita bertemu lagi. Saya juga merindukan masa indah kita. Kamu tahu sendiri, Istri sudah tua. Tidak menarik lagi."


Dasar tua bangka!


Maria menutup kontak teleponnya dengan pak Suprapto. Cukup satu kali dia melayani lelaki itu. Selanjutnya dia akan cari mangsa lain untuk mengadu domba Arjuna dan semua kliennya.


Maria masuk ke kamar. Matanya memandang langit-langit dinding kamar. Kalau sudah keadaan seperti ini dia kembali menjadi Maria yang rapuh. Merindukan kasih sayang seorang ibu.


Mamanya meninggal dunia saat dia kuliah di Bandung semester tiga. Siapa yang tidak sedih ketika seseorang yang dia sayangi pergi untuk selamanya. Hanya mamanya sebagai tumpuan hidupnya.


Papanya? setelah mamanya meninggal papanya sempat menduda beberapa bulan. Hingga lelaki itu datang membawa seorang perempuan muda sepantaran dirinya. Siapa yang menolak ketampanan papanya. Dulu Maria pernah dengar kalau papanya lebih muda 15 tahun dari mamanya. Katanya saat menikah usia mama sudah 37 tahun, sedangkan papanya. (Tebak saja sendiri?).


Aku kerja di sana demi lelaki yang aku sukai sejak SMA. Butuh perjuangan untuk membujuk papa demi kerja disana. Sebenarnya kalau aku ingin kerja di kantor papa juga bisa. Tapi demi Juna, apapun akan aku lakukan.


Dia lupa kalau sikapnya yang care itu memberiku harapan. Meskipun aku tahu Juna seperti itu juga bukan sama aku saja. Tapi dengan orang lain pun begitu.


Dira mantan pelakor, sepertinya menarik. Jadi aku ada bahan buat menjelekkan Dira melalui warga sekitar perkebunan. Sepertinya yang mendukung aku dan Juna banyak ketimbang setuju dengan Dira.


"Maria"


Maria mendengar suara mama tirinya menyebutkan namanya. Dia malas menuruti wanita yang cocok di panggil adek daripada mama. usia Maria 29 tahun, sementara mama barunya 27 tahun.


Sewaktu papanya menikah lagi, mama barunya masih 18 tahun. Baru saja selesai tamat SMA. Mama barunya itu pun diizinkan kuliah sama papanya. Dan satu kampus dengannya. Tak ada yang tahu kalau Angel itu mama tirinya. Meskipun banyak yang mendekati mama barunya, tapi Angel tetap setia sama papanya. Tapi tetap saja Maria tidak suka dengan mama barunya.

__ADS_1


Iyalah dia setia, takut kalau bertingkah di depak sama papa terus miskin lagi. Batin Maria.


*****


Angel sedang memasak di dapur, tak jauh dari posisinya sang suami sedang asyik membaca koran. Sebagai wanita muda, Angel cukup menikmati statusnya sebagai ibu sambung. Dia tahu tidak mudah di terima dalam keluarga suaminya. Terlebih anak sambungnya yang usianya diatas dirinya.


Terdengar suara bel rumah membuat Angel menghentikan aktivitasnya. Namun sebelum dia beranjak dari dapur, suaminya sudah pergi ke depan terlebih dahulu. Angel pun menyusul suaminya, dia mengkerutkan dahinya saat tahu siapa tamu yang datang.


"Permisi, apa benar ini rumah nona Maria Selena?" tanya salah satu lelaki berseragam coklat itu.


"Iya, ada apa, ya mencari anak saya?" tanya papanya Maria.


"Ajak masuk saja, Pa. Bicara di dalam saja. Tidak enak kalau ada tetangga yang lihat." kata Angel.


Kedua tamu berseragam coklat itu pun di persilahkan masuk. Mereka diajak berbincang dengan papanya Maria, sementara Angel memanggil anak sambungnya.


"Maria, ada yang mencari kamu?" panggil Angel.


Maria bangkit dengan malasnya. Dia merasa tidak ada janji bertemu hari ini. langkah kakinya berjalan menuju ruang tamu. Dia penasaran siapa yang datang mencarinya.


Kakinya terpaku. Seakan ada magnet yang menghambat langkahnya. Dua lelaki berseragam coklat duduk di diantara papa nya.


"Maria, apa yang kamu lakukan sama mereka datang kesini mencarimu?"


"Aku tidak melakukan apa-apa, pa." ucap Maria lirih.


"Nona Maria Selena, anda harus ikut kami. Berdasarkan laporan yang di ajukan saudara Arjuna, anda sudah menipu dengan memakai nama PT. Bramantyo. Anda juga memeras saudara Tio dengan iming-iming kerjasama." kata pak polisi.


Dua lelaki berseragam coklat itu memborgol tangan Maria. Tentu saja dia memberontak karena merasa tidak melakukan apa-apa.

__ADS_1


"Pa, tolong aku! Maria tidak salah, pa!" mohon Maria.


"Pak, bawa saja dulu anak saya. Nanti kita diskusikan di kantor polisi." ucap papanya Maria.


__ADS_2