SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 108


__ADS_3

Suara ambulan terdengar menggaung di sekitar perusahaan PUTRA NUSA. Feri dan beberapa staf nya membawa Andre masuk ke dalam mobil ambulan. Feri hanya terdiam sesaat melihat papanya di beri alat medis di sekujur tubuh. Feri awalnya mengira itu hanya akting sang papa demi mendapatkan belas kasihan dirinya.


Feri memandang handphonenya, mencoba menghubungi istri dan mamanya. Mengabari tentang kedatangan papanya di kantor tadi. Sungguh tak maksud membuat Andre terpuruk. Tapi bukannya itu pantas untuk papanya. Lelaki yang sudah menghancurkan hati sang mama. Dimatanya Andre bukanlah ayah yang baik.


Kenapa begitu? adakah seorang ayah mencoba menodai putri bungsunya. Kalau Feri tidak di beri tahu oleh Bi Inah soal gelagat papanya berbeda. Kalau saja Feri tidak mengecek cctv kamar orangtuanya. Mungkin akan beda cerita. Mungkin Vira bukan lagi gadis yang ceria seperti sekarang ini.


Feri tahu semasa kecil dia lebih dekat dengan papanya ketimbang mamanya. Bukan hanya Feri, Dira dan Vira juga sangat di sayang serta dimanjakan oleh papanya. Itu kenangan manis yang terakhir Feri ingat dari papanya. Seperti kebanyakan anak yang lainnya, Andre selalu menunjang semua kegiatan Feri. Dari basket, Feri di datangkan guru langsung ke rumah. Karena saat SD Feri tak terlalu sering bermain bersama temannya. Hanya Arjuna lah yang betah main bersama Feri.


Feri ingat saat papanya kecewa ketika dia dijebak oleh Glen. Kemarahan sebagai orangtua karena merasa gagal mendidik anaknya. Sayangnya Andre melampiaskan kemarahannya pada mamanya. Feri merasa kasihan pada mamanya.


Feri ingat kebenciannya pada papanya diawali saat Padma, sekretaris mamanya datang. Wanita itu dengan santai mengaku hamil anak papanya. Wanita itu malah mengatakan kalau dia lebih baik dari mama Dewi. Kenapa begitu? wanita itu malah bilang kalau papanya kesepian dan servis dirinya sangat di sukai Andre. Sejak saat itu Feri tidak percaya lagi pada Andre. Toh kebenciannya sangat beralasan karena sifat papanya yang mata keranjang.


Feri duduk di kursi tunggu depan ruang ICU. Menunggu keterangan dokter tentang keadaan papanya. Dia tidak bisa berpikir hal yang lain. Saat ini yang bisa dia harapkan adalah bukan sesuatu yang buruk menimpa papanya. Dia benar-benar benci situasi ini.


"Mas,"


Feri mendengar suara lembut itu sudah berada di sampingnya. Tangan lembut itu menggenggam erat jemarinya. Seakan tahu apa yang dia rasakan.


"Mama mana?" tanya Feri.


"Aku nggak tahu, mas. Tadi waktu aku ke kantor. Pak satpam bilang kamu bawa om Andre eh maaf papa Andre ke rumah sakit. Makanya aku langsung susul kesini. Lagian dari maps kontak kami alamatnya disini." Tina menampakkan peta lokasi keberadaan Feri.


"Apa aku jahat, Sayang?"


Tina tahu tentang kejadian tadi dari pak Sapto, satpam senior di putra Nusa. Ada satu hal yang dia simpulkan. Bahwa papa Andre ingin memperbaiki hubungannya dengan anak-anaknya. Tina tahu bagaimana mama mertuanya dulu hancur karena ulah suaminya. Bagaimana perusahaan di ambang kehancuran. Walaupun dia belum lama mengenal Feri dan akhirnya menikah. Paling tidak dia pernah di ceritakan oleh budenya.


Air matanya menetes di pipinya. Feri hanya terus menunduk tanpa menoleh kanan kiri. Tina yang membawa rantang mengingatkan Feri untuk makan dulu. Dia takut suaminya pasti belum makan.

__ADS_1


"Tina, kamu harus mengerti situasi! di saat seperti ini mana mungkin aku bisa makan. Kejadian ini pun sudah membuat aku pusing kepala. Dan kamu malah minta aku makan? dimana otak kamu!" Feri dengan nada suara tinggi.


