
"Saya malu bertemu dengan mereka terutama Feri. Saya sadar kalau sudah keterlaluan saat itu. Saya sadar kalau sudah melukai perasaan Dewi." ucap Andre menunduk.
"Pak, kita ke dalam. Berserah diri kepada Allah. Niscaya perlahan-lahan pintu maaf akan terbuka. Asal bapak mau berusaha mendekatkan diri pada mereka.
Saya juga pernah di posisi anda. Bedanya saya mengabaikan orangtua dan adik-adik yang saat itu masih kecil. Saya pernah merasa bahwa mereka terlalu mengandalkan anak dan kakaknya ini.
Sehingga saya lupa kalau sebenarnya saya bisa seperti ini juga berkat kedua orangtua dan doa adik-adik saya."
Setiap manusia pasti pernah mendapatkan cobaan hidup. Ada yang sukses melalui cobaan itu, ada pula yang justru makin menjauh dari Allah SWT.
Sesungguhnya cobaan adalah cara Allah untuk mengetahui maqam (tingkat) keimanan manusia. Dan dengan cobaan itu, menjadikan manusia siap memasuki surga.
Menjadi manusia adalah tanggung jawab yang besar. Kita dilahirkan di muka bumi menjalani hidup untuk beribadah kepada Allah dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini disebut dengan taqwa. Tentu saja, Allah selalu memberikan ujian kepada manusia untuk menaikkan tingkat ketaqwaannya.
Kalau bisa dibilang, ini seperti ujian kenaikan kelas. Semakin sulit ujiannya, level atau tingkatan derajat yang didapatkannya akan semakin tinggi. Salah satu ujian dari Allah untuk menaikkan derajat ketaqwaan manusia adalah dengan ditimpakan musibah atau cobaan.
Andre pun mengikuti Saiful masuk ke dalam mushola. Beberapa orang sudah memenuhi deretan saf barisan. Andre pun berada di barisan belakang imam. Berdiri sejajar dengan Saiful. menunaikan kewajiban sebagai umat muslim.
Selesai sholat, Andre duduk sejenak di pinggir mushola. Merentangkan kakinya yang sedikit pegal. Saiful pun menghampiri Andre. Mengajak lelaki itu untuk mengikuti tausiyah ustad yang sebentar lagi akan dimulai.
"Emang boleh?" tanya Andre.
"Loh emang ada larangan?"
"Saya malu, Ful."
"Kenapa harus malu, pak. Justru bapak nanti akan di tuntun ke jalan yang benar. Walaupun nggak instan, yang penting kita sudah usaha berbenah diri. Yang harus malu itu kalau kita sudah tahu salah tapi tidak mau berbenah diri." Saiful menepuk pundak Andre.
Mereka pun duduk di sebuah aula kecil tak jauh dari ruang sholat. Dia merasa bersyukur punya kenalan yang masih perhatian pada dirinya.
__ADS_1
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas nikmat iman dan Islam. Atas karunia-Nya juga, kita bisa berkumpul di tempat mulia ini.
Shalawat serta salam kita sanjungkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang dengan cahaya Islam.
Alhamdulillah pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk bertatap muka dalam suasana yang penuh kebahagiaan. Salawat serta salam kita sanjungkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman penuh kegelapan ke zaman yang terang benderang dengan percikan iman dan Islam.
Dalam hal ini kita akan membahas tentang makna maaf.
Pada bingung kan kenapa bahas maaf-maafan. Padahal lebaran saja belum. Ramadhan pun belum datang. Tapi apakah minta maaf harus waktu lebaran. Enggak dong.
Jika kita memaafkan seseorang itu artinya kita lepas dari satu penyakit hati yaitu dendam. Kenapa begitu, orang yang susah memaafkan orang lain berarti hatinya belum bersih.
Iya memang kalau manusia tidak luput dari salah dan dosa. Tapi apakah hal itu harus di benarkan dan di pelihara begitu saja. Tentu hal itu tidak baik. Namanya penyakit harus diobati kan. Masih ingat ada pepatah yang mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati. Salah satu obat mencegah penyakit hati adalah maaf.
Jika kamu menyatakan suatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Kuasa. (QS An-Nisa: 149)
Suatu perbuatan yang baik dengan membeberkannya memang baik, seandainya orang yang melakukan perbuatan baik itu dapat menjaga diri dari sifat ria, serta hatinya penuh dengan keikhlasan dan keimanan. Sehingga menjadi teladan bagi orang lain.
