
"Pak mantri bagaimana keadaan kakak saya?" tanya Elsa ketika seorang lelaki keluar dari kamar Dawa.
"Kakak anda hanya memar sedikit tidak terlalu parah. Dia syok saja. Tadi saya sudah kasih obat pereda nyerinya."
Elsa hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan pak mantri. Lelaki yang di sinyalir usia 35-an itu pun pamit meninggalkan villa milik keluarganya Elsa. Setelah tamunya pergi, Elsa langsung ke kamar Dawa. Melihat lelaki itu memang masih sadar sepenuhnya, Elsa pun meminta bibi untuk membuatkan sarapan untuk Dawa.
"Maafkan aku, kak. Karena aku kakak jadi begini" ucap Elsa merasa bersalah.
"Kamu tidak salah, Sa. Mungkin ini memang salahku, karena masalah Kayla, Vira jadi semarah itu sama kakak. Tapi memang aku bukan yang menghamili Kayla. Aku sendiri tidak tahu siapa ayah dari bayi itu. Terakhir aku ketemu Kayla, dia masih bungkam.
Parahnya om irul ternyata sudah tahu kalau anaknya hamil di luar nikah. Aku merasa di tipu mentah-mentah oleh mereka."
Dawa menggenggam erat jemari Elsa. Menatap gadis yang bertahun-tahun dia cari. Elsa menunduk malu sesaat. Dialihkannya pandangan dari tatapan lelaki itu.
"Sa, aku mau bertanya sesuatu sama kamu?"
"Silahkan?"
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu kamu datang ke kantor membawa box. Apakah kamu sudah ingat tentang kita dulu? Ah, iya. Bukankah kamu dulu masih kecil. Masih usia lima tahun saat itu. Tapi, kalau kamu datang mengembalikan box itu. Berarti kamu sudah baca suratku?"
Elsa duduk menjarak dari sisi Dawa. Ingatannya berputar bagaimana dia diminta Vira untuk mengantarkan box untuk pria bernama Danu. Sayangnya Vira tidak menjelaskan bagaimana ciri-ciri pria itu.
"Kak Danu?" tebak Elsa.
"Kamu ingat aku? kamu ingat aku, Sa" Dawa terdengar bahagia.
"Ra, jadi dia Danu yang kamu bilang itu. Jadi dia yang katanya pria yang pernah dekat sama kamu saat kecil. kenapa rasanya aku seperti di tikung sama kamu, Ra? jika suatu saat kak Dawa tahu aku bukan yang dia cari, ah, tidak Elsa! kamu harus ikut permainan ini. Bukankah Vira sudah menolak Danu dengan mengembalikan barang-barang itu. Elsa kesempatan tidak akan datang dua kali"
"Saya mau tanya sama kamu. Apa panggilan kesayangan aku sama kamu?"
"Sa..Pi.." jawaban Elsa terbata-bata.
"Kamu masih ingat?" Elsa mengangguk.
"Sedikit, kak. Aku ingat kakak pernah aku beri gelang saat masih kecil. Maaf kak tidak banyak memori yang aku punya tentang kak Danu. Aku ... aku ... cinta sama kak Danu" ucap Elsa malu-malu.
__ADS_1
"Aku juga cinta sama kamu, Sapi" Danu memeluk Elsa dengan erat.
"Tapi kenapa aku tidak merasa seperti dekat dengan Elsa. Kenapa aku merasa dia masih asing?" batin Danu.
"Non Elsa, sarapan mau di letakkan di mana?" Elsa dan Dawa langsung memisahkan diri. Apalagi keduanya sama-sama malu-malu.
"Sini, Bi." Elsa mengambil meja kecil untuk sarapan Dawa.
"Kak Danu mau aku siapin?" Danu mengangguk.
Danu memandang Elsa dengan intens. Ada rasa bahagia karena sudah menemukan "sapi-nya" setelah sekian lama dia mencarinya. Bertahun-tahun memendam rasa serta berperang rasa empatinya pada Kayla. Dia sudah berjanji akan menerima Elsa apa adanya. Baginya "sapi" nya sudah kembali sekarang.
"Kak, tadi Vira menelepon dia mau kesini? apa kak Dawa mau bertemu dengan Vira?" Elsa bertanya karena ingin tahu reaksi Dawa.
"Yasudah, tidak apa-apa. Kalau dia mau kesini untuk menyelesaikan masalah, nggak bagus terlalu dendam."
"Padahal aku dulu sempat dendam dengan keluarga Dewi Savitri. Tapi saat bersama mereka aku merasakan keluarga itu adalah orang baik. Apesnya Tante Dewi punya suami seperti om Andre" batin Danu.
__ADS_1