"Ma... maaf, mas. Aku hanya khawatir dengan keadaan kamu. Itu saja." Tina mencoba tidak terpancing emosi ketika di bentak suaminya. Akan tetapi, rasa sesak sangat terasa.


"Kakak!" suara Vira terdengar melengking dari lorong arah barat.


"Vira, kamu kenapa kesini?" tanya Feri.


"Mama suruh aku susul kakak. Papa bagaimana keadaannya?" suara Vira terdengar cemas.


"Masih di tangani." Jawab Feri datar.


Mereka duduk kembali di depan ICU. Feri gelisah, kenapa rasanya lama sekali dokter menangani papanya? apakah ada hal yang serius dalam fisik papanya?


"Kak, apa yang sebenarnya terjadi? apa kakak melakukan sesuatu pada papa?"


"Kenapa kamu nanya begitu?"


"Ya karena apa yang papa lakukan pada mama dan kita sudah keterlaluan. Papa dulu suka main perempuan. Sampai bikin Mama hampir bangkrut. Kamu tahu kan soal itu."


"Iya, kak. Aku tahu itu. Maaf kalau aku banyak tanya."


"Nggak apa-apa, Vira. Kamu juga berhak tahu apa yang terjadi di keluarga kita. Tapi kenapa mama tidak ikut. Apa karena ada Tante Rani di rumah?"


"Ada om Faris juga, sama kak Okta. Kayaknya mau susul Tante Rani. Katanya sih, Tante Rani itu kabur dari rumah. Ngambek sama om Faris."


"Vira, ini rumah sakit. Nggak baik bergosip." tegur Tina.

__ADS_1


Lampu depan ruang ICU sudah di padamkan. Pertanda pasien sudah selesai di tangani. Feri, Vira dan juga Tina langsung berdiri menunggu dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Keluarga pasien?" Tanya dokter yang tampan mirip Kim woo bin.


Mereka langsung mengerumuni dokter. Ingin mengetahui keadaan papanya. Tampak dokter raut wajahnya tak begitu baik.


"Bagaimana keadaan papa saya, dok?" tanya Feri.


"Ayah anda mengalami serangan jantung. Sepertinya kondisi jantungnya lumayan parah. Dan kami sepertinya akan melakukan tindakan penguncian cincin di jantung ayah anda."


"Tolong berikan yang terbaik untuk papa saya. Operasi yang terbaik. Berapa pun biayanya akan aku bayar yang penting papa selamat." Feri bicara seperti itu sebagai tanda rasa sesalnya dengan sikapnya tadi di kantor.


"Baik." jawab dokter.


"Seandainya tadi aku tidak kasar sama papa. Mungkin tidak akan separah ini. Tapi entah kenapa saat melihat papa, yang terlintas di benakku adalah tangisan mama. Rasanya aku ingin sekali dia tahu bagaimana penderitaan mama." Feri bercerita sambil berlinang air mata.


"Mas, sekarang yang terpenting kita mendoakan semoga operasi papa lancar, bisa sembuh seperti sediakala. Berkumpul bersama anak-anaknya. Semua orang tua berharap di masa tuanya bisa bersama anak dan cucunya. Meskipun mama Dewi dan papa Andre tidak bersama lagi." kata Tina.


"Amin. Terimakasih sayang. Kamu selalu menguatkan aku di saat seperti ini."


"Bukankah itu tugas seorang istri. Jadi sudah kewajiban aku mengingatkan kamu untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi. Dan jika aku ada salah tolong ingatkan agar bisa menjadi istri yang lebih baik lagi ke depannya."


Vira melihat pemandangan di hadapannya. Hatinya sedikit menghangat, punya dua kakak ipar yang baik dan sayang sama pasangannya. Vira teringat pada Satria yang memiliki karakter yang sama seperti mereka. Sejenak dia sadar, tak baik mengingat sosok yang sudah milik orang lain.


Vira mengabari mamanya soal operasi pemasangan cincin jantung pada papanya. Berharap sang mama mau menengok walaupun bukan pasangan lagi.


Baru selesai Vira mengirimkan kabar. Mama Dewi sudah datang bersama Tante Rani dan Om Faris. Seperti biasanya wajah Tante Rani yang terlihat jutek pada dirinya.

__ADS_1


"Bagaimana papa kalian?" tanya mama Dewi.


"Papa punya serangan jantung parah, ma. Tadi kak Feri baru saja menyetujui operasi pemasangan cincin jantungnya. Baru saja papa di pindahkan ke ruang operasi." cerita Vira.


__ADS_2