Sedangkan mengerjakan kebaikan secara tersembunyi akan lebih memelihara kehormatan fakir miskin.
Pemberian maaf yang dilakukan seseorang kepada orang-orang yang telah berbuat salah terhadapnya termasuk perbuatan yang akan mendapat balasan dan pahala dari Allah, sebab Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.
Tapi ada tapinya nih,
Yang punya salah lebih bagus meminta maaf terlebih dahulu. Ya namanya juga si pembuat masalah Harusnya lebih tahu diri. Gitu ya, jangan nunggu di maafin baru mau minta maaf. Itu lah yang namanya etika dalam kehidupan.
Setelah mendengar tausiah Andre pun undur diri dari hadapan Saiful. Lelaki yang katanya mantan pegawai istrinya. Padahal mereka baru kali ini bicara akrab. Selama ini dia tidak pernah mengenal semua staf tempat dia bekerja dulu.
__ADS_1
Kakinya terhenti di sebuah gedung perkantoran. Gedung dimana dia mengadu nasib. Mempertemukan dengan jodohnya. Sebuah penyesalan besar karena sudah mencoreng perasaan istrinya. Sudah mencoba menodai putri kecilnya. Dia dibutakan oleh nafsu dunia. Kelakuannya melewati batas dan mungkin tak termaafkan.
Rintik-rintik hujan kini menjadi guyuran air yang sangat deras. Kilat dan halilintar bergantian berseru. Orang-orang di sekitar kantor PUTRA NUSA berlarian mencari tempat berteduh. Tapi tidak dengan Andre, pikirannya entah kemana sementara tubuhnya ada di depan gedung itu.
Suara seseorang yang menyerukan dirinya untuk berlindung. Tak membuat lelaki itu tersadar.
"Pak Andre ngapain disini? masuk pak. Nanti bapak sakit." suara bariton itu mendekati dirinya.
"Saya lantas pantas sakit! saya juga pantas mati! karena saya hina."
"Yang pantas mengatakan itu hanya Allah, pak. Bukan manusia, kita ini hanya menjalani scenario kehidupan yang sudah ada takdirnya. Bapak meratapi juga Bu Dewi nggak akan mau balik sama bapak. Perempuan kalau sudah disakiti susah buka pintu maaf.
Maaf pak saya bicara lancang. Saya hanya bicara apa yang saya tahu. Saya minta maaf."
Andre tidak mempersalahkan ucapan Sapto, satpam senior yang masih bertahan kerja di perusahaan PUTRA NUSA. Apa yang di ucapkan lelaki itu memang benar adanya. Apapun yang akan terjadi, kalaupun dia akan di usir nantinya, dia siap dengan segala resikonya.
"Papa," sapa seorang lelaki muda yang berdiri di hadapannya.
Andre langsung melipatkan kakinya. Kepalanya menunduk, tangannya memegang kedua kaki lelaki muda itu. Tangisannya pecah namun kalah dengan derasnya suara hujan. Feri melemparkan pandangan ke lain arah. Rasa bencinya pada papanya masih bersarang di hatinya. Tangannya mengepal erat. Andai bukan di kantor dia sudah menghajar lelaki itu habis-habisan.
"Maafin, papa, nak. Papa bukan ayah yang baik buat kalian. Papa tahu kalau apa yang saya lakukan dulu sangat jahat. Papa sadar semua kesalahan."
"Kenapa baru sekarang, Pa! kenapa baru sekarang papa datang dan minta maaf. Kenapa tidak dulu saat papa mengkhianati mama dengan beberapa perempuan. Kenapa,pa! apa papa sekarang sudah tidak punya apa-apa makanya baru mendatangi kami.
Sekarang kamu pergi dari sini! jangan sampai batas kesabaran saya habis karena melihat kamu! PERGI!"
"Papa akan pergi sebelum kamu memaafkan saya. Saya hanya perlu permintaan maaf dari kalian. Saya tidak minta harta, atau kembali sama mama kalian. Saya hanya ...." Andre merasa penglihatannya berbayang. Dia sesekali memegang kepala yang mulai terasa berat.
"Papaaaaaa....!"
__ADS